
Segerombol cewek yang berjumlah tiga orang sedang berjalan keluar dari kamar mandi. Tiga orang ini terkenal nakal di sekolah dengan sifat yang tidak terpuji. Seperti menindas adek kelas, membully dengan orang yang tidak mereka kenal, suka bolos pelajaran, dan sering terlambat masuk kelas. Di antara tiga anak ini ada salah satu cewek yang sangat tajir dia terkenal dengan julukan mulut pedas( omongan nya tidak di filter ). Dan anak ini sebagai bos di dalam geng nya. Sebagian murid murid lain nya segan dengan geng ini, kalau ada yang berani menyenggol mereka. Mereka tak segan segan membalas nya dengan balasan lebih kejam. Itu lah mengapa banyak yang tidak berani berurusan dengan mereka.
Mereka berlenggak lenggok dengan gaya khas nya, mereka jalan seraya tebar pesona dengan lawan jenis yang berpapasan lewat. Hingga pandangan mereka tertuju ke sebuah kantin, yang mana di sana ada cowok incaran nya bos nya. Tapi sayang, di sana ada tiga cewek yang duduk saling mengobrol.
" Siapa mereka? berani nya dekat dekat dengan cowok gue " mengeratkan gigi nya hingga kedua rahang wajah tertarik.
" Siapa lagi kalau bukan si anak paling di sayang sama guru sini " melirik sinis ke arah meja kantin.
" Ck! kenapa harus mereka di situ sih, bikin mata gue sakit aja " bersidekap dada dengan ujung bibir nya di angkat sedikit.
Tasya anak tajir yang memiliki jabatan sebagai bos dalam satu geng nya. Tasya menatap sinis ke arah satu cewek yang warna rambut nya dark brown.
" Siapa dia? " menunjuk ke salah satu cewek yang duduk nya berhadapan dengan cowok incaran nya.
" Dia kan Arumi anak kelas 1 " sahut teman nya.
" Cih!! belagu amat jadi cewek. Pasti modus ke cowok gue " ujar Tasya yang masih berdiri menatap kantin.
" Bisa jadi tuh, secara kan cowok elu ganteng tajir lagi. Maka nya dia mepet mepet ke cowok elu, biar mau jadi pacar nya. Kayak enggak tau modus cewek jaman sekarang " ucapan nya mengundang percikan api.
" Gue enggak boleh lengah, gue akan singkirkan cewek itu apapun cara nya agar menjauh dari cowok gue " batin nya yang terus menatap tajam ke arah Arumi yang sedang makan.
Dengan hati yang sudah panas melihat pemandangan yang tak mengenakan. Mereka tetap berani menuju kantin. Awal nya kedua teman nya tidak mau ke kantin, tapi Tasya terus mengajak pergi ke kantin dengan alasan mau makan di sana.
...🍂🍂🍂...
Sesampai nya di kantin, geng ini sengaja jalan di depan meja yang di mana ada Arumi, Brian dan dua cewek. Mereka tetep jalan melewati tanpa menatap atau melirik ke sana.
Hingga keributan terjadi di saat Tasya tak sengaja menumpahkan teh panas ke punggung Arumi yang sedang makan. Sontak suara keributan mulai terjadi.
Arumi yang menjadi korban langsung berdiri membalik badan dengan baju yang sudah basah terkena teh panas, dengan muka amarah. Arumi langsung berjalan dan tepat di depan Tasya.
" Maksud elu apa! nyiram teh panas ke punggung gue. Enggak lihat apa di sini ada orang yang jelas jelas duduk " mendorong lengan Tasya menggunakan jari telunjuk.
__ADS_1
Tasya hanya bisa senyum mengeluarkan smirk setelah mendapatkan perlakuan dari Arumi. Kedua teman Tasya hanya bisa menahan tawa dengan ekspresi mengejek.
" Jawab! gue enggak takut kalau kalian kakak kelas atau sebaya dengan gue " kata kata Arumi membuat kedua teman Tasya ikut bicara.
" Lancang sekali elu sama kakak kelas, belum tau kita ini siapa ha!! " teman satu nya berniat menjambak rambut Arumi, namun usaha nya langsung di gagalkan oleh Anin.
" Jadi cewek tuh jangan kasar, nanti enggak ada yang deketin" menepis kasar tangan teman nya Tasya.
" Kurang aja* sama kakak kelas, cepat sujud di kaki kita. Cepat!!..." gertak Tasya dengan intonasi suara tinggi.
Siska yang sedari tadi duduk, kini ikut membantu Anin dan Arumi. Siska maju berdiri di depan Arumi, langsung berhadapan dengan Tasya si mulut pedas.
" Cuih..." meludah ke samping Tasya " kita sujud ke kalian hahaha...emang nya kalian siapa nya kita. Hey! dengar ya para cewek gatel jadi cewek tuh jangan arogan dan sok berkuasa di sekolah ini. Mentang mentang kalian kakak kelas, terus dengan keren nya menindas adek kelas dengan cara yang memuakkan itu. Iyuuh...gue lihat dengan mata kepala gue sendiri bahwa elu yang sengaja menyiram teh panas ke Arumi dengan dalih enggak sengaja. Alasan yang klise banget dan...dan yang lihat aksi elu bukan hanya gue. Anin dan Brian lihat hanya saja Arumi tak mengetahui. Kakak kelas model apa jaman udah moderen tapi kelakuan nya KAMPUNGAN, persis dengan wajah nya. Oh, satu kali lagi kalau ke sekolah tuh makeup nya yang natural aja jangan kayak emak emak yang mau pergi ke kondangan. Mau jual diri apa menuntut ilmu " ucapan pedas itu langsung di lontarkan oleh Siska kepada Tasya dan kedua pengikut nya. Setelah lega mengucapkan kata kata mutiara, Siska langsung menarik Arumi dan Anin menjauh dari kantin.
Perdebatan ini di tonton langsung oleh murid murid yang lain nya yang kebetulan ada di kantin, sorot mata murid murid lain nya tertuju ke geng nya Tasya. Bisik bisik murid murid membicarakan mereka yang sedang tersudut.
Geng Tasya yang awal nya terdiam kini berteriak kencang sembari mengatakan" dasar a** lihat aja nanti, kita akan balas atas semua ini. Tunggu pembalasan kita "
...🍂🍂🍂...
" Rum, punggung elu merah semua ada yang melepuh. Gimana nih " Anin khawatir dengan kondisi sahabat nya yang terkena siraman teh panas.
Di dalam ruangan uks, Arumi segera di kasih penanganan cepat dari pihak penjaga uks. Arumi di beri salep agar luka merah merah cepat kering. Arumi yang masih duduk di tepi bed uks meringis kesakitan menahan perih nya luka di punggung.
" Kenapa bisa sih elu punya musuh sama dia " tanya Siska yang berdiri di depan Arumi.
" Ngapain juga gue punya musuh modelan kayak mereka. Mana belagu banget " Arumi mendengus kesal.
" Kalau elu gak punya musuh sama mereka, terus tadi ngapain dia guyur teh panas. Udah tau teh nya panas, sengaja pula guyur elu. Apa kita laporan wali kelas biar mereka kena SP "
" Percuma Sis, dia itu keponakan nya kepala sekolah jadi belum tentu bisa di keluarkan apa lagi kena SP " jawab Anin.
" Oalah pantes belagu nya kayak gitu ternyata beking nya kuat " Siska baru tau kalau Tasya keponakan dari kepala sekolah.
__ADS_1
" Tapi kita harus saling waspada sama mereka, karna kita sudah di tandai. Gue takut kalau terjadi sama kita terutama elu Rum, elu itu target utama nya "
" Jangan merisaukan gue, pasti aman kok percaya deh " jawab Arumi dengan nada slow seolah tidak takut akan ancaman dari mereka.
"..."
"..."
Dari arah luar Anin, Siska dan Arumi mendengar langkah kaki yang terdengar seperti orang sedang berlari menuju uks. Dan dugaan mereka benar kak Agus dan kak Zaki datang dengan wajah khawatir. Mereka berdua berjalan lunglai menuju Arumi yang masih duduk di pinggir bed uks.
" Ada apa? kok bisa sampai gini, terus baju elu di taruh di mana? " tanya Agus yang sangat khawatir melihat kondisi adek nya.
" Tenang kak, baju gue ada di kresek. Ini gue pakai baju baru yang belum gue bayar hehe..."
" Terus punggung lu masih perih apa enggak, kalau masih hari ini gue antar ke rumah sakit " Agus melihat Arumi yang masih menahan rasa panas, perih dan kesakitan.
" Udah gue enggak apa. Udah mendingan kok ini "
" Siapa yang berani melukai Arumi " Zaki menanyakan ke Anin.
" Biasa kakak kelas yang rempong itu " memutar bola mata malas nya.
" Terus Arumi salah apa? " Agus berkacak pinggang di antara tiga anak ini.
" Arumi enggak salah apa apa dan enggak tau salah nya apa. Tau tau Arumi di guyur teh panas yang baru di seduh. Alasan nya kakak kelas enggak sengaja, tapi gue lihat kalau dia memang sengaja dan menargetkan Arumi " sahut Siska.
" Apa gue telpon ke om Baskoro biar di jemput ke sekolah, kasihan gue lihat kondisi elu yang terus menahan rasa perih" Agus mengelus kepala Arumi.
" Gue udah men..."
" Gue setuju, telpon aja om Baskoro biar datang ke sini. Sekalian bisa ke temu sama mereka " sahut Anin yang setuju dengan pendapat kak Agus.
Bersambung...
__ADS_1