
Saat membuka mata, Abi di buat heran. saat bangun Abi sudah berada di rumah sakit, suasana ini sangat berbeda jauh, saat pertama kali memejamkan kedua mata. Saat menengok ke arah samping. Ternyata, ada mama nya yang sedang tertidur menunggu nya. Dengan posisi kepala di letakan di ranjang pasien.
Tangan kanan nya di pegang erat oleh mama nya seakan tidak boleh lepas dari genggaman tangan ini. Selang infus tertancap rapi di tangan kiri. Mencoba menggerakkan tangan kiri, ternyata sakit.
Di saat Abi sadar, perawat masuk ke dalam seraya membawa alat kesehatan. Perawat yang mengetahui kalau pasien sudah sadar, langsung mengecek kondisi Abi.
" Syukur lah anda sudah melewati masa kritis" ujar perawat sambil membantu melepaskan selang oksigen yang berada di hidung nya.
Percakapan antara perawat dan pasien di dengar oleh mama nya yang tengah tidur. Ketika bangun betapa senang nya bahwa anak nya sudah bangun. Dengan mata yang berkaca kaca mama nya langsung mencium kening Abi dengan raut wajah senang.
" Sejak kapan bangun nya, kok mama enggak tau "
" Baru mah " dengan suara yang masih lemas.
" Jangan terlalu banyak gerak dulu, anda masih dalam masa pemulihan. Sebentar lagi makan siang datang. Mohon di habiskan semua makanan nya agar energi anda cepat pulih. Permisi " sambung perawat yang kembali ke ruangannya seraya membawa alat kesehatan.
Klap...(suara pintu tertutup).
" Mah, kok Abi di bawa ke rumah sakit. Seingat Abi waktu tidur masih di dalam kamar kok pas bangun udah pindah tempat?"
" Waktu mama masuk cek kamar mu. Abi udah menggigil kedinginan, seragam Pramuka mu juga ikut basah. Saat mama cek badan mu, ternyata panas tinggi. Mama takut kalau terjadi apa apa. Habis sholat isya langsung di bawa ke rumah sakit. Pas tau hasil dari dokter. Di nyatakan kecapean. Terakhir di cek suhu mu 49,5 itu udah panas tinggi" jawab mama nya.
Abi yang mendengar cerita mama nya di buat bengong. Setelah di ingat terakhir ia pulang dari sekolah sore hari, sampai rumah jam empat itu pun belum mandi langsung tidur. Bangun bangun udah di rumah sakit. Pas pulang sekolah yang di keluhkan hanya punggung kok tangan nya yang di infus.
Sewaktu Abi bangun, ia sudah tidak ingat mimpi nya. Benar benar tidak ingat secuil pun. Setelah mama nya menceritakan tentang diri nya. Mama nya langsung mengubah mimik wajah nya. Sedih ketika melihat wajah Abi.
"Kenapa mah? "tanya Abi keheranan.
__ADS_1
Mama nya memeluk Abi dengan erat sambil berucap " teman mu yang lainnya sudah meninggal Abi. Kamu jangan sedih, ikhlaskan mereka "
Lagi lagi Abi di buat kebingungan di tambah syok setelah mendengar teman nya sudah meninggal, bukan hanya satu. Keempat teman nya juga meninggal satu persatu. Meninggalkan diri nya sendiri.
" Mama enggak bercanda kan?" tanya ku dengan nada yang tidak percaya. Baru kemarin diri nya bercanda gurau dengan teman lain nya. Bangun bangun di sambut dengan berita yang tidak mengenakan.
Tanpa sengaja air mata nya jatuh di pipi nya, dengan cepat ia hapus. Agar tidak di ketahui oleh mama nya.
" Mama enggak bohong nak, kemarin mama dapat info dari wali murid. Harus nya tadi pagi takziah ke rumah mereka,tapi mama memilih menemani mu di sini. Yang sabar ya nak, semoga amal ibadah nya di terima di sisi Sang Pencipta" membantu menarik punggung anak nya, agar bisa duduk dengan posisi benar.
" Kok bisa semua meninggal secara bersamaan. Meninggal nya gara gara apa?"
" Yang mama tau. Fahri di temukan meninggal jatuh dari pohon, di temukan pagi hari yang menemukan jasad Fahri tukang kebun sekolah. Arul dan Adi di serem*et truk saat membelok tikungan. Dan Ivan meninggal kepeleset di kamar mandi " kata mama nya.
" Bentar..bentar mah, Fahri meninggal nya di sekolah? gara gara jatuh dari pohon. Kok ganjil ya mah, kan Fahri tidak bisa manjat pohon dan waktu subuh sampai sore Fahri belum ketemu di sekolah. Kok pagi nya di temukan Fahri di bawah pohon dengan kondisi sudah tak bernyawa. Bukan nya itu aneh mah?" baru saja ngobrol, ketukan pintu membuat kedua orang memandang ke arah pintu.
" Selamat siang, ini makan siang nya tuan Abi " menyerahkan satu nampan yang berisi nasi bubur, lauk pauk, buah, air dan obat dalam satu nampan.
" Terimakasih " mama menerima. Kemudian menutup kembali pintu nya.
" Di makan dulu. Habis itu baru minum obat " meletakan nampan di ranjang yang berada tepat di bawah kaki Abi.
" Hmm.." mengangguk.
" Kalau masalah itu. Mama tidak tau, yang mama tau Fahri meninggal karna jatuh dari pohon " membantu membuka bungkusan plastik yang membungkus nampan.
" Bagi Abi berita itu masih aneh. Oh ya mah kalau Gunawan keadaan nya bagaimana? masih sehat kah?"
__ADS_1
" Gunawan teman SD mu itu kan?" tanya balik.
" Ya mah " sembari meniup nasi bubur yang masih panas.
" Di rawat di rumah sakit, habis muntah muntah terus " mendengar cerita mama nya, Abi di buat tersedak ketika mengunyah nasi bubur campur tempe goreng.
Uhuk...uhuk...
" Pelan pelan dong nak kalau makan. Jadi nya gini kan tersedak " walaupun mengomel urutan pertama, tetap mengulurkan air ke anak nya.
" Kenapa semua teman ku dapat musibah, sebenar nya ada apa. Semua ini kecelakaan murni atau ada sesuatu " batin nya terus penasaran dengan cerita mama nya.
" Gunawan di rawat rumah sakit mana mah" meletakan air gelas di dekat piring nasi bubur.
" Enggak tau mama " melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
Diri nya merasa ada yang tidak beres mengenai teman nya yang sudah tiada. Meninggal dengan jarak waktu yang hampir berdekatan. Di sisi lain diri nya bersyukur karna diri nya masih di beri kesehatan dan keselamatan. Walau tangan nya di infus tetapi masih hidup.
Niat hati ingin melihat teman nya yang terakhir kali nya, tapi keadaan nya masih belum pulih.
" Udah belum makan nya " mama nya sudah kembali dari kamar mandi.
" Belum mah, bentar lagi tinggal ngabisin buah " sahut Abi.
Walaupun rasa masakan rumah sakit hambar tidak ada rasa. Diri nya harus memaksakan diri menghabisi makanan ini dengan raut wajah menahan mual.
Bersambung...
__ADS_1