Lelembut

Lelembut
Yang sebenarnya part 1


__ADS_3

Hari berikutnya Abi melanjutkan kegiatan sekolah yang sempat ia tinggalkan karna kondisi yang tak memungkinkan. Hari hari sebelum nya Abi sangat senang ketika sudah sampai di sekolah. Wajah berseri bertemu teman teman nya.


Namun, hari ini sangat berbeda. Wajah senang itu berganti dengan wajah sedih. Langkah kaki menuju kelas sangat lah berat. Sekilas kenangan bersama teman nya muncul dalam ingatan nya.


Hari hari dipenuhi dengan canda tawa. Kini sudah berbeda. Semua hilang bak pasir yang tersapu oleh ombak.


Saat masuk ke kelas, teman teman lainnya menyambut kedatangan Abi. Naik itu cowok dan cewek semua mengumpul di depan pintu.


Satu persatu teman sekelas nya bergantian memeluk Abi. Entah mengapa perasaan ini membuat Abi jadi terharu. Entah apa maksud teman sekelas, yang Abi rasa kan saat ini hanyalah kesunyian dan kehampaan.


Pelukan dari teman sekelas nya seakan tau isi hati Abi. Pelukan hangat itu perlahan bisa Abi rasakan. Saat semua sudah memeluk Abi. Salah satu siswa berkata" yang tabah ya, kita semua juga merasakan apa yang kau rasakan. Bukan hanya kau yang kehilangan, kita di sini juga kehilangan. Jangan merasa sendirian di sini. Ada kita yang selalu ada untuk mu"


Abi hanya bisa senyum, itu pun sangat tipis. Tatapan nya melihat sekeliling. Lagi lagi Abi tidak melihat teman baik nya. Tempat yang selalu di duduki oleh mereka, sekarang kosong. Hanya diri nya lah yang tersisa duduk di situ.


Abi jalan menuju dua bangku yang sudah kosong. Satu kelas melihat Abi yang menatap lama dua bangku yang sudah kosong itu.


Ketua kelas menghampiri Abi yang masih berdiri di samping bangku bangku kosong. Menepuk bahu Abi seraya berkata" sudah takdir mereka, jangan menyalahkan diri sendiri"


Abi menoleh" tapi kenapa harus secepat itu. Bisakah di tunda dulu" kembali menatap dua bangku yang kosong.


Ketua kelas hanya bisa menghela nafas" kematian bisa datang kapan saja. Kita yang masih di sini hanya menunggu giliran. Kapan kita akan menyusul"


Ketua kelas memutar tubuh Abi "boleh sedih, kecewa, menyesal. Tapi harus ingat ada orang tua yang selalu berdoa untuk anak nya agar cita cita terkabul, dan di beri umur panjang. Jadi kau jangan berlarut dalam kesedihan" menepuk bahu Abi dengan semangat.


Abi termenung mencerna kata demi kata" elu bener, enggak seharusnya gue gini. Mungkin ini memang takdir mereka yang tidak bisa di hindari. Thanks udah memberi wejangan ke gue"


Ketua kelas mengangguk dengan senyum riang"emmm...kau keberatan apa enggak kalau dua bangku kosong ini di pindah ke gudang. Jauh jauh hari wali kelas sudah menyampaikan bahwa dua bangku kosong ini akan di pindah hari ini, biar kelas ini rapi, boleh apa enggak"

__ADS_1


Abi menoleh sekilas, setelah itu kembali menatap ketua kelas" silahkan toh itu bukan milik gue. Dan juga biar kelas ini rapi"


" Ok habis ini biar teman lain nya memindahkan dua bangku ini ke gudang" ketua kelas membalikan badan, jalan menuju teman nya.


...🍂🍂🍂...


Jam istirahat pertama siswa siswi berhamburan keluar kelas menuju kantin. Setiap kantin akan selalu ramai di waktu istirahat pertama. Di jam jam segini siswa dan siswi melakukan sarapan pagi bersama di sekolah.


Abi keluar kelas sendirian, teman sekelas nya sudah keluar terlebih dulu. Di banding diri nya. Abi berjalan menyusuri lorong lorong kelas. Langkah kaki ini membawa nya ke sebuah kantin.


Kantin ini penuh dengan memori ingatan nya di kala teman baik nya masih hidup. Sebelum melangkah lebih lanjut, Abi mengeluarkan nafas secara perlahan.


Drap...drap...


" Bu, nasi pecel lauk telur ceplok. Enggak pakai kecambah. Sama minum nya es teh tawar" ucap Abi di depan penjual.


Setelah memesan makanan, Abi duduk di kursi yang masih kosong. Kebetulan tempat nya paling pojok.


Abi duduk sembari bermain ponsel. Tiba tiba ada suara cewek. Langsung Abi mendongakkan kepalanya.


" Bolehkah kami duduk di sini. Meja lain nya sudah full " ujar cewek bersama dua teman nya.


Abi melihat sekitar dan benar ucapan cewek tersebut. Meja yang lain nya sudah full dan hanya meja ini lah yang masih tersisa. Abi mengangguk seraya menatap cewek tersebut.


Tiga cewek ini langsung mencari tempat ternyaman.


" Kalian udah pesan?" tanya Abi hanya sekedar basa basi.

__ADS_1


" Udah kok tinggal nunggu" jawab teman satu nya.


Tiga cewek ini yang duduk di depan Abi ternyata Arumi, Anin dan Siska. Tiga cewek ini makan di kantin yang sama. Sebenar nya Arumi lah yang berniat makan di kantin ini, sekalian ingin bertemu dengan seseorang. Dan orang yang di cari Arumi ialah Abi.


Arumi menunduk bukan berarti tak mau melihat orang di depan nya, melainkan sedang mengaktifkan mata batin. Ya sekarang Arumi sedang melihat empat sosok yang berdiri di belakang Abi. Sosok itu manusia yang sudah meninggal.


Setelah melihat. Sosok mereka sudah hilang. Menghilang menyisakan raut wajah penyesalan. Arumi terdiam mencerna maksud dari mereka. Raut wajah penyesalan masih jelas dalam ingatan Arumi.


Setelah mengetahui arti dari ini semua, perlahan Arumi berani mengutarakan maksud dari arti tersebut.


"Maaf beribu ribu maaf. Gue ingin ngobrol sama elu, apakah boleh?. Perkenalkan nama gue Arumi " menyodorkan tangan nya.


Abi menyambut tangan Arumi " gue Abi, tapi bentar. Kayak enggak asing, pernah lihat di mana ya" kata Abi seraya mengingat sesuatu.


Arumi senyum tipis.


" Oh, waktu persami. Ya gue baru ingat" Abi baru ingat. Saat itu Arumi menghampiri mereka yang tengah bermain jelangkung.


" Ingatan mu masih bagus"menarik tangan nya. " Gimana keadaan elu setelah bermain jelangkung" perkataan Arumi membuat raut wajah seketika berubah menjadi muka masam.


Abi menundukkan pandangan sembari memainkan jari jari.


" Lain kali jangan main jelangkung apa lagi pakai mantra yang tidak jelas itu. Untung saja elu enggak di bawa sama mereka "


" Maksud elu?" menatap dengan tatapan penasaran.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2