Lelembut

Lelembut
Berduka


__ADS_3

Hari hari berikutnya sudah ia lalui. Dan sekarang kondisi Abi sudah pulih. Pihak rumah sakit menyatakan bahwa kondisi Abi sudah sehat dan bisa pulang hari ini. Kabar dari pihak rumah sakit sangat lah dinantikan oleh keluarga nya khususnya Abi.


Abi sangat senang diri nya di perbolehkan pulang di hari ini juga. Abi sangat bosan di rumah sakit, karna hanya boleh istirahat dan makan di ruang inap. Tidak boleh keluyuran di luar sana.


Saat sudah keluar dari rumah sakit, Abi sendiri meminta kepada orang tua nya untuk mengantarkan diri nya ke tempat peristirahatan terakhir teman teman nya.


Kedua orang tua nya menyetujui permintaan anak nya, karna bagaimana pun mereka teman baik anak nya.


Waktu di dalam mobil, kebanyakan Abi melamun menatap jalan melalui kaca mobil. Di sandarkan kepala nya di bagian pinggir kaca mobil, sedikit di miringkan ke kiri. Mata nya memancarkan raut wajah sedih.


Walau tak mengeluarkan air mata. Sorot mata lah yang tidak bisa di tutup tutupi. Sorot mata menggambarkan apa yang tengah di rasakan oleh diri nya. Di tengah lamunan nya, ponsel berdering.


Abi langsung mengangkat panggilan telpon " ya ini siapa" pasal nya yang menelepon Abi nomor yang tidak di kenal.


Orang di sebrang sana bukan nya menjawab pertanyaan Abi, malah mengeluarkan suara isak tangis.


"Hiks...nak Abi. Gunawan enggak ada, hiks.." jawab penelepon.


" Maaf ini siapa ya? dan Gunawan siapa?" tanya nya lagi.


" Ini tante Sri ibu nya Gunawan" menjawab dengan nada nangis.


"Gu-gunawan teman masa kecil ku itu? kemana pergi nya tante. Apa sudah di cari" jawab Abi.


" Tidak usah nak, Gunawan sudah damai bersama tuhan. Maaf kan Gunawan kalau punya salah, baik itu di sengaja atau tidak. Terimakasih sudah menjadi teman dan sahabat bagi anak ku, terimakasih nak Abi. Maaf sudah mengganggu waktu mu. Jika sudah sembuh datang lah ke rumah tante " panggilan di matikan oleh pihak sana.


Abi hanya bisa bengong dengan ponsel masih di telinga. Sepatah kata pun tidak bisa di ucapkan.


Klotak! (suara ponsel jatuh)


" Mah kita ke rumah nya Gunawan"

__ADS_1


" Kenapa ke rumah nya Gunawan, kan masih di rawat di rumah sakit. Ini sudah mau sampai di pemakaman" jawab papa nya.


" Gunawan udah meninggal, baru di mandikan di rumah sakit. Nanti siang baru tiba di rumah "


Orang tua Abi sontak kaget mendengar berita Gunawan sudah tiada. Mama nya langsung menoleh ke belakang " inalillahi, kapan meninggal nya" menepuk lutut Abi.


" Baru mah, tadi ternyata yang nelpon mama nya. Kenapa ya mah, teman ku semua pada pergi " tatapan nanar di matanya.


Mama nya senyum tipis sambil memegang paha Abi " sudah takdir Allah nak. Maut, rejeki dan jodoh hanya Allah yang tau. Manusia tidak ada yang tau kapan kita akan kembali ke pangkuan Nya. Mulai dari sekarang belajar untuk ikhlas kan mereka. Jangan menangisi mereka terlalu lama, sedih boleh tapi ingat jangan berlarut "


" Hmm..." mengangguk sambil menyedot kembali ingus nya.


" Udah sampai" sahut papa nya yang sudah menghentikan laju mobil.


Semua orang turun dari mobil. Jalan menuju tempat pemakaman umum. Langkah kaki Abi berhenti tepat di depan makam Arul dan Adi. Kedua orang ini di makamkan berdekatan, karna satu RW.


Abi jongkok di antara dua makam dengan salah satu tangan nya membawa dua kresek berisi bunga.


Lima belas menit kemudian...


" Kalian tenang di sana, gue akan baik baik saja di sini. Selamat tinggal teman baik ku" mengusap batu nisan secara bergantian.


Papa nya merangkul bahu Abi sembari jalan menuju mobil. Di susul mama nya yang berada di belakang.


" Bunga nya masih kan mah?" membuka pintu mobil.


" Masih banyak di belakang " jawab mama nya yang sudah masuk duluan.


"..."


Mobil pun jalan menuju pemakaman selanjutnya yang berjarak kurang lebih sepuluh kilometer dari tempat pemakaman tadi.

__ADS_1


Setelah ke kuburan Ivan dan Fahri, sekarang mobil ini akan membawa mereka ke tempat kediaman Gunawan. Kediaman rumah Gunawan sudah banyak orang yang saling berdatangan dengan memakai baju serba hitam.


Dan di samping kanan kiri di pasang ucapan belasungkawa atas kepergian anak nya. Di depan rumah nya sudah di pasang terop kecil untuk orang orang yang duduk di sekitaran sini. Orang orang itu duduk sembari menunggu ambulans tiba.


Abi dan kedua orang tua masuk ke dalam rumah Gunawan, mencari mama atau papa nya untuk sekedar mengucapkan turut berdukacita. Ternyata orang yang di cari belum datang.


Tidak sampai menunggu waktu lama, ambulans datang membawa peti jenazah yang sudah di hiasi rangkaian bunga. Saat peti di keluarkan dari mobil ambulans, iringan suara Isak tangis mulai terdengar.


Teman sekelas nya sudah datang sedari tadi. Berdiri di depan rumah ini. Sewaktu peti melewati barisan teman sekelas. suara tangis kembali terdengar. Tidak ada satu orang pun yang memegang ponsel, apa lagi merekam video. Semua tidak ada yang memegang ponsel.


Orang tua Gunawan turun dari mobil ambulans di susul oleh saudara saudara yang tengah menunggu kedatangan mereka sejak tadi.


Peti jenazah pun di letakan di ruang tamu. Salah satu orang tua nya membuka peti jenazah. Abi turut melihat teman nya untuk terakhir kalinya.


Abi melihat Gunawan yang sudah tak bernyawa. Riasan rapi dan gagah menggunakan setelan jas. Raut muka damai tak menandakan ada rasa kesakitan.


Tanpa permisi, air mata jatuh begitu saja. Setelah melihat Gunawan yang sedang tidur panjang di dalam peti.


Hati Abi benar benar di buat hancur melihat teman seperjuangan nya meninggal satu persatu.


Tangan hangat dari kedua orang tua nya membuat Abi tambah kuat dan tabah melihat kepergian teman nya.


Kita di bumi ini bagaikan wayang yang di mainkan langsung oleh Sang Pencipta. Cerita kehidupan tidak ada yang tau. Kematian sebuah kata misterius bagi makhluk hidup yang tinggal di dunia ini. Lakon dan sekenario hanya lah Sang Pencipta yang tau.


Manusia bagaikan makhluk kerdil yang tinggal di bumi ini. Manusia tidak bisa berbuat apa apa tanpa ada campur tangan dari Sang Pencipta.


Keluarga ini, memilih menguburkan anak nya di pemakaman yang tak jauh dari tempat tinggal. Tepat jam satu siang proses memasukan peti jenazah di dalam ambulans. Dan kedua orang tua turut ikut masuk ke dalam jadi satu dengan peti jenazah.


Mobil ambulans pun telah tiba di depan area pemakaman. Peti jenazah di keluarkan. Di angkat menuju liang lahat.


Proses pemakaman tidak lah lama. Tabur bunga ialah sesi terakhir. Semua orang yang datang di sini boleh menaburkan bunga.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2