
Setelah mencium bau anyir tadi Arumi kepikiran sampai saat ini. Ia sudah mencari sumber bau nya namun tidak dapat menemukan, alih alih menemukan 'sosok' mencium bau nya aja sudah tak menusuk lagi di hidung. Tiba tiba hilang entah kemana bau nya, Arumi berpikir " mungkin gue tadi salah nyium bau".
Arumi kembali fokus dan bersenang senang dengan dua sahabat nya, ia tak mau melewatkan momen momen ini walau sedetik pun. Senda gurau menghiasi makan bersama di teras rumah Anin walau acara makan makan kecil tidak mewah ataupun besar. Jam delapan malam sampai jam sepuluh masih asik di teras rumah sembari makan hasil BBQ an tadi.
Sedangkan adek nya Siska sudah tidur duluan di kamar Anin yang untung nya bad nya besar cukup untuk tiga orang dewasa di tambah anak kecil.
Kedua orang tua Anin juga sempat bergabung bersama kakak ( Anin ) walau hanya sebentar. Dan sekarang hanya sisa tiga orang yang masih stay di teras rumah.
Ada yang sudah kenyang dan ada juga yang masih aktif mengunyah makanan.
...****************...
Bau yang sempat menghilang tadi tiba tiba muncul lagi di barengi dengan bau amis nanah. Bau ini muncul di jam sepuluh lebih dua puluh menit, tidak hanya Arumi saja yang mencium bau ini , Anin dan Siska turut mencium bau ini. Hingga Siska tak sengaja setengah membentak " bau apa sih ini? jangan ganggu kami yang sedang santai dong!! hilang kan selera makan gue".
" Udah lah mungkin tadi bau bangkai tikus yang terbawa sapuan angin " Anin berusaha berpikir ke arah positif. Yang sedang mengelap lantai yang terkena noda saus daging dengan tisu basah.
" Huss...redam kan suara mu " sahut Arumi yang pandangan nya mengarah ke pagar luar yang letak nya di sudut kanan rumah Anin. Tanpa melihat Anin dan Siska , Arumi masih fokus pandangan nya. Seolah di sana ada 'sesuatu' yang menarik perhatian.
Anin yang menangkap perubahan pandang Arumi, lantas menampar lengan kiri Arumi dengan pelan tidak keras " hey elu ngapain dari tadi lihat sana? ada yang menarik? " Anin mencoba mengikuti arah pandang Arumi.
" Kayak ada yang memperhatikan kita dari jarak jauh deh. Tapi apa ya? gue belum jelas lihat nya. Nin elu ada senter enggak di rumah? " mencolek balik lengan Anin.
__ADS_1
" Senter? " menggosok dagu nya dengan kedua mata melirik ke atas, seperti mencoba mengigat sesuatu.
Anin melebarkan kedua bola mata nya " gue baru ingat, sebentar gue cari dulu siapa tau di kamar kakak gue ada. Tunggu bentar ok " mengacungkan kedua jari jempol ke arah Arumi yang masih duduk di bawah.
" Cepet enggak pake lama " mengibaskan salah satu telapak tangan.
Arumi berbalik memandang Siska yang tengah memandang Arumi juga " Sis? " panggil nya.
" Apa? "
" Coba elu lihat arah situ " Arumi mengarahkan jari telunjuk nya ke arah pagar luar.
" Gue belum bisa memastikan siapa yang di sana. Soal nya kan situ pencahayaan nya kurang jadi enggak terlalu jelas. Lebih jelas nya pakai senter biar gue bisa menjelaskan apa yang ada di sana"
Arumi dan Siska masih menunggu kedatangan Anin yang lama mencari senter. Hingga sepuluh menit berlalu suara Anin terdengar ke telinga kedua orang yang tengah duduk sila di bawah.
" Sorry ya lama nunggu tadi ke toilet bentar. Ini Rum senter nya, masih baru baterai nya jadi jangan khawatir " menyerahkan senter ke Arumi.
Arumi langsung mengarahkan senter ke tempat yang ia anggap ada 'sesuatu' yang sangat menarik perhatian.
FYI buat kalian semua, terkadang Arumi tidak begitu jelas melihat sosok 'hantu'. Arumi butuh uang nama nya konsentrasi dan pencahayaan ( kalau keadaan lagi gelap atau minim cahaya ) dan itu pun butuh proses untuk melihat. Dan terkadang Arumi cepat untuk melihat 'hantu' , Arumi pun bingung dengan diri nya sendiri. Suatu hari ia pernah di ajak deddy nya jalan jalan di taman dekat komplek perumahan. Di taman itu terdapat pohon asem yang besar kira kira tinggi nya ada sembilan meter. Arumi di suruh deddy nya untuk melihat pohon asem yang ada di depan nya. Namun Arumi tidak bisa melihat nya.
__ADS_1
Posisi berdiri nya berhadapan langsung dengan pohon asem. Ia mencoba memejamkan kedua mata namun tak bisa 'melihat' , ia mencoba membuka kedua mata dan arah pandang nya di ganti menunduk namun tak bisa lagi ' melihat'. Arumi bingung ia berpikir dengan cepat, setelah menemukan ide. Ia memutar tubuh nya membelakangi pohon Asem, di situ lah Arumi dapat melihat jelas 'sosok' penunggu di sana. Tubuh nya boleh membelakangi pohon namun mata batin seolah olah berpindah ke belakang kepala sehingga bisa melihat jelas 'sosok' yang Arumi lihat.
Kita kembali ke topik utama.
...****************...
Ctak ( suara tombol senter nyala ) cahaya senter menyala dengan sangat terang. Dan arah cahaya senter tepat di wajah 'sosok' hantu dengan separuh wajah nya hancur seperti di siram dengan air keras. Wajah nya benar hancur, mata sebelah kanan seperti lilin yang tengah meleleh terkena api. Hidung nya separuh bolong, sampai sampai tulang hidung terlihat.
Rambut kepala rontok habis layak nya di cabut secara paksa sampai sampai kulit kepala terkelupas. Menyisakan beberapa rambut di sisi kiri.
Perlahan arah cahaya senter berjalan ke arah bawah. Yang mana leher nya ada bekas seperti di gorok dengan pisau. Luka nya sangat dalam mengeluarkan darah seger terus menerus hingga darah nya menetes ke baju yang ia gunakan.
Baju yang terakhir ia gunakan seperti dress panjang sebatas mata kaki dengan warna krem berlengan pendek. Dress yang dia kenakan ada motif bunga bunga di bagian perut sampai ke bawah. Yang awal nya dress berwarna krem berubah menjadi warna merah darah.
Cahaya senter turun lagi ke bawah tepat di bagian perut sisi tengah. Di sana ada lubang bekas tusukan sebanyak tiga kali dengan letak lubang yang berpindah pindah, ada yang di sisi bawah maaf da*a sebelah kiri , lubang sisi tengah dan sisi pinggang kanan. Darah nya seolah terus mengalir sampai menetes ke bawah, dress yang ia kenakan tidak mampu menahan deras nya darah yang keluar.
Sosok itu ingin sekali masuk ke dalam. Akan tetapi seperti ada yang menahan nya untuk tidak boleh mendekat ke arah mereka, jadi ia hanya bisa berdiri di luar pagar. Berdiri dengan tatapan kosong. Seolah ia ingin memberi tau kalau ia butuh bantuan dari Arumi , Anin dan Siska.
Jadi bau yang tadi menggangu di awal berasal dari sosok yang berdiri di luar pagar.
Bersambung...
__ADS_1