
Tempat acara party dengan keluarga besar sudah siap. Hiasan gemerlap lampu sudah terpasang di sudut taman dan pinggir kanan kiri kolam renang. Suasana malam hari begitu hangat dengan di temani alat panggang BBQ yang bentuk nya lingkaran dengan di sangga menggunakan empat kaki yang terbuat dari besi.
Semua bahan dan perlengkapan lainnya sudah di siapkan oleh bunda Aurora dan tante Isti. Dan para bapak bapak juga menyiapkan kursi dan meja yang cukup untuk menampung makanan yang mereka olah.
Kakek Djoko dan nenek Suminten hanya duduk di gazebo, karna umur sudah tak muda lagi. Mengharuskan mereka banyak banyak beristirahat dan tidak boleh mengerjakan pekerjaan yang menguras energi.
Arumi dan Agus kebagian membeli air botol besar yang di haruskan untuk turun ke bawah, karna di sana lah banyak toko toko yang menyediakan berbagai kebutuhan para pengunjung. Dari villa yang mereka sewa sampai ke bawah cukup jauh, harus melewati sawah dan perkebunan warga. Tak tanggung-tanggung mereka juga harus melewati jalan yang berbatu. Dan juga sangat minim sorot lampu jalan, sebagian jalan tidak di beri lampu jalan. Membuat sepanjang jalan gelap.
Mereka berdua menggunakan motor yang baru ia sewa, pemilik motor ini ialah penjaga villa yang mereka tinggali. Dari awal berangkat hingga pertengahan jalan Arumi masih belum merasakan apa apa. Arumi hanya merasakan hawa dingin, yang berasal dari kaki gunung yang lokasi nya tak jauh dari villa yang mereka sewa.
Dalam perjalanan, mereka berdua nampak terdiam. Fokus dengan jalanan yang mereka lewati. Diam nya mereka sangat lama, membuat perjalanan menjadi sunyi dan sepi. Hanya suara kendaraan bermotor yang mereka pakai. Membuat Agus harus membuka obrolan agar tidak sunyi.
" Di sini ada yang jualan mie instan apa enggak ya? " ucap Agus yang masih mengendarai motor. Arumi yang berada di belakang langsung merespon ucapan Agus.
" Ada mungkin, masa di sini enggak ada yang jualan mie instan. Kan udara di sini sangat cocok untuk makan makanan yang berkuah" ucapnya.
" Ya udah deh, gue beli mie instan sepuluh bungkus biar mabok mie instan " di akhiri dengan gelak tawa.
" Gila lu ya beli langsung sepuluh. Kalau ketauan om Abay bisa bisa telinga mu merah loh "
" Halah palingan semua pada ikut makan" balas Agus.
Selang lima menit, ada sorot lampu yang tanda nya sudah mendekati daerah toko atau warung yang jam malam masih buka.
" Ambil kanan jalan aja, siapa tau ada botol air mineral " Arumi menunjuk sebuah toko yang masih buka yang berada di kanan jalan.
Agus membelokkan setir motor ke kanan jalan.
" Pak, air botol besar ada? " tanya Agus yang sudah mematikan motor tepat di depan toko ini.
" Oh, ada mas. Berapa botol? " berjalan menuju emperan toko.
" Tujuh botol pak " sahut Arumi yang posisi nya belum turun dari motor.
" Tunggu bentar " pemilik toko, membalikkan badan jalan menuju tempat yang mana botol botol air mineral ia simpan.
" Ini mas, total nya 35 ribu " menyerahkan dua kantong kresek besar, yang masing masing berisi botol besar.
" Sama mie instan nya ada pak? " Agus sudah menggenggam uang biru yang di kasih oleh Arumi.
__ADS_1
" Mie rasa apa mas?, mie kuah apa goreng" masih berdiri di depan toko nya.
" Mie kuah rasa ayam bawang lima bungkus "
Arumi menyela pembicaraan" kata nya beli sepuluh, kok sekarang lima "
" Bawa uang cuma ini doang " memperlihatkan uang yang ia genggam.
...🕯️🕯️...
Setelah berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan, kini mereka berbalik arah menuju villa yang berada di atas sana. Dan di sini lah Arumi mulai merasakan kedatangan 'mereka', yang sempat menghilang.
Di pertengah perjalanan menuju villa, Arumi mencium bau bunga melati di tambah bau daun pandan yang menyengat di depan hidung nya. Waktu mencium bau wangi tengkuk leher bagian belakang tiba tiba merinding. Saat detik itulah Arumi merasakan ada yang tidak beres, pikiran pikiran negatif terus terlintas dalam benak nya. Ia terus mencoba menepis pikiran yang tidak tidak, berusaha kuat berdoa dalam hati dan memejamkan kedua mata.
Namun usaha menutup kedua mata adalah pilihan yang keliru. Semakin memejamkan kedua mata, semakin jelas pula sosok 'mereka' yang hadir di sepanjang jalan. Ok lah kedua mata fisik tidak melihat apapun yang ada di depan, akan tetapi.. mata batin tidak bisa di tutup, mata batin terus terbuka. Yang bisa mengontrol mata batin ya diri nya sendiri. Arumi masih di tahap mengontrol mata batin agar bisa on dan off sesuai yang ia mau.
Melalui mata batin, Arumi melihat di belakang nya ada banyak makhluk halus yang terus mengikuti mereka berdua. Mulai dari wujud yang bagus sampai yang maaf wujud yang mengerikan.
Arumi memegang erat baju yang di kenakan oleh Agus sambil berbisik " kecepatan nya di tambah sedikit bisa enggak, jangan lama lama berada di jalan ini " posisi kepala menunduk tidak berani membuka kedua mata atau pun menoleh ke samping kanan kiri.
Agus yang paham akan perkataan Arumi, diri nya langsung menambahkan kecepatan laju motor.
Dalam hati nya (Arumi) terus berdoa tanpa putus.
Baru saja turun dari motor, suasana berubah menjadi keos tak terkendali. Hiasan lampu yang awal nya berkelip kelip, sekarang tinggal lampu utama yang masih menyala. Semua anggota keluarga sudah tidak ada di tempat, keadaan taman belakang sangat kosong.
Arumi dan Agus tanpa pikir panjang berlarian menuju ke dalam villa. Meninggalkan barang yang mereka beli.
" Kenapa semua berada di dalam? dan kenapa barang barang di belakang sana berhamburan " tanya Agus yang baru sampai di ruang keluarga.
Seluruh keluarga besar Djoko berkumpul di ruang keluarga dengan wajah tegang dan pucat. Apalagi kakek Djoko menahan amarah yang tidak bisa di tahan, baru kali ini Arumi dan Agus melihat kakek nya yang menahan kesal dan amarah.
Arumi yang sedari tadi mencari kedua orang tua, di ketahui oleh tante nya yang sedang terduduk dengan raut wajah pucat.
" Deddy sama bunda mu berada di dalam kamar "
Mendengar penjelas dari tante nya, Arumi lari kecil menuju kamar yang di tempati oleh kedua orang tua.
Tok...Tok... Arumi berdiri di ambang pintu yang kebetulan pintu nya terbuka setengah.
__ADS_1
" Masuk" jawab deddy Baskoro.
" Loh! bunda kenapa ded? " Arumi mendekap bunda Aurora yang tertidur dengan raut wajah pucat dan suhu tubuh dingin. Arumi dilanda cemas dan khawatir dengan kondisi bunda.
" Sedari tadi bunda terus muntah muntah sampai badan nya lemes. Ini semua gara gara penghuni di sini yang tidak terima akan kedatangan kita di sini. Bukan hanya bunda saja yang kena, seluruh anggota keluarga kita ikut terkena dampak nya, tante Isti, om Abay hingga nenek Suminten. Semua merasakan mual secara tiba tiba " ucap nya dengan tatapan wajah yang siap menerkam mangsa.
" Bukan nya kakek udah ijin sama penunggu di sini dan deddy juga sudah bilang kalau penghuni di sini tidak begitu jahat. Kenapa di malam ini berubah menjadi begini, ada apa sebenarnya " tak cuma satu kata yang terucap, melainkan lebih dari satu kata.
" Deddy belum menelusuri lebih jauh, yang deddy tau. Mereka para penghuni di sini menyerang secara membabi buta dengan aura hitam nya untuk melukai orang orang di sini. Terutama target utama nya tante Isti karna aura ibu hamil sangat 'mereka' sukai "
" Terus mengapa bunda juga terkena dampak nya. Kan bunda tidak hamil " kata Arumi yang duduk di sebelah ranjang tidur.
Deddy Baskoro menghela nafas sejenak" sebenar nya tujuan kesini bukan hanya sekedar liburan semata, melainkan merayakan hari bahagia. Bunda mu hamil anak kedua yang berarti kamu akan mempunyai adek lagi, maka nya para penghuni disini berbondong bondong menyerap aura atau energi ibu hamil "
Arumi yang mendengar kata adek, kedua mata nya berembun dan merasakan hawa panas. Tanpa permisi setetes air jatuh membasahi kedua pipi.
" Yang bener ded, Arumi akan punya adek" mengulang pertanyaan yang sama.
" Iya, deddy tidak bohong. Lihat lah kakek mu yang sedari tadi menahan amarah kepada penghuni di sini karna calon cucu nya di ganggu oleh 'mereka' " menunjuk bapak nya yang duduk di sofa dengan raut wajah yang sudah tidak bisa di kontrol.
Tiba tiba suara kakek Djoko menggema memenuhi ruang villa ini.
" Baskoro! kemari "
Deddy Baskoro melangkahkan kaki menuju tempat sang kakek berada " apa 'mereka' masih mengganggu "
Tanpa berbasa basi kakek Djoko mengajak putra nya untuk pulang " panggon Iki wes gak bener, muleh saiki "
Deddy Baskoro dan om Abay menyetujui permintaan bapak nya yang arti nya tempat ini sudah tak aman untuk mereka tinggali. Dan malam ini semua koper dan tas di boyong di masukan ke dalam bagasi mobil.
Para istri di bangunkan di tuntun jalan nya menuju mobil. Tak lupa kakek nenek nya sudah berada di dalam mobil, tinggal deddy Baskoro, om Abay, Arumi dan Agus yang masih sibuk menata koper dan tas.
Sebelum cek out, Arumi dan Agus membersihkan taman belakang agar bersih seperti semula, om Abay membantu sopir mobil dan deddy Baskoro berbincang sama pemilik villa ini untuk berpamitan secara hormat dan baik baik. Agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di antara salah satu pihak.
Setelah usai berpamitan, mobil pun meluncur menjauh dari bangunan villa. Deddy Baskoro memesan hotel dengan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh.
Deddy Baskoro rugi uang tidak masalah yang terpenting kesehatan keluarga nomor satu.
Sekian cerita kali ini, kalau ada kata atau tulisan yang salah mohon maaf. Cerita dan latar belakang hanya cerita fiksi semata tidak benar benar terjadi.
__ADS_1
Sekian dari saya terimakasih...
Bersambung.