
Drap....drap....drap....(suara langkah kaki yang berasal dari anak tangga). Membuat Brian, Antonio dan Abi tersentak kaget melihat Arumi menangis di depan kamarnya.
"Mengapa kamu di situ Arumi..."Tiga orang ini langsung menghampiri untuk menenangkan Arumi yang tengah menangis di tambah tubuh nya bergetar hebat. Arumi terus menangis seraya meringkukkan tubuh nya di tengah tengah pintu kamar.
Tiga orang belum menyadari ada hal mengerikan yang berada di dalam kamar. Tiga orang ini masih fokus ke Arumi yang tengah menangis.
"Hiks...hiks..."suara tangis ini terdengar sangat sendu, membuat tiga orang ini kebingungan. Abi dan Antonio mencium bau anyir saat dirinya berdiri di depan pintu kamar ini. Semakin melangkahkan kan kaki nya maju, semakin tajam bau anyir nya.
"Astaga!..."ucap Antonio.
"Astaghfirullah!!..." ucap Abi.
Dua orang ini syok melihat kondisi kamar ini yang penuh akan jejak darah yang belum lama mengering. Abi dan Antonio membalikan badan, menghampiri Arumi yang tengah ditenangkan oleh Brian .
"Kenapa kamar ini berantakan dan ada bekas jejak darah, ulah siapa ini?" tanya Abi yang masih berdiri menatap Arumi.
Arumi mendongak seraya mengusap jejak air mata"gue juga enggak tau. Gue tadi nunggu di depan, karna lama enggak muncul, ya gue nyusul Anin sama Siska yang masih di dalam kamar" menarik nafas dalam dalam kemudian menghembuskan secara perlahan. Setelah itu Arumi melanjutkan ucapannya.
"Saat gue masuk, pintu kamar sudah terbuka. Gue kira Anin dan Siska masih beres beres baju. Nyata nya saat gue masuk kamar ini sudah berantakan. Bercak darah ada di mana mana, dan juga Anin sama Siska tidak ada di dalam" mengusap ingus nya yang hendak keluar dari lubang hidung.
__ADS_1
Mata elang yang di miliki Brian menangkap ada benda yang menurutnya sangat mencurigakan, dirinya berdiri menyuruh orang orang ini menyingkir terlebih dulu, agar diri nya bisa masuk ke dalam. Setelah itu posisi tubuh nya merangkak saat sudah di depan ranjang, kepala nya di buat sedikit rendah, kepala di miringkan hingga bisa melihat apa yang berada di bawah sana.
"Arumi pisau siapa yang ada di bawah kolong tempat tidur" tanya Brian yang masih melihat pisau yang berbalut darah.
Arumi menggeleng"gue enggak tau pisau itu milik sapa" perlahan kedua matanya berkaca kaca dengan rasa panas membuat air mata jatuh di pipi mulus nya.
Brian bangkit berdiri dengan kekuatannya sendiri. Membersihkan celana dan juga kedua tangan nya yang terkena kotoran yang berupa pasir berwarna hitam kecoklatan.
"Kok ada pasir di dalam" kata Brian yang masih terdiam melihat ada pasir di telapak tangannya. Brian menoleh" sebelum masuk kamar, kalian habis dari mana" langkah kaki ini perlahan mendekati Arumi.
"Gue sama Anin dan Siska habis dari belakang. Sebelum masuk, sepatu sandal di lepas. Di letakan di luar, jadi ketika masuk ke dalam lantai tidak kotor"
"Ada, ini bukti nya" Brian memperlihatkan kedua telapak tangan terkena pasir.
Arumi perlahan berdiri"pasir..." beo nya. Diri nya menarik tangan Brian" kenapa ada pasir di dalam, mencurigakan. Cepat hubungi polisi biar kasus ini segera di tangani oleh mereka" Arumi merasakan ada hal yang janggal dengan kejadian ini.
Tiga orang ini mengangguk setuju. Kemudian Abi menelepon polisi untuk segera datang ke tempat ini, alamatnya sudah di berikan oleh Abi. Tinggal menunggu kedatangan polisi.
Empat orang ini harus menunggu kedatangan polisi di teras selama lima puluh menit.
__ADS_1
"..."
"..."
Dan tibalah yang di tunggu tunggu, mobil besar berwarna biru dan putih sudah terparkir di halaman, dan tak lupa suara bunyi mobil ini di matikan. Perlahan orang yang ada di dalam turun dari mobil dengan memakai baju seragam kebanggaannya, membuat aura semakin terpancar kan.
"Maaf kami datang terlambat..." ujar seorang polisi.
"Tidak masalah, mari saya antarkan ke tempat...."Brian mengantarkan polisi ke tempat terjadi nya pertengkaran.
Tiba di tempat kejadian, polisi langsung olah TKP di sore menjelang malam. Tiga polisi mulai menjalankan tugas nya mencari barang bukti siapa yang membuat onar ini. Ada tambahan lagi dua orang yang baru tiba, orang orang ini sungguh sungguh melakukan pekerjaan ini dengan teliti.
Arumi, Abi, Brian, dan Antonio menunggu hasil dari polisi sembari duduk di kursi makan. Perlahan jam terus berjalan hingga menunjukan pukul tujuh malam. Empat orang ini terus menatap ke arah kamar, yang sedang dalam tahap pembersihan.
Walaupun wajah Arumi menunjukan ekspresi datar. Percayalah dalam hati nya terus memikirkan keadaan kedua sahabatnya. Dalam hatinya terus memanjatkan doa. Agar tidak terjadi apa-apa.
Yang awalnya pintu masih bisa di lewati oleh orang orang, sekarang sudah di beri tanda bahwa orang luar tidak boleh masuk.
Bersambung...
__ADS_1