Lelembut

Lelembut
Gelisah


__ADS_3

Musim libur kenaikan kelas tinggal lima hari lagi. Semua para murid murid di sibukkan dengan perlengkapan sekolah berupa buku tulis baru , sepatu , tas dan perlengkapan menulis. Dan ada pula yang sudah membeli seragam jadi, dan ada pula yang sedang menunggu seragam yang sedang di jahit di tukang penjahit.


Anin , Arumi dan Siska lagi lagi satu sekolahan, satu jurusan dan satu kelas. Mereka memilih sekolah SMK swasta yang berada di kota J. Mereka bertiga memilih jurusan administrasi perkantoran.


Mereka mendaftarkan dengan jalur prestasi, karna nilai ujian mereka sangat tinggi se sekolahan dan sekabupaten. Tidak salah mereka daftar ke sekolah SMK swasta favorit.


Anin dan Siska sudah belanja kebutuhan sekolah bersama orang tua masing masing. Sekarang giliran Arumi yang belanja kebutuhan sekolah, Arumi di temani oleh kedua orang tua nya, meskipun deddy Baskoro sibuk di pekerjaan, sebisa mungkin untuk menemani anak dan istri berbelanja di mall. Karna waktu bersama keluarga sangat lah penting. Waktu tidak bisa di putar atau di hentikan. Luangkan waktu bersama keluarga karna keluarga sangat lah berarti.


Deddy Baskoro, bunda Aurora dan Arumi telah sampai di mall yang letak nya tidak jauh dari kantor deddy bekerja. Kira kira menempuh jarak empat puluh lima menit dari kantor.


" Sepatu Arumi sudah rusak apa belum kalau udah rusak, sekalian beli di sini mumpung ada diskon. Tadi bunda lihat ada diskon, sepatu nya bagus bagus pula" kini orang tua Arumi dan Arumi telah sampai di lantai dua yang berisi seperti sekolah dan tas sekolah.


" Sepatu ku masih bagus bun, enggak usah beli yang baru " Arumi berjalan mengarah ke Gr*medi*. Di sana ada berbagai macam buku mulai dari novel romansa,cerita anak, novel horor, buku pelajaran, buku bisnis, buku tulis, dan tas sekolah.


Arumi mengambil buku tulis dua lusin, bolpoin tiga kotak, stabilo, pensil lima biji, setipo kertas enam biji, tempat pensil, penghapus, rautan pensil, dan mengambil beberapa novel horor dan buku tentang kerajaan Majapahit.


Arumi melangkahkan kaki menuju meja kasir sembari membawa keranjang belanja dan disusul oleh orang tua Arumi.


Sampai di meja kasir Arumi meletakan keranjang belanja tepat di depan kasir, dan penjaga kasir pun mengambil barang yang di ambil oleh Arumi untuk di scan supaya tau total belanjaan yang Arumi ambil.


" Total semua nya tiga ratus delapan puluh tujuh lima ratus " ucap penjaga kasir yang telah usai total semua belanjaan Arumi.


Deddy Baskoro yang sedari tadi berada di belakang Arumi, bergegas mengeluarkan dompet untuk mengeluarkan kartu ATM yang ia miliki.


" Bayar pakai kartu ini bisa " tutur deddy Baskoro seraya menunjukan kartu yang ia pegang.


" Bisa pak " penjaga kasir mengambil kartu yang sempat di pegang oleh deddy Baskoro. Penjaga kasir memasukan kartu ATM ke mesin EDC yang bentuk nya seperti telepon genggam model lama dengan layar yang kecil.


Penjaga kasir berkata " silahkan isi sandi di sini "


Deddy Baskoro menekan angka demi angka setelah di rasa sudah benar baru lah mesin EDC di serahkan kembali ke penjaga kasir.


" Baik pak saya tekan setuju " tutur penjaga kasir sambil memperlihatkan layar kecil pada mesin EDC kepada deddy Baskoro.


" Baik pak transaksi berhasil. Terimakasih atas kunjungan nya " sambil menyerahkan satu kantong belanja kepada Arumi.


" Terimakasih mbak " ucap balik Arumi sebelum menjauh dari toko Gr*medi*.


...****************...

__ADS_1


Kedua orang tua Arumi dan Arumi berpindah ke lantai sebelah untuk membeli sepatu buat deddy Baskoro dan ini lah tugas bunda Aurora memilih model sepatu yang cocok untuk suami nya.


Setelah di rasa cocok baru lah bunda Aurora membawa sepatu ke kasir dan melakukan transaksi menggunakan ATM.


" Ayo kita beli makan di lantai atas " bunda Aurora menenteng tas belanja berisi sepatu kerja milik deddy Baskoro. Bunda Aurora mengajak suami dan anak mampir beli makan ke food court yang berada di lantai paling atas yakni lantai tiga.


Tiga orang berjalan menuju eskalator untuk membawa mereka ke lantai atas. Tangan deddy Baskoro memeluk erat pinggang istri nya seakan akan tidak mau pisah oleh istri nya.


...****************...


Setelah makan di food court dan belanja, akhirnya orang tua Arumi dan Arumi kembali pulang ke mansion.


Di saat keluar dari besment mall Arumi tidak merasakan ada hal yang aneh. Arumi duduk di jok tengah seraya memainkan ponsel nya.


Pada saat melewati perempatan di situlah Arumi merasakan ada yang tidak beres. Arumi merasakan gelisah yang penyebab nya tidak tau. Yang Arumi rasakan hanya gelisah saja.


Deddy Baskoro melirik ke spion tengah sambil berkata " kenapa duduk mu tidak tenang, ada masalah apa?"


Arumi menatap kepala belakang deddy Baskoro dan berkata " enggak apa apa ded, mungkin kelamaan duduk, jadi nya pantat rasa nya kebas "


" Kalau ada masalah cepat cerita ke deddy atau bunda jangan di pendam sendirian itu tidak baik. Walau itu masalah sepele atau berat tetap cerita ke orang tua, biar orang tua tau penyebab nya dan bisa membantu mencari jalan keluar " ucapan deddy Baskoro seakan akan tepat sasaran, walaupun itu hanya ucapan biasa saja namun di balik ucapan itu ada makna yang begitu besar.


...****************...


Blam!!! ( suara pintu mobil yang di tutup) Arumi berjalan sambil menenteng tas belanjaan dan berjalan masuk ke dalam bersama bunda Aurora. Sedangkan deddy Baskoro masih di luar dengan di temani sebatang rokok dan pemantik api.


Deddy Baskoro berdiri di taman depan, dengan posisi kepala memandang ke arah langit. Sehabis memandang langit, deddy Baskoro mengangguk kan kepala dan membuang asap rokok melalui kedua lubang hidung dan mulut.


Deddy Baskoro menghentakkan kaki kanan ke atas tanah sebanyak tiga kali. Dengan kedua tangan di masukan ke dalam saku celana.


Gerak gerik deddy Baskoro tak lepas dari pantauan Arumi yang melihat deddy nya dari balkon kamar tidur. Arumi mengintip dari balik korden jendela. Kalau ia keluar bisa bisa ketauan deddy nya dan menyuruh nya masuk ke dalam.


" Kenapa deddy menghentakkan ke tanah sebanyak tiga kali? buat apa? apa kaki di deddy kesemutan, asam urat nya naik? kalau capek ngapain masih berdiri di sana mana panas lagi di luar " gerutu Arumi di balik korden jendela.


Batang rokok tinggal seruas ibu jari, baru lah di lempar ke tanah di injak dan di pungut di masukan ke tong sampah, baru lah deddy masuk ke dalam mansion.


Malam hari pun tiba pada saat jam sembilan lewat dua puluh tiga menit, buku pemberian kakek Djoko bersinar merah. Membuat Arumi bergegas menuju meja belajar. Karna buku kuno itu di simpan di meja belajar.


Arumi bawa dalam dekapan nya dan berbalik badan menuju tempat tidur yang masih membiarkan laptop menyala. Arumi membuka buku kuno itu tiap lembar hingga lembaran yang sekarang ia pegang.

__ADS_1


Lembaran yang ia pegang berisi dua tulisan yang pertama jam dua belas malam dan yang kedua berdoa. Di situ Arumi merasa ada yang aneh mengapa buku kuno ini mengeluarkan sinar merah di tambah ada dua tulisan yang berisi peringatan.


Arumi coba menebak nebak namun tak kunjung mendapatkan jawaban, hingga ia memutuskan menyimpan buku kuno di atas tempat tidur, membiarkan buku itu terbuka.


Arumi turun dari tempat tidur dan berjalan menuju lantai bawah.


Drap....


Drap...


Arumi turun melalui tangga.


" Loh deddy lihat film di sini? " tanya Arumi yang baru menginjakan kaki di anak tangga paling akhir. Arumi mendapati deddy Baskoro duduk di sofa panjang di ruang keluarga.


" Iya, sekalian nunggu bunda lagi buat sup makaroni " Deddy Baskoro menyelonjorkan kedua kaki di bawah dan punggung nya di sandarkan di punggung sofa.


Arumi mengangguk kecil dan melanjutkan jalan nya menuju dapur bersih dan di sana lah bunda Aurora masih asik mencicip rasa sup makaroni.


" Tumben bun jam segini masak sup makaroni, siapa yang minta? " Arumi mengambil tumbler minum yang berada di laci dapur paling atas dan berbalik badan berjalan menuju dispenser air.


" Deddy yang minta tadi. Kalau mau tinggal ambil sendiri di panci masih sisa banyak " imbuh bunda Aurora yang sibuk menyiapkan mangkok dua untuk diri nya dan juga suami nya.


" Woke bun, tau aja kalau Arumi lapar" meletakan tumbler di meja pantry. Tumbler nya ia isi air dingin karna cuaca malam ini sangat panas dan gerah. Membuat cepat haus.


Selesai mengambil sup makaroni ke dalam mangkok baru lah bunda Aurora menuju ruang keluarga yang mana deddy Baskoro sedang menunggu.


Sedang asik mengambil sup makaroni di panci, Arumi mendengar suara yang mirip dengan petasan yang asal suara nya dari atas. Namun suara nya sangat keras.


" Ah... masa sudah malam masih ada yang main petasan. Kurang kerjaan deh" batin Arumi yang membawa mangkok berisi sup makaroni dan akan ia bawa ke kamar yang berada di lantai dua. Tak hanya membawa mangkok saja melainkan membawa tumbler juga ke atas.


" Enggak makan di sini aja rum? " bunda Arumi melihat anak nya kesusahan membawa barang bawaan nya.


" Enggak bun, sekalian nonton drakor sambil makan " jawab Arumi tanpa melihat bunda nya, Arumi hanya fokus ke depan dan sesekali fokus ke barang yang ia bawa.



Hanya ilustrasi ( dapur bersih )


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2