
Suasana malam hari begitu sangat tenang dan nyaman, berbeda dengan suasana malam kemarin yang begitu panas dan gerah. Membuat orang kesusahan untuk sekedar memejamkan kedua mata.
Namun malam ini begitu sejuk nan nyaman seperti di kawasan sekitar gunung. Mereka bertiga tidak menaruh curiga sama sekali. Niat nya tidur di atas jam dua belas malam.
Namun pada saat di jam setengah dua belas. Anin, Arumi, dan Siska memutuskan untuk tidur lebih awal.
Baru memejamkan kedua mata, tanpa harus menunggu beberapa menit dulu. Mereka bertiga bermimpi di tempat yang sama. Dan yang paling mencengangkan mereka kenal satu sama lain di alam mimpi. Seperti ngobrol di saat di dunia nyata.
Anin, Arumi dan Siska berjalan bersama sambil bergandengan tangan. Mereka menyusuri tempat yang mereka enggak tau ada di mana. Mereka baru mengerti tempat ini saat mereka tengah tertidur.
Ketiga perempuan ini berjalan menyusuri jalan yang begitu sepi dengan kondisi masih sore seperti suasana maghrib. Tidak ada kendaraan yang melintasi di jalan ini. Kanan kiri banyak pepohonan yang menjulang tinggi. Kondisi jalan pun masih belum di perbaiki, seperti jalan pada jaman sekarang.
Kondisi jalan masih banyak batu yang berserakan di bawah. Lubang jalan pun masih nampak jelas. Mereka pun masih berjalan sambil melihat lihat suasana sekitar.
Anin, Arumi dan Siska nampak kebingungan. Mau bertanya tapi tidak ada orang yang lewat satu pun. Benar benar sunyi. Sunyi nya seperti tidak ada aktivitas manusia.
Suasana sore hari sudah membuat buluk kuduk merinding, apa lagi menjelang malam hari. Bisa di pastikan jarang ada penerangan di sepanjang jalan.
Siska yang sering menoleh ke belakang, seperti ada yang mengikuti mereka dari arah belakang. Namun ketika Siska menoleh kan kepala nya kebelakang. Tidak ada orang atau pun hewan. Benar benar kosong, tak hanya satu atau dua kali saja merasakan ini lebih dari tiga kali, kalau bisa di hitung mungkin bisa sampai sepuluh kali.
Siska yang sedari tadi perasaan nya tidak enak, lantas memberi kode kepada Arumi.
" Rum...perasaan gue dari tadi kok enggak enak ya, kayak ada yang ngikuti kita dari belakang. Gue takut Rum " ujarnya yang sangat lirih sampai sampai Anin yang di samping Arumi tidak kedengaran.
Arumi yang mendengar rintihan dari Siska lantas menjawab " jangan tengok ke belakang, fokus ke depan. Kalau ada suara yang aneh aneh hiraukan " jawaban Arumi yang sedikit keras, membuat Anin menolehkan kepala.
" Ada apa? "
Arumi hanya menggeleng " tidak ada "
__ADS_1
Siska yang mendengar jawaban dari Arumi belum puas. Bukan nya tenang malah tambah takut dan ada rasa was was.
Mereka bertiga masih berjalan lurus tanpa tujuan dan fyi mereka mengenakan pakaian yang sama saat sebelum tidur. Tapi ada yang membedakan, kalian tau mereka tidak memakai alas kaki sama sekali.
Mereka sangat jarang keluar tanpa alas kaki, kalau pun pernah hanya di dalam rumah saja tidak di luar.
Mereka bertiga nampak santai berjalan tanpa alas kaki. Seperti orang yang sudah terbiasa. Mereka bertiga tidak mengeluh sakit di telapak kaki yang jelas jelas jalan yang mereka lalui sangat buruk jauh dari kata bagus.
Pertama kali mereka jalan sampai detik ini masih belum menjumpai satu orang manusia.
Empat puluh lima menit telah berlalu... dari ujung jalan mereka melihat ada ada seorang pria dewasa yang kulit nya sudah ada keriput nya. Sedang berjalan dengan pakaian yang seperti akan pergi ke sawah.
Pria dewasa itu berjalan tanpa alas kaki dengan di pundak nya ada alat cangkul. Pria dewasa itu berjalan tanpa melihat kehadiran ketiga perempuan. Seolah oleh kehadiran mereka tidak terlihat oleh pria dewasa itu.
Saat pria dewasa itu akan melewati mereka, Anin berinisiatif menegur sapa. Dan saat Anin sudah bertegur sapa, pria dewasa itu sama sekali tidak merespon sapaan dari Anin. Ia terus jalan menatap ke depan.
Anin yang sudah terlanjur menyapa merasa malu dan aneh. Aneh nya sudah jelas jelas ada orang di depan nya tapi si dia nya tidak melihat orang yang ada di depan nya.
" Sebenar nya kita ada di mana sih" celetuk Siska yang sudah sangat kebingungan dan ada rasa dongkol di dalam dada nya.
" Gue sendiri juga enggak tau kita ada di mana " jawab Arumi yang tanpa sengaja arah pandang nya ke bawah.
Betapa kagetnya Arumi mengetahui bahwa sejak tadi ia tidak memakai alas kaki.
" Astaga!! "
" Apa ada apa Rum " Anin dan Siska di kaget kan dengan teriakan Arumi.
" Kita sama sama tidak pakai sandal " Arumi menunjuk sepasang kaki Anin dan Siska.
__ADS_1
Anin dan Siska langsung melihat kedua kaki nya yang sama tidak memakai sandal.
" Loh...loh kok kita enggak pakai sandal sih " Anin langsung memeriksa kedua telapak kaki nya dan untung nya kedua telapak kaki nya tidak mengalami lecet atau pun kotor masih bersih. Seperti keadaan sebelum tidur.
Di situ lagi lagi mereka di buat kaget di campur bingung. Kok bisa kaki kita tidak kotor dan lecet. Jelas jelas mereka sedari tadi jalan sejauh ini dan kondisi telapak kaki masih bersih kinclong.
" Lama lama kok aneh ya sama tempat ini. Yang pertama kita tidak tau ini tempat dan lokasi di mana, yang kedua ada orang tanya enggak di gubris dan sekarang kaki kita tidak merasakan sakit sama sekali. Dan lihat lah kondisi jalan ini benar benar rusak. Rum tempat ini tidak beres, kita di bawa kemana lagi " cerca Siska yang sedari tadi menahan rasa dongkol nya ini.
" Sabar Sis sabar, simpan rasa amarah mu itu. Kita coba berjalan lagi siapa tau di depan sana kita sudah menemukan pemukiman warga dan kita coba tanya langsung sama penduduk asli sini " imbuh Anin yang masih mencoba sabar.
Arumi mengelus punggung Siska hanya sekedar menenangkan agar amarah nya tidak meletup letup " yuk kita jalan lagi. Semangat dong " di akhiri dengan senyum.
***
Mereka berjalan lagi karna langit udah sangat gelap takut nya mereka tidak bisa melihat jalan ini dan di tambah mereka tidak membawa senter.
Baru melangkahkan kaki nya selama dua puluh menit, akhir nya mereka melihat ada cahaya lampu dari kejauhan. Di dalam hati mereka sangat senang karna sebentar lagi mereka akan menemukan pemukiman penduduk.
" Alhamdulillah " ujar mereka. Karna mereka sudah memasuki sebuah pemukiman penduduk, yang jarak rumah satu dengan lain nya cukup jauh. Tidak seperti rumah mereka yang setiap kanan kiri sudah ada rumah.
Lagi lagi mereka di buat tercengang dengan suasana pemukiman ini. Yang mana sangat jarang ada orang yang berlalu lalang di depan rumah. Kalau pun ada cuma bisa di hitung pakai jari.
Mereka masih berpikir positif dan berlanjut jalan ke suatu rumah yang pintu rumah nya terbuka.
Tanpa berlama lama, mereka mampir ke rumah yang tidak di tutup.
Kali ini mereka di kejut kan dengan suara teriak an dari dalam rumah.
Siapa kah orang yang berteriak di dalam rumah nya? dan mengapa Anin, Arumi dan Siska mematung di depan pintu....
__ADS_1
Ikuti cerita selanjut nya....
Bersambung....