
Setelah berenang di pagi hari, kini mereka lanjut pergi menuju suatu tempat yang belum pernah mereka kunjungi.
Mereka bertiga berangkat menggunakan mobil yang di sopir oleh sopir dari keluarga Arumi.
" Pak ke alamat ini ya " Arumi menunjukan alamat kepada sopir nya, melalui ponsel yang ia pegang.
" Baik neng " ucap sopir yang di tugaskan oleh tuan nya untuk mengantar putrinya dan kedua teman.
Mobil pun melesat ke jalan raya dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam. Dari mansion ke tempat yang dituju membutuhkan waktu hampir dua jam setengah.
Di perjalanan mereka bertiga saling bertukar cerita entah itu masalah pribadi atau masalah yang lain nya.
Arumi keceplosan saat bercerita bahwa ia semalam di 'ganggu' oleh suara anah yang tidak tau asal nya dari mana " eh, kalian tau enggak semalam gue dengar suara petasan di atas genting, terus suara lemparan batu yang paling gue kaget pas dengar tuh. Gue denger suara orang jatuh dari atas ke bawah, mana malam lagi pas gue tidur " kepala nya di sandarkan di bantalan jok, dengan posisi kepala miring kanan.
" Kalau suara petasan mungkin itu ada orang yang lagi main petasan jadi kedengaran dari rumah mu " jawab Siska yang masih bersifat positif.
Arumi mengelak " mana mungkin Sis, orang main petasan sekitar jam sepuluh malam itu pun, kalau ada yang main petasan pasti terdengar suara orang orang. Kalau ada orang yang lagi main petasan mesti suara nya hanya nyampe ke ruang tamu. Jarak ruang tamu ke dapur lumayan loh. Suara petasan nya kedengaran jelas di dapur "
" Berapa kali dengar nya? " sahut Anin.
Arumi mengetuk kening nya " satu kali "
" Selain elu dengar suara petasan ada lagi? " Anin mengubah posisi duduk, agar nyaman saat ngobrol sama Arumi. Karna posisi duduk Anin paling pojok dekat pintu mobil, sedangkan posisi duduk Siska berada di tengah antara Arumi dan Anin.
" Pas dari dapur kan gue jalan sambil bawa mangkok sama tumbler, kalau mau naik ke lantai atas harus melewati taman kan. Kalian masih ingat kan letak taman nya?"
Anin dan Siska mengangguk.
" Terus pas gue lewat taman, gue dengar suara kayak orang lagi lempar batu. Terus baru nya kena genting pasti ada suara kan. Itu gue dengar sangat jelas, mana deddy sama bunda masih belum tidur. Masa iye gue salah dengar " kaki Arumi di angkat salah satu, seperti orang yang duduk bersila. Tetapi kaki yang satu nya lagi masih di bawah.
" Kalau beneran orang gabut melempar batu, harus nya ada barang bukti berupa batu beneran, itu semalam enggak ada, udah gue cari mana taman nya full lampu masa iye gue enggak jelas lihat nya. Terus sejak kapan orang luar tau kalau di rumah gue ada taman di dalam. Kalau misal orang dalam yang lagi gabut terus lempar batu ke genting, lewat mana itu taman bolong atas nya tembok belakang itu kamar nya para mbak mbak yang bekerja di mansion terus kamar sopir sebelah kiri. Bagian belakang ada ruang kosong tempat jemur baju itu pun atas nya pakai asbes bening tebal. Jadi enggak bisa dong orang belakang lempar batu sampai ke taman. Jarak nya pun jauh. Kalau semalam itu suara baru meteor jatuh gue percaya karna atas taman kan bolong enggak ada penghalang kalau hujan ya kehujanan "
Sopir yang lagi mengemudi mobil pun ikut berkomentar " saya juga dengar loh non, kirain itu suara tikus. Mana suara nya sampai kedengaran di kamar saya "
Arumi tercengang, setelah mendengar curhatan sopir pribadi keluarga nya.
" Hah!! masa sih pak sampai kedengaran ke kamar bapak. Kan jarak kamar bapak sama taman jauh loh pak. Terus dengar nya jam berapa? "
" Kira kira jam sepuluh non, itu pun ruang bagian belakang masih ramai orang orang. Bukan saya saja yang dengar mbak mbak sama pak Toro juga dengar, mau lapor ke tuan nanti di kira saya mengada ngada "
__ADS_1
" Jangan jangan itu kiriman santet yang gagal Rum? elu udah tanya langsung ke deddy atau ke kakek mu " imbuh Siska yang posisi duduk tidak berubah sama sekali.
Arumi melirik matanya ke Siska yang kebetulan bersebelahan dengan nya " gue belum ngomong apa pun " pandangan Arumi berganti ke jendela luar.
Arumi memandang jalan raya cukup lama, hingga tubuh nya ia tarik tegak, tangan kanan mengulur memegang pundak orang yang ada di depan nya.
" Pak putar balik, tidak jadi ke sana "
Sopir menoleh ke belakang " kenapa non? ini nanggung perjalanan nya. Kenapa tidak jadi ke sana? "
Anin dan Siska mengerutkan keningnya, sambil menatap punggung Arumi.
" Kenapa Rum? nanggung loh bentar lagi nyampe. Emang mau kemana? " cerca Anin.
" Perasaan gue kok pengen banget ke rumah kakek " menoleh ke belakang dan membenarkan posisi duduk nya.
" Jangan bilang kita ini pergi ke rumah kakek Djoko? " sambung Siska.
Arumi menjentikkan dua jari " good girl "
" Pak putar jalan menuju rumah kakek saya"
...****************...
Mobil Mercedes Benz AMG GT berwarna putih, masuk ke dalam pekarangan rumah yang sangat asri dan sederhana. Mobil itu berhasil parkir dengan sempurna di halaman rumah milik pak Djoko.
Orang yang berada di dalam mobil turun dengan anggun dan dengan gaya nya sendiri.
" Assalamualaikum kakek nenek, Arumi datang " Arumi mengetuk pintu yang tertutup rapat.
" Iya sebentar " balas orang yang berada di dalam.
" Oh kalian...Monggo masuk ke dalam " mempersilahkan tamu masuk ke dalam.
" Nenek sama kakek kemana bik? " Arumi masih berdiri di sebelah foto keluarga yang tertancap di dinding.
" Ada di dalam, sebentar saya panggilkan"
Lima menit kemudian...
__ADS_1
" Ada apa rame rame datang ke sini? " tanya nenek Suminten yang baru tiba bersama suami nya yang berjalan dari kamar menuju ruang tamu.
" Ada masalah apa hingga kalian ke sini " ucap kakek Djoko yang baru mendudukan diri di kursi tamu.
Arumi langsung duduk di sebelah kakek nya " jadi gini kek..." Arumi menceritakan awal kejadian hingga terakhir semalam mendengar suara orang jatuh dari atas.
Kakek Djoko menanggapi dengan anggukan kepala dan di tambah senyum tipis.
" Kalau ada suara seperti petasan atau suara dentuman keras yang sumber bunyi nya dari atas genting itu tanda nya baik baik saja. Tidak ada masalah yang mengganggu, itu tanda nya barang kiriman yang niat nya mau masuk menyerang orang yang berada di dalam. Di tangkis oleh penghuni rumah yang bersifat positif. Seperti orang melempar bola ke dinding pasti akan kembali ke yang memainkan. Justru yang tidak ada bunyi apa pun tau tau masuk ke dalam, dan semua penghuni rumah terutama yang di targetkan akan jatuh sakit. Karna rumah nya tidak di kasih 'pagar' gaib dan 'pagar' diri. Gampang untuk bisa masuk ke dalam rumah, itu yang lebih bahaya. Sejak kapan suara itu muncul Rum? "
" Kalau masalah bunyi bunyi sih semalam, kalau perasaan tidak enak pas kemarin sehabis pulang dari mall. Itu pun Arumi udah merasakan ada nya hawa yang tidak beres. Aneh nya kek, buku yang aku bawa sebelum ada nya kejadian itu udah ada peringatan dua kata. Kirain buat lusa, tau nya malah semalam. Arumi sudah mengecek ke seluruh mansion tapi tidak menemukan apapun. Malah mendengar suara suara aneh di atas genting "
" Deddy mu sudah tau tentang ini? " sambung nenek Suminten.
" Mungkin sudah nek. Nyata nya pas pulang dari mall, deddy berdiri di taman depan sambil memandang langit. Terus kaki kanan deddy menghentak tanah sebanyak tiga kali "
" kek, berarti kalau ada suara petasan itu tanda nya orang yang mau 'ngirim' itu gagal ya " sahut Anin yang dari tadi mendengar cerita Arumi dan kakek Djoko.
" Benar " mengangguk kepala.
" Terus siapa kek yang mengirim itu, kok jahat sekali sih " Siska pun ikut menimbrung.
" Kakek belum bisa memastikan nya, kalau belum melihat langsung rumah nya. Tapi kalau dari cerita Arumi itu bisa di katakan orang terdekat yang begitu tidak suka dengan orang yang di targetkan "
Arumi berkata " masa semua orang di targetkan kan kek? "
" Bukan semua orang tapi, deddy mu lah yang di targetkan oleh orang itu "
" Kenapa deddy kek? "
" Tanya kan langsung kepada deddy mu, pasti deddy mu tau "
Kakek Djoko dan nenek Suminten berdiri dari tempat duduk dan berjalan mengarah ke dalam.
" Mau kemana? " Siska yang sudah mode penasaran.
Nenek Suminten membalikan badan " panen buah, mau ikut? "
Tiga orang yang tegah duduk, seketika berdiri dan ikut menyusul sepasang suami istri yang sudah tua.
__ADS_1
Bersambung....