Lelembut

Lelembut
Berkunjung ke kawah


__ADS_3

Siska berdiri di samping Arumi"homestay nya kok gini ya rum" bisik nya sambil tengok kanan kiri.


Menoleh ke samping"sstt...jangan keras keras nanti kedengaran sama yang punya. Gue juga merasakan apa yang elu rasakan"


Arumi, Siska, Anin, Brian, Abi dan Beni sudah masuk ke dalam homestay. Mereka masih berdiri seraya melihat lihat isi homestay ini. Dan Ami sendiri sedang mencari paman nya yang tinggal nya di belakang homestay ini.


Setelah menunggu sekian lama nya, paman pemilik homestay dan Ami datang dari arah pintu belakang. Paman ini sudah tua rambut nya sudah di penuhi uban. Mengharuskan jalan nya memakai alat bantu. Enam anak ini melihat cara jalan nya agak kesusahan, bersama sama jalan menghampiri paman ini.


"Kalian ya, yang akan menginap di sini" duduk di kursi dengan bagian alas nya terbuat dari anyaman bambu.


"Benar paman kita akan menginap di sini dua hari. Ngomong ngomong paman tinggal nya di mana? kok tadi sewaktu kita sampai paman tidak ada di sini?" tanya Brian.


"Paman memang tidak tinggal di rumah ini melainkan tempat tinggal paman ada di belakang homestay ini. Kalau kalian ada masalah tinggal lari ke belakang. Paman akan selalu sedia membantu" ujar nya sambil senyum tipis, namun ketika tatapan nya berhenti di salah satu orang. Seketika ekspresi wajah berubah. Terdiam sesaat menatap wajah orang ini. Tatapan nya seolah tidak suka akan kehadiran orang ini.


paman ini beranjak dari duduk nya dan jalan sembari membawa alat bantu jalan. Perlahan paman ini menjelaskan setiap bagian ruang demi ruangan dan terakhir memberi tau letak kamar tidur yang akan di pakai oleh anak anak ini. Homestay ini di bagi dua lantai pertama di lantai dasar terdapat ruang tamu, ruang kumpul keluarga, dua kamar tidur, satu kamar mandi yang berada di luar, dan dapur.


Di lantai atas terdapat tiga kamar tidur, satu kamar mandi yang sama berada di luar dan balkon. Semua anak sudah kebagian kamar tidur. Yang cewek milih menempati di lantai dasar. Cowok tidak bisa memilih dan pada akhirnya para cowok menempati lantai dua.


Arumi sedang meletakan koper nya di sebelah lemari kayu. Dalam ruangan ini, ia tidak sendirian. Diri nya harus berbagi kasur dengan Ami teman sekelas nya dan juga keponakan dari pemilik homestay.


Sejenak diri nya mengistirahatkan tubuh di atas kasur. Kedua tangan nya sebagai bantalan semetara untuk kepala nya. Hembusan angin di sini sangatlah dingin. Membuat tubuh nya menggigil kedinginan. Arumi menarik tubuh sendiri. Melihat sekeliling ini, mengecek apakah ada fentilasi yang kebuka. Nyata nya tidak ada lubang yang terbuka. Jendela yang letak nya di samping kasur sudah di tutup rapat.


Tok...tok....


Arumi mendengar suara ketukan pintu, langsung menolehkan kepala menatap pintu itu"siapa!?" Arumi masih duduk di pinggir kasur.


"Gue, cepetan di buka" jawab orang yang berada di balik pintu.


"Buka aja. Enggak di kunci" menyuruh Anin membuka sendiri gagang pintu nya.


"Ada apa?" Arumi melihat Anin jalan perlahan mendekati diri nya yang masih duduk manis di pinggir kasur.


"Lainnya ngajak ke kawah, elu mau ikut apa enggak?" Anin berdiri di depan Arumi.


"Kawah mana? di sini kan banyak kawah nya. Terus kita ke sana naik apa. Kan kita datang ke sini tadi nyewa mobil" tutur Arumi.

__ADS_1


"Lupa tadi nama kawah nya apa. Kalau masalah naik apa di depan udah ada mobil jeep muat kok untuk 7orang. Jadi elu mau ikut enggak" jongkok di hadapan Arumi.


Arumi menatap lama Anin yang berada di hadapannya "ok gue ikut, kapan?" berdiri sembari merapikan pakaian yang sedikit kusut.


"Sekarang" jawab Anin yang sudah berdiri. Ingin melangkahkan kaki, tiba tiba. Bruukk!!! kaki kanan nya seolah ada yang menahan nya. Suara Anin jatuh terdengar sampai luar kamar.


Arumi yang sedang mengambil kamera di kagetkan dengan suara jatuh yang ternyata Anin lah pelaku nya" ngantuk apa gimana" membantu Anin agar bisa berdiri tegap.


"Gue nggak ngantuk rum, tapi ketika gue mau jalan. Kaki kanan kayak ada yang nahan jadi lah gue jatuh. untung lutut masih aman" membersihkan celana yang bagian lutut.


Arumi mengecek kolong tempat tidur nya seraya berkata" jangan ganggu teman ku, awas kalau ganggu lagi!" saat baru melihat. Arumi langsung di suguhi sosok dedemit yang tidak menyeramkan bagi Arumi. Sosok ini anak kecil berkepala pelontos tanpa memakai baju. Salah satu mata tidak ada bola mata. Alias bolong menyisakan darah dan belatung.


"Apa yang elu lihat" Anin sangat penasaran apa yang di lihat Arumi barusan. Melihat raut muka bete, Anin bisa menyimpulkan bahwa di ruangan ini ada sosok yang sangat jahil.


"Biasa setan kurang kerjaan, yuk lah kita berangkat" merangkul mengajak Anin untuk keluar dari ruangan ini.


"..."


"..."


"Hehehe....biasa ada halangan" jawab Arumi yang langsung gabung dengan yang lainnya.


"Oh, btw baterai kamera elu masih full kan sama memori nya?" sahut Ami yang sudah berdiri di samping mobil Jeep. Ami melihat Arumi membawa kamera.


"Masih semua, kenapa?"


"Kan bisa buat foto foto nanti" jawab nya dengan senyum tipis.


"Percuma foto kalau cuaca lagi enggak bersahabat" sambung Abi yang tampangnya sudah kedinginan.


"Bismillah lah moga cuaca bagus. Oh iya mobil Jeep ini milik anak nya paman ku tadi, tapi udah lama enggak kepakai. Jadi siapa yang bisa mengendarai mobil ini?"menatap satu persatu.


"Jelas gue kagak bisa bawa mobil manual" tolak Arumi yang memang tidak bisa mengendarai mobil manual.


"Gue juga enggak bisa" Siska langsung menolak sebab diri nya belum terlalu bisa mengendarai mobil manual.

__ADS_1


Anin menjawab dengan gelengan kepala.


"Jadi siapa nih yang bisa anak cewek pada enggak bisa. Yang anak cowok siapa nih yang benar benar bisa bawa mobil Jeep"


"Biar gue aja" Antonio meminta kunci mobil yang berada di tangan Ami.


"Yakin bisa?..."


"Dia bisa, di rumah nya aja punya Jeep. Jadi gue yakin Antonio mahir mengendarai mobil ini" jawab Brian yang tau betul bahwa Antonio sangat mahir mengendarai mobil Jeep.


"Ok, kita berangkat sekarang" Ami memberi kunci mobil ke Antonio.


...🍂🍂🍂...


Sekitar daerah sini sangat banyak orang orang yang berjualan cinderamata. Dalam perjalanan ini sudah terhitung ada enam orang yang berjualan di pinggir jalan. Dagangan nya pun beragam ada yang menjual buah buahan yang asli sini, kerajinan tangan dan menjual jajanan khas daerah sini.


Empat puluh menit lama nya di dalam mobil, kini mobil Jeep sudah memasuki area parkir. Saat baru turun dari mobil, enam orang ini terkesima dengan pemandangan yang sangat indah ini. Seakan mereka sedang berada di dalam negeri dongeng. Yang pemandangan nya melebihi indah nya lukisan yang di lukis oleh para seniman.


Walau cuaca sedikit mendung tak bisa menghapus indahnya pemandangan ini. Dari jarak jauh mereka sudah sangat terkagum-kagum. Balum lagi di lihat secara dekat.



"Dingin banget sih di sini, dingin nya kayak sikap doi ke gue" celetuk Siska yang jalan nya berada di belakang Anin.


"Heleh, emang ada yang mau sama elu" sahut Anin yang mendengar ucapannya Siska.


"Ya ada lah nyata nya belum ada yang ngedeketin gue"


"Kalau dingin tuh pakai baju tebal biar anget" sambung Arumi yang sedang menjepret pemandangan di sini.


"Wkwkwk....bener tuh ucapan nya Arumi. Kurang baju lu jadi nya kedinginan di sini"


" Ayo gays foto bareng" Ami mengajak teman teman nya untuk berfoto bersama di jembatan ini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2