
Setelah berhasil meredam emosi nya, Arumi bergerak pergi dari kamar ini. Untuk mencari dua sahabat nya entah pergi kemana. Segala ruang sudah di cari dan pada akhirnya Arumi menemukan Anin dan Siska yang berada di balkon.
Langkah kaki ini membawa nya bergerak semakin dekat mengarah pada dua orang ini yang sedang membelakangi nya. Selagi jalan Arumi mengucapkan kata" pantas saja gue cari kemana aja enggak ketemu, taunya kalian di sini"
Siska menoleh menatap Arumi" lagi pengen aja lihat pemandangan dari atas"
"Yang lainnya kemana" Arumi berhenti tepat di samping Anin. Diri nya berpegangan erat pagar pembatas balkon yang terbuat dari kayu. Tubuhnya sedikit serong ke kanan, dengan tangan kiri di letakan di atas pagar pembatas balkon. Tangan satu nya lagi masih berpegangan erat.
"Lagi keluar..." jawab Anin yang pandangan nya masih lurus ke depan menatap hamparan pepohonan yang di selimuti oleh tetesan air hujan.
Arumi terdiam pandangannya menatap Anin dan Siska dengan sangat intens. Sepersekian detik barulah memalingkan pandangan nya dan kembali melihat pemandangan indah ini dari balkon.
Hening, mereka terbawa dalam lamunan nya sehingga menciptakan rasa awkward. Dalam keheningan ini mereka saling melamun entah apa yang mereka pikirkan hingga tak sadar ada orang yang datang dari arah belakang
"Brian sama yang lainnya kemana?" orang ini muncul tiba tiba dari arah belakang dengan memakai baju tebal. Orang ini terus melangkahkan kaki nya hingga jarak di antara tiga orang sama orang ini hanya berjarak tiga langkah.
Tanpa mereka sadari, kedua tangan Arumi mencekam erat sehabis mendengar suara orang ini. Anin dan Siska berbalik badan menghadap orang ini, sedangkan Arumi masih membelakangi tanpa mau menoleh sedikit pun.
"Mereka cari bahan untuk persiapan malam tahun baru" jawab Anin. Siska hanya menatap sekilas, dan berakhir diri nya masuk ke dalam.
Orang ini ialah Ami, yang tiba tiba datang dengan sendiri nya tanpa di undang ataupun di jemput.
"Oh, mau merayakan tahun baru. Di belakang ada kayu sapa tau nanti di pakai" ujar Ami yang di akhiri dengan senyum ramah.
"Biar anak laki laki aja kalau masalah itu" setelah mengucapkan, Anin beranjak pergi masuk ke dalam dan menyisakan Arumi yang masih melihat lihat pemandangan asri dengan nuansa hujan.
Arumi tak mendengar ada nya percakapan lagi antara Anin dan Ami, lantas dirinya menolehkan kepala nya. Betapa kagetnya dirinya melihat Ami sedang berdiri tak jauh dari nya. Baru melihat Ami berdiri di tempat yang sama, diri nya memberanikan diri mendekati Ami yang sedang menghirup udara segar.
Hanya berjarak dua langkah Arumi berkata"awas! kalau jalan di lihat, nanti kalau kesandung nangis" perumpamaan yang di lontarkan oleh Arumi membuat Ami menoleh dengan tatapan bingung.
Tak sampai itu saja, Arumi kian mendekat sampai tak ada celah. Mulut nya berada di samping persis telinga Ami dengan menolehkan kepala nya sedikit" di atas langit masih ada langit, berhati hatilah" setelah mengucapkan itu, Arumi menepuk pelan pundak Ami sebelum pergi masuk ke dalam.
Saat jalan menuju ke dalam, Arumi menolehkan kepala nya sampai batas pundak depan, sembari menarik sudut bibir ke atas.
__ADS_1
Ami yang di tinggal sendirian di balkon di buat bingung dengan apa yang di ucapkan oleh Arumi. Diri nya tak bisa membalas ucapannya.
...🍂🍂🍂...
Jam 09.25 pagi daerah sekitar homestay masih di selimuti hujan rintik rintik yang tak kunjung mereda. Arumi yang keluar dari kamar sudah memakai baju tebal yang berlapis tiga. Arumi melewati ruang tamu yang mana ada Ami, Anin dan Siska yang sedang bersantai.
"Eh...eh lu mau kemana?" suara Siska menghentikan langkah Arumi.
"Mau keluar, sambil nunggu mobil datang" jawab Arumi.
"Keluar kemana Rum? kan masih hujan" sambung Ami yang ikut menanyakan perihal Arumi yang ingin pergi.
"Hmmm...kemana ya. Yang penting enggak ke rumah dukun" jawab Arumi dengan entengnya. "Eh maksud gue mau pergi cari bakso kan cocok suasana nya. Jangan gitu dong muka nya, gue tadi bercanda. Hahaha..ya kali gue ke rumah dukun. Yang ada makin sesat" melanjutkan langkah kaki nya menuju teras depan.
Siska diam diam memperhatikan perubahan raut wajah Ami, yang tiba tiba berubah menjadi pias. Namun, Ami tak mengetahui kalau Siska sedang diam diam memperhatikan nya.
"Gue ke kamar dulu. Dingin di sini" Ami bangkit dari duduk nya dan berjalan mengarah ke kamar yang semalam ia pakai.
Saat Ami jalan di depan Siska, Siska langsung melihat dari bawah sampai atas tubuh Ami dengan tatapan menyelidik.
Ting... pesan masuk dari ponsel masing masing, dengan cepat mereka membuka pesan yang di lihat baru saja di kirim. Pesan itu langsung dituju ke grup. Bukan melalui chat pribadi.
Arumi; "Selagi gue pergi. Tolong awasi gerak gerik Ami, kalau ada hal yang mencurigakan foto diam diam terus kirim ke grup ini..."
Anin; "Ada apa sih? lu mau pergi ke mana?.."
Siska; " Ok gue akan selalu mengawasi dia, tenang aja..."
Arumi; "Gue pergi cari air suci sama sekalian beli bakso. Kalian mau apa kagak?..."
Siska; " Lu ada di mana sih.."
Arumi; "Di luar lah nunggu mobil datang, ingat jangan kasih tau ke siapapun tentang gue cari air suci. Kalau ada yang tanya bilang aja cari bakso. Ok..."
__ADS_1
Anin; "👍.."
Siska; " Sama siapa lu nanti, kan lu enggak bisa nyetir mobil manual"
Arumi; "Kalau enggak Abi ya Brian"
...🍂🍂🍂...
Setelah menunggu hampir dua puluh menit, akhirnya mobil Jeep merah memasuki pekarangan homestay ini.
"Jadi enggak?" baru turun dari mobil.
"Jadi lah" Arumi bangkit dan melangkahkan kaki menuju mobil Jeep yang baru terparkir.
"Kalian berdua mau kemana?" tanya Abi yang baru turun seraya membawa belanjaan.
"Mau cari bakso, kalian mau" berdiri di samping kap mobil.
" Ya mau lah" jawab Antonio.
"Mana kunci nya" ungkap Brian pada Antonio.
"Tangkap" Antonio melemparkan kunci mobil tepat sasaran.
...🍂🍂🍂...
Situasi dalam mobil hening tak ada selingan suara obrolan. Kini Arumi dan Brian sedang menuju tempat yang mana di situ ada pancuran air yang sudah di berkahi oleh para leluhur. Arumi membutuhkan tiga sumber air yang letak nya secara terpisah, dan kini mobil Jeep ini membawa mereka ke tempat situs mata air yang terus mengeluarkan dari celah celah patung. Kono jaman dulu tempat ini sering di gunakan sebagai pemandian para raja dan sekeluarga. Tak jauh dari pemandian keluarga, ada sumber mata air yang terus mengeluarkan air meski musim kemarau.
Arumi mengambil air ini dengan wadah botol bekas minuman yang sudah tak terpakai. Dari satu tempat ke tempat lainnya hingga tujuan ini yang ketiga. Sama sebelum mengambil air, Arumi harus melakukan ritual singkat.
"Sudah cukup" celetuk Brian yang terus mendampingi kemana Arumi pergi.
"Ini lebih dari cukup. Sekarang saat nya berburu bakso" jawab Arumi.
__ADS_1
Sebelum nya Arumi sudah memberi tau ini kepada Brian tentang tujuan nya. Tanpa di duga Brian selalu menjawab ok tanpa banyak bertanya.
Bersambung...