
Tiga orang ini tak menyangka bahwa wanita yang di gambar oleh Anin, benar benar ada di dunia nyata dan orang nya ada di dalam foto buku tahunan. Di dalam foto buku tahunan ekspresi wajah wanita ini sangat lah ceria tak ada beban yang ia rasakan, berbeda dengan hasil gambar yang di gambar oleh Anin, wanita yang berada di dalam gambaran Anin berwajah sedih, kecewa dan menyesal. Lewat tatapan mata semua orang bisa merasakan apa yang di rasakan oleh si wanita bernama Lusi.
Usut punya usut wanita yang bernama Lusi meninggal dunia, alasan nya meninggal dunia mereka bertiga belum mengetahui penyebab nya. Bisa jadi bunuh diri, tertabrak atau meninggal dunia dengan jalan yang berbeda semisal sakit atau sudah saat nya di panggil oleh Sang pencipta.
Tapi... aneh nya di dalam gambaran buku Anin, di sekitaran dagu ke bawah ada luka yang sangat mencolok dan ada juga luka di tempat tempat lain. Luka yang paling mencolok berada di leher, luka ini sangat jelas seperti ada nya bekas jeratan benda. Entah itu benda tajam atau benda lain nya.
Guratan guratan kesedihan nampak begitu jelas dari postur tubuh dan juga mimik wajah. Di tambah ketika Anin menggambar Lusi, kedua mata Lusi sangat sayu dan ada genangan air mata yang segera keluarkan memalui kelopak mata.
Ketiga orang ini sangat penasaran dengan apa yang mereka lihat dan mereka bisa menyimpulkan. Bahwa mereka ingin membantu arwah penasaran si wanita bernama Lusi.
Siska berpendapat ketika orang yang sudah tak bernyawa dan ruh nya pergi bersama malaikat maut di situlah jin qorin masih tertinggal di sekitaran wadah atau badan yang sudah tak bernyawa lagi. Jin qorin ini masih menetap atau tinggal di bumi ini, jin qorin sangat lah sama dengan wujud asli orang yang sudah tak bernyawa, tidak ada yang kurang atau di lebih kan. Begitu juga dengan qorin nya Lusi yang masih bergentayangan di sekitar sekolah.
Kenapa Siska bisa menyimpulkan seperti ini, sebab Siska merasakan kehadiran qorin Lusi, ya walaupun Siska tak bisa 'melihat' namun di dalam hati nya Siska bisa merasakan kehadiran nya. Rasa tidak akan bisa di bohongi, walau mulut bisa terucap kata yang lain nya. Namun hati tak bisa di ubah atau di bohongi. Itu lah orang yang bisa 'merasakan' kehadiran 'mereka' kata lain nya ialah peka.
Namun ada juga orang yang berpendapat orang yang meninggal dengan cara bunuh diri arwah nya tak tenang selalu menampakan diri dengan wujud yang menyeramkan.
Tak berbeda jauh dengan pendapat Siska, Anin pun hampir mirip menyimpulkan tentang arwah penasaran ini yang bernama Lusi. Orang yang meninggal dengan cara tragis seperti bunuh diri biasa nya menyesal di kemudian hari, arwah arwah yang melakukan bunuh diri terus menerus meratapi nasibnya kematian nya. Terus menerus merasa bersalah larut dalam kesedihan yang paling dalam. Hingga 'sosok' ini yang awal nya mempunyai energi positif, tiba tiba berubah menjadi energi negatif. Karna 'sosok sosok' di luaran sana kebanyakan pembawa energi negatif yang sangat besar, 'sosok sosok' di luar sana sangat senang apa bila ada orang yang meninggal dengan cara tak wajar entah itu qorin atau lain nya. 'sosok' pembawa negatif menempel atau menghinggapi di tubuh yang sudah meninggal, menyedot energi energi negatif ( kesedihan, kemarahan, dendam, dan syirik ) menjadikan qorin yang awal nya tidak memiliki aura hitam ( negatif) lambat laun akan memancarkan energi negatif, semakin memancarkan energi yang tidak baik semakin pula lapisan nya energi negatif besar.
...****************...
Pagi pun berlalu, mereka bertiga masih stay di ruang tamu. Segala aktivitas di lakukan di sini mulai dari makan bersama, mencari informasi Lusi di internet , mengerjakan tugas sekolah dan sampai adek ( Siska ) ikut bergabung dengan mereka.
Dari arah dalam ( ruang keluarga )salah satu orang tua Siska berjalan sambil membawa nampan yang isi nya berbagai jajanan dan minuman botol.
" Lagi mengerjakan tugas sekolah ya? " mami ( Siska ) menyimpan nampan di atas meja ruang tamu.
" Iya tante, banyak tugas dari sekolah. Mumpung pulang lagi sekalian mengerjakan tugas di sini " jawab Anin.
" Kalau ada hal yang enggak mengerti, langsung tanya ke mami ya. Sebisa mami akan membantu " ujar mami (Siska). Tapi pandangan mata mami (Siska) tak sengaja melihat buku tahunan sekolah yang masih tergeletak di atas meja dekat dengan tas sekolah Arumi.
__ADS_1
Awak nya tak tertarik dengan buku tahunan itu, namun ketika ingatan nya kembali mami (Siska) mengambil buku tahunan itu. Di saat ingatan ingatan itu bermunculan di situ lah mami (Siska) bertanya kepada anak nya.
" Buku ini kok bisa kalian miliki? bukan nya ini milik sekolah "
Siska langsung mendongak menatap mami nya dan langsung meletakan bolpoin di atas buku " pinjam mi, enggak lama kok. Besok udah di kembalikan ke sekolah. Emang ada apa mi? kok raut wajah mami kaget gitu "
Mami ( Siska ) melangkahkan kaki nya mendekat ke sebuah sofa yang masih kosong. Mami ( Siska ) duduk di sofa sambil membuka buku tahunan ini.
" Bukan nya kaget Siska, tapi kok heran dengan buku tahunan ini, kayak mami pernah lihat aja. Tapi di mana ya? "
Siska beranjak dan segera mendekat ke tempat duduk nya mami. Anin dan Arumi hanya saling pandang.
Ita anak kedua dari mami ( Siska ) ikut menimbrung " besar sekali buku nya "
" Emang mami pernah lihat buku ini di mana? " ucapan Siska membuat Anin dan Arumi penasaran. Mereka berdua sama sama memasang telinga masing masing agar terdengar jelas ucapan dari mami ( Siska ).
" Loh ini kan fotonya kakak ku " mami ( Siska ) menunjuk foto yang mana foto itu mendiang Lusi.
Siska terbelalak dan kaget kenapa mami gue mengucapkan Lusi dengan sebutan kakak. Siska langsung menanyakan kepada mami nya " kakak? bukan nya mami hanya punya adek cowok dua itu pun satu nya belum nikah, itu kakak siapa mi? mami kenal "
Mami ( Siska ) menatap putri nya " ini kakak angkat mami yang udah lama meninggal, pantas saja mami pernah lihat buku ini "
Mereka bertiga syok tak percaya dengan penuturan mami ( Siska ), Arumi yang sedang makan roti tersedak dan cepat cepat meraih air mineral kemasan botol.
Anin menyandarkan punggung nya di sofa dengan tubuh lemas serta tatapan yang tidak menyangka.
Satu keping puzzle yang mereka cari sedari tadi akhir nya ketemu. Mereka tak susah susah payah mencari info di perpus sekolah. Info yang mereka butuh kan ada di depan mata, dan orang yang itu ialah orang tua nya Siska.
Siska yang duduk di sebelah mami nya terus menerus menepuk pipi nya.
__ADS_1
" Kenapa mami kasih tau sekarang? kalau mami punya kakak angkat " tanya Siska yang udah pegal sendiri menepuk pipi nya.
" Lah, bukan nya mami udah kasih tau sebelum nya tentang kakak angkat " jawab nya.
" Tapi Siska enggak ngeh kalau yang di bicarakan itu kakak angkat ini " Siska menunjuk foto Lusi.
" Ini nyata atau mimpi " batin Arumi yang duduk di bawah.
" Mami udah kasih foto nya Siska, mungkin kamu nya aja yang lupa. Coba tanya ke om mu itu pasti mereka berdua mengenali "
" Ini enggak mimpi kan? " gumam Siska yang terduduk lemas di sofa.
" Mbak enggak mimpi kok. Ini nyata " Ita mencubit paha Siska dengan cubitan kecil, hingga paha Siska berwarna merah.
Aduh!! Siska mengadu kesakitan seraya mengelus ngelus paha nya dengan air botol yang masih dingin.
Bersambung....
•
•
•
Kisah Lusi perlahan akan terbongkar di episode yang akan datang. Kisah Lusi dari masa kecil sampai masa remaja akan di bahas oleh mami nya Siska.
Jadi jangan kelewatan episode yang akan datang, terus pantengin cerita ini hingga tamat.
Tuliskan komentar komentar anda di kolom yang sudah di sediakan☺️ jangan lupa like, subscribe dan klik tombol hadiah. Bye sampai jumpa di episode selanjutnya....
__ADS_1