Lelembut

Lelembut
Kalah


__ADS_3

Arumi, Anin dan Siska terus berjalan hingga sampai ke kebun belakang. Kakek Djoko dan nenek Suminten sedang mengambil buah yang sudah matang. Buah yang di taman oleh kakek Djoko sangat banyak berupa jeruk madu, apel malang, pepaya, jambu air, dan jambu biji.


Sekarang buah yang sedang musim panen yakni buah apel malang dan jambu air. Masing masing buah, terdapat tiga pohon. Pekarangan rumah kakek Djoko sangat lah luas, di perkirakan luas nya seperti lapangan basket yang di gabung menjadi dua.


Cuaca di pagi ini sangatlah mendukung, karna cuaca hari ini tidak panas dan tidak hujan, dan cuaca hari ini cerah berawan. Membuat tiga perempuan sangat betah beraktifitas di luar ruang.


Anin dan Siska sibuk memetik apel sembari membawa keranjang yang terbuat dari bambu. Mereka berdua asik dengan dunia nya sendiri hingga Arumi sahabat nya diasingkan.


Arumi asik berkeliling sendiri sambil bawa keranjang, Arumi sempat memetik buah jambu air yang terlihat sudah matang.


Nenek Suminten juga mempunyai hasil berkebun nya. Tepat di sebelah pohon pepaya ada tanaman sayur sayuran dan polo Pendem. Lengkap sudah hasil berkebun nya tidak susah susah pergi ke pasar mencari sayur mayur, cukup pergi ke belakang dan bisa memilih sayur yang akan di buat untuk memasak.


" Nek cabai nya Arumi petik ya sudah merah semua " Arumi memberi tau nenek nya bahwa sebagian cabai yang nenek tanam udah merah pertanda sudah siap di panen.


" Tempat nya di pisah nak, jangan di jadikan satu dengan buah. Ambil wadah yang baru "


Arumi berjalan mengambil wadah yang baru dan kini ia membawa dua wadah yang satu buat buah dan yang satu buat sayur.


Arumi kembali ke tempat sayur sayuran, di sini Arumi bisa melihat dua sahabat nya yang sedang asik memetik buah.


" Oi...jangan rebutan buah " Arumi meneriaki Siska yang sedang mengejar Anin. Karna Anin merebut buah hasil petikan Siska. Membuat Siska geram dan hasil nya saling kejar kejaran.


Lagi fokus fokus nya memetik cabai, diri nya tidak sadar bahwa ada orang yang berdiri tepat di belakang nya.


" Hayo ngapain itu " ucapnya dengan nada berat.


Arumi tersentak kaget sampai cabai yang ada di tangan nya jatuh ke atas tanah. Arumi menolehkan kepala ke sumber suara, di saat kepala nya sudah menoleh ke belakang. Perlahan kepala nya mendongak ke atas " sialan kau mas Agus. Jantung gue rasa nya mau copot" menampar lengan Agus hingga Agus menyengir kesakitan.


" Ganggu orang aja, hus.. sana jauh jauh dari gue " mengibaskan kedua tangan nya.


Agus menarik ujung bibir nya dengan kedua tangan memegang pundak Arumi "cantik cantik kok main ke kebun, enggak sayang sama kulit elu "


" Serah deh, gue nggak peduli kalau elu niat ke sini mau ganggu gue. Silahkan elu pergi, kalau elu ke sini niat bantu monggo gue dengan senang hati "


" Hahaha...ye iye gue bantu, digituin aja udah ngambek. Gue bantu bawa keranjang " mengambil alih keranjang yang di bawa oleh Arumi.


" Paman sama Bibi kemana mas? " ucap nya sambil memetik terong yang sudah matang.

__ADS_1


" Ada di rumah, tapi ayah masih kerja di kantor "


" Oh..."


Anin dan Siska berlari menghampiri Arumi yang sedang mengambil tomat tomat yang siap panen.


" Rum...Rum..." teriak mereka seraya membawa keranjang buah yang isi nya full buah apel dan jeruk.


" Eh ada mas Agus tumben mau bantu adek nya " celetuk Siska yang baru tiba.


" Woo...sembarangan aja " Agus melempar tomat hasil petikan dari Arumi. Tomat itu di lempar ke kaki Siska, membuat kaki Siska kotor terkena cipratan tomat.


Mereka yang berada di kebun sayur tertawa terbahak melihat kaki Siska yang penuh dengan kotoran dari tomat. Setelah mengumpulkan hasil panenannya, mereka kembali masuk ke dalam rumah.


" Nek taruh mana ini semua " ujar Arumi yang membawa dua keranjang.


" Taruh di atas meja panjang itu nak, kalian bisa ambil buah yang tadi kalian petik. Terserah kalian mau ambil berapa "


Arumi, Anin dan Siska langsung mengambil beberapa buah yang mereka mau dan di masukan ke dalam keresek hitam.


Sore hari pun telah tiba, Arumi berserta dua sahabat nya memutuskan kembali pulang ke rumah. Baru sampai di halaman depan nenek Suminten memanggil cucu nya.


Arumi membalas " ya nek itu aja enggak ada tambahan lagi? "


" Itu aja, tiga yang tadi nenek sebutkan itu sudah cukup "


" Ya udah nek, Arumi pulang dulu Assalamualaikum " ucap Arumi yang sudah berada di dalam mobil dengan kaca jendela di buka se dagu.


...****************...


Jam empat sore mobil yang di tumpangi oleh Arumi dan dua sahabat telah sampai di halaman mansion deddy Baskoro.


Anin dan Siska yang tidak menahu tentang mansion ini turut merasakan hawa yang tidak enak di sekitaran mansion ini.


Siska menyenggol lengan Anin " Nin elu merasakan ada yang aneh enggak " melihat sekitar dengan mata yang tajam.


" Hemm... nanti gue gambar biar elu paham yang gue ngomong dan rasakan " Anin menggandeng lengan Siska untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


Arumi menghampiri deddy Baskoro yang sedang bersantai di meja makan.


" Ded, kok di atas ada bola bola api. Asal nya dari mana? " ucap nya dengan posisi masih berdiri di samping deddy Baskoro.


Deddy Baskoro mendongak " udah biarin aja, yang penting enggak masuk 'pager'. Bola bola api nya sekarang posisi nya ada di mana? "


" Di luar 'pager' ded, tapi kok banyak sekali ya bola bola api. Terus semalam Arumi dengar suara petasan sama suara kayak orang jatuh ded. Ded dengar apa enggak "


Deddy Baskoro menyunggingkan senyum tipis " coba kamu lihat baik baik dari mana asal nya mereka mereka "


" Cara nya? " Arumi duduk di kursi kosong.


Sedangkan Anin dan Siska menunggu di ruang tamu sembari mengistirahatkan badan.


" Arumi fokus lihat ke atas. Lihat baik baik dari mana asal nya "


Arumi diam dengan kepala mendongak ke atas, menerawang 'pagar' yang ada di atas. Orang yang bisa 'melihat' biasa nya selalu pusing di kening, tepat nya di tengah tenang alis. Pusat pusing biasa nya di sekitaran itu.


Arumi secara jelas melihat benturan benturan seperti batu berwarna merah menyala di bagian luar 'pagar'. Tak hanya itu saja ada beberapa 'makhluk' yang bentuk nya baru pertama kali ia lihat.


Ada makhluk halus berwujud bagian badan berwujud kuda, kepala nya berwujud babi, ada juga wujud seperti Ogoh Ogoh yang ada di Bali dengan lidah yang menjuntai ke bawah. Kedua mata melotot, memiliki taring empat yang sangat tajam dan mempunyai kuku yang panjang nya hampir dua meter.


Makhluk yang berwujud seperti Ogoh Ogoh sedang menggaruk 'pagar' menggunakan kuku panjang nya. Tujuan nya agar 'pagar' bisa bolong dan 'mereka' bisa masuk ke dalam tanpa ada penghalang.


Arumi menemukan satu sosok yang aura nya kuat yang sedang penggempur 'pagar' menggunakan senjata tajam yang bentuk nya persis sentaja milik Naruto yang berbentuk segitiga runcing.


Sosok itu berwujud Buto dengan perwujudan sangat besar dan menyeramkan. Di belakang tubuh sosok ini ada tali merah yang terhubung jauh ke arah barat daya. Tali merah itu tanda nya ada seseorang yang berniat mencelakai orang rumah terutama deddy Baskoro. Tali merah itu di perumpamaan asal nya dari mana dan suruhan siapa.


Arumi bergumam sambil berkata "santet" dengan kepala masih mendongak ke atas.


" Sekarang sudah tau maksud mereka mereka datang menyerang rumah ini? "


" Sudah ded. Kok tega ya yang mengirim santet? kan santet itu ada efek jangka panjang, apa enggak berfikir dulu sebelum bertindak? "


" Orang yang sudah 'main' ke dukun tidak ada nama nya berfikir dengan jernih. Mereka mereka yang datang ke dukun rata rata gelap mata dan gelap hati. Mereka tidak memikirkan efek nya, yang mereka pikirkan berhasil atau tidak nya, kalau berhasil mereka akan senang. Kalau gagal mereka akan membayar dukun dengan bayaran yang tidak main main. Jadi banyak sekali dukun dukun abal abal yang berkedok ustadz atau kyai. Ya begitu lah mereka mereka ilmu hitam sama ilmu putih, banyak ilmu hitam nya. Jadi deddy harap, kalau ada yang butuh pertolongan bantu lah sebisa nya, kalau berat kata kan lah berat jangan di paksa. Kalau di paksa diri mu lah yang kesusahan. Bantu lah dengan seikhlas nya jangan ada kata upah uang, jangan nak ilmu putih tidak boleh diperjual kan "


" Baik ded " Arumi mengangguk patuh.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2