
Arumi mengajak dua sahabatnya untuk pergi ke kantin, karna mereka semua belum makan. Jam istirahat pun masih berlangsung. Takut nya kalau kelamaan, duduk di taman yang ada tidak jadi pergi ke kantin, melainkan masuk ke dalam kelas.
Di perjalanan menuju kantin, mereka bertiga nampak sedang bercakap cakap ringan. Tidak ada menunjukan wajah wajah tegang sama sekali, mungkin mereka sudah terbiasa dengan kasus ini. Menjadikan mereka biasa saja.
" Buku tahunan udah elu kembalikan? takut nya ketauan pinjem tapi enggak ada di buku pinjaman. Kalau ketauan kita yang ambil secara diam diam bisa di panggil BK " Arumi berjalan sembari mengikat rambut menjadi Cepol.
" Nanti habis istirahat kedua, baru gue kembalikan. Tapi bareng ya kesana nya, gue takut sendirian, sekalian mengembalikan buku yang di pinjam. Bawa kan kalian berdua?"
" Hmm..tenang gue bawa kok " balas Anin.
...≈≈≈...
" Yee..." sorak Siska dengan gembira karna, makanan nya sudah tiba di depan nya. Mereka akhirnya makan bersama di kantin. Masih banyak murid murid yang betah duduk atau nongkrong di kantin.
Tidak cuma kantin ini saja yang ramai pengunjung, kantin lain nya tak kalah ramai. Tidak ada kantin sekolah yang sepi di jam istirahat, semua full murid, bahkan ada segerombol guru guru yang tengah makan pagi di kantin.
Tanpa sepengetahuan Anin, Arumi dan Siska. Kakak kandung Anin datang bersama tiga teman nya menuju meja yang sudah di pesan oleh tiga anak cewek ini.
" Dek, belikan siomay seporsi dong " sebut saja nama nya Zaki. Zaki datang dari arah belakang dan langsung menepuk pundak adek nya dan, tanpa permisi Zaki dan ketiga teman nya ikut bergabung di satu meja.
Anin menatap sekilas, lalu melanjutkan makan tanpa merespon ucapan kakaknya.
" Kayak nya ada yang mau uang jajan di kurangi nih. Yang untung diri ku enggak capek capek ngeluarin duit" Zaki sengaja duduk di depan adek nya yang sedang makan soto ayam.
Tiga teman nya Zaki sudah tau, kalau Zaki punya saudara kandung perempuan dan bersekolah di sini, tak lain dan tak bukan ialah Anin. Cewek manis berambut pendek ini masih enggan menatap sekeliling, ia masih fokus dengan makanan nya.
__ADS_1
Zaki yang melihat adek nya cuek, di tambah enggan menatap diri nya. Merasa geregetan melihat tingkah adek kandung nya, membuat Zaki terus mengajak ngobrol walau tidak di respon balik.
" Sakit gigi ya neng, orang ganteng di sini kok masih di cuekin sih " perkataan Zaki membuat lima orang lain nya menahan tawa. Mereka menahan bibir masing masing agar tidak menimbulkan suara. Ada yang menunduk, memalingkan wajah dan ada pula menggosokkan hidung.
Anin, yang baru selesai makan meletakan sendok garpu di dalam mangkok. Dan mengambil es jeruk yang berada di samping nya. Selesai sudah makan pagi menjelang siang, kini Anin mengambil satu lembar tisu yang di sediakan oleh kantin per meja.
Anin mengelap mulut nya menggunakan tisu, setelah itu baru lah Anin merespon ucapan kakak nya " enggak di rumah, enggak di sekolah kerjaan nya ganggu aja. Orang lagi makan pun di ajak bicara, ya gue no respon " kata nya sembari membuang tisu di dalam mangkok kotor.
" Hehe..kalau enggak usil tuh kayak ada yang kurang gitu. Btw uang jajan nya jadi di kurangi kan? "
Mendengar uang jajan di kurangi, Anin langsung melempar buntalan tisu yang bekas sisa sisa makanan yang menempel di bibir " oh, tidak bisa gitu dong. Itu sudah di sepakati bersama. Tidak ada kata uang jajan di kurangi dalam kamus pribadi ku, kalau sampai terjadi PS 5 elu gue jual dengan harga tiga juta mau..."
Zaki langsung pucat pasi mendengar PS 5 nya akan di jual dengan harga murah "jangan dong. Capek capek gue nabung malah di jual murah. Gue enggak jadi ngurangin uang jajan elu deh, ngeri ancaman elu " Zaki merebut paksa es jeruk punya Anin yang masih setengah gelas.
" Sono, elu pesan kan gue siomay " Zaki mengembalikan gelas es jeruk, kemudian menoleh ke arah teman nya " kalian pesan apa, biar gue yang bayar "
" Ok tunggu ya. Gue pesan kan " Anin berdiri bersiap untuk memesan siomay. Baru satu langkah meninggal kan kursi, Anin berbalik badan " minum nya? "
" Es teh " jawab Zaki dengan cepat.
Anin kembali melanjutkan jalan nya menuju tempat jualan siomay. Siska dan Arumi masih duduk sembari menikmati makanan nya yang masih tersisa.
" Tumben mau gabung satu meja sama adek nya " Arumi menatap wajah Zaki, kemudian melanjutkan makannya.
" Pengen aja "
__ADS_1
Setelah menunggu kurang lebih lima belas menit, Anin datang bersama wanita paruh baya berjalan saling beriringan sembari membawa nampan.
" Udah gue pesan kan, jadi ongkos nya dua kali lipat ok kak " ujar Anin sambil tersenyum licik.
" Bagus Nin, jangan lupa traktiran " balas Siska.
Zaki langsung memasang tampang masa bodo dan langsung, makan pesanan nya. Walau suasana hati terlihat gaduh.
...‹‹‹...
Jam pelajaran berlangsung hingga memasuki jam pelajaran ke lima. Semua murid masih di dalam kelas berkutat dengan buku yang ada di depan masing masing serta papan tulis.
" Lama kali sih jam ke enam " batin Siska yang sedari tadi menanti jam istirahat ke dua sekaligus sholat dhuhur. Diri nya menyangga dagu menggunakan telapak tangan kanan, di tambah kepala nya di miringkan ke kanan. Seolah sedang memikirkan suatu hal.
Anin yang berada di samping nya menyenggol paha Siska, agar Siska sadar dari lamunan " iya iya gue tau kok. Kalau elu nahan lapar "
" Ck! gue enggak nahan lapar ya. Yang ada gue lagi mikir tentang cerita tadi pagi, elu ngeh nggak sih waktu gue cerita masalah penemuan jenazah di kubur di bawah pohon asem besar itu. Masa iya orang udah meninggal bunuh diri terus bisa jalan sendiri terus kubur badan nya sendiri, kan enggak bisa. Ya kan?, pasti ada orang yang menguburkan mayat almarhumah Tante ku, tapi siapa ya yang membopong tubuh yang sudah tak bernyawa ini. Apakah ada sesuatu yang masih tertinggal di dekat pohon asem " bisik Siska agar tidak kedengaran oleh guru, karna di kelas ini masih ada guru yang sedang mengajar pelajaran kejuruan.
" Gue udah ngeh sedari tadi, tadi nya gue mau tanya sama elu. Nanti pas istirahat, eh malah elu bahas di sini " balas Anin yang sama sama mode bisik.
" Ya. Terus siapa dong yang mengubur? bukan nya pacar nya udah pergi pas selesai apa yang dia inginkan. Apa jangan jangan ada orang lain yang tau kalau ada murid sini yang bunuh diri di gudang " Siska berbalik tanya dengan posisi yang sama.
" Gue juga enggak tau Sis, mungkin Arumi tau " Anin menatap punggung Arumi dari tempat duduk nya.
" Semoga segera pecah teka teki ini, rasa nya kepala gue mau meledak mikirin kasus ini. Lama lama kita jadi detektif"
__ADS_1
Bersambung....