
Satu kelas jurusan administrasi perkantoran telah tiba di halaman sekolah, di sana sudah ada guru olahraga yang sudah lama menunggu kedatangan kami. Saat baru tiba, kami di perintahkan untuk berbaris rapi di pinggir halaman. Guru olahraga pun memberi titah untuk melakukan pemanasan tubuh agar terhindar dari cidera otot.
Semua kelas nampak kompak melakukan pemanasan bersama dengan di pimpin oleh ketua kelas yang berada di depan.
Pemanasan pun berjalan selama dua puluh menit. Setelah itu guru olahraga memberi titah bahwa seluruh kelas lari memutari lapangan sebanyak tiga kali " kalian semua lari sebanyak tiga kali. Kalau kurang dari tiga, maka saya hukum lari lagi sebanyak lima kali "
Titah guru bagaikan raja yang tidak bisa di bantah, lagi lagi murid hanya bisa nurut ucapan guru.
Mereka lari bersama sama mengelilingi halaman sekolah dengan di iringi suara langkah sepatu.
Lima menit pun berlalu, mereka sudah kembali ke tempat masing masing dengan nafas memburu. Yang tadi nya berdiri, sekarang duduk dengan posisi kedua kaki di luruskan ke depan.
Guru olahraga nampak sedang menilai sekaligus mengabsen data yang hadir di jam mengajar nya.
" Yang tidak hadir hari ini siapa? " pandangan mata masih menatap kertas yang ia bawa.
" Yang tidak hadir Rulis sama Arin pak"
" Kenapa enggak masuk? " tanya guru olahraga.
" Rulis sakit pak, Arin ijin enggak masuk karna nenek nya meninggal "
Guru olahraga mengangguk " setelah ini persiapan latihan bola basket. Siapa yang mau ambil bola di ruang olahraga? "
Semua nampak diam, enggan untuk mengambil bola basket di ruang itu. Karna desas desus nya di ruang olahraga seram, banyak penghuni nya. Membuat mereka takut untuk ke sana.
Di tunggu pun di tunggu, ucapan guru nya tadi tidak di tanggapi oleh murid nya. Alhasil guru olahraga menyuruh Arumi dan Brian untuk mengambil bola basket yang ada di ruang olahraga. Orang yang di sebut nama nya langsung bergegas menuju tempat di mana bola basket itu berada.
Dalam perjalanan kedua anak ini nampak diam enggan bertegur sapa, walaupun dua anak ini satu kelas. Hingga mereka telah tiba di depan ruang olahraga yang ruangan nya sangat kecil di apit oleh ruang lab komputer dan ruang tu.
Brian terlebih dulu membuka pintu ruangan ini, sedangkan Arumi berdiri tepat di belakang Brian sembari menunggu pintu ini terbuka.
Krek...
Pintu telah terbuka, Brian masuk terlebih dulu dengan keadaan ruang singup minim dengan cahaya. Di susul Arumi yang masuk ke dalam sembari melihat lihat sekeliling.
" Ian, tolong nyalakan lampu " ucap ku yang kebingungan mencari bola basket karna cahaya matahari sangat minim masuk ke ruang ini.
__ADS_1
Brian pun mencari sakral lampu dan...
Ctekk...
Sakral sudah di nyalakan tapi, lampu nya tidak bisa nyala. Brian merasa bingung dengan sakral lampu, sudah di coba berulang kali dan hasil nya masih sama lampu tidak bisa nyala.
" Udah jangan di buat main, mungkin memang lampu nya udah mati. Sekarang bantu gue mencari bola basket " Arumi memanggil Brian untuk segera mencari bola dari pada main sakral lampu.
Brian dan Arumi sibuk mencari bola basket yang tak kunjung ketemu, kira kira udah hampir lima menitan bola basket tak kunjung ketemu.
" Di mana sih bola nya " Brian ngedumel sepanjang mencari keberadaan bola.
" Iya, udah dari tadi nyari nya. Tapi enggak ketemu juga " sahut Arumi yang masih mencari bola basket.
Duk!
Dua orang ini langsung menengok ke sumber bunyi. Dengan rasa penasaran dua orang ini perlahan mendekat ke sumber suara. Karna mereka yakin tidak ada orang selain mereka di sini dan tidak ada orang yang menyentuh benda di ujung sana. Dengan rasa deg deg an mereka tetap melihat ke sana takut takut kalau ada binatang atau apalah.
Setelah mendekat ke sumber suara, mereka berdua di kejutkan dengan benda yang mereka cari cari, dan tak bukan ialah bola basket. Bola basket yang sedari tadi di cari tiba tiba nongol di sudut dekat nya tumpukan kardus.
Brian yang inisiatif mengambil bola, langsung di cegah oleh Arumi. Arumi berkata " jangan di ambil " dengan mimik muka serius.
Baru dua langkah kaki, Brian terbelalak kaget. Melihat bola basket bergerak dengan sendiri nya tanpa ada orang yang menyentuh. Bola basket itu menggelinding menuju Brian yang masih berdiri. Lama kelamaan Brian makin aneh sebab bola basket itu ada rambut yang berwarna hitam sedikit keriting.
" A...apa itu " Brian berjalan mundur, dengan ekspresi wajah ketakutan.
Perlahan bola basket berubah wujud menjadi kepala manusia dengan muka berdarah darah di tambah gigi nya selalu meringis. Kedua mata melotot.
Brian yang baru pertama kali melihat kepala gelinding di buat terkejut, bagaimana bisa ada kepala yang menggelinding tanpa arah. Brian lari ke belakang tubuh Arumi, diri nya ngumpet tidak mau melihat kepala itu lagi.
" Itu apa Rum? singkirkan kepala itu "ujar Brian dengan nada ketakutan.
" Haahhh..." menghela nafas. " Kan udah gue bilang tadi, enggak usah ke situ. Bebal sih jadi orang " bukan nya mengusir kepala gelinding, Arumi memilih memarahi Brian.
" Ya...iya gue salah, tapi bisa enggak sih itu di usir dulu. Takut nih gue " dengar ucapan Brian. Baru lah Arumi sadar bahwa kepala gelinding itu masih di depan nya dengan bibir yang masih tersenyum lebar memperlihatkan gigi nya.
Arumi hanya mengeluarkan tiga kata " keluar dari sini " dengan wajah lempeng tak ada rasa takut atau pun jijik.
__ADS_1
Kepala gelinding masih terdiam menatap Arumi. 'Dia' menatap Arumi tanpa berkedip. Bukan nya pergi malah 'dia' mengeluarkan bau busuk yang keluar dari mulut nya. Aroma bau busuk itu tercium menusuk ke dalam hidung. Bau ini tercium juga oleh Arumi dan Brian.
" Sialan! bau apa ini " celetuk Brian yang masih ngumpet di belakang Arumi.
Arumi yang sudah muak dengan kepala ini, memilih pergi mencari bola basket sungguhan bukan jelmaan " dahlah biarin itu di sini, nanti juga hilang sendiri. Kita cari bola basket nya" Arumi menarik kerah belakang kaos olahraga yang di kenakan Brian.
" Kenapa masih cari bola nya, ayo pergi dari sini. Ngapain sih masih di sini " Brian menyamakan langkah kaki Arumi.
" Sssttt..." menoleh ke Brian. " Tuh bola basket nya, tolong ambilkan" Arumi menyuruh Brian mengambil bola basket yang berada di dalam ranjang.
Brian menggeleng " enggak mau, nanti berubah jadi kepala. Elu aja yang ngambil"
" Itu beneran bola Brian! cepat lah ambil keburu di hukum " Arumi sedikit menaikan intonasi suara.
" Gue enggak mau " Brian kali ini beneran ketakutan dengan kejadian yang barusan ia alami.
" Cepat ambil tuh bola, habis olahraga gue traktir di kantin "
Brian diam sejenak " ok.." dengan satu kali ucapan Brian langsung mengambil bola basket yang berada di dalam ranjang.
" Tangkap " Brian melempar bola basket.
"Denger kata traktir langsung semangat" ujar Arumi yang sudah di luar ruang sembari membawa bola basket.
" Jelas lah mumpung gratis" sambung Brian yang menutup kembali pintu ruang olahraga sembari membawa bola basket.
" Dasar" gumam Arumi.
Bersambung...
...Gundul pringis...
Kepala gelinding atau bisa di sebut gundul pringis. Hantu yang sering di jumpai di sekitar pepohonan kelapa. Hantu ini berwujud seperti kepala tanpa tubuh yang menggelinding dan wajahnya terlihat meringis atau menyeringai. Konon hantu ini sering melukai orang yang kebetulan melihat nya. Cara mendapatkan mangsa ialah mengubah penampilan menyerupai buah kelapa yang jatuh dari pohon setelah itu barulah kepala nya di gelinding kan ke arah target.
...♠♠♠...
Hai...hai... halo semua nya author mau berbagi cerita nih, dengar baik baik ok. Hari ini author akan promosi novel baru yang genre nya masih berbau horor. Judul novel nya Tragedi berdarah. Silahkan kakak kakak yang suka dengan genre horor bisa mampir ke novel author yang ke 4, semoga kalian suka💝. Jangan lupa klik favorit, like , klik hadiah serta vote dan jangan lupa tinggalkan jejak positif di kolom komentar. Bye...
__ADS_1