Lelembut

Lelembut
Pertanda!


__ADS_3

Enam orang ini sedang bercengkrama di meja makan. Dengan suasana hujan, sangat cocok makan yang berkuah. Sup sayur dan beberapa gorengan sudah matang dan siap untuk di santap. Brian dan Antonio menyiapkan alat makan yang di ambil dari rak piring.


Dengan suasana yang masih hujan rintik rintik, enam orang ini sibuk dengan piring masing masing. Percakapan di meja makan sangat minim, semua fokus dengan makanan yang sedang mereka santap.


Hujan di pagi hari membuat angin menjadi tambah dingin. Aktivitas yang di lakukan di luar harus tertunda sebab air hujan masih mengguyur di daerah ini. Di sela sela sarapan, Abi celetuk "dari tadi Ami kok enggak keluar dari kamar. Apa sakit orang nya?"


"Mana gue tau, masih tidur kali" ujar Siska dengan tangan kanan nya masih menggenggam sendok.


"Tapi ini kan udah waktu nya sarapan. Kenapa belum nongol anak nya kemana sih, Nio tolong cek kamar nya" tutur Brian.


Antonio yang merasa nama nya di panggil langsung menolak perintah dari Brian" lah kok gue, kan gue cowok ya kali manggil manggil Ami. Harus nya anak cewek yang manggil bukan gue" Antonio melirik Anin yang duduk nya berada di sebelahnya.


Lirikan Antonio membuat semua pandangan nya tertuju ke Anin yang tengah makan. Anin yang merasa dirinya di tatap, perlahan kepala nya mendongak menatap orang orang yang tengah menatap diri nya. Dengan perasaan bingung ia mulai membuka suara"ada yang salah dengan gue"


"Nin, bangunkan Ami. Udah jam sarapan kalau ada apa apa kita yang kena" kata Brian.


Anin mengangguk dengan ekspresi wajah malas. ia mendorongkan kursi kemudian bangkit dan berdiri. Langkah kaki ini membawa diri nya menuju kamar yang masih tertutup. Saat sudah sampai, diri nya mengetuk pintu sambil menyebut nama orang yang berada di dalam" Ami....ami sarapan yuk, semua udah kumpul di meja makan" di gedor gedor daun pintu sebanyak empat kali.


Hening tak ada jawaban, Anin sampai menunggu di luar selama lima menit. Di tunggu pun tunggu, tak ada respon apapun di dalam sana. Lantas Anin berbalik badan menyusul lainnya nya yang masih berada di ruang makan.


Anin jalan seorang diri menuju tempat duduk nya. Semua pasang mata tertuju pada Anin yang tengah duduk di kursi nya.


"Ami mana?" tanya Arumi.


"Entah" mengangkat kedua bahu sambil bibir bawah di tarik ke atas membentuk sebuah lengkungan yang mengarah ke bawah.

__ADS_1


"Kok enggak tau sih, kan elu yang gue suruh manggil Ami" Brian heran kemana pergi nya Ami.


"Udah gue panggil tapi enggak ada respon apapun di dalam. Benar benar hening" kedua jarinya memperagakan seakan sedang menarik benang.


Antonio tidak percaya apa yang di ucapkan oleh Anin, diri nya pergi menuju kamar yang mana kamar itu di tempati oleh Ami.


Tok...tok..." buruan sarapan keburu habis nanti" teriak Antonio yang berdiri di luar kamar.


Tak lama kemudian ada teriakan jawaban dari Ami" yaa nanti..."


"Beneran loh ya, gue tinggal dulu" teriak Antonio lagi.


"Iyaa..." jawaban Ami yang sangat singkat.


"Oh, ya udah kalau ada jawaban.Mungkin gue tadi pas kesana orang nya masih tidur, terus orang nya mana?" Anin celinguk an mencari Ami.


"Nanti kata nya..." jawab Antonio yang memilih lihat lihat suasana di luar melalui jendela yang berada di dekat tempat cuci piring.


"Ya udah, berarti lauk nya jangan di habiskan semua. Sisa kan untuk Ami" jawab Abi yang sudah selesai makan.


Antonio membalikan badan, pantat nya menyandar di pinggiran tempat cuci piring yang kebetulan sudah kering" nanti malam kan pergantian tahun baru. Bagaimana kita merayakan di lantai dua, kita bbq an, gimana setuju enggak?" dengan senyum yang sumringah.


"Bahan nya?" sahut Arumi yang posisi duduk nya salah satu kaki menyilang ke kaki satu nya.


"Ya beli lah gitu aja tanya"

__ADS_1


"Maksud gue beli nya bahan di mana. Lokasi homestay ini sedikit jauh dari pusat kota. Kalau kita ke sana naik apa? bahan yang di beli apa aja itu perlu dicatat semua dan satu lagi alat grill pan nya kita enggak bawa, gimana coba" jawab Arumi.


Antonio terdiam seraya berpikir"benar juga apa kata lu. Hmmm...gimana kalau kita catat apa yang di butuhkan buat nanti, dan ada dua orang yang tugas nya beli bahan dan alat. Lainnya tetap di sini"


Tetiba Arumi merasakan perasaan nya yang tidak enak. Perasaan ini sama persis apa yang di rasakan sebelum berangkat ke sini. Perasaan ini seolah ada sesuatu yang membahayakan bagi diri nya dan juga bagi semua orang yang terlibat liburan di sini.


Tanpa sepatah kata pun, diri nya kembali masuk ke dalam kamar. Semua orang yang masih di sini merasa heran dengan sikap Arumi. Orang orang ini tak merasakan apapun.


Drap...drap.... cklek(suara pintu yang terbuka)


Ketika masuk ke dalam kamar, barang yang dituju ialah buku kuno yang masih ia simpan di dalam koper. Sebelum mengambil buku kuno pintu kamar sudah di kunci sehingga tidak ada orang yang bisa masuk ke dalam.


Sreek....Arumi membuka resleting koper. Mencari buku kuno yang ditempatkan antara baju baju. Setelah menemukan, Arumi bergegas membawa buku ini ke atas ranjang.


Benar saja, selama perasaan tidak mengenakan buku kuno selalu memberi sinyal merah yang tanda nya ada sesuatu. Arumi buka buku kuno ini dengan jantung yang terus berdebar.


Deg...deg...deg...


Saat tangan berhenti membuka lembaran, Arumi di kejutkan dengan tulisan yang tinta yang berwarna merah pekat. Tulisan ini membuat Arumi menangis ketakutan. Dengan deru nafas yang tak stabil, kerutan urat urat sekitaran leher sedikit muncul. Kedua telapak tangan menggenggam erat hingga urat nadi nampak.


Baru kali ini Arumi merasakan amarah yang memuncak ketika mendapatkan tulisan yang tak mengenakan yang berasal dari buku kuno.


"Tidak bisa gue biarin ini terjadi sebelum malam tiba. Dasar licik!, lihat saja hukum alam lebih mengerikan. Tapi gimana beri tau lainnya, kalau gue bicara jujur pasti tidak ada yang percaya. Gimana ini ya Allah tunjukan lah jalan yang terbaik" gumam Arumi yang menahan amarah nya di dalam kamar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2