Lelembut

Lelembut
Turun kabut


__ADS_3

"Ayo pulang yuk" Arumi melihat tetesan air jatuh dari atas dengan jumlah yang banyak. Nampak nya hujan gerimis sedang menguyur lokasi wisata ini.


"Jangan hujan dulu, gue enggak bawa payung" tutur batinnya. Saat ini tujuh anak muda sedang menikmati suasana sore hari di tempat wisata ini. Mereka berpencar menikmati pemandangan yang jarang mereka jumpai di tempat kota.


Hanya Arumi yang duduk di pinggir jembatan seraya menunggu lainnya yang masih asik berkeliling dan menikmati suasana sore di tempat ini. Diri nya enggan untuk berkeliling di tempat lokasi wisata kawah. Cukup menikmati indahnya kawah dari jarak jauh, di sela sela memandang pemandangan sekitar, tak lupa memfoto lukisan indah ini dalam satu jepretan.


Semakin menjelang sore, suasana di sekitaran kawah ini berbuah menjadi sangat dingin dan awan berubah menjadi warna ke abuan. Tanpa melihat aplikasi cuaca sudah bisa di tebak bahwa sebentar lagi akan turun hujan.


Saat hujan mulai turun dengan deras nya, barulah yang lainnya berdatangan mendekati Arumi.


Drap....drap....


"Ayo rum" ajak Brian yang sedikit lari menghampiri Arumi.


Tujuh anak ini berlarian dari lokasi wisata kawah sampai menuju tempat parkir. Baru masuk ke dalam mobil Jeep, hujan turun dengan deras nya di barengi dengan suara guntur.


Jgeeer....


Untung saja anak anak ini sudah masuk ke dalam mobil Jeep, kalau masih di luar bisa kemungkinan terkena kilat petir, di tambah baju yang di kenakan hari ini basah kuyup.


Ketujuh anak ini baru sadar bahwa hanya mobil mereka lah yang berada di tempat parkiran. Mobil lainnya sudah tidak ada. Dalam benak mereka mungkin para pengunjung sudah pulang sedari tadi. Dan mereka keasikan melihat pemandangan kawah tanpa melihat keadaan kanan kiri. Dalam keadaan hujan yang masih lebat, mereka sepakat pulang dari pada harus menunggu hujan reda dulu.


Mobil Jeep warna merah melaju menembus deras nya hujan. Dalam perjalanan ini mereka yang berada di dalam mobil tidak bisa melihat keadaan di luar sana sebab kaca mobil di penuhi oleh embun. Embun embun ini hanya bisa di bersihkan dengan wiper dan itu tidak terlalu bersih, bagi pengemudi itu sudah lebih dari cukup. Sebab masih bisa melihat situasi di luar sana dan jarak pandang masih bisa di jangkau.


Setelah dari wisata kawah. Mereka harus melewati jembatan kembar. Lokasi nya setelah melewati tikungan pertama. Tikungan pertama sudah di lalui, kini harus melewati jembatan kembar. Dan inilah kisah mistis di mulai...



"Anton bukan nya ini sudah ke tiga kali nya melewati jembatan kembar"ujar Brian yang duduk nya berada di samping pengemudi.


"Apa iya? bukan nya baru saja melewati jembatan ini" jawab Antonio yang sangat berbeda dengan apa yang di lihat Brian.


"Apa katamu! baru saja, gue sangat hafal dengan jembatan ini sampai sampai harus bolak balik melewati jembatan ini. Kalau lu nekat terus maju yang ada di depan sana kita bakalan ketemu dengan jembatan kembar yang baru saja di lewati" Brian sampai di buat emosi hanya gara gara jembatan.

__ADS_1


"Enggak, gue bilang enggak ya enggak!. Elu nya aja yang salah lihat. Gue yang nyetir jadi tau dong mana jalan yang sudah di lalui sama yang belum. maka nya kalau mau ke mana mana pakai google map biar tidak tersesat" ujar Antonio yang masih menyetir dan membaca map memalui ponsel.


"Berhenti..." tutur Arumi yang duduk di jok tengah bagian sisi kiri.


Antonio tak mendengar ucapan Arumi, diri nya masih menancapkan gas hingga suara kedua nya membuat seisi mobil menatap Arumi.


"Berhenti!!" menarik bahu kiri Antonio. Dengan rasa kaget kaki kiri menginjak rem mobil secara tiba tiba.


"Elu kenapa? untung tadi enggak ada kendaraan di belakang" Antonio memutarkan tubuh nya menatap wajah Arumi.


"Brian lu duduk di sini, biar gue duduk di depan"Arumi membuka pintu mobil, orang nya turun. Setelah itu mengetuk kaca jendela Brian.


"Napa tuh Arumi" celetuk Ami yang sedikit tak suka dengan tindakan Arumi yang terlihat agak kasar ke cowok.


"Pindah posisi elu enggak tau" sambung Siska.


Arumi terpaksa turun dan berpindah tempat duduk. Di lihat jok depan kosong. Diri nya langsung menempati.


"Biar lu konsentrasi dan bisa kembali pulang. Cepat jalankan mobil nya!" Arumi sedari tadi sudah mengetahui bahwa mobil ini terus bolak balik melewati jembatan.


Orang orang yang ada di belakang tak tau maksud perkataan Arumi. Hanya diri nya dan tuhan yang tau.


"Di depan sana ada jembatan kan, sebelum memasuki area jembatan. Kita berdoa bersama agar aman dan selamat" secara tidak langsung menyuruh lainnya untuk berdoa.


Setelah semua berdoa, beberapa menit kemudian terdengar suara benturan yang sangat keras dari atap mobil. Blarr....


"Suara apa tuh" Antonio berniat menepikan mobilnya untuk mengecek suara yang terdengar dari atap mobil.


Sebelum mobil nya menepi, suara Arumi membuat Antonio bingung "jangan menepi. Terus jalan, waktu kita tidak banyak di sini. Nanti kalau sudah sampai homestay baru boleh ngecek"


Ami langsung tidak terima dengan perkataan Arumi" kenapa tidak boleh ngecek sebentar, mobil ini bukan milik lu. Kalau ada apa apa emang nya lu mau tangg...."


"Gue siap tanggung jawab kalau terjadi sesuatu. Ini bukan tanggung jawab dalam barang. Melainkan, gue harus tanggung jawab terhadap nyawa manusia. Nyawa manusia lebih berharga dan penting dari pada barang maupun benda. Benda atau barang bila rusak bisa di ganti dan beli baru. Tapi kalau nyawa manusia hilang dimana kita harus menganti" menengok kebelakang seraya menatap Ami yang duduk di jok belakang.

__ADS_1


"Iya gue percaya, kan secara elu anak orang kaya jadi bisa beli barang tanpa harus mikir" balas Ami dengan nada sewot.


Arumi diam sambil menaikan sudut bibir nya ke atas seraya menatap Ami. Setelah itu kembali dengan posisi semula, menghadap ke depan. Anin, Siska, dan Brian hanya diam. Sedari tadi tiga orang ini hanya mendengar tanpa mengomentari, dan mereka tau maksud dan arahan ucapan Arumi hanya saja enggan bertanya.


Setelah berdebat ringan dengan Ami, satu mobil mendadak hening. Hanya suara hujan yang menemani perjalanan pulang.


Setelah hujan lebat dan angin sudah reda, jarak beberapa meter kabut tebal datang. Lagi lagi jarak pandang hanya tersisa satu meter. Terpaksa Antonio menyalakan lampu jarak jauh dan lampu lampu hazard secara bersamaan.


Melewati jalanan yang kanan kiri nya penuh dengan pepohonan tinggi membuat suasana menjadi mencekam. Orang orang awam melihat kabut turun hal yang biasa saja. Tapi lain halnya orang yang di anugerahi indra keenam. Saat kabut turun di situlah gerbang antar dimensi di buka. Sepanjang jalan ada aja makhluk yang berkeliaran.


Mahluk yang berkeliaran di jalan sangat beragam bentuk nya mulai yang berbentuk menyerupai manusia, mahkluk melata, dan ada juga yang bentuk nya abstrak.


Arumi tau, tapi memilih tidak melihat. Arumi berusaha mengalihkan pandangan nya ke ponsel.


Crack!!....suara kaca mobil bagian depan retak.


"Astaga apa itu barusan"celetuk Anin melihat benda yang menyerupai kuku, menggores kaca hingga retak. Kejadian ini sangat sangat nyata bukan Anin saja yang melihat, semua orang yang ada di mobil turut melihat kejadian tersebut.


"Waduh retak nya parah nih" ucap Antonio. Lokasi retak nya tepat di tengah tengah pengemudi.


"Nanti kalau udah sampai di homestay bakalan hilang sendiri" sahut Arumi yang memilih memejamkan kedua mata.


"Jangan percaya omongan Arumi banyak halu nya" sambung Ami yang kelihatan nya mulai mencari gara gara sama Arumi.


"Bisa diam enggak sih! dari tadi nyerocos. Pusing gue denger suara lu" Siska protes di depan orang nya langsung.


"Biasa kali enggak usah nyolot" ujar Ami.


Abi yang berada di belakang di buat geregetan dengan suara Ami. "Sstt!! bisa diam gak"


Ami yang sedari tadi menatap sinis ke arah Arumi mendadak kicep mendengar ucapan dari Abi. Ami mengalihkan pandangan nya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2