Lelembut

Lelembut
Ilmu hitam


__ADS_3

POV: Tasya.


Di sebuah ruang kecil yang sangat temaram, ruangan ini di penuhi dengan barang barang yang menyesatkan. Ruangan penuh dengan bau menyan dan dupa yang semerbak di satu ruangan ini. Tak hanya aroma itu saja, melainkan ada bunga mawar hitam yang di rendam di dalam guci tanah liat.


Meja kecil menjadi saksi bisu Tasya melakukan ritual menyesatkan alias ritual ilmu hitam. Tasya sendiri selalu melakukan ritual ritual pemujaan iblis di hari hari tertentu. Ilmu hitam ini ia dapatkan dari dukun yang berada di gunung Kawi daerah Magelang Jawa Timur. Ia mencari ilmu hitam selama dua bulan lama nya.


Konon Tasya sering mengirim guna guna ke orang yang dia anggap musuh. Korban dari keganasan Tasya hampir dua puluh orang, lima di antara nya sudah tak bernyawa lagi. Dan jiwa dari orang yang sudah meninggal di ambil oleh Tasya untuk di persembahkan kepada iblis yang ia sembah.


Dua teman nya juga terseret masuk ke dalam lingkaran setan yang ia buat. Dua teman nya juga melakukan ritual ritual yang sama dengan apa yang di lakukan oleh Tasya. Orang tua masing masing dari


dua teman nya tidak mengetahui bahwa anak nya telah terjerumus ke lubang yang sangat dalam, bahkan dalam nya bisa menembus kehidupan bawah tanah yang di kenal sangat negatif.


Hari ke hari ilmu yang ia dapat kan terus menambah dan kekuatan ilmu hitam kian meningkat.


Kemana orang tua Tasya? apa tidak mengetahui kegiatan yang di lakukan oleh anak nya di dalam kamar? jawaban nya adalah TIDAK, orang tua Tasya sudah lama pisah ranjang dan Tasya tinggal bersama nenek orang tua dari ibu nya. Usia nenek nya sudah lah tua menginjak delapan puluh tahun.


Jadi kegiatan yang di lakukan Tasya sama sekali tidak di ketahui oleh nenek nya. Tasya berubah menjadi anak yang pendiam ketika di dalam rumah, lain hal nya ketika di luar. Di luar sana Tasya di kenal dengan anak nakal dan sebagian orang tau kalau Tasya mempunyai ilmu hitam.


Lalu apa kaitan nya dengan mawar hitam yang di rendam di dalam air tepat nya di dalam guci yang terbuat dari tanah liat?.


Mawar hitam yang ia rendam itu ada maksud tujuan tertentu. Sebelum memasuki ritual nya Tasya selalu merendam bunga mawar hitam sebagai sarana santet. Kelopak mawar hitam itu di beri tetesan darah ayam hitam atau ayam cemani di tambah meneteskan minyak serimpi di dalam larutan air itu.


Setelah semua nya sudah di jadikan satu barulah, ia mengambil foto atau rambut si korban. Sebelum 'mengirim' energi negatif. Tasya terlebih dulu mengucapkan mantra yang sudah lama ia pelajari.


Mantra demi mantra sudah di lafal kan, kini diri nya memasukan rambut si korban ke dalam air yang sudah di campur darah ayam dan minyak serimpi. Rambut si korban menyatu ke dalam wadah guci tanah liat.


Mulut kecil nya terus ber komat kamit mengucapkan mantra sembari memandang foto yang ia simpan di galeri ponsel. Ritual ini terus berlangsung hingga menunggu air yang berada di guci berubah menjadi warna hitam.

__ADS_1


Sudah tiga jam lamanya air belum juga menunjukan tanda tanda, segala cara sudah ia lakukan. Dan pada saat ini masih belum juga berubah.


Akal nya tak pernah kehabisan ide. Satu cara boleh lah gagal, tapi...cara yang lain nya bisa di coba. Begitu lah cara berpikir nya Tasya.


Cara yang kedua, ialah memanggil prewangan an nya yang wujud nya besar hitam dengan wajah babi disertai dua taring panjang di sisi kanan kiri.


Hingga lima belas menit menunggu tiba lah prewangan yang di panggil oleh Tasya.


" Ada apa kau memanggil ku "dengan suara besar nya.


" Aku memanggil kau untuk mencelakai orang yang bernama Arumi Putri Aurora " jawab Tasya dengan kedua mata terpejam.


" Haha...itu mudah bagi ku, kau harus memberi ku imbalan yang besar berupa darah segar " tawa nya menggelegar layak nya berada di dalam goa.


" Baik lah akan ku carikan darah segar untuk mu. Ada syarat nya kau! harus melenyapkan gadis yang ku maksud tadi, buat lah dia celaka agar tidak bisa masuk sekolah, pergi lah..." ujar Tasya memerintah jin prewangan nya.


Tasya membuka kembali kedua matanya dan mengawasi air yang berada di dalam guci.


" Kali ini gak boleh gagal lagi. Tunggu pembalasan ku " tersenyum licik ke pantulan air.


Lilin lilin masih terjaga menerangi sunyi nya malam. Sunyi layaknya hati sang pemilik kamar ini. Sebelum nya Tasya sudah memerintah jin lainnya untuk mencelakai Arumi ketika di sekolah, ternyata sampai di sekolah gagal. Tidak bisa mencelakai si korban.


Malah yang terkena luka serangan jin prewangan nya. Bisa di katakan kalah dalam usia dan kekuatan.


Tasya yang mendengar kata kalah, langsung naik pitam menghancurkan benda yang ada di depan nya. Tak peduli berserakan di bawah sana. Yang ia pikirkan hanya lah gimana cara nya mencelakai Arumi.


Waktu terus berjalan. Tasya menunggu jin yang ia utus untuk mencelakai Arumi belum kunjung datang. Rasa pesimis mulai muncul di kala jin prewangan nya belum kembali. Tasya masih menunggu hingga jam tiga pagi.

__ADS_1


Hingga empat puluh menit lama nya, air yang berada di dalam guci bergejolak. Tumpah ruah mengenai baju yang ia kenakan.


" Kenapa bisa tumpah? seharusnya warna nya saja yang berubah " gumam nya seraya memperhatikan air yang masih sisa di guci tanah liat.


" Apa jangan jangan kalah lagi "


" Enggak...enggak bisa ini. Harus mencari bala bantuan agar tidak kalah " ucap nya seraya konsentrasi untuk memanggil lain nya menyusul ke tempat Arumi berada.


Menunggu hingga satu jam, belum ada tanda tanda muncul nya para prewangan.


"..."


"..."


Menjelang adzan subuh berkumandang. Baru lah jin prewangan tadi pulang dengan kondisi badan lebam dan memar.


" Kenapa lama sekali!!..." dengan suara batin yang di buat agak tinggi.


" Saya di hajar oleh penghuni rumah dan orang yang punya rumah juga. Semua turun tangan menangkis energi saya"


" Kenapa kau enggak meminta bantuan dari yang lain " tutup Tasya.


" Semua sudah saya kerahkan.."


" Aku enggak mau mendengar penjelasan mu lagi, sana kau kembali ke alam mu " sentak Tasya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2