Lelembut

Lelembut
Kamu siapa?


__ADS_3

Arumi masih menyoroti lampu senter ke arah 'sosok' yang tengah berdiri di luar pagar.


" Sini Nin elu mendekat ke gue " menjentikkan kedua jari.


Anin mendekat ke Arumi yang posisi nya tengah berdiri.


" Elu gue suruh gambar yang ada di sana, elu sanggup apa enggak lihat nya? " Arumi memberi sinyal kuning kepada Anin karna nanti nya Anin menggambar sosok yang ada di depan sana dengan perwujudan lumayan menyeramkan.


" Bentar " Anin mengubah posisi berdiri Arumi. Menghadap diri nya, Anin fokus melihat kedua mata Arumi. Tak lama kemudian Anin mendapatkan gambaran di otak nya.


" Insyaallah gue sanggup, bentar gue ambil alat gambar nya. Enggak lama kok" Anin ngacir masuk ke dalam dengan langkah lebar.


Siska pun ikut berdiri namun punggung nya ia sandar kan di pilar " kenapa dia berdiri di sana? " ucap nya sembari bersedekap dada.


Arumi mematikan senter yang ia pegang " gue juga enggak tau, mengapa ada sosok itu di sini "


Selang beberapa waktu...


" Gue udah bawa perlengkapan gambar nih " Anin muncul dari arah belakang sembari membawa buku dan satu bolpoin.


" Elu udah siap" Arumi menoleh ke belakang.


" Udah dong " Anin sudah membuka buku yang khusus untuk menggambar.


" Udah dapat gambaran elu? "


" Udah barusan " jawab Anin yang posisi sudah memegang bolpoin.


" Ok elu berdiri di depan gue. Biar gue di belakang elu buat transfer energi sekalian transfer gambar sosok yang ada di depan" Arumi menggeser tubuh Anin.


Anin menggambar sosok yang di depan dengan tenang tak ada raut wajah jijik atau pun takut. Mungkin Anin sudah terbiasa menggambar sosok sosok yang lebih mengerikan.


Butuh waktu satu jam lama nya Anin menggambar.


" Masih lama enggak Nin.."


" Bentar lagi Rum " jawab Anin yang masih fokus gambar.

__ADS_1


" Gue sama Siska bersih bersih dulu, elu lanjutin dulu gambar nya kalau udah selesai kabarin kita " Arumi mengajak Siska merapikan alat panggang yang tadi mereka pakai dan membawa piring kotor ke dalam, sisa nya biar Siska yang mengepel lantai teras menggunakan tisu basah. Biar simpel dan enggak ribet.


...****************...


Arumi dan Siska datang menghampiri Anin yang tengah duduk sambil mewarnai hasil gambaran tadi menggunakan pensil warna. Dan hasil gambaran nya sudah terlihat 80%.


" Kalau pusing ngomong Nin " ujar Siska sambil melihat hasil gambaran Anin.


Anin menoleh ke Siska dengan senyum tipis dan berucap " masih bisa di tahan kok, santai aja "


Siska memandang gambaran yang ada di dalam buku. Siska merasakan ada sisi negatif yang menempel di tubuh sosok ini, bisa di gambar kan sosok tersebut berbentuk bayangan hitam besar yang menempel atau hinggap di belakang tubuh sosok ini. Siska merasakan ada rasa sedih di raut wajah nya dan ada rasa dendam di dalam dada nya.


Sosok ini ialah wanita pribumi yang berusia dua puluh empat tahun. Dengan pakaian khas tahun 80 an.


Siska merasakan pusing yang tiba tiba dan langsung membuyarkan pandangan nya, ia tak mau berlama lama melihat gambar itu.


" Udah selesai " imbuh Anin yang masih merapikan pensil warna yang berceceran di samping kanan kiri nya.


" Coba gue lihat " Arumi mengambil hasil gambaran yang berada di pangkuan Anin.


" Gue tau sisi lemah nya, tapi ya gitu kalau gue gambar yang sosok negatif otomatis yang gue gambar secara tidak langsung ikut terserap energi nya. Kalau yang gue gambar sosok positif. Hasil gambaran pun enak di pandang dan akan betah lihat nya " balas Anin yang mendongakkan kepala nya ke arah Arumi.


" Elu tau Rum nama nya siapa? " sahut Siska yang tidak mau melihat gambaran itu.


" Belum ketemu nama nya. Inisial nya aja belum di kasih tau. Kalau meninggal nya gue tau " Arumi ikut duduk di bawah bersama Anin dan Siska.


Arumi memberi buku yang ia pegang ke Anin selaku pemilik nya " elu tulis tahun 1985 itu meninggal nya. Kalau lahir nya tahun 1940 an. Itu yang paling jelas angka nya. Nama belum dapat "


Siska menimpali " berarti meninggal nya umur 45 atau 46 an "


" That right " mengangguk kan kepala.


" Gue pengen ngomong sama dia lebih detail nya. Tolong elu coba panggil dia tangan ke sini " Arumi menepuk paha Anin.


" Yakin elu, malam ini " tangan Siska menolehkan wajah Arumi dengan paksa.


" Yakin lah kalau enggak hari ini. Kapan lagi, kita selesaikan hari ini juga. Kalau tidak kita bisa di hantu' i. Emang kalian mau di teror setiap saat "

__ADS_1


" Tapi ini udah malam Rum, angin malam tambah makin dingin. Di tawar besok aja gimana " mengusapkan kedua telapak tangan.


" Ingat enggak kejadian waktu kemah di tempat itu tuh, masa enggak ingat sih elu. Dimana kita enggak bisa tidur karna kita ada utang dengan sosok anak kecil yang. Terus anak kecil nya duduk diam di pojokan. Mendingan di tuntaskan malam ini enggak apa kita tidur nya kemalaman kan besok masih libur. Ingat kita punya tanggungan, kalau tanggungan tugas atau barang sih ok aja bisa di kerjakan besok nya. Lah ini beda bos... gue nggak mau mengalami kejadian yang kedua kali" tutur Anin yang masih membawa gambaran nya.


Siska menghela nafas nya yang sangat berat " fuuh... ok gue setuju tapi kita pindah ke dalam yuk, dingin di luar " Siska bangkit berdiri dan berjalan masuk ke dalam terlebih dulu dan meninggalkan Anin serta Arumi yang masih duduk di teras.


Arumi bangkit dari duduk dan menyalurkan tangan nya ke Anin " yok masuk ke dalam". Anin menerima uluran tangan Arumi dan ia berdiri di bantu oleh Arumi. Dan mereka berdua akhirnya masuk ke dalam dan tak lupa menutup pintu serta di kunci karna hari makin gelap.


Arumi dan Anin memutuskan masuk ke dalam kamar Anin yang mana kamar nya terang bertanda ada orang di dalam nya.


" Loh Siska mana " Anin celingukan saat ia sudah masuk ke kamar nya.


Saat celingukan mencari Siska, dari arah kamar mandi terdengar gemericik suara air. Lantas Anin menggedor pintu kamar mandi " Sis elu di dalam? "


" Yaa bentar gue masih buang air nih " jawab Siska dari dalam kamar mandi.


Setelah mendengar jawaban dari Siska Anin memutuskan duduk di sofa kecil tepat di bawah bad cover.


" Nin coba elu panggil yang di depan sana tarik masuk ke dalam sini. Permisi dulu jangan asal tarik aja "


Anin mengangguk kepala. Ia konsentrasi menghadap Utara yang mana letak rumah nya menghadap arah Utara. Tangan kanan nya ia angkat setinggi dada. Tanpa sadar jari jemari bergerak dengan sendiri nya.


Saat tangan nya merasakan ada nya sengatan listrik, di situ lah telapak tangan nya secara perlahan menutup ( genggam erat ). Lantas tangan nya seolah olah menarik sesuatu ' yang tak terlihat ' . Di situ lah Anin menarik dan meletakan tangan nya di samping kanan.


" Udah gue tarik Rum " ucap nya sambil membersihkan tangan nya mulai dari lengan sampai ke telapak tangan dengan cara mengusap.


Di saat sosok itu berada di satu ruangan yang sama. Siska yang tadi nya berada di dalam kamar mandi tiba tiba merasakan hawa dingin di dekat almari pakaian.


Letak kamar mandi dengan almari sangat dekat hanya di batasi dengan keranjang kotor saja. Mau tidak mau Siska harus melewati almari itu.


Wuss... hembusan angin dingin menerpa kulit nya membuat Siska merinding seketika. Dingin nya sampai menusuk ke tulang.


" Udah di sini sosok nya " Siska memilih duduk di dekat Arumi.


" Udah barusan " sahut Anin.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2