Lelembut

Lelembut
Eling lan waspada


__ADS_3

Eling lan waspada merupakan falsafah yang dipegang teguh oleh masyarakat Jawa. Falsafah Jawa ini muncul dan mulai dikenal setelah tercantum dalam karya Ranggawarsita dalam salah satu bait tembang sinom serat kalatida.


Dalam hal ini, eling bukan sekedar ingat dalam makna kulitnya. Tetapi juga menyentuh hakikat dan inti sari dari apa pun yang akan, sedang, dan telah dilakukan. Eling lan waspada dapat membentuk sosok manusia yang selalu rendah hati, tau balas budi, senang tapa ngrame (berbuat kebaikan).


Eling lan waspada artinya dalam segala perbuatan dan tindakan harus selalu ingat dan waspada demi keselamatan.


Tiga kalimat itu seakan diremehkan oleh masyarakat sekarang. Kata kata atau ucapan dari nenek moyang sudah terkikis oleh budaya masa sekarang. Terutama orang Jawa yang sudah hilang jati diri sebagai orang Jawa sesungguhnya. Tutur kata, unggah ungguh, dan tingkah laku sudah hilang di telan bumi, banyak anak anak muda jaman sekarang yang lebih memilih budaya barat. Sopan santun yang dianut oleh jaman dulu kian terkikis oleh jaman sekarang. Bahkan jaman sekarang rasa menolong antar sesama manusia tergantikan sama yang nama nya kamera.


Contoh nya ada orang yang sedang jatuh karna kecelakaan motor, bukannya di tolong langsung melainkan memvideokan atau mengambil gambar dulu baru di tolong. Itu pun kalau sempat.


Ada satu tradisi dari nenek moyang yang sampai saat ini masih di pakai oleh sebagian masyarakat. Tradisi ini masih bertahan dan menyebar hingga seluruh Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke.


Tradisi ini memiliki dua aliran yakni, aliran putih dan aliran hitam. Aliran putih yakni suci. Suci dalam artian hanya di peruntukan menolong masyarakat yang membutuhkan (terkena santet atau ilmu hitam lainnya). Sedangkan aliran hitam sangat di gandrungi oleh sebagian masyarakat. Terutama oknum dukun yang menerima jasa santet, teluh, penglaris dll. Oknum dukun ini selalu siap dan bisa menghadapi permintaan para masyarakat yang datang menghampiri nya.


Santet, teluh dan sebagainya di kirim melalui perantara setan yang di tugaskan oleh dukun untuk menyebar atau menargetkan ke si korban. Santet akan bekerja di malam malam tertentu. Jam jam rawan akan 'kiriman' santet biasa nya di waktu sehabis magrib dan menjelang tengah malam.


Nenek moyang dulu menyarankan tidur sehabis jam dua belas agar terhindar dari 'kiriman', terutama waktu malam kelahiran. Di saran kan jangan tidur sore.


...🍂🍂🍂...


Kakek Djoko semalam hanya tidur dua jam. Bangun pada waktu adzan subuh. Selesai sholat, kakek Djoko memilih olahraga ringan di halaman rumah nya sambari menghirup udara lagi yang kaya akan oksigen.


Satu jam telah berlalu, sekarang kakek Djoko sedang beristirahat di teras rumah seraya menggenggam ponsel. Jari jari keriput nya menekan nomor seseorang. Layar ponsel nya menempel di telinga kakek Djoko.

__ADS_1


Tut...Tut...Tut...


Sekitar sepuluh menit baru lah di angkat panggilan dari kakek Djoko. Suara orang itu terdengar jelas di ponsel kakek Djoko. Suara ini sangat sangat di kenal oleh nya, siapa lagi kalau bukan anak nya yang bernama Baskoro. Ayah kandung dari Arumi dan juga suami dari Aurora.


" Apa anak mu terluka? "


" Alhamdulillah sehat yah, tidak terluka sedikit pun. Tadi malam Baskoro suruh mengerjakan laporan keuangan perusahaan ku, biar si Arumi tidak ngantuk. Dan anak nya sekarang sudah di sekolah " jawab Baskoro dari dalam ponsel.


" Apa bisa Arumi mengerjakan pekerjaan mu, itu sulit bagi anak remaja seperti Arumi. Belum saat nya Bas mengerjakan itu " tutur kakek Djoko.


Baskoro tertawa kecil di sebrang sana " perkenalan aja yah, lagi pula anak nya cepat tanggap dan hasil nya benar semua tidak ada satu rupiah yang berceceran"


Kakek Djoko menggelengkan kepala " lain kali jangan di ulangi lagi. Tugas mu biar di kerjakan sama asisten mu. Jangan kau bebani tugas mu ke Arumi, cukup perkenalkan saja "


" Seperti nya orang yang menyerang tadi malam sudah jatuh sakit "


" Biarkan saja yah, orang seperti itu jangan di kasihani. Itu sudah konsekwensinya. Siapa suruh mau melukai Arumi " dengan nada serius.


Dan mereka pun berlanjut ngobrol hingga tak terasa sudah satu jam lebih dua puluh menit.


" Kakek sama nenek nanti malam nginap di mansion mu "


" Biar sopir ku yang menjemput kalian. Baskoro tutup dulu, assalamualaikum..."

__ADS_1


" Wa'alaikumsalam " jawab kakek Djoko.


Kakek Djoko bangkit dari duduk. Berjalan masuk ke dalam rumah. Langkah kaki terhenti tepat di depan lemari pakaian. Perlahan tangan ini membuka pintu lemari.


Kreet...


Kedua mata ini fokus melihat apa yang ia cari. Saat sudah nampak, baru lah ia ambil dengan cara hati hati.


Satu kotak kecil yang terbuat dari kayu berukiran hewan mitologi berupa gambar naga. Di lengkapi mahkota yang berada di kepala naga itu. Sewaktu di buka, di dalam nya ada kain putih yang ukuran nya sepanjang telapak tangan dewasa.


Kakek Djoko beralih duduk di tepi ranjang dengan salah satu tangan membawa kotak kecil. Tangan satu nya membuka penutup kotak kecil ini.



( Ilustrasi )


" Sudah lama tidak di bersihkan" gumam kakek Djoko ketika membuka keris.


Pembersihan ini secara khusus menggunakan minyak misik putih dan tak lupa menggunakan kapas, agar tangan nya terhindar dari tajam nya keris ini.


Suatu saat keris ini akan berpindah tangan ke Arumi, hanya dia lah yang sanggup merawat keris ini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2