
Seusai berbincang bincang di taman belakang, Arumi dan kedua orang tua nya memutuskan masuk ke dalam. Karna hari sudah malam dan angin malam tidak baik untuk kesehatan.
Seusai bersih bersih diri dan sholat isya, Arumi bergerak menuju ranjang tempat tidur nya, lampu utama di padamkan dan sekarang beralih menggunakan lampu tidur, yang penerangan nya sangat minim ( remang remang ).
Hanya butuh waktu 60 detik Arumi memejamkan kedua matanya. Jam pun berjalan hingga jarum panjang dan jarum pendek menunjukan pukul 4 pagi.
Arumi terbangun dari tidur dan merasakan sakit di bagian punggung sebelah kiri, sakit nya seperti di tusuk menggunakan benda tajam. Sakit sekali, mau gerak pun tak bisa, sangking sakit nya Arumi sempat meneteskan air mata.
Arumi terus mengusap punggung yang berada di area sakit. Terus di usap usap hingga telapak tangan nya memegang benda kenyal yang berukuran kecil. Arumi penasaran di ambil lah benda kenyal itu yang asal nya dari punggung yang sakit itu.
Di saat sudah di genggam, perlahan telapak tangan di buka sedikit demi sedikit. Kedua mata Arumi terbelalak lebar, tanpa melihat lagi Arumi lempar ke sembarang arah. Detak jantung nya berpacu sangat kencang disertai keringat dingin, kedua telapak tangan terasa dingin. Benda kenyal yang ia pegang itu ternyata belatung yang ukuran nya sangat besar dengan warna putih.
Tidak sampai di situ saja, Arumi merasakan seprei nya basah. Di tengok lah ke bawah dan ternyata darah yang mengalir dari punggung nya, satu ranjang penuh dengan warna merah darah. Di situlah Arumi nangis histeris sejadi jadinya.
Ingin turun dari ranjang, tapi punggung nya sudah tak bisa di gerakan. Hal hasil Arumi hanya bisa berteriak sekeras keras nya memanggil deddy dan bunda.
Namun usaha nya gagal, karna kedua orang tua nya tak kunjung datang ke kamar nya. Di situ Arumi menangis meraung raung sembari membuang semua benda yang ada di sekitar nya yakni bantal, guling, boneka serta gelas yang berada di atas nakas.
Sudah satu jam lama nya orang tua Arumi belum kunjung datang menemui anak nya. Semakin mengeluarkan air mata, semakin pula sakit yang di rasakan semakin parah. Yang awal nya cuma rasa sakit perlahan ada luka besar di area sakit itu, luka nya terbuka secara perlahan namun pasti.
Sekuat tenaga Arumi menahan rasa sakit ini, semakin banyak darah yang mengalir. Dan darah nya menetes ke bawah dan membanjiri lantai di bawah.
Rasa sakit yang berada di punggung menjalar sampai ke atas. Kepala dan tenggorokan lah yang di serang. Sampai Arumi tak tahan, kedua tangan nya menarik rambut nya sendiri hingga rontok. Tenggorokan serasa di siram air keras.
Dan Arumi jatuh pingsan di ranjang.
__ADS_1
...****************...
Rangkaian kejadian yang mengerikan itu hanyalah mimpi buruk Arumi. Arumi terbangun dari tidur nya dengan peluh keringat sebesar biji jagung. Arumi bangun di saat menjelang subuh.
Di saat terbangun dari mimpi buruk nya, Arumi bergegas mengambil air wudhu, saat berada di dalam kamar mandi Arumi memandang diri nya di pantulan cermin yang tergantung di dinding keramik.
Arumi membasuh muka nya sebanyak tiga kali seraya mengingat mimpi nya yang mengerikan itu. Tangan kanan menutup keran air dan tangan kiri memegang pinggiran wastafel dengan kepala masih menunduk ke bawah.
" Ya Allah mimpi apa tadi, kok semenyeramkan gitu " ujar Arumi yang melihat diri nya melalui pantulan cermin.
Hampir lima menit Arumi bercermin di pantulan cermin.
" Kenapa gue harus mimpi yang seram seram sih. Untung tadi hanya mimpi kalau beneran di dunia nyata, entah apa yang harus gue lakuin " mengusap rambut nya sampai ke belakang.
Arumi balik badan dan beralih menuju keran yang khusus untuk berwudhu.
Setelah menyiapkan baju seragam yang di letakan di atas ranjang, Arumi berjalan menuju meja belajar untuk mengambil tas sekolah. Di saat ingin mengambil tas sekolah Arumi melihat buku kuno yang masih tertutup. Arumi ambil buku kuno itu, membuka lembaran yang kemarin siang ia baca. Siapa tau ada petunjuk baru yang muncul.
Dan benar saja ada petunjuk baru yang bertulisan bahasa Jawa alus ( latin ). Yang arti nya dia sangat menyesal, tolong sempurnakan agar tenang.
" Siapa yang menyesal? terus enggak ada petunjuk baru lagi. Ini di tunjuk kan untuk siapa? " batin Arumi yang baru membaca tulisan tadi.
" Apa gue bawa buku ini ya?! kalau di bawa nanti ketauan sama yang lain. Terus menyimpan buku ini tidak boleh sembarangan. Kalau gue maksa bawa buku ini di masukan ke dalam tas. Terus tas gue enggak sengaja di lempar atau di duduki sama orang lain, yang celaka orang yang memakai tas gue. Kalau enggak di bawa gimana mau diskusi dengan Anin dan Siska " pikir Arumi yang masih memandang sampul buku kuno.
Setelah di pikir pikir, Arumi memutuskan memfoto lembaran tadi dan menyimpan nya di album foto. Setelah beres memfoto lembaran tadi, Arumi beranjak mengambil baju bersih dan berjalan menuju kamar mandi karna jam sudah menunjukan pukul enam pagi.
__ADS_1
...****************...
Arumi sudah siap tinggal menunggu bunda Aurora yang masih berkutat di meja makan.
" Bun ayo lah cepat dikit, nanti Arumi telat ini udah jam setengah tujuh " ucap Arumi yang menunggu di ruang tamu.
" Yaa bentar, masih cari tutup wadah bekal " balas bunda Aurora yang masih di ruang makan.
Arumi memasang muka masam dengan bibir nya sedikit maju ke depan, kedua alis menyatu serta tatapan tajam bagaikan belati.
Tak lama kemudian bunda Aurora datang sambil membawa wadah bekal dua yang di tenteng tanpa menggunakan tas bekal.
" Ayo jadi berangkat apa enggak? "
" Jadi lah, nanti kalau telat di hukum berdiri di depan tiang bendera. Kan Arumi enggak kuat panas panas an " jawab Arumi yang sudah di depan pintu mobil.
Bunda Aurora memberi satu wadah bekal kepada anak nya " di habiskan bekal nya, jangan di buang, mubazir "
" Ok.."
Bunda Aurora dan Arumi berangkat bersama karna jam mereka berdua hampir sama dan arah jalan nya searah.
Di perjalanan Arumi masih mengingat tentang mimpi buruk semalam, Arumi berusaha melupakan mimpi itu namun tak bisa. Seakan mimpi semalam benar benar nyata.
Arumi menghadap ke jendela mobil sembari membatin " apa ada kaitan nya sama hantu kemarin? "
__ADS_1
Bersambung....