Lelembut

Lelembut
Macet


__ADS_3

Arumi, Anin dan Siska telah keluar dari kedai makanan yang letak nya tak jauh dari tempat sekolah.


Mereka keluar dengan keadaan perut sudah kenyang. Mereka berjalan bersama di sebuah halte bus yang letak nya kurang lebih lima meter dari kedai makanan khas Korea.


Mereka bertiga jalan bersama di tambah dengan cuaca yang lumayan panas, membuat muka mereka penuh dengan peluh keringat yang membanjiri kening mereka.


Sesampai nya di halte bus, mereka duduk di tempat yang sudah di sediakan. Beruntung nya mereka tempat duduk di halte ini kosong empat kursi.


" Huh!.. panas banget hari ini " keluh Siska seraya membuka kancing baju bagian atas. Di buka satu kancing dari atas.


" Nama nya musim panas ya hawa nya panas " imbuh Arumi yang menyeka keringat menggunakan tisu wajah yang di simpan di saku baju.


" Tadi Tteokbokki nya kurang enak. Enakan di Korea " ujar Anin sambil mengayunkan kedua kaki.


" Lah...nama nya juga Tteokbokki di sini ya rasa nya begitu, emang elu udah pernah ke Korea? kok langsung bilang enakan di Korea? " tanya Siska yang bahu nya sedikit condong ke depan serta kepala nya di miringkan ke kiri.


" Kan gue pernah beli Tteokbokki di supermarket yang tulisan nya Made in Korea, jadi secara enggak langsung gue bisa menyicipi Tteokbokki asli Korea. Tadi tuh bumbu nya kurang nendang "


" Buset dah, gue kira elu udah pernah pergi ke Korea " sambung Arumi.


" Kuy lah kita ke Korea bareng bareng" dengan nada suara yang sedikit menggebu gebu.


" Anin...Anin " ujar Siska sambil menggelengkan kepala. " Emang ke Korea enggak pakai uang terus kita apa udah punya visa sama paspor. Terus tujuan di sana apa aja? "


Anin turun dari bangku halte dan berjalan menuju Siska. Anin berdiri tepat di depan Siska sambil bersidekap dada.


" Apa? " tanya Siska dengan posisi duduk, punggung di sandarkan di bangku halte kedua tangan di letakan di samping kanan kiri paha serta kepala mendongak ke atas.


" Ish!! " umpat Anin dengan salah satu kaki nya di hentakan.


" Kita tuh ke Korea ya jalan jalan dong sambil berburu kuliner di sana, masalah visa sama paspor sambil jalan aja. Yang penting kita nabung dulu mulai dari sekarang. Kalau uang nya kurang tinggal minta ke Arumi, kan Arumi uang nya banyak ya kan Rum "


" Iya in aja lah biar hati elu seneng " sahut Arumi yang dari tadi mendengarkan ocehan Anin dan Siska.

__ADS_1


Arumi dan Siska melihat ada mobil yang berhenti tepat di depan mereka.


Arumi mencolek paha Anin sebelah kanan" tuh elu udah di jemput "


Anin langsung membalikan badan" oh iya, ya udah gue pulang dulu. Bye semua" jalan menuju pintu mobil.


Anin sudah masuk ke dalam mobil dan tinggal lah mereka berdua di halte bus.


Arumi dan Siska sama sama belum di jemput oleh orang rumah.


Di tunggu sekitar dua puluh menit lama nya, mobil berwarna abu abu berhenti di depan halte bus, yang mana orang tua Siska lah yang menjemput.


Siska pun beranjak dari duduk nya dan bergegas menuju mobil nya, sebelum membuka pintu mobil. Siska menoleh ke Arumi " bareng aja, elu kan belum di jemput "


Arumi menggeleng sopan dan berkata "tidak terimakasih, gue nunggu di sini aja. Bentar lagi pak sopir datang ke sini"


" Tapi elu sendiri an di sini, kalau ada apa apa gimana? bareng sini sama gue " tutur Siska yang masih membuka pintu mobil dan belum masuk ke dalam, masih berdiri di depan pintu mobil.


Tin.. tin...


Mobil Pajer* dengan warna putih gading berhenti tepat di belakang mobil Siska.


" Gue udah di jemput, makasih atas tawaran nya. Gue pulang dulu Assalamualaikum.." beranjak jalan menuju mobil nya yang di kendarai oleh sopir pribadi keluarga Baskoro.


Arumi naik ke mobil jemputan nya.


Blam... Arumi menutup pintu mobil bagian sisi kiri mobil.


" Langsung pulang pak " ucap Arumi kepada sopir nya.


" Baik " mengangguk patuh dan segera menjalankan kembali mobil nya.


Di saat mobil nya sudah berjalan, Arumi membuka kaca jendela mobil ke arah mobil atau jemputan Siska " duluan om, tante " dengan kedua ujung bibir di angkat ke atas.

__ADS_1


...****************...


Di dalam mobil Arumi memejamkan kedua mata nya dengan kepala nya di sandarkan di antara kaca jendela dan jok mobil tengah bagian kiri. Tak lupa tas ransel dipangku di paha dengan kedua tangan di letakan di atas tas ransel. Seperti memeluk guling yang berada di kamar.


Rasa lelah dan ngantuk menjadi satu membuat Arumi nyenyak tidur di dalam mobil, di tambah AC mobil berada di atas kepala.


Lantunan lagu terdengar sangat merdu di telinga Arumi membuat tidur siang nya sangat nyenyak.


Sekitar jarak kurang lebih delapan kilometer. Ada kemacetan yang cukup panjang membuat mobil yang di tumpangi Arumi terpaksa berhenti.


Jam pun terus berjalan, namun kemacetan ini masih berlanjut hingga dua jam lama nya. Arus lalulintas yang awal nya dua arah sekarang menjadi satu arah semenjak ada nya kemacetan ini. Suara klakson saling bersautan membuat suasana menjadi bising tak terkendali.


Kendara roda empat dan roda enam masih terdiam di tempat, sedangkan kendaraan roda dua bisa jalan namun sangat hati hati.


Sepuluh menit telah berlalu, Arumi perlahan membuka kedua mata dan melihat pemandangan yang sangat tidak mengenakan. Waktu pertama kali membuka mata Arumi melihat kendaraan saling berjalan merayap melewati bekas tabrakan.


Tak hanya bekas tabrakan saja, melainkan di sana juga ada bekas genangan darah yang masih terlihat jelas di sana dan belum di tutupi dengan daun pisang.


Arumi tak melihat ada korban di sana, hanya truk dan sepeda motor yang tertinggal di sana. Kondisi jalan raya yang terkena tabrakan sangat kacau serpihan kaca tersebar di jalan.


" Ini baru pak tabrakannya? " tanya Arumi ke pak supir.


" Saya juga enggak tau neng, kapan tabrakan nya " balas supir melalui spion tengah.


Arumi kembali lihat ke arah luar melalui jendela kaca. Waktu pertama lihat lokasi tabrakan tidak ada yang 'aneh aneh'. Namun ketika lewat lima menit yang lalu, Arumi baru merasakan bahwa tabrakan ini bukan sekedar takdir atau bencana. Melainkan ada yang 'ikut' campur dalam tragedi tabrakan ini.


Mobil pun menjauh dari titik kecelakaan lalu lintas. Dan di saat menjauh dari lokasi 'berdarah' baru lah Arumi bisa 'melihat' jelas siapa saja yang datang ke situ.


Yang paling jelas Arumi melihat ada 'sosok' Miss K dengan perawakan rambut panjang yang menjuntai panjang sampai mata kaki, berkostum daster putih transparan dan ada juga Miss K yang memakai kostum warna merah dengan lidah panjang dan bercabang dua. Kuku kuku panjang sekitar satu meter dengan warna hitam pekat. 'Mereka' sama sama menjilat darah korban yang menggenang di jalan, 'mereka' tampak senang layak nya sedang berpesta makanan gratis.


Arumi yang melihat 'mereka' cepat cepat memutuskan penglihatan ke arah sana dan segera fokus kembali. Arumi merasa mual ketika melihat cara makan 'mereka' yang sangat rakus.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2