
Teng...teng...teng...
Suara ini yang di harap harapkan oleh semua murid yang bersekolah di sini. Semua murid mulai dari kelas X sampai kelas XII berhamburan keluar dari kelas menuju gerbang sekolah. Suara riuh menghiasi suasana pagi ini, begitu pun dengan tiga anak ini yang baru saja keluar dari persembunyian.
" Ayo kita pulang sekarang!, mumpung semua anak anak pada berhamburan keluar " ucap Siska yang memberi aba aba ke dua sahabatnya.
Anin dan Arumi keluar dari persembunyian dengan cara mengendap ngendap.
" Enggak ada yang tau kan kalau kita tadi sembunyi di ruang lab komputer" bisik Arumi yang mengikuti langkah kaki Siska yang sudah jalan di depan nya.
" Enggak lah, gue jamin deh enggak ada yang tau atau pun lihat " jawab Siska dengan nada santai.
" Kalau ada yang tau gimana? "
" Tinggal jawab apa susah nya " timpal Anin.
Tiga anak ini berada di luar pagar sekolah dengan selamat. Mereka berdiri di sebelah sisi kanan pagar sekolah.
" Siapa yang dari kalian yang sudah memesan taksi online? " tanya Anin yang sibuk membaca dengan novel nya yang baru ia pinjam.
" Udah gue pesan, mungkin bentar lagi sampai nya" jawab Arumi sembari scroll media sosial.
Di saat lain nya sibuk dengan dunia nya sendiri, Siska hanya melihat kendaraan yang sedang berlalu lintas di jalan raya tepat di depan sekolahan.
Tanpa Siska sadari di belakang tubuh nya ada satu tangan nya mengulur ingin memegang pundak nya. Tangan itu nampak banyak kerut kerut di tambah ada luka yang sudah mengering di sekitar punggung tangan.
Tangan itu ingin sekali memegang pundak Siska, namun usaha nya tak berjalan mulus karna pesanan taksi online telah tiba membuat Siska bergegas masuk ke dalam mobil itu bersama dengan Anin dan Arumi yang duduk di jok belakang.
" Si*l! usaha ku tak berhasil " dengan tatapan mata kosong memandang mobil yang sudah menjauh dari tempat sekolah.
Di sepanjang perjalan menuju rumah Siska tak ada gangguan, semua berjalan dengan mulus tanpa ada hambatan.
Anin dan Siska sudah masuk duluan ke dalam rumah nya Siska dan Arumi sedang membayar driver taksi online yang ia pesan melalui aplikasi di ponsel nya.
" Terimakasih neng " jawab driver yang baru saja menerima upah atau bayaran dari Arumi.
Setelah mendapatkan bayaran dari pelanggan, mobil yang di tumpangi oleh tiga anak ini melaju menjauh dari tempat titik yang dituju.
Arumi masuk dan menyusul Anin dan Siska. Sampai di dalam rumah ( Siska ), Arumi memilih duduk di sofa ruang tamu bersama Anin sembari menunggu kedatangan Siska.
Arumi beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju kamar mandi yang letak nya tidak terlalu jauh dari ruang tamu.
Tak berselang lama Siska datang sambil membawa buku tahunan yang ia ambil secara diam diam.
" Kemana Arumi? " Siska duduk di sebelah Anin.
" Kamar mandi " jawab Anin tanpa melihat Siska.
__ADS_1
Selang sepuluh menit baru lah Arumi datang dengan kedua tangan basah, Arumi jalan menuju tempat nya yang sekarang sudah di duduki oleh Siska.
" Geser sana itu tempat gue tadi "
" Mager lah, elu aja yang pindah " tutur Siska sedang melihat lihat foto dan biodata murid tahun tahun lalu.
" Buset dah, benar benar elu ya! mana tas gue elu duduki. Di dalam sana ada jam tangan gue woy!! "
Siska hanya mengangkat pantat nya dan menarik tas milik Arumi dan menyerahkan begitu aja tas nya tanpa menggeser tempat duduk. Arumi hanya bisa mengelus dada.
Arumi memilih duduk di sofa tunggal dan meletakan tas nya di belakang punggung nya.
" Nin, elu masih nyimpan gambaran wanita itu kan? masih elu bawa buku nya" ucapan Arumi lurus dengan posisi duduk Anin.
" Masih gue simpan dan buku nya gue bawa kok, ada di dalam tas " setelah mengucapkan, Anin membuka resleting tas untuk mencari buku tulis yang di lembaran belakang ada gambar wanita itu.
" Nih masih kan " Anin memperlihatkan hasil gambaran nya.
" Gue juga bawa kalung nya " Arumi mengambil kalung dengan sangat hati hati, dan di kalung itu ada inisial huruf L.
Arumi meletakan kalung itu di samping buku tulis milik Anin. Siska dan Anin sama sama melihat kalung dan gambar.
" Apa hubungan nya dengan kalung ini? " celetuk Anin setelah melihat bentuk kalung.
" Kalau ada apa enggak nya gue belum memastikan, tapi dalam hati gue itu semua ada kaitan nya ada tali merah yang menghubungkan satu sama lain. Dan semoga ada kepingan puzzle lagi "
" Kalau iya ada hubungan nya, berarti ini kita semua harus memecahkan teka teki dan menyatukan kepingan kepingan puzzle yang berceceran" sambung Siska.
Tiga anak ini duduk nya saling berdekatan untuk sama sama mencari foto yang ada di dalam buku tahunan ini, satu persatu sudah mereka lihat mulai foto dari atas pojok kiri sampai bawah pojok kanan.
Lembaran demi lembaran sudah mereka lihat dan lembaran ketiga dari belakang belum terjamah oleh tiga anak ini.
Dan di saat Anin membalik lembaran selanjutnya, betapa kaget nya mereka, bahwa gambar wanita yang berada di buku tulis sama persis dengan foto wanita yang berada di buku tahunan sekolah.
Anin, Arumi dan Siska terbelalak tak percaya dengan yang mereka lihat saat ini, pasal nya wanita yang di gambar sama yang di foto sama tak ada yang kurang sedikit pun dan sama sama memakai kalung yang sama persis dengan kalung yang berada di hadapan mereka bertiga.
Anin mengambil buku tulis dan di sejajarkan sama foto tahunan sekolah.
" Ini bukan kebetulan kan? " tanya Anin yang tampang muka nya seperti tak percaya apa yang ia lihat.
" Kebetulan yang kebetulan " jawab Arumi.
Siska mengamati foto siswi ini dengan teliti sampai sampai tai lalat yang berada di dagu Siska tau.
" Lusi " ucap Siska.
" Tahun berapa lulus nya? coba cek Sis " titah Anin.
__ADS_1
" Biodatanya ada yang udah pudar, sisa nya masih bisa di lihat "
" Bukan nya lain nya enggak pudar?, kenapa punya nya dia yang udah pudar. Coba elu baca yang masih bisa di baca "
" Nama Lusi Utami, tanggal lahir 23 April tahun 197.. yang nomor belakang udah hilang dan tahun lulus nya udah enggak bisa di baca lagi " tutur Siska yang memegang buku tahunan.
" Kenapa musti hilang sih, kan nambah pr lagi. Ini pasti enggak kebetulan deh kaya nya, oh iya Sis. Lahir nya di mana? di tulis apa enggak "
" Enggak ada. Yang lain nya pun juga enggak ada, ada nya cuma pesan dan kesan aja " meletakan buku tahunan di atas meja ruang tamu.
Siska berdiri dari sofa dan jalan menuju ruang yang lebih dalam. Di dalam sana Siska setengah berteriak " kalian minum apa? "
" Terserah penting dingin dan seger " jawab Arumi.
" Adek nya Siska belum pulang? " tanya Arumi yang sedari tadi menunggu kemunculan adek nya Siska.
" Masih sekolah mungkin, jadi rumah nya sepi "
Di sela sela menunggu Siska membawa minuman, Arumi menyelonjorkan kedua kaki nya di sisi sofa yang kosong dengan posisi setengah berbaring.
Baru Arumi merilekskan badan nya, tiba tiba Anin menjerit dengan sangat keras.
Aaa!!...
Sontak Arumi mendudukkan diri di sofa dengan kepala menoleh ke Anin yang sedang menutupi muka nya dengan bantal sofa.
" Apa? apa Nin, kenapa elu teriak " Arumi menghampiri Anin yang sedang ketakutan.
" I...itu " ucap Anin yang terbata bata.
" Iya apa nya yang itu? coba elu ngomong yang jelas " menjauhkan bantal sofa dari muka Anin dengan cara perlahan.
" Itu tadi kalung nya geser sendiri " Anin tidak mau memandang ke arah kalung itu berada.
Arumi menoleh melihat kalung itu dengan keadaan masih diam di tempat.
" Salah lihat mungkin " ujar Arumi sembari membenarkan posisi kalung.
" Enggak Rum, gue lihat jelas tadi. Sumpah " memperlihatkan dua jari yang membentuk huruf V.
" Ok, kita keep masalah tadi. Elu cuci muka dulu ke belakang biar fresh wajah elu " Arumi membantu Anin berdiri.
Bersambung...
•
•
__ADS_1
•
Apakah yang di lihat Anin benar atau hanya halusinasi saja? benarkan benda mati bisa bergerak sendiri tanpa ada yang menyentuh. Komen di bawah ya..