
Setelah kejadian dua hari lalu yang membuat geger di kantin dan berujung Arumi yang terkena imbas. Pak Baskoro orang tua Arumi datang ke sekolah setelah mendapatkan kabar dari Agus, bahwa Arumi mengalami luka melepuh di area punggung yang di sebab kan oleh teh panas.
Kedatangan orang tua Arumi membuat guru guru kaget karna deddy Baskoro langsung datang ke ruang guru menanyakan perihal anak nya yang sakit. Sebagian guru yang berada di ruang ini bingung karna tidak tau kejadian sebenarnya di kantin.
Salah satu guru mengantarkan ke uks, yang mana Arumi masih di ruangan itu. Tanpa berlama lama deddy Baskoro menghampiri anak nya dan mengajak ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Dan di hari itulah Arumi ijin pulang lebih awal.
Seusai di bawa ke rumah sakit, Arumi di interogasi langsung oleh deddy nya dengan aura yang tidak mengenakan.
" Jelaskan siapa yang melakukan ini semua? " ucap deddy Baskoro dengan suara tegas.
Arumi menundukkan pandangan tak berani menatap wajah deddy nya sendiri karna tidak berani, sedari kecil Arumi takut kalau deddy nya marah. Arumi masih menunduk melihat motif sprei.
" Kalau enggak mau jawab, jangan salah kan deddy kalau terjadi sesuatu sama mereka " ucapan kali ini sangatlah tegas tidak untuk bahas lelucon.
Arumi mendongak dan menggelengkan kepala " jangan ded..."
" Kalau tidak mau, jawab pertanyaan dari deddy? ulah siapa ini. Biar deddy kasih pelajaran " kali ini Arumi akan menceritakan kronologi nya di kantin waktu makan siang.
" Jadi gini ded, waktu Arumi makan sama yang lainnnya enggak ada apa apa. Aman aja, hingga datanglah tiga cewek kakak kelas. Arumi pikir cuma pesan makan di situ, enggak tau nya teh panas yang baru jadi ke siram punggung ku ded. Bilang nya sih enggak sengaja gitu. Tapi Siska sama Anin tau kalau si kakak kelas tuh emang sengaja nyiram teh panas ke punggung, rasa nya mau nangis ded saking panas nya "
" Apa Arumi punya salah ke mereka? "
Arumi menggeleng " enggak ded, bahkan Arumi sendiri enggak kenal. Tapi kenapa ya ded cara pandang nya ke Arumi kayak kesal gitu penuh dendam "
Deddy Baskoro bangkit dan berdiri dengan salah satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana "deddy harap selalu hati hati dengan tiga anak itu "
Arumi mengubah posisi duduk, yang sekarang menghadap ke deddy dengan kedua kaki menggantung di sisi ranjang "emang nya kenapa ded? "
" Entah mengapa perasaan deddy udah enggak enak sama tiga orang itu "
" Maksud deddy? " menaikan satu alis.
Deddy Baskoro jalan mengarah pintu keluar sembari berkata " udah jangan di pikirkan yang penting selalu rajin ibadah. Deddy mau ke bawah, istirahat lah " langsung menghilang bak di telan dinding.
" Deddy ngomong apa sih " Arumi keluar dari kamar menuju taman belakang seraya membawa laptop dan ponsel.
...🍂🍂🍂...
__ADS_1
Hari itu Arumi tidak mengerti arah pembicaraan deddy, ia pikir hanya perkataan pada umum nya. Namun..di balik perkataan itu menyimpan guratan wajah kekhwatiran yang begitu mendalam, terlebih lagi orang tua ke anak.
Tiga hari kemudian, Arumi sudah beraktivitas seperti biasa nya. Dengan kondisi punggung yang sudah membaik di tambah luka akibat teh panas berangsur kering. Kegiatan sekolah berjalan dengan lancar tidak ada gangguan fisik maupun gangguan non fisik. Memasuki hari ke empat gangguan supranatural mulai berdatangan.
Saat sedang menuju ke kamar mandi bayangan hitam selalu mengikuti Arumi dari belakang. Bayangan hitam itu sangat besar dengan bentuk seperti manusia. Di saat hendak ikut masuk ke dalam, bayangan hitam itu terpental seakan ada pagar yang menghalangi nya untuk masuk.
Beberapa detik kemudian baru lah Arumi keluar dari kamar mandi, di situlah bayangan hitam mulai mengikuti nya dengan jarak yang terbilang jauh. Kemanapun berada bayangan hitam itu selalu membuntuti.
Apakah Arumi tidak tau kalau di ikuti oleh bangsa lelembut yang datang nya entah dari kapan?..... Jawaban ada di cerita selanjut nya, terus ikuti cerita ini hingga selesai.
...🍂🍂🍂...
Memasuki jam siang sekitar jam setengah dua, Arumi merasakan perut nya tidak enak. Di tambah rasa nya ingin muntah tapi tidak bisa di muntahkan. Teman di sebelah nya terusik dengan polah Arumi yang sedari tadi tidak bisa diam, sebut saja Sari.
" Elu kenapa Rum? " dengan nada bisik.
Arumi menoleh " perut gue sakit kayak orang mabuk perjalanan "
Sari mengecek kening Arumi " badan lu kok dingin. Masuk angin "
" Mungkin aja Sar..." belum selesai ngomong, tiba tiba jendela kelas pecah tepat satu garis dengan bangku Arumi. Serpihan kaca menyebar di dalam kelas maupun di luar. Lagi lagi Arumi terselamatkan sebab serpihan kaca tak mengenai tubuh Arumi.
Aneh nya serpihan kaca tak mengenai Arumi sedikit pun, seolah ada benteng yang mengelilingi tubuh Arumi. Bangku yang di duduki Sari terdapat banyak serpihan kaca yang ukuran nya bervariasi. Saat itu Arumi hanya bisa terbengong seluruh teman nya memangil nama nya " astaghfirullah! Arumi lari.."
Arumi tersadar dan langsung lari menghindari lampu yang akan jatuh mengenai kepala nya.
Prang....
Bohlam lampu yang ukuran nya setara telapak tangan dewasa, terjatuh dengan sendiri nya. Dalam satu hari ini Arumi benar benar di buat tidak tentram. Selalu saja ada kejadian yang membahayakan diri nya. Kata kata untung sangat melekat di diri Arumi karna ia selalu menjaga sholat nya dan menjalankan puasa sunah. Dan satu lagi, sebelum Arumi berangkat sekolah diri nya di beri deddy berupa gelang yang terdapat batu yang berwarna biru tua. Seolah deddy tau yang akan terjadi kepada putri nya.
Setelah menghindar dari bohlam lampu, Arumi merasakan mual dan tengkuk terasa panas. Dengan gerak cepat Arumi langsung keluar dari kelas menuju kamar mandi terdekat.
Drap...
Drap...
Brak! Arumi membuka pintu kamar mandi dengan cara kasar. Tanpa menunggu lama Arumi memuntahkan isi makanan nya. Hueek...
__ADS_1
Muntahan pertama yang keluar berupa cairan warna putih. Muntahan yang kedua sampai ketiga masih sama berupa cairan warna putih di tambah ada nya lendir yang berwarna merah.
Dari balik pintu kamar mandi Anin dan Siska terus mengetok pintu.
Tok....tok....tok.... " elu baik baik aja kan? " teriak Anin yang mulai cemas dengan kondisi sahabat nya.
Tok....tok...tok..." Arumi elu masih sadar kan" sekarang gantian Siska yang menggedor pintu dengan ketukan yang sangat keras.
Hingga beberapa menit baru lah Arumi menyahut ucapan kedua nya dengan suara lirih " iya sebentar..." setelah mengucapkan kata itu, baru lah pintu kamar mandi terbuka.
Anin dan Siska langsung menarik tubuh Arumi yang sudah tak berdaya. Dalam pelukan mereka baru lah Arumi pingsan dengan tubuh yang sudah dingin dan pucat.
" Arumi!!..." teriakan Anin dan Siska terdengar hingga luar kamar mandi perempuan. Murid murid lain nya yang berjalan sekitaran kamar mandi, langsung masuk menemukan Arumi yang sudah pingsan.
Sekitar dua orang murid laki laki membopong tubuh Arumi menuju uks. Keadaan uks sangat keos karna terdapat tiga orang murid yang terkena serpihan kaca tadi di tambah kedatangan Arumi yang pingsan.
Teman satu kelas berbondong bondong menuju uks melihat teman nya yang terkena serpihan kaca dan melihat Arumi yang masih pingsan.
" Arumi kenapa? " tanya Sari yang kebetulan di UKS dengan kondisi tangan di perban dengan kain kasa.
" Tadi pingsan di kamar mandi. Elu tau Arumi sakit apa, soal nya tadi gue dengar suara muntah " sambung Siska.
" Tadi sebelum pingsan, Arumi mengeluh sakit perut di kelas sama tubuh nya dingin" jawab Sari.
" Apa Arumi masuk angin? " tanya nya.
" Setau kami. Arumi sangat jarang masuk angin " ujar Anin.
" Kalau gitu saat udah bangun, segera kasih obat tolak angi* di campur air anget ya biar badan nya Arumi agak enakan "
" Biar gue yang beli " dari arah belakang tiba tiba Brian menimbrung ucapan mereka.
" Enggak usah biar gue aja " ucap Siska.
" Biar gue aja, kalian jaga Arumi, gue ke kantin dulu siapa tau ada yang jual " Brian melengos keluar dari uks menuju kantin.
Bersambung...
__ADS_1
Bonus visual Siska.