
Arumi memilih masuk ke dalam kamar, membiarkan Anin, Siska dan Ami di ruang tamu. Setelah orangnya masuk, pintu kamar di kunci dari dalam membiarkan diri nya sendirian di dalam kamar. Melihat Arumi sudah masuk, kesempatan Ami menghampiri Anin dan Siska yang sedang duduk memandang pintu kamar yang telah kunci oleh Arumi dari dalam.
"Nanti jadi apa enggak BBQ an?" Ami duduk di sebelah Siska. Tanpa menunjukan raut muka bersalah nya.
Siska menoleh" menurut lu dengan keadaan Antonio yang sedang sakit, terus kita di sini merayakan tahun baru gitu. Apa lu enggak ada rasa kasihan. Dan...Brian sama Abi juga berada di rumah sakit. Semua bahan ini yang beli tiga cowok itu. Masa kita yang di sini pesta tahun baru sedang kan tiga cowok tidak. itu tidak adil.."
Ami merespon dengan wajah lempeng namun kedua alis menyatu. Seakan sedang menahan amarah. Detik kemudian Ami menarik kedua sudut bibir nya membentuk huruf U. Dengan tutur yang ramah Ami kembali berkata"sayang sekali, padahal nanti pergantian tahun baru. Hmm...terus bahan bahan buat nanti mau di apakan"
"Tunggu aja sapa tau nanti Antonio sudah pulang, lagian ini masih sore" kali ini yang menjawab Anin.
Ami mengangguk kan kepala setelah mendengar penuturan dari Anin. Namun dalam batin nya mengatakan" iya akan pulang tapi pulang selama nya, hahaha..." menundukkan kepala seraya menggosokkan pangkal hidung dengan jari telunjuk. Agar tak ketahuan kalau dia sedang tersenyum senang.
Siska menggelengkan kepala kanan kiri dengan salah satu tangannya mengusap tengkuk bagian belakang. Siska merasakan perubahan hawa yang tak mengenakan di sekitaran homestay. Entah mengapa Siska merasakan ada yang tidak beres dengan hari ini. Seakan ada orang yang sedang mempermainkan kita. Siska beranjak dari kursi melihat lihat sekitaran jendela luar. Dalam hati nya seakan tau kejadian yang akan datang. Namun Siska tidak bisa menyampaikan ini kepada Anin dan Arumi.
Ami menyandarkan punggungnya, mata nya menatap pintu yang tengah tertutup. Di tengah tengah diri nya sedang menatap pintu, dari arah belakang terdengar suara benda jatuh yang cukup keras.
Gedebug!!....
Seolah ada benda yang cukup besar jatuh dari atas. Siska yang sedang berada di dekat jendela langsung menginguk atau menjulurkan kepala nya keluar dari jendela. Di cari cari tidak ada. Dengan posisi kepala masih di luar jendela, Siska berkata" Nin, elu tadi dengar suara benda jatuh apa enggak?"
Anin yang tak mendengar apa apa langsung menjawab" enggak tuh, emang elu dengar apa tadi" Anin menggerakkan kedua kaki nya. Dengan perlahan Anin sudah sampai di samping Siska.
"Tadi kayak suara benda berat jatuh tapi arah nya dari belakang. Pas gue nengok enggak ada apa apa, serius elu tadi enggak dengar" ucap Siska tanpa menengok ke samping.
Selang beberapa menit, terdengar lagi. Kali ini suara nya sangat sangat jelas dari atas. Suara nya seperti orang sedang melempar krikil kecil kecil itu ke atas genting. Suara itu terus terdengar sebanyak lima kali. Tak hanya Siska yang mendengar, Anin dan Ami sama sama mendengar.
Dengan penasaran, Siska mencoba mengecek di lantai atas siapa tau ada orang iseng yang sengaja melempar kerikil atau batu kecil.
Drap...drap....drap....
__ADS_1
"Mana?" Siska mencari batu kerikil ya siapa tau masuk ke dalam sebab pintu balkon terbuka.
Di cari terus menerus sampai di titik diri nya merasa lelah akibat mencari batu kerikil yang entah kemana perginya.
Suasana di lantai bawah.
Anin masih kebingungan suara apa yang barusan di dengar olehnya. Dalam rasa penasaran nya, ia hendak menyusul Siska yang masih berada di lantai dua. Ketika ingin memijak anak tangga, Anin mendengar suara orang ketakutan. Anin celingak celinguk. Ternyata suara itu berasal dari Ami yang sedang bersembunyi di bawah meja makan.
Perlahan Anin mendekati Ami yang ketakutan seraya mengucapkan kata" jangan...jangan bawa aku. Aku tidak mau" kala itu posisi Ami jongkok, kedua tangan nya di lipat di atas paha, kelapa nya menunduk seakan sedang bermain petak umpet.
Anin yang sudah terlanjur di belakang Ami mengurungkan niat nya, ia tarik lagi tangan nya. Tiba tiba entah dari mana Anin mendapatkan banyak gambaran yang sudah memenuhi otak nya, sekaan menyuruh nya untuk menuangkan gambaran demi gambaran ini ke atas kertas.
"Aaaa!!! ampun jangan bawa aku" teriak Ami sekencang kencangnya. Membuat Siska yang berada di lantai dua buru buru turun ke bawah karna mendengar teriakan Ami.
Tap...tap....
"Ssttt...." menempelkan jari telunjuk di bibirnya. " Lihat" bisik Anin seraya menunjukan Ami yang tengah mengumpat di bawah meja.
membungkukkan badan supaya diri nya bisa melihat Ami sedang apa di bawah sana" kayak lagi ketakutan, emang anak nya habis ngapain" badan nya sudah kembali tegap.
"Gue enggak tau" menggelengkan kepala.
Suara gesekan gigi terdengar sangat jelas membuat Anin dan Siska penasaran. Saat mendekati Ami. Kedua orang ini terpaku seolah tubuh nya sedang di penuhi es batu(ngefreeze). Bagaimana tak kaget orang Ami sedang menggigit kuku nya sendiri sampai jari jari tangan mengeluarkan darah.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Ternyata Arumi yang membukakan pintu. Saat pintu di buka bau asap dupa keluar membuat Anin dan Siska menutup hidung.
"Bau dupa sangat menyengat, elu nyalakan berapa? uhuuk...uhuuk...." mengibaskan telapak tangannya tepat di depan hidung nya.
"Satu..." jawab Arumi yang berdiri di tengah tengah pintu.
__ADS_1
"Jangan bilang elu lagi..." ucapan Anin langsung di jawab Arumi dengan tegas.
" Ya, apa yang elu bayangkan benar adanya. Gue sedari tadi di dalam buat membalikan teluh yang di kirim oleh paman nya Ami" Arumi melangkahkan kaki sampai di depan meja makan.
"Paman Ami? yang tinggal di belakang ini" Anin baru tau kalau paman nya Ami melakukan hal yang dilarang.
"Kok elu bisa tau kalau paman nya lah dalang dari semua ini"
"Bukan hanya paman nya saja yang turun tangan. Ami pun juga turut membantu agar sesuai dengan rencana mereka" kedua tangan memegang pinggiran meja.
"Apa rencana meraka" sambung Siska.
"Pamannya seorang dukun di daerah ini. Aliran yang di pergunakan yakni aliran hitam, itu sangat menyesatkan. Pamannya kebingungan mencari darah suci nan bersih perjaka maupun perawan sama saja, asalkan darah nya tidak kotor. Di situlah pamannya menyuruh Ami untuk mengajak temannnya untuk menginap di homestay nya. Awalnya Ami takut kalau tak ada yang mau. Didesak lah Ami untuk segera membawa temannya, awalnya Ami Tau kalau pamannya adalah dukun, seiringnya waktu Ami sudah tau kalau paman nya dukun. Pas sekali moments nya saat ulangan selesai, anak anak kebingungan mau liburan kemana. Saat itu juga Ami mengusulkan liburan di Bromo ya karna lagi lagi itu desakan dari paman nya, awal nya gue enggak menaruh curiga dengan dia. Tapi, saat pulang dari kawah perilaku nya sudah menunjukan tak suka. Keesokan hari nya buku kuno memberi tanda atau sinyal yang menggambarkan sangat ini tengah berbahaya. Satu hal lagi paman nya sudah melakukan hal berbahaya pada Antonio saat makan"
"Apa kalian dengar suara ledakan tadi" menatap Anin lalu menatap pula kearah Siska.
Anin dan Siska saling pandang, kemudian dua orang ini serentak menatap Arumi seraya menganggukkan kepala.
"Sebenarnya suara apa tadi" kata Siska.
"Suara dari ledakan energi negatif. Bukan hanya Antonio yang di incar melainkan kita semua juga turut keseret dalam tumbal. Alhamdulillah nya kita semua masih di lindungi oleh Allah, tanpa adanya campur tangan dari Allah entah apa yang bakal terjadi nanti"Arumi men jongkok kan diri nya di samping Ami yang tengah ketakutan.
"Benar kan apa yang kubilang. Hukum alam masih berlaku. Dan elu saat nya menuai apa yang elu tanam selama ini" menyibakkan rambut Ami ke belakang telinga. Agar Arumi bisa melihat wajah Ami.
Masih sama, masih dalam rasa ketakutan. Seluruh badan bergetar, arah kedua bola mata menatap ke segala arah. Tak lupa membunyikan gesekan gigi antara atas dan bawah.
Taktaktak....
bersambung...
__ADS_1