Lelembut

Lelembut
Hujan


__ADS_3

Krukkk.....Arumi terbangun dari tidur nya sebab perut nya terasa sakit.Dengan mata masih sedikit terbuka, ia bangkit turun dari ranjang. Diri nya melangkahkan kaki keluar dari kamar.


Kreeek...suara tarikan pintu membuat Anin terusik tidur nya, dengan suara serak nya Anin memanggil Arumi yang berada di luar yang hendak menutup pintu"lu mau kemana?"


Arumi menengok ke belakang sambil memegangi perutnya "kamar mandi, perut gue sakit"memutar tubuh nya kembali dan melanjutkan jalan nya menuju kamar mandi.


"Oh..." Anin kembali melanjutkan tidur. Menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuh nya.


Saat keluar dari kamar, suasana homestay sangat berbeda jauh ketika di pagi hari. Baru saja keluar, Arumi di sambut dengan bau dupa yang tengah di bakar. Bau nya sangat menyengat di sekitaran ruang makan dan dapur.


Arumi tak ambil pusing, ia mementingkan kondisi perut nya yang sedari tadi sangat sakit. Saat sudah berada di dalam kamar mandi Arumi menyalakan lampu dan keran air agar suara nya tak terdengar sampai luar.


"Habis makan apa sih gue, malam malam perut rasa nya sakit. Mana sepi lagi" gerutu dalam batin nya.


"Ah...lega nya" Arumi menepuk perut nya yang sudah tak merasakan sakit. Saat hendak berdiri dari tempat kloset, Arumi mendengar langkah kaki yang tengah jalan melewati kamar mandi ini.


Drap...drap...


"Pasti ada yang bangun" ujar nya yang masih membasuh tangan menggunakan sabun cair yang ia bawa dari mansion.


Selang beberapa menit suara gedoran pintu terdengar sangat jelas tok....tok....


Yang dipikiran Arumi pasti ada orang di luar, hingga diri nya cepat cepat untuk keluar dan tak lupa mematikan kran air, dari dalam Arumi mengucapkan kata" iya bentar..."


Tiba lah Arumi membuka pintu seraya menunduk membenarkan sandal "sorry tadi masih aku pakai" di tunggu hingga beberapa detik tak ada jawaban, Arumi mendongakkan wajahnya deg....


Ternyata di depan kamar mandi tidak ada siapa pun, Arumi melangkahkan kaki nya keluar dari kamar mandi untuk memastikan ada orang atau tidak. Di tengoklah kanan kiri tidak ada kosong "perasaan tadi ada yang gedor gedor pintu" menggaruk kepala nya dengan kaki masih melangkah menjauh dari kamar mandi.

__ADS_1


Srek...langkah kaki nya terhenti ketika diri nya mendengar suara pintu kamar mandi tertutup, dengan sedikit menoleh ke belakang. Ekor mata nya menangkap ada sosok anak kecil yang berwajah tua sedang masuk ke dalam.


Brak! pintu kamar mandi di banting dengan keras nya. Arumi hanya memejamkan kedua mata nya. Kepala nya kembali menatap ke depan dengan maksud melanjutkan jalannya. Tapi....


Gangguan suara kembali terdengar tak hanya satu atau dua kali. Lagi lagi Arumi harus mendengar suara keran air yang di buka. Heran, padahal sebelum keluar Arumi ingat bahwa diri nya sudah mematikan kran air. Nyata nya sekarang diri nya harus mendengar suara kran yang tengah di buka.


Suara air yang mengalir sangat jelas, tak hanya satu telinga saja yang mendengar. Dua telinga saling mendengar suara gemericik air yang tengah mengalir.


"Huh!!..." membuang nafas kesal. "anak kecil yang kurang kerjaan"Arumi memilih mengacuhkan suara suara itu tidak terlalu di pikirkan.


Kreeek...Arumi membuka pintu kamar, perlahan tubuh nya masuk ke dalam. Kemudian membalikkan badan untuk menutup pintu. Di sela sela ingin menutup pintu, kedua mata nya menangkap sosok anak kecil berwajah tua yang tengah berlarian. Sosok anak kecil ini berhenti tepat di satu garis kamar tidur yang di pakai Arumi.


Perlahan kepala anak kecil ini menoleh ke arah Arumi yang masih berdiri di balik pintu. Sontak Arumi mengalihkan pandangan nya. Dengan cepat menutup pintu. Klek....


Walaupun sering melihat hantu atau jin, diri nya tetap merasakan degup jantung yang datang secara tiba tiba. Untung nya diri nya sudah bisa mengontrol perasaannya.


Kenapa Arumi bisa tidur bareng sama Anin dan Siska? bukannya waktu pertama datang sudah di bagi menjadi dua orang dalam satu kamar. Mengapa Arumi memilih tidur dengan kondisi berdempetan? jadi begini...


Ketika sedang adu debat dengan Ami yang posisi nya masih di dalam mobil. Arumi dan Ami sudah tidak akur semenjak ada suara benturan keras saat perjalan pulang. Ketika sudah sampai, Ami sudah terlebih dulu masuk ke dalam kamar. Tak lama kemudian, barang barang yang Arumi bawa dan sudah di tata. Di keluarkan semua oleh Ami tanpa sepengetahuan Arumi.


Ketika Arumi hendak masuk ke dalam kamar, ia kaget barang yang ia bawa sudah tergeletak di lantai dengan bentuk yang tak karuan. Dengan rasa jengkel nya, ia ambil sendiri barang nya sembari menatap pintu kamar yang tengah tertutup. Tanpa sepatah kata, Arumi masuk ke kamar sebelah yap kamar yang di tempati oleh Anin dan Siska. Kedatangan Arumi di sambut hangat oleh kedua sahabatnya. Mereka berdua tidak segan segan membagi ranjang walau tempat nya sempit. Begitulah cerita kisah Arumi yang secara tidak langsung diusir dari kamar oleh Ami.


...🍂🍂🍂...


Jgeeer....suara petir membuat Arumi terbangun. Arumi langsung terduduk dengan rambut acak acakan. Dengan kepala yang sedikit pusing, memaksakan diri untuk membuka mata. Sembari mengucek kedua mata, diri nya melihat jam yang ada pada jam tangan nya yang di letakan di samping meja kecil.


"Jam enam" ucap Arumi dengan suara serak.

__ADS_1


Menengok ke samping niat nya membangunkan Anin dan Siska. Ternyata dua orang itu sudah bangun menyisakan selimut yang masih berantakan" kemana dua orang ini" saat merapikan selimut dan seprei Arumi memandang jendela kaca yang tengah berembun tanda nya di luar sana sedang turun hujan.


"Masih pagi kok udah turun hujan, jadi males bangun" mengurungkan niat menghampiri kedua sahabatnya, diri nya memilih bersantai sejenak di sini seraya membuka ponsel nya. Baru membuka ponsel, pesan dari kedua ortu bermunculan dan ada notif dari aplikasiainnya.


Selesai membalas pesan dari kedua ortu nya, Arumi beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar. Pertama yang dituju adalah kamar mandi sebab sudah tak tahan menahan buang air kecil.


Kelar dari kamar mandi, Arumi mengayunkan kaki nya menuju dapur yang mana Anin dan Siska sedang bergulat dengan bumbu dapur.


"Pagi..." Arumi duduk di kursi yang sedang kosong.


"Pagi..." balas mereka tanpa menengok ke belakang karna sudah tau siapa suara ini.


"Baru bangun?" Siska menghampiri Arumi.


"Ya udah sepuluh menit yang lalu. Kalian masak apa" Arumi melihat Anin yang sedang sibuk dengan masakannya.


"Kita mah masak yang simpel dengan bahan yang seadanya aja dan mumpung lagi hujan. Kita bikin sup sayur sama masak nasi" sahut Anin yang sedang mengaduk beras yang baru saja di masukan ke dalam panci kecil.


"Yang lainnya udah bangun?" melihat anak tangga.


Anin dan Siska menggelengkan kepala"enggak tau udah bangun apa belum, tunggu aja mungkin bentar lagi turun" jawab Siska.


Dan benar saja, tiga anak cowok satu persatu turun dari lantai dua melalui tangga kayu. Tiga orang ini datang memenuhi dapur. Membuat suasana dapur jadi ramai.


"Ami mana?" tanya Abi yang sedang melihat suap sayur yang masih belum matang.


"Ami..." beo tiga anak ini( Anin, Siska dan Arumi) mereka serempak menggindikan kedua bahu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2