
Kedua langkah kaki terus melangkah menuju rumah yang sederhana. Di mana di teras rumah terdapat kursi goyang yang di letakan di dekat pintu rumah. Rumah ini bergaya rumah jaman dulu di era tahun 90 an, rumah ini khas rumah joglo. Seluruh bangunan terbuat dari kayu jati tua.
Tok...
Tok...
Arumi mengetok pintu di temani oleh Anin dan Siska yang berdiri di belakang Arumi. Dan mobil yang mengantar mereka masih stay di halaman rumah ini.
Setelah nunggu kurang lebih enam menit an di depan pintu, akhirnya ada seorang yang membukakan dari dalam.
Seorang wanita yang sudah berumur dengan rambut setengah nya sudah berwarna putih " kalian siapa? ada perlu apa datang kemari " ucap nya yang berdiri di samping kusen.
" Apakah ini benar rumah pak Haisal? " Arumi balik bertanya.
" Benar ini rumah pak Haisal, tapi kalian siapa? ada perlu apa dengan anak saya " dengan wajah kebingungan.
" Sebelum menjawab pertanyaan ibu, bolehkah kami masuk terlebih dahulu. Agar nyaman saat mengobrol " dengan sopan Arumi menjawab perkataan ibu tadi.
" Silahkan masuk ke dalam nak, maaf ruang tamu nya sedikit berantakan " ibu itu duduk di kursi tunggal yang masih terbuat dari kayu. Sedangkan tiga anak ini duduk di kursi panjang
" Kalian ada perlu apa datang kemari? dan kalian kok tau nama anak saya, siapa kalian " pertanyaan itu terus di ulang oleh ibu ini. Hingga Arumi membuka suara.
" Perkenalkan kami dari siswi SMK Xxx, saya Arumi dan sebelah kiri saya Anin. Sebelah kanan saya Siska. Kami di sini ingin memberikan cincin ini " Arumi mengeluarkan cincin yang ia simpan di dalam dompet. " Dan kami ingin mengetahui tentang kejadian yang di alami oleh wanita ini " Arumi juga menunjukan foto mendiang Lusi yang berhasil di cetak oleh Siska.
Ibu ini syok saat melihat foto Lusi, sampai sampai saat memegang foto Lusi. Tangan ibu ini bergetar.
" Apakah ibu, kenal dengan orang yang berada di dalam foto? " pertanyaan Siska membuat ibu ini sedikit meneteskan air mata.
" I- ibu kenal dengan orang ini, nama nya Lusi. Anak baik anak cantik yang ibu kenal " ibu ini memegang erat foto Lusi, seakan tidak mau melepaskan yang kedua kali nya.
" Tapi... " ibu ini menjeda ucapnya seakan tenggorokan tercekat. Lidah nya kelu untuk mengucapkan kata selanjutnya.
" Tapi apa Bu? "
__ADS_1
Ingatan beliau seakan ingatan yang tidak perlu diingat kembali, seakan ibu ini tau tentang mendiang Lusi. Di saat sudah agak tenang ibu ini melanjutkan ucapan nya..
" Lusi ini anak yang sopan sama orang tua, baik hati nya. Ibu suka dengan nak Lusi, angan angan ibu menjadikan Lusi sebagai anak mantu, pupus setelah mendapatkan kabar bahwa nak Lusi meninggal dengan cara yang mengenaskan. Hati ibu sakit sekali mendengar berita mengenai Lusi, ibu merasa kehilangan selayak nya orang tua yang kehilangan anak nya. Seminggu ibu terpuruk dan memilih menyendiri di dalam kamar. Saat itu ibu tidak yakin kalau Lusi meninggal begitu cepat nya, kejadian ini sudah beberapa tahun yang lalu. Namun luka ini masih terasa di dalam dada. Dan paling menyakitkan adalah orang orang tersayang ku telah tega menyakiti Lusi dan berakhir mengenaskan. Orang yang ku didik untuk menjaga wanita, menghargai wanita dan menyayangi wanita terhapus dengan tinta hitam yang ia perbuat " tangis ibu ini pecah kembali saat mengenang Lusi.
" Siapa orang yang ibu maksud? " tanya Siska yang nampak merasakan rasa sakit di dada nya.
" Anak ku...anak ku yang tega menganiaya Lusi hingga Lusi memilih mengakhiri hidup nya sendiri. Tekanan yang di dapatkan oleh Lusi berasal dari anak ku. Yang terhasut oleh berita tak benar dari teman nya, segala hasutan dari luar di terima mentah mentah oleh anak ku. Di puncak emosi nya anak ku membawa Lusi ke tempat yang sepi yang berada di gudang sekolah. Di sana anak ku menganiaya Lusi hingga sekujur tubuh nya membiru. Dan yang paling membuat hati ku teriris anak ku dengan tega memperko** Lusi "
Deg! Anin terdiam dengan ucapan ibu ini mengenai kejadian yang di perbuat oleh anak nya. Kejadian itu sama persis dengan apa yang ia lihat waktu itu, seolah Anin sedang deja vu.
Siska langsung menundukkan kepala nya dalam diam ia meneteskan air mata yang sedari tadi ia tahan. Punggung Siska bergetar membuat Arumi refleks mengusap lengan Siska agar Siska tetap tenang.
" Kenapa tidak melaporkan anak ibu ke pihak berwajib? " tanya Arumi yang masih mengusap lengan Siska.
" Awal nya ibu tidak tau, kalau pelaku nya adalah anak ibu sendiri. Saya kira orang lain. Setelah enam tahun kemudian, baru lah anak ibu berani mengatakan dengan sejujur jujur nya. Ibu mendengar ucapan anak ku sangat syok dan kecewa, ibu memilih menghindar sejenak agar ibu bisa mengontrol emosi. Besok hari nya ibu ingin mengobrol kembali dengan anak ibu tapi sampai di kamar nya, ternyata orang nya tidak ada, sudah ibu cari ke seluruh ruang lagi lagi orang nya tidak ada. Di saat sedang mencari anak ku, ibu mendapatkan telepon dari rumah sakit bahwa anak ku kecelakaan saat anakku diam diam pergi dari rumah, mungkin anak ku menghindar dari pihak berwajib namun, karma yang ia tanam sudah di depan mata. Niat hati ingin menghindar lubang jalan yang sangat lebar, tapi perhitungan nya salah. Ban depan mengenai batu lancip yang berada di dekat lubang jalan. Alhasil anak ku oleng ke kanan jatuh dan dari belakang ada bis yang laju nya sangat cepat. Tubuh anak ku terpental hingga sepuluh meter, helm yang ia pakai sampai remuk, sekujur tubuh di lumuri oleh darah nya sendiri. Dan sekarang ia berbaring di ranjang nya tidak bisa jalan, setiap hari berbaring di tempat ranjang. Tulang ekor sudah bermasalah membuat susah jalan dan duduk. Setiap malam terus merintih kesakitan menyebut nama kekasih nya yang sudah tiada di karenakan ulah nya. Suami ku sudah meninggal dunia tiga tahun yang lalu, kini saya dan anak saya lah yang menempati rumah ini "
" Kenapa bisa baru enam tahun terungkap nya? "
Arumi, Anin dan Siska hanya bisa mengangguk tanpa menghakimi anak dari ibu ini.
" Terus apakah cincin ini milik anak ibu yang sudah lama ia cari? " Arumi menggeser cincin itu ke hadapan ibuk nya.
" Ibu enggak tau menahu tentang cincin ini, mungkin bisa tanya langsung ke anak nya sendiri. Mari ibu tunjukan kamar nya" bangkit dari kursi, berjalan menuju kamar anak nya.
" Ada yang mencari mu nak " ucap ibu nya ketika sudah tiba di kamar anak nya.
Arumi, Anin dan Siska berdiri di depan pintu sembari melihat kondisi anak nya yang sangat memprihatinkan. Tubuh kurus di tambah pucat membuat anak ibu itu tidak berdaya di atas ranjang.
" Dia sudah memanen hasil perbuatan nya" ujar Siska.
"..."
"..."
__ADS_1
" Siapa yang mencari ku Bu? " tanya anak nya dengan ucapan yang sangat lirih.
Sang ibu menoleh ke arah pintu untuk memberi isyarat kepada tiga anak untuk masuk ke dalam.
" Permisi..."
Haisal menoleh ke sumber suara dan terbengong melihat tiga anak cewek yang berdiri tepat di depan nya " siapa mereka Bu? apa mereka teman nya ibu? "
" Kami baru saja berkenalakn dengan ibu mu dan kami hanya mengantarkan cincin ini kepada pemilik nya. Cincin ini sudah lama terpendam di dalam tanah, simpan lah cincin ini agar tidak hilang lagi " Arumi meletakan cincin di atas dada Haisal.
Haisal perlahan mengambil cincin yang berada di atas dada nya, tak lama kemudian air mata nya jatuh membasahi sarung bantal yang ia pakai " sudah lama aku cari, akhirnya kamu ketemu. Maaf kan mas Lusi, mas benar benar salah. Seharus nya mas lebih percaya kepada mu dari pada percaya dengan omongan orang lain. Mas benar benar mengaku salah, tolong maaf kan mas Lusi, hanya kamu yang bisa menyembuhkan luka ini. Tolong terima lah maaf ku ini, hiks..." seorang pria yang menangisi cincin yang sudah lama terkubur di bawah pohon asem.
" Kalian siapa? kenapa bisa tau kalau ini cincin saya, yang sudah lama saya cari " ucap nya dengan tubuh yang sudah tidak berdaya.
" Aku dan Anin hanya orang biasa, namun sahabat ku bernama Siska masih satu kelurga dengan mendiang Lusi. Dia keponakan nya anak dari adek nya Lusi. Dia lah yang mengetahui cerita ini melalui mami nya dan kedua om nya " ucap Arumi.
Haisal di sini menangis dengan kencang "hiks...maaf kan saya dek. Saya telah memperkos* tante mu dan mengubur nya di bahwa pohon asem. Saya benar benar merasa bersalah, maaf kan saya hiks.."
Sudah terjawab sudah siapa yang mengubur Lusi pertama kali sebelum di temukan mayat di bawah pohon asem. Sekarang keping kepingan puzzle telah tersusun rapi membentuk sebuah peristiwa yang membuat hati terasa sesak.
Setelah menjenguk Haisal, Arumi meninggalkan amplop yang berisi uang berjumlah 2 juta untuk pengobatan Haisal. Dan sebelum pulang mereka bertiga mendoakan agar Haisal segera pulih.
...»»»»...
Sebelum Maghrib berkumandang, mereka bertiga telah sampai di rumah masing masing dengan selamat.
Arumi bergegas menuju kamar nya untuk segera mengganti pakaian dan mandi. Sebelum masuk ke kamar mandi, Arumi menyempatkan melihat buku kuno yang di simpan di atas meja belajar.
Arumi membuka lembaran demi lembaran, hingga lembaran terakhir ia baca. Di sana terdapat tulisan selesai dalam tulisan Jawa kuno.
Arumi merasa senang karna 'tugas' nya sudah selesai.
Bersambung...
__ADS_1