
Siska bersama Anin diam diam mengawasi pergerakan Ami selama berada di sini. Setiap Ami bergerak selalu di perhatikan oleh dua orang ini. Dari jarak jauh Siska memfoto kegiatan Ami yang kira kira dilihat sangat janggal. Di sela sela mempersiapkan bahan untuk tahun baru. Kebetulan Abi dan Siska mencari kayu bakar yang berada di belakang homestay ini.
Saat jalan menuju belakang homestay, Siska dan Abi baru tau bentukan rumah yang dihuni oleh paman nya Ami. Rumah nya sangat sederhana jauh dari kata mewah. Bentuk rumah nya masih sama seperti rumah yang di sewakan ini, hanya saja dinding nya terbuat dari batu bata, tidak menggunakan kayu. Jarak homestay ke rumah paman tidak terlalu jauh hanya lima meter dari sini. Sepanjang jalan menuju rumah paman, sudah di pasang lampu taman agar tidak terlalu gelap di malam hari.
Puas memandangi rumah paman nya Ami, kini Siska dan Abi lanjut mencari kayu bakar.
"Ternyata lahannya masih luas ya" celetuk Abi sambil memilih kayu yang akan di gunakan nanti.
"Ya masih luas lah kan bangun rumahnya masih di pedesaan, mana jauh dari pusat kota. Di sini sih rata rata kalau jual tanah enggak terlalu mahal beda deh sama yang di perkotaan. Kalau mau beli tanah di sini dapatnya pasti luas di tambah tanahnya masih subur cocok deh kalau mau jadi petani" jawab Siska yang sudah mengumpulkan kayu bakar sebanyak empat batang. Siska memilih kayu bakar yang bentuknya kecil pas untuk acara nanti. Sembari mengambil kayu bakar, Siska memantau rumah paman nya Ami.
Triinggg....triingg.... ponsel Abi berbunyi, membuat diri nya terpaksa menaruh kayu yang sempat ia bawa.
"Yaa??..."ucap Abi yang baru mengangkat telpon.
"Harus sekarang nih? enggak nanti malam aja" sambil melihat jam yang menunjukan pukul 16.40 menit.
"Ok gue sama Siska akan kesitu. Tapi kayu bakar nya jadi apa enggak" menatap Siska yang masih mengumpulkan kayu bakar.
"Iya iya...tunggu" ujar Abi sebelum menutup panggilan telpon. Memasukan kembali ponsel nya di saku celana. Berjalan menghampiri Siska dengan posisi lagi jongkok yang sedang mengikat kayu bakar menggunakan seutas tali.
"Kayu bakar nya taruh di situ. Enggak jadi di pakai" Abi berdiri di belakang Siska.
Siska membalikan badan" enggak jadi apanya?" masih posisi jongkok dengan kepala sedikit menengadah ke atas.
__ADS_1
"Enggak jadi di pakai lah Siska, yuk lah masuk. Udah di tunggu sama lainnya" Abi membalikan badan, dirinya hendak jalan, tiba tiba diri nya tak sengaja melihat ada seorang yang sedang keluar dari semak belukar sembari membawa wadah. Di dalam wadah itu mengeluarkan asap. Yang terus menerus keluar seakan sedang membakar sesuatu.
Abi yang melihat itu langsung terdiam. Kedua mata terus menatap dan mengikuti arah jalan orang itu. Detik berikut nya diri nya sadar bahwa orang tadi ternyata paman dari Ami. Ya paman itu jalan tanpa alat bantu atau tongkat. Jalan nya selayak nya orang pada umumnya tidak bongkok atau pun terseret. Abi sangat sangat kaget melihat perubahan signifikan yang terjadi pada paman itu. Diri nya sangat ingat paman itu jalan mengunakan alat bantu, jalannya sangat pelan pelan ya karna umur nya sudah 75 tahun. Sudah normal seusia itu jalan memakai tongkat.
Yang Abi lihat tadi paman itu, jalan dengan tegap dan langkah jalan nya lebar seakan lagi mengejar waktu. Terdiam nya Abi membuat Siska mengikuti arah pandangan. Awalnya tidak terlalu jelas siapa yang jalan itu. Tapi, ketika mengucek kedua mata. Barulah Siska melihat jelas siapa yang jalan dengan cepat itu.
Dengan gerak cepat nya, Siska mendapatkan hasil jepretan nya. Buru buru di masukan kembali ponsel nya agar tidak ketauan.
"Ayo..." Siska menggeplak lengan Abi, dengan cepat Abi menyusul langkah kaki Siska.
Sampai di dalam, Siska dan Abi di kejutkan dengan keadaan di ruang tamu. Yang mana Antonio berbaring di kursi panjang seraya memegang perutnya sendiri, keadaan ini membuat empat orang ini nampak biasa saja.
"Kenapa di biarkan, ayo cepat! bawa ke rumah sakit. Lihat lah muka nya udah pucat" Siska panik melihat keadaan Antonio yang kesakitan menahan perut nya.
"Lihat! ban mobil belakang bocor. Jadi kita sangat kesulitan membawa Antonio untuk pergi ke rumah sakit" ujar Arumi dengan muka serius.
"Cari motor lah" tutur Abi yang sangat khawatir dengan temannnya. Ia tak tega melihat nya.
"Percuma cari motor, kalau ujung ujung nya mesinnya di rusak" sahut Arumi dengan tatapan tajam. Tangan kanan nya masih memutar tasbih.
"Ck!! ya pinjam motor yang lainnya" Abi berbalik badan kaki nya terus melangkah hingga suara menggelegar terdengar di telinganya..
__ADS_1
"Haduh!!!!...kalian gimana sih ada yang sakit kok pada santai. Cari pinjaman motor yang sekiranya bisa di pinjam" sambung Siska yang mulai terpancing emosi melihat kawannya terlihat santai melihat Antonio kesakitan.
Anin menghampiri Siska dan Abi yang terlihat emosi" jangan terpancing emosi dengan situasi ini. Gue harap kalian bisa menahan nya" lirih Anin dengan tatapan serius.
Siska dan Abi masih kekeh terlihat dari pandangannya bahwa mereka tak percaya dengan ucapan Anin barusan.
"Jangan membual!!. Ini serius, kalau terjadi yang enggak enggak kalian mau tanggung jawab"
Brian melihat Siska dan Abi mulai tersulut emosi. Diri nya langsung mengirimkan pesan yang ditujukan oleh dua orang ini.
Dua orang ini perlahan mulai mengurangi emosi nya setah membaca pesan dari Brian.
"Gimana udah tenang" imbuh Brian yang duduk tak jauh dari Arumi.
Siska dan Abi mengangguk.
"Gue udah telpon pihak rumah sakit. Nanti ambulans nya segera tiba. Tunggu lah dulu jangan gegabah. Antonio tadi salah makan jadi nya gini" ucap Brian seraya melirik sedikit ke arah Ami yang tengah berdiri.
"Sorry gue tadi panik" Siska berhasil meredam emosi nya. Dan diri nya tau apa penyebab Antonio sakit.
Kalau Abi percaya percaya saja. Sebab ia belum mengetahui kejadian yang sebenarnya. Hanya ada empat orang yang tau sebenarnya. Anin, Arumi, Siska dan Brian.
Setalah menunggu sedikit lama, akhirnya mobil ambulans datang. Antonio di bawa masuk ke dalam mobil ambulans. Brian dan Abi ikut masuk ke dalam mobil ambulans. Tersisa empat cewek yang masih di dalam homestay. Perlahan mobil ambulans menjauh dari homestay ini.
__ADS_1
Bersambung....