
Di saat lagi senang senang nya berbincang, dari arah pintu ada seorang guru yang berdiri di depan pintu sambil membawa spidol. Sontak membuat para penghuni kelas X perkantoran mendadak heboh lantara guru tiba tiba berdiri tegak di depan pintu kelas.
Membuat suasana kelas menjadi senyap, hingga suara detak jam dinding terdengar sampai ke telinga.
Guru pun perlahan masuk ke kelas sambil melihat suasana kelas ini, sebelum duduk di meja depan sana. Guru ini berkeliling ke dari meja satu ke meja lain nya.
Drap...
Drap...
Dan langkah kaki nya terhenti di meja urutan nomor tiga dari depan. Yang letak meja nya berada di tengah tengah. Begini saya ilustrasi kan.
Di ruang kelas ini ada empat baris bangku, masing masing barisan ada lima meja dan sepasang kursi. Meja yang di samperin oleh guru berada di urutan tiga segaris dengan meja guru yang berada di depan. Di urutan tiga ini ada lima meja, guru ini berdiri di meja tengah tengah di urutan nomor tiga dari depan. Dan meja ini di tempati oleh Arumi dan anak baru, sebut saja nama nya Lia.
Guru ini berdiri tepat di samping Arumi duduk. Di sini Arumi biasa saja dengan ekspresi wajah lempeng menatap ke depan.
Di saat guru ini mengetuk meja menggunakan spidol, membuat Arumi mendongakkan kepala menatap guru yang masih berdiri di samping meja nya.
" Kamu orang asli mana? " ucapan guru ini, membuat para siswa dan siswi lain nya menatap Arumi.
" Indonesia " jawab Arumi dengan mimik wajah datar.
" Tapi wajah mu tidak ada Indonesia nya. Ibu atau ayah mu asli mana? "
Duh guru ini kepo banget sih
" Deddy asli orang Indonesia kalau bunda asli orang Filipina "
" Oh... " ber oh ria. " Pantas saja wajah mu berbeda enggak kayak anak anak Indonesia "
" Hehe...iya pak " Arumi hanya bisa tersenyum kecil.
Semua orang yang ada di sini baru tau kalau ada salah satu siswi sini yang berdarah campur.
Setelah berbincang bincang singkat bersama Arumi, guru ini berjalan menuju meja guru.
" Sebelum saya menyampaikan materi, bapak mau kalian perkenalan diri di meja kalian urut dari depan dekat pintu sampai belakang dekat tumpukan sapu "
Perkenalan pun di mulai siswa dan siswi memperkenalkan diri.
Sepuluh menit telah berlalu perkenalan telah usai. Kini guru yang ada di depan menjelaskan materi tentang pelajaran bahasa Inggris.
Guru itu menulis materi sambil menerangkan materi yang ia tulis di papan tulis.
Semua murid memperhatikan guru itu saat menerangkan materi yang ia sampaikan, ada yang sekedar mendengarkan, ada yang tidak mendengarkan asik ngobrol dengan teman sebangku dan ada yang mencatat nya di buku tulis.
Tiga orang ini memutuskan menulis materi yang di tulis oleh guru itu sembari mendengarkan ocehan guru itu.
Jam pun berjalan, pelajaran bahasa Inggris ini sudah habis. Di ganti dengan jam istirahat yang telat di jam setengah sepuluh pagi.
__ADS_1
Murid murid ini berhamburan keluar melalui pintu kelas yang terbuka lebar. Sorak gembira mulai terdengar lagi, suasana jam istirahat sangatlah menyenangkan. Murid murid bisa melepaskan rasa jenuh menghadapi materi materi yang di sampaikan oleh guru. Salah satu cara melepaskan rasa jenuh ini ialah berlarian menuju kantin.
Arumi, Anin dan Siska memilih menunggu semua orang pergi ke kantin, dan menyisakan tiga orang ini.
" Kuy... kita ke perpus " Arumi menggandeng kedua tangan Anin dan Siska.
Mereka bertiga berjalan menyusuri lorong lorong kelas sambil bercanda gurau. Di saat orang orang berdesak desak di kantin. Mereka bertiga malah menuju ke perpus sekolah. Melupakan jajan pagi ini.
Langkah demi langkah telah mereka lalui dan sekarang mereka telah menemukan perpus yang sedari tadi mereka cari.
Tanpa banyak tanya ke pada orang lain, mereka bisa sendiri menemukan perpus sekolah.
" Luas juga perpus nya " ucap Siska yang berdiri di pertengahan pintu perpus.
" Ya luas lah masa sekolah favorit perpus nya biasa saja. Kan enggak mungkin " bisik Anin.
" Ya sih tapi sayang jarang orang datang kesini " sahut Arumi yang mendengar pembicaraan mereka berdua.
Mereka bertiga telah masuk ke dalam perpus, sebelum masuk lebih dalam. Salah satu dari mereka mendekat ke meja penjaga perpus, untuk sekedar minta izin.
" Pagi Bu, saya sama kedua teman saya mau cari buku untuk di baca " ucap Anin yang sudah di depan meja penjaga perpus.
" Ya silahkan mbak, kalau mau pinjam silahkan, tapi tulis dulu di buku perpus ini" jawab penjaga perpus.
" Ya mbak, makasih " Anin pun langsung menyusul kedua rekan nya yang sudah masuk ke dalam.
Sebelum mencari buku yang mereka inginkan. Mereka bertiga berdiskusi dengan nada lirih.
" Kita berpencar saja, biar dapat buku tahunan sekolah " usul Siska, namun usulan Siska ini langsung di bantah oleh Anin.
" Tidak... gue enggak setuju. Kita cari barengan aja, kalau sendiri takut nya malah tersesat, kalian apa enggak lihat perpus ini besar nan luas rak rak buku saling berjejer rapi " menengok kan paksa kedua wajah sahabat nya.
" Ok ok kita cari bareng aja, biar enggak ribet " sambung Arumi.
Mereka bertiga terus menyusuri rak rak buku yang menjulang tinggi. Ya tinggi nya satu atau dua meter. Dari awal masuk sampai kini, belum menemukan buku yang mereka inginkan.
Mereka bertiga tak putus semangat, terus mencari dan mencari. Hingga mereka sudah sampai mentok di rak buku paling belakang.
" Haduh... buku nya belum ketemu. Di tambah waktu nya mepet. Gimana Rum...kita cari lagi apa sudahi mencari dan di ganti hari esok? " tanya Siska yang sangat letih mencari buku yang tak kunjung di dapati.
" Kita cari satu kali lagi, kalau belum ketemu juga. Besok kita cari lagi " kedua mata Arumi terus aktif melacak jejeran buku yang tertata rapi di rak buku.
Anin sudah duduk di bawah dengan kedua kaki nya di luruskan, ia sudah tak tahan rasa pegal di kaki.
" Haduh!...haduh gerah nya " gumam Anin yang sibuk mengipasi diri nya menggunakan telapak tangan nya.
Hingga....tak sengaja siku nya menyenggol buku yang ukuran nya tebal. Buku itu jatuh dan menghasilkan suara yang cukup besar.
Debug!!!
__ADS_1
Anin yang duduk nya berada dekat dengan jatuh nya buku, di buat kaget sampai sampai Anin sempat teriak kecil.
" Aaa!!..." cepat cepat ia tengok ke sumber suara jatuh.
Di saat sudah menengok, Anin di buat terkejut buku yang selama mereka cari akhirnya ketemu juga, ya walaupun ketemu nya tidak sengaja karna terkena senggolan siku Anin.
Anin merangkak mendekat ke arah buku itu. Belum sampai itu saja kedua sahabatnya melihat Anin memegang buku yang sangat tebal isi nya. Arumi dan Siska mendekat ke Anin.
Arumi dan Siska kaget di campur senang karna Anin telah menemukan buku tahunan sekolah ini.
" Elu dapat dari mana Nin? " dengan suara lirih.
" Enggak sengaja kesenggol eh tau nya buku ini yang jatuh. Ya udah lah kita enggan repot repot cari buku ini. Di baca di sini atau di baca di sana? " tanya Anin yang masih duduk di bawah.
" Udah enggak bisa kita baca di sini. Jam istirahat udah habis, kita harus cepat cepat masuk ke kelas " tutur Arumi.
" Tau dari mana kalau jam istirahat udah habis? "
" Kalian enggak dengar tadi ada suara bel istirahat ya berarti istirahat udah habis " jawab Arumi yang posisi jongkok di depan Anin.
" Terus buku ini mau diapain? susah susah loh kita cari nya " sahut Siska yang masih berdiri dengan satu tangan nya memegang pinggang kiri.
" Iya loh Rum... kita apakan buku ini, kalau kita pinjam nanti di tanya sama penjaga perpus ini. Terus kita jawab apa? kalau enggak kita bawa di simpan di mana, supaya besok gampang cari nya " ucap Anin.
Arumi mengusap kasar wajah nya. Dan bingung di simpan di mana buku ini.
" Di simpan paling belakang aja. Tempat nya dimana tadi? " tanya Siska yang sudah menemukan ide.
Anin celingukan mencari tempat kosong.
" Itu " menunjuk tempat kosong.
Siska menunduk mengambil buku yang di pegang oleh Anin. Setelah mendapatkan buku, Siska berjalan menuju tempat buku yang kosong.
" Benar di sini? " menoleh ke arah Anin.
" Hmm..." Anin mengangguk.
Siska langsung memajukan buku yang berada di belakang, agar buku yang ia pegang bisa di simpan di belakang.
Sebelum meninggal kan tempat buku ini, Siska menyempatkan memotret lokasi Latak buku agar tidak salah ambil.
" Udah gue foto. Besok kesini lagi, yuk kita cabut " Siska memasukan kembali ponsel nya di saku rok.
Dan mereka bertiga pun berjalan menuju pintu keluar.
( Ilustrasi )
__ADS_1
Bersambung...