Lelembut

Lelembut
Yang sebenarnya part 2


__ADS_3

" Nanti saja" dari jauh Arumi melihat pesanan nya sudah matang. Dan sedang menuju ke meja ini.


" Maksud elu apa sih Rum" sahut Anin yang baru masuk sekolah.


" Halah palingan yang di bahas nanti pas waktu kesurupan massal. Ya kan rum" sambung Siska.


"Kesurupan massal? " beo Anin yang tak tau maksud dari Siska.


" Sudahlah makan dulu " ujar Arumi yang sedang makan bakso.


"T-tapi..." ucapan Anin langsung di potong oleh Arumi.


" Makan dulu. Baru gue kasih tau. Dan elu" menatap Abi. " Gue harap elu masih di sini, ada hal penting yang harus gue sampaikan ke elu " ujar Arumi.


Abi membalas mengangguk kepala, karna mulut nya sudah penuh dengan nasi. Jadi tidak bisa membalas ucapan Arumi.


Anin dan Siska hanya saling pandang melihat keseriusan Arumi ketika menatap Abi.


"..."


" Ada hal apa sampai kalian datang menemui gue " tanya Abi yang sudah selesai makan.


Arumi berdehem "E'hem...jadi gini, saat kalian main jelangkung di bawah pohon. Di situ gue sudah merasakan hawa yang tidak enak. Itu sebelum gue tampil. Dan saat gue udah di atas panggung suasana berubah, angin datang dari segala arah. Lampu hias bergoyang. Satu persatu lampu padam. Saat lampu bergantian padam, gue masih di atas panggung. Menyaksikan orang yang saling kesurupan. Kalian tau penyebab ini semua dari mana" menatap bergantian Anin, Siska dan Abi.


Serentak tiga orang ini menggeleng.

__ADS_1


Arumi memberi kode untuk merapat. Empat orang ini saling mendekat, tak ada celah di antara mereka.


" Kalian percaya bahwa setiap tempat pasti ada 'penghuni' " tangan Arumi mengisyaratkan kedua jari nya seolah tanda petik.


Anin dan Siska tampak mengangguk setuju, sedangkan Abi terdiam tak memberi respon apapun. Membuat Arumi menarik ujung bibir.


" Kenapa elu diam " menatap Abi. "Apa tidak percaya akan hal itu, dan kalau tidak percaya kenapa waktu itu elu gabung dengan teman mu bermain jelangkung. Elu tau enggak arti memainkan jelangkung? apa elu hanya sekedar ikut ikut saja? "


" Bukan nya tidak percaya akan hal itu. Waktu itu sebenarnya gue enggak mau ikut ikut. Gue di paksa harus ikut bermain jelangkung bersama mereka..."


Sahut Arumi "kenapa enggak nolak aja. Kan elu udah tau konsekuensi nya "


" Udah gue tolak berbagai alasan. Tetap enggak bisa. Teman gue kekeh mengajak gue, alasan nya ini hanya untuk seru seruan. Yang mengajak gue itu sebenarnya tidak percaya akan dedemit. Entah sejak kapan dia tertarik akan hal hal mistis, hingga suatu hari teman gue mendapatkan buku yang isi nya bacaan mantra. Dan tanpa sepengetahuan kami, dia sudah mempersiapkan boneka jelangkung itu jauh jauh hari. Dia membawa itu pas ada kegiatan persami bertepatan dengan malam pentas. Kami berlima di ajak Fahri untuk duduk di bawah pohon alasan nya ada permainan yang asik. Di bentuklah duduk melingkar, tanpa kami duga Fahri sudah membawa jelangkung, kami di suruh ikut permainan ini. Awal nya biasa saja tidak ada gangguan atau tanda tanda kedatangan. Fahri pikir salah menyebutkan mantra. empat teman gue tanpa sadar ikut mengucapkan mantra yang di ucapkan oleh Fahri. Gue hanya menunduk menyimak apa yang mereka ucapkan "


" Gue sama sekali tidak ikut mengucapkan mantra hanya, mendengarkan. Pada akhirnya di tengah pentas seni, ujung jelangkung bagian bawah bergerak dengan sendiri nya. Tanpa ada yang menggerakkan. Di bawah sana sudah di sediakan kertas. Ujung bawah jelangkung di beri bolpoin yang sudah di solasi. Kalau enggak salah tulisan nya tuh jangan lari " kata Abi dengan kedua tangan di lipat di atas meja.


" Benar benar yang teman mu itu. Udah tau tempat nya gini, di tambah bermain jelangkung" sahut Anin.


" Pas udah ada orang yang kerasukan, gue mencari kalian. Ternyata masih duduk. Gue samperin dengan maksud baik, enggak tau nya teman kau malah menanggapi dengan nada yang tak enak. Di situ gue udah jengkel. Gue suruh berhenti malah dia enggak mau, ya beginilah kalau enggak tau arti mantra yang kalian ucapkan itu "


" Emang mantra nya sebahaya itu kan?" sambung Siska.


" Yaa. Lihat lah dampak nya, kalau enggak sebahaya itu kemungkinan teman elu itu masih selamat "


Deg...Abi tersentak dengan ucapan barusan.

__ADS_1


" Gini deh mantra pemanggilan itu kan sering kita dengar. Tapi yang kalian ucapkan itu bukan mantra yang sering kita dengar. Itu mantra untuk pemanggilan siluman kuda. Gerbang menuju alam nya tidak jauh dari sini. Pas kalian mengucapkan, gerbang itu seketika berpindah. Tanpa kalian sadari lima teman elu itu sudah mengikat perjanjian dengan para siluman kuda. Terutama elu sudah di tandai oleh mereka "


Abi yang mendengar siluman kuda langsung teringat dengan mimpi nya yang sudah tiga hari yang lalu. Aneh nya mimpi itu tiba tiba datang tanpa Abi minta. Abi menunduk memegang kepala nya. Semakin memejamkan mata, mimpi itu semakin jelas. Di dalam mimpi, Abi bertemu siluman kuda. Sama yang Arumi katakan. Ternyata mimpi yang ia alami bukan lah mimpi biasa. Melainkan jiwa nya masuk ke dalam dimensi alam sana.


Abi mendongakkan kepala menatap Arumi "sebelum elu menceritakan ini, gue udah mimpi bertemu dengan para siluman kuda. Gue di bawa ke suatu tempat yang entah, gue enggak pernah tau. Sangat asing bagi gue. Di sana gue di rantai dengan besi yang sangat besar, sekujur tubuh enggak bisa di gerakan. Yang paling tidak bisa gue terima sampai saat ini. Gue melihat lima teman gue di gantung " Abi menceritakan mimpi ini dengan kedua mata yang sudah panas.


" Yang paling mengenaskan, Fahri. ialah orang yang mengajak gue main jelangkung. Yang gue lihat dalam mimpi. Fahri di gantung dengan kondisi yang bisa di bilang paling mengenaskan di antara yang lain. Sebagian kulit sudah tidak ada. Yang lain nya di gantung di atas pohon dengan tubuh yang sudah lemas. Di situ gue sangat kaget antara percaya dan tidak percaya"


Arumi menepuk pundak sebanyak dua kali" harus nya elu bersyukur bisa hidup sampai detik ini. Kalau bukan leluhur mu yang narik. Kemungkinan elu udah di bawa tidak bisa kembali ke dunia. Jiwa lu udah di tahan oleh mereka"


" Leluhur? maksud elu apa" Abi benar benar tidak tau.


" Leluhur itu nenek moyang lu. Dia lah yang menyelamatkan elu dari marabahaya. Dan dia lah yang menjaga lu sampai saat ini"


" Apa mungkin yang menarik tubuh gue leluhur dari keluarga" jawab Abi.


" Hmmm..." Arumi mengangguk.


Tanpa terasa jam istirahat berakhir. Teng...teng...


" Gue turut berdukacita atas meninggal nya teman elu" Arumi menyalami Abi. Dan di ikuti oleh Anin dan Siska.


" Kami duluan ya " imbuh Siska.


" Ya, lain kali kita ngobrol lagi. Sampai ketemu kembali " jawab Abi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2