
Duaar!!!.....kali ini suara nya sangat keras membuat empat cewek ini kaget. Tapi yang paling aneh tingkahnya ialah Ami. Saat mendengar suara ledakan, Ami memelotot kedua mata menit berikutnya ia berteriak"tidaaaakkk......"Ami dengan cepat keluar dari kolong meja makan. kemudian berdiri dengan kedua mata merah layaknya terkena iritasi mata.
Tanpa bertele tele, Ami lari menuju pintu dapur yang terhubung langsung ke rumah paman nya. Arumi, Siska dan Anin juga mengejar Ami. Tiga orang ini sama sama melewati pintu yang barusan di lewati oleh Ami.
Waktu keluar dari pintu ini, tiga orang ini celingukan mencari Ami yang entah kemana. Tak biasa nya Ami bisa lari secepat itu. Sampai Anin melihat ada burung jalak yang berdiri tak jauh dari mereka. Burung jalak ini mempunyai bulu yang sangat hitam. Anin menganggap nya hanyalah burung biasa yang sedang mencari makan di sekitaran homestay.
Saat burung jalak ini mulai jalan entah mengapa selalu menengok ke belakang, seolah ingin menunjukan jalan. Setelah menengok ke belakang, burung jalak ini kembali jalan. Jalan nya hanya beberapa langkah saja. Kemudian kembali lagi menengok kebelakang.
Saat itu mereka bertiga tidak ngeh kalau burung jalak ini menunjukan arah atau jalan yang membawa mereka ke suatu tempat. Burung itu terus menatap tajam sampai sampai mengepakkan sayapnya.
Di situlah Anin mulai sedikit tau nih maksud dari kepakkan sayap burung jalak.
"Eh lihat tuh ada burung jalak" Anin menunjukan akan kehadiran burung jalak yang sedang menapakkan kaki nya di atas tanah.
Arumi dan Siska langsung menengok ke arah yang mana ditunjukkan oleh Anin.
"Ya terus?" tanya Siska yang memang ia tau kalau ada burung jalak.
Arumi mengamati burung jalak itu. Kemudian menganggukkan kepala, dalam batin nya ia berucap" tunjukan jalannya" setelah mengucapkan, burung jalak itu kembali menunjukan arah. Tanpa berlama lama Arumi mengajak dua sahabatnya untuk mengikuti burung jalak itu.
"Kita ikuti burung jalak itu. Sebelum langit gelap" mendongak menatap sekilas langit.
"Mungkinkah burung jalak itu akan menunjukan jalan nya?" tanya Siska yang sedikit kurang percaya akan burung itu. Walaupun hati nya belum percaya, kedua kaki nya terus mengikuti langkah Arumi. Yang berada di depan.
__ADS_1
"Yaa, burung itu lah yang menunjukan jalannya. Insyaallah kita aman" jawab Arumi sembari mengikuti arah pergi nya burung jalak.
Lagi enak enak nya fokus mengikuti arah pergi nya burung jalak, enggak tau nya burung jalak itu pengepakan sayap pergi terbang ke langit. Bukannya tak mau memberi petunjuk jalan, melainkan sudah sampai ke tempat tujuan. Tugas burung jalak sudah selesai saatnya pergi dari tempat ini.
Benar saja, setelah mengikuti burung jalak. Tiga orang ini bisa menemukan orangnya yang sudah masuk di rumah pamannya. Ami berada di belakang dengan suara tangis yang begitu memilukan.
"Suara Ami itu? tapi kok beda" Siska memundurkan kepala nya menjauhi jendela, sebab diri nya tadi sempat menguping melalui lubang jendela.
"Beda gimana?" bisik Anin selepas dirinya selesai melihat lihat sekitaran rumah ini.
"Kayak campuran suara cowok sama suara cewek" salah satu tangannya direntangkan ke samping kanan membuat tubuh Anin sedikit terhuyung ke belakang, untung nya Anin bisa mengimbangi tubuh nya. Sebab tindakan ini spontan di lakukan oleh Siska.
Belum selesai ngomong, mulut nya Anin di bekap oleh Siska seraya menggelengkan kepala. Dalam gerak bibirnya siska mengucapkan kata"jangan bicara" setelah itu melirik ke arah jendela, di dalam jendela itu ada bayangan orang yang tengah berjalan mendekati jendela ini.
Sreekkk....(suara membuka korden), orang ini membuka dengan cara kasar. Di tengok lah kanan kiri"enggak ada.." kemudian di tutuplah korden ini hingga seluruh jendela di selimuti kain panjang.
Anin dan Siska posisi nya sama dengan Arumi, yakni berdiri di sebelah kanannya jendela. Anin dan Siska serentak menoleh menatap Arumi yang sedang membalas pesan.
"Ayo pulang" Arumi memberi kode melalui gerak bibir.
Dua sahabat ini perlahan menjauhi rumah ini, langkah kaki ini membawa mereka sampai di depan homestay dengan selamat. Dari jarak jauh, mereka melihat ada mobil Jeep terparkir di halaman. Ya mobil Jeep ini yang membawa Antonio pergi ke rumah sakit.
Anin, Arumi dan Siska lari dengan langkah lebar. Kenapa mereka sampai di halaman homestay? bukannya tadi keluar lewat pintu belakang?, jawabannya simpel. Dalam pikiran mereka, hanyalah ada lari dan lari. Lari menjauhi tempat ini sebelum di ketahui oleh Ami.
Sampailah mereka di halaman homestay. Arumi menyuruh Anin dan Siska segera masuk "cepat kemasi barang barang yang kalian bawa, hari ini juga kita akan pulang. Sekalian bawakan koper sama tas gue. Gue akan tunggu kalian di sini"
__ADS_1
"Oke, yang lainnya udah tau kalau hari ini pulang" imbuh Siska.
"Udah..." jawab Arumi yang memilih duduk di teras.
Sekitar sepuluh menit Arumi menunggu lainnya yang tak kunjung datang. Ia tengok ke jam tangan nya yang sudah menunjukan pukul 17.40, yang berarti sebentar lagi akan memasuki waktu sholat magrib.
"Yang lainnya kemana? kok enggak muncul muncul sih, apa mereka belum selesai beres beres" Arumi mulai risau dengan yang lainnya. Ia beranjak dari tempat duduk nya, kemudian ia masuk ke dalam. Pertama kali yang dituju adalah kamar tidur.
"Kalian masih be...." kedua mata terbelalak lebar melihat ada jejak darah yang warna nya masih merah segar.
Jejak darah ini menyebar hingga lantai kayu berbuah warna menjadi merah. Arumi yang berdiri di tengah tengah pintu, langsung terduduk lemas. Yang dibayangkan saat ini adalah keadaan kedua sahabatnya. Perasaan kaget dan jantung berdegup dengan kencang membuat badan nya terasa lemas.
Dirinya tak bisa membayangkan kalau terjadi yang tidak ia inginkan akan terwujud pada hari ini. Tangis yang ia tahan akhirnya pecah juga. Dirinya menangis sejadi jadinya di tengah tengah pintu.
Waktu datang, diri nya sudah di suguhi dengan pemandangan yang sangat tak mengenakan hati. Lantai terdapat bercak darah dan tempat tidur sudah tak berbentuk tempat tidur. Sprei kasur terlepas, bantal dan guling terjatuh di lantai. Dan sebagian dinding terkena cipratan darah.
Namun, ada yang janggal dalam kasus ini. Arumi melihat ada benda tajam yang terlempar masuk ke dalam kolong tempat tidur. Semakin di lihat semakin jelas apa yang di lihat oleh Arumi.
Arumi melihat pisau yang sudah berlumuran darah tergeletak di bawah kolong tempat tidur. Sontak dirinya menjerit dengan volume keres"Aaaa!!!....."
Teriakan Arumi mengundang kepanikan tiga cowok yang sedang beres beres baju. Tiga cowok ini langsung turun dari lantai atas melalui anak tangga.
__ADS_1
Bersambung....