Lelembut

Lelembut
Villa puncak


__ADS_3

Perjalanan panjang telah mereka lewati. Kini mereka telah sampai di tempat tujuan, yakni villa puncak yang berlokasi di kota B dan masih di kawasan pulau Jawa. Mereka sampai di lokasi sekitar jam 16.40 waktu Indonesia bagian Barat. Mereka yang baru tiba, langsung di sambut oleh cantik nya pemandangan dan asri nya pepohonan. Sungguh indah ciptaan Allah yang tiada dua nya.


Arumi turun dari mobil di sambut dengan sejuk nya udara sore hari.


" Enak juga udara di sini beda sama di sana. Tapi kalau menjelang malam hari pasti dingin " batin Arumi yang kedua mata nya tak lepas dari indah nya pemandangan di puncak.


Tapi pernahkan kalian terbayangkan bahwa keindahan ini hanya ilusi mata, yang setiap waktu bisa berubah sesuai keinginan "yang berada di sini". Pepatah pernah berkata bahwa indahnya pemandangan belum tentu indah di malam hari, pasti setiap tempat tersimpan misteri yang belum terungkap oleh manusia.


Hal ini di rasakan oleh Arumi ketika pertama menginjakan kaki di villa puncak ini. Tak hanya Arumi saja yang merasakan, deddy Baskoro dan kakek Djoko juga merasakan.


Mengapa deddy Baskoro memilih villa ini?, jawaban nya ialah karna hanya villa itu saja yang masih kosong. Villa yang lain nya sudah di pesan oleh orang lain. Dan hanya itu saja villa yang masih kosong dan belum di pesan oleh yang lain.


Lagi pula sebelum memesan villa itu, deddy Baskoro sudah terlebih dulu mengecek "keadaan" di sana melalui media foto. Deddy Baskoro membenarkan bahwa di sana ada " penghuni" yang udah lama mendiami villa tersebut. Para "penghuni" di sana tidak terlalu ganas atau pun liar. "Penghuni" di sana hanya menampakan diri atau anggap saja "mereka" ingin berkenalan.


"...."


Di rasa cukup memandang pemandangan di luar, Arumi memutuskan masuk ke dalam villa sembari membawa koper dan tas.


" Arumi kamar mu berada di lantai atas, bersebelahan dengan kamar Agus " ucap bunda Aurora seraya memberikan kunci kamar tidur yang berada di lantai dua.


Arumi menerima pemberian kunci kamar nya sambil berkata " di lantai atas siapa aja bun, selain aku sama Agus kan masih ada sisa kamar dua " mendongak ke atas, mengamati kamar kamar yang bisa di lihat dari bawah.


Kamar tidur yang berada di lantai dua semi tingkat, tidak full dinding pemisah ruang. Hanya di batasi dengan pagar besi yang membentang kurang lebih lima meter.


" Om Abay sama Tante Isti tidur di kamar atas sebelah nya kamar Agus. Yang satu nya di biarkan kosong untuk tempat peyimpanan barang " balas bunda Aurora yang sama sama mendongak menatap setiap kamar kamar.


" Oh..gitu, ya udah Arumi ke atas dulu ya Bun. Mau istirahat sebentar sekalian mandi sore " Arumi melenggang menuju anak tangga yang akan membawa nya menuju kamar nya.


Arumi mengangkat sendiri koper nya dengan cara hati hati dan di punggung nya terdapat tas ransel yang isi nya barang barang penting.


" Huh!..capek juga " Arumi sudah sampai di depan kamar nya dengan nafas yang sedikit tak beraturan. Arumi memasukan kunci dan...


Jglek... pintu terbuka selebar lebar nya. Arumi terkesima dengan dekorasi kamar yang ia pakai, dekor kamar sangat minimalis dan juga bersih dan rapi. Arumi mematung sesaat di ambang pintu dengan satu tangan memegang tarikan koper.


Arumi menyimpan koper di sebelah bed cover dan menaruh tas ransel di atas bed cover.


Kamar yang ia pakai ternyata ada balkon yang langsung menghadap kolam renang dan dengan taman yang luas. Cocok untuk berkumpul bersama di malam hari.

__ADS_1


Srakk.. Arumi membuka korden " bagus juga tempat nya "


Dilanda penasaran, Arumi membuka pintu balkon untuk sekedar melihat keadaan di luar sana.


" Kanan kiri masih banyak pepohonan. Tapi...kalau malam hari nampak sunyi " batin nya berdiri di balkon sembari melihat lihat di sekitar sini.


Arumi tertawa kecil, setelah melihat banyak lampu yang terpajang di sekitaran kolam renang dan taman"percuma banyak lampu, penghuni di sini enggak ngaruh sama terang nya lampu"


Walau masih ada sinar mentari, Arumi bisa 'melihat' jelas bahwa penghuni di sini masih berlalu lalang di sekitaran villa ini. Ada yang duduk di pinggir kolam, ada yang berkerumun di antara pohon pohon, ada juga yang berdiri di samping gazebo taman. Dan masih banyak lagi yang tidak bisa di sebutkan oleh Arumi.


Tak lama setelah melihat suasana kolam renang, Arumi memilih masuk ke dalam lagi dan menutup pintu balkon. Sebelum diri nya membersihkan diri di kamar mandi.


" Pakai air hangat aja lah biar otot otot rileks" ungkap isi hati nya. Diri nya masih memilih pakaian yang berada di dalam koper.


"...."


"...."


Baru membuka pintu kamar mandi, Arumi di kejutkan oleh perempuan bergaun biru yang duduk di atas kloset duduk. Pandangan mata perempuan bergaun biru langsung mengarah ke Arumi yang masih berdiri di ambang daun pintu.


" Ealah, enggak di luar. Enggak di sini sama aja " batin Arumi yang melihat perempuan bergaun biru masih duduk di atas kloset duduk.


Perempuan bergaun biru masih melihat Arumi tanpa henti. Wajah pucat nan cantik itu terus menatap seolah ingin berkenalan.


Di sisi lain, Arumi merasa risih ketika di lihatin dengan cara jarak dekat dan sangat intens. Di dalam hati nya ia berusaha tidak melihat ke arah kloset. Seolah diri nya memang tidak bisa melihat bangsa ghaib.


...🕯️🕯️🕯️...


Arumi menuruni anak tangga dengan keadaan tubuh sudah fresh dan wangi.


" Yang lain pada kemana om? " kebetulan om Abay duduk di depan tv.


" Lagi di luar "


Mendengar balasan dari om nya, Arumi bergegas menyusul ke arah luar.


" Buat acara nanti malam ya, ded? " Arumi berdiri di dekat deddy nya yang sedang menyiapkan tempat bakaran.

__ADS_1


" Iya, kalau enggak hujan. Nanti acara nya bakar daging di sini dekat kolam renang biar asap bakaran keluar melambung ke atas "


" Loh!! " Arumi melihat Abay, istri nya dan Agus lagi bersantai di pinggir kolam. Sontak Arumi kaget melihat Abay sudah di sana. Secepat itukah om nya menyusul Arumi yang lokasi nya berada di belakang villa.


" Bukan nya om Abay duduk di depan tv Kok udah sampai di sini, kapan menyusul ke sini, kalau pun menyusul Arumi bisa mengetahui". Karna pintu keluar menuju kolam renang hanya ada satu. Kalau pun lewat harus melewati pintu belakang, otomatis Arumi mengetahui. Boro boro tau kaget iya.


" Masa dari dulu enggak bisa membedakan mana manusia mana bukan" imbuh deddy Baskoro yang tau apa yang di pikirkan anak nya.


" Eh.." Arumi menoleh ke arah deddy Baskoro. " bukan nya enggak bisa ded, cuma kecolongan aja. Habis mirip banget loh susah membedakan "


" Kan ciri ciri nya sangat mencolok, masa enggak tau "


" Tau ded, cuma tadi enggak begitu memperhatikan aja. Cuma sekilas aja lihat nya. Mana perawakan nya sama persis lagi "


" Coba sana kamu lihat lagi, siapa tau yang di dalam villa benar manusia dan di pinggir kolam itu bukan " deddy Baskoro menyuruh Arumi mengecek ulang agar diri nya ( Arumi) bisa membedakan.


Nama nya juga berbakti kepada orang tua, segala ucapan atau perintah pasti di iyakan oleh anak. Begitu juga dengan Arumi yang mengecek kembali ke dalam villa.


Drap...


Drap...


" Loh kosong " ucap Arumi ketika sudah sampai di depan tv. Ternyata benar diri nya kecolongan lagi tidak bisa membedakan manusia asli atau bukan. Ia segera kembali bergabung dengan yang lain.


" Bagaimana rum, masih ada di dalam. Apa enggak? " tanya deddy Baskoro yang sudah selesai menyiapkan alat panggang.


" Hilang " balas Arumi.


"..."


"..."


" Om Abay...om tadi duduk di depan tv apa enggak? " Arumi menghampiri kakak dari deddy Baskoro.


" Enggak tuh, dari tadi di sini sama yang lain. Ada apa ya? " tanya dengan nada keheranan.


" Enggak apa om, cuma tanya aja. Ya udah Arumi balik bantu bunda dulu " Arumi langsung memutar tubuh menghampiri kedua kakek nenek nya yang sedang bersantai di gazebo.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2