
Sebelum kejadian.
Anin, Arumi dan Siska sudah sampai di halaman homestay. Sebelum masuk, dua orang ini(Anin dan Siska) di panggil oleh Arumi, dan Arumi berkata"cepat kemasi barang barang yang kalian bawa, hari ini juga kita akan pulang. Sekalian bawakan koper sama tas gue. Gue akan tunggu kalian di sini"
Anin dan Siska mengiyakan ucapan Arumi, mereka masuk ke dalam secara bersama sama. Sebelum masuk sepatu sandal di lepas. Diletakan di samping pintu masuk.
Klik...(suara menekan tombol lampu).
Anin menyalakan lampu di bagian ruang tengah, sebab ruang ini keadaan gelap. Sesudah itu. Anin berjalan menyusul Siska yang sudah masuk duluan ke dalam kamar" kalau pulang jam sekarang sampai rumah jam berapa ya Sis" ujar nya seraya mengambil tas yang di letakan di bawah berdekatan dengan jendela.
"Ya, tergantung berangkat nya kereta" Siska menoleh dengan mata terbelalak. "Ki-kta kan belum sempat beli tiket kereta api, apa bisa beli langsung di sana"
"Oh...." Anin menepuk jidat nya, "kita tanyakan langsung ke Arumi. Ayo masukan dulu baju nya, gue udah muak di sini. Kurang nyaman bagi gue" ngedumel nya sambari memasukan baju yang berada di luar.
Dua orang ini posisi nya menghadap dinding ketika sedang merapikan baju. Tak di sangka sangka ada orang yang diam diam masuk ke dalam kamar ini sembari membawa sebilah pisau yang tajam, di sembunyikan di kantong celana bagian belakang.
Orang ini datang dengan memakai jaket warna coklat, wajah nya di tutupi dengan masker agar tidak dikenali oleh korban. Perlahan langkah kaki nya membawa nya ke target korban yang sama sekali belum menyadari kedatangannya.
Di balik masker nya dia tersenyum licik ketika tangannya mengayunkan sebilah pisau nya yang dia genggam.
Krek! sialnya diri nya salah menginjak. Dia malah menginjak lantai kayu yang sudah lapuk, menimbulkan suara membuat Anin dan Siska secara bersamaan menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Siapa kau!!" Siska menunjuk dengan mata terbuka lebar. Anin berlindung di belakang Siska dengan kedua tangan yang sudah dingin.
Orang ini semakin melangkahkan kaki nya tanpa mengucap sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Membuat Anin dan Siska terpaksa memundurkan langkahnya hingga terpentok sampai menyentuh ranjang tidur.
Duk!...
Anin dan Siska merasa terancam membuat tidak bisa bergerak. Orang yang di depan nya terus berjalan hingga tanpa sadar tangannya sudah mengayunkan pisau lancipnya.
Anin yang melihat pergerakan tangan nya tanpa pikir panjang ia menendang bagian kaki, orang yang tak di kenalnya.
Bruk....
Orang ini terjatuh seraya mendesis kesakitan" Sss..." dengan cepat Anin dan Siska melarikan diri. Namun orang ini diam diam menggores paha Siska yang baru saja melewati dirinya.
Rasa sakit dan ngilu perlahan di rasakan oleh Siska. Tangan kanan nya sibuk menutupi luka di bagian paha. Siska yang sedari tadi menunduk tidak tau kalau orang ini hendak mencelakai diri nya.
Yang tadi nya terduduk karna kesakitan kini dia berdiri dengan tangan yang masih membawa pisau yang sudah terkena darah. Anin yang melihat kawannya sedang dalam keadaan kesakitan dan nyawa nya terancam, ia berpikir cepat untuk menyelamatkan nya.
Dengan waktu yang singkat, Anin memutuskan melawan orang ini dengan alat seadanya di kamar ini, melihat ada bantal yang tak terpakai. Di lemparkan bantal ini ke orang yang tengah membawa pisau itu.
Bugh...lemparan bantal ini terkena muka nya, membuat sedikit terhuyung kebelakang. Bukannya menyerah orang ini juga membalas apa perbuatan Anin tersebut. Dibalas lah menggunakan pisau.
__ADS_1
Lagi lagi Anin harus melempar barang yang berada di sekitarnya saat ini.
"Pergi kau! mau apa datang ke sini haaa!!!" ujar Anin sembari melempar kembali bantal yang tersisa di atas kasur.
Saat memarahi orang tak dikenal ini, Anin melihat Siska sudah tergeletak di atas lantai kayu dengan darah yang masih mengalir keluar dari lubang sayatan.
"Siska!!...." Anin tak perduli kalau diri nya akan dijadikan sasaran yang kedua, yang hanya di pikiran Anin menyelamatkan Siska yang tengah menahan rasa sakit.
Suara gaduh sedari tadi tak ada seorang pun yang datang menyelamatkan mereka. Seolah dua orang ini terjebak dalam suatu ruang yang di pasang alat pengedap suara. Sungguh membuat Anin kalang kabut menghadapi orang tak dikenal ini.
Usaha Anin menepuk nepuk kedua pipi Siska tak membuahkan hasil, masih saja memejamkan mata. Hingga air mata nya berjatuhan.
Huwaaa....hiks.... suara tangis Anin sangat jelas di telinga orang orang di luar kamar ini. Karna pintu kamar masih terbuka, jadi suara sekecil apapun bisa di dengar orang lain dari luar. Tapi kali ini tak seperti biasa nya, ketika orang asing ini datang, suasana sekitar kamar berubah total. Menjadi hawa yang sangat mencekam.
Bugghh...orang ini memukul punggung belakang Anin yang tengah lengah. Dalam hitungan detik Anin ambruk tak sadarkan diri. Anin tergeletak di samping Siska yang masih dalam keadaan pingsan.
Orang di balik masker ini sangat senang melihat korban nya kesakitan karna ulahnya sendiri. Dengan senyum kemenangan nya dirinya memanggil kawannya yang tengah terjaga di depan kamar ini.
Hanya dengan kode, kawan ini membawa Anin dan Siska ke sebuah ruangan yang jauh dari sini Dan tentu nya tak ada orang lain yang mengetahui.
Bekas darah, barang berceceran di mana mana, dan sisa pasir yang terbawa masuk masih tertinggal di dalam kamar. Tanpa ada yang membersihkan.
__ADS_1
Bukti bukti ini lah membuat polisi semakin gencar menyelidiki kasus ini.
Bersambung...