
Hari mulai senja, burung burung mulai kembali menempati sarang nya. Langit langit nampak setengah gelap. Dengan di iringi suara adzan Maghrib.
Suasana di dalam rumah nampak seperti biasa. Keluarga Anin, nampak berkumpul di ruang keluarga sembari menikmati acara tv dan tak lupa sungguhan cemilan telah matang di meja kecil.
Keluarga Anin sangat sangat menikmati kebersamaan ini, canda dan tawa menghiasi suasana senja ini. Anin yang baru bergabung duduk di sisi kakak nya sembari menikmati cemilan roti bakar.
" Tadi di rumah nya Siska, kalian mengerjakan tugas apa? kok pulang nya baru sore? " tanya papa( Anin ) yang baru minum teh hangat.
" Biasa lah pah, tugas matematika dari sekolah. Soal nya banyak " jawab nya yang padangan nya fokus ke acara tv.
"...."
" Nanti malam kita makan di luar ya, mama males masak lagi. Udah capek, yang bayar biar papa " kata mama(Anin) yang bergelayut manja di lengan suami nya. Suami nya nampak tersenyum tipis seraya mengusap kepala istri nya.
Anin yang mendengar ucapan mama nya langsung, menarik tubuh nya dan meletakan roti bakar di atas piring, lalu menatap kedua orang tua nya " Anin, enggak ikut mah. Badan ku rasa nya pegel pegel, mau istirahat di rumah aja. Kalau pesan apa jangan lupa di bungkus buat aku "
" Yakin, enggak ikut. Nanti nyesel loh, gue aja ikut nanti. Mumpung ada yang bayar " balas kakak nya.
" Gue yakin, kak. Badan ku rasa nya remuk pegel pegel, tolong lah nanti di bungkus buat gue makan besok pagi, atau enggak pas gue bangun " menggoyang goyang tubuh sang kakak.
Sang papa angkat bicara" sendiri berani kan? "
Anin memutar tubuh nya menghadap kedua orang tua nya, yang duduk tepat di sebelah nya " yakin, pah "
" Ya udah nanti, mama bungkus kan "
"..."
"..."
...****************...
Suasana rumah nampak sepi dan sunyi, hanya terdengar suara jam dinding. Di sini Anin sendirian di rumah, orang orang sedang keluar mencari makan.
Anin yang berada di dalam kamar sedang duduk santai di atas tempat tidur sambil membaca novel yang ia beli sewaktu pulang dari rumah nya Siska. Dan jam masih menunjukkan pukul 19.45 menit, tidak terlalu malam.
__ADS_1
Di sela sela suara detik jam dinding terdengar, Anin mendengar suara ketokan dari arah depan. Di kala itu Anin masih melanjutkan membaca nya. Ketokan yang kedua terdengar lagi di jendela luar yang berada di kamar nya. Suara ketokan itu sangat tipis dan sedikit samar.
Di pikiran Anin hanya suara tikus aja, tidak memikirkan yang lain nya. Pikiran nya masih tertuju ke novel ini.
Sepuluh menit kemudian... suara ketokan terdengar jelas di telinga Anin, membuat Anin melonjak kaget.
" Apa itu? " gumam Anin di tambah jantung nya mulai berdetak dengan tempo lebih cepat, di tambah kedua telapak tangan dingin. Sedingin es batu.
Anin meletakan novel di samping guling, ia turun dari ranjang, berjalan hingga ke pintu kamar tidur nya. Sebelum memegang gagang pintu, Anin menempelkan telinga nya di daun pintu. Untuk memastikan kalau diri nya tidak salah dengar.
Di saat telinga nya sudah menempel di daun pintu, suara ketokan pintu terdengar lagi. Kali ini suara ketokan pintu sangat keras, seperti orang yang tidak sabaran untuk di bukakan pintu.
Cklek!..
Anin perlahan membuka gagang pintu dan menarik nya, agar diri nya bisa keluar.
" Siapa yang ketok pintu itu? kalau orang pasti mengucapkan kata " batin nya yang masih berdiri di depan kamar nya.
Jarak kamar nya dengan ruang tamu sangat lah dekat. Jadi kalau ada orang yang ketok pintu, diri nya lah yang pertama kali mendengar.
Anin menyalakan tv nya untuk melihat siapa yang ada di depan sana, tamu atau yang lain nya. Anin menyalakan cctv yang di pasang di sudut teras rumah.
Setelah mengecek cctv melalui jaringan tv, Anin di buat tercengang, karna di luar sana tidak ada orang atau pun binatang yang berdiri di depan pintu.
Anin mematung di depan tv yang masih menyala, di dalam sana tidak ada siapa siapa yang berdiri di depan pintu ruang tamu. Tapi, suara ketokan pintu itu berpindah ke jendela kamar tidur nya. Buru buru Anin mengecek ke dalam kamar nya.
Saat sudah di depan jendela, tangan nya terulur membuka korden jendela, srekk!! korden jendela tersibak dengan lebar dan menyisakan korden putih.
Deg!
Jantung Anin seketika berhenti berdetak, kedua kaki seolah terkunci di tambah bibir nya tak bisa berucap. Hanya mematung di depan jendela kamar nya, mau memutar tubuh tak bisa bahkan pingsan pun tak bisa. Kedua bola mata nya menatap lurus menatap 'sesosok' yang berdiri tepat di balik kaca jendela.
Manusia dan 'sosok' ini saling pandang, hingga 20 menit lama nya. 'Sosok' ini berpenampilan biasa saja tidak yang mengerikan, hanya saja berwajah pucat dan berkulit putih pucat, 'sosok' ini tersenyum tipis. Akan tetapi sorot mata nya sangat sangat pilu seolah ada rasa sakit hati yang tidak bisa ia ungkapan secara gamblang.
Dan 'sosok' ini memakai seragam putih abu abu dengan rok sebatas lutut, seragam yang 'ia' gunakan sudah tercampur dengan warna tanah serta hanya menyisakan empat kancing dari bawah. Rambut terurai panjang menjuntai ke bawah hingga menyentuh tanah.
__ADS_1
"..."
Sepersekian detik, Anin baru sadar dan bisa menggerakkan tubuh nya yang sempat kaku tak bisa di gerakan. Namun...'sosok' itu masih di situ berdiri di balik kaca jendela.
Kedua alis menyatu menghasilkan kerutan di dahi " kayak enggak asing bentuk tubuh nya, tapi gue lihat nya di mana? apa perasaan gue dong " kali ini diri nya biasa saja, detak jantung mulai berdetak secara normal.
Di saat sedang memikirkan siapa yang berada di hadapan nya, telinga kanan menangkap suara yang sangat lirih " di bawah pohon asem "
" Apa maksud nya..? "
Setelah mengucapkan dengan suara lirih nya, perlahan tubuh nya mulai transparan hingga menjadi kepulan asap putih yang terbang ke atas langit.
Kejadian tadi tak luput dari pandangan Anin, mulut nya menganga serta kedua bola mata nya melotot. Dengan cepat Anin menutup korden dan berjalan cepat menuju ruang keluarga. Di sana Anin duduk di sofa sambil termenung, kejadian tadi sangat cepat namun membekas di dalam ingatan nya.
" Bentar.." Anin menarik tubuh nya dengan cepat.
" Gue baru ingat, wajah itu sangat sama dengan wajah yang ada di buku tahunan " kata nya sembari menghentakkan kaki.
" Eh, bentar. Proporsi tubuh nya sangat sama dengan cewek yang ada di dalam mimpi gue tadi, apa jangan jangan dia lah orang yang sama dan..." Anin mengetuk jidat nya menggunakan punggung jari telunjuk.
" Lusi... ya di baju ada nama nya. Terus tadi dia ngomong di bawah pohon asem. Apa arti nya? "
"..."
" Assalamualaikum " seru mama nya yang baru datang dari luar sambil membawa bungkusan makanan.
Bersambung...
•
•
Orang yang memiliki kepekaan akan sering di datangi oleh 'sosok sosok' yang tak kasat mata, ada yang hanya sekedar mengunjugi atau ada juga yang datang dengan maksud tertentu. Seperti meminta pertolongan.
Catatan: bila kamu bisa 'melihat' alangkah baik nya mencari tau dulu asal usul 'sosok' yang datang menghampiri mu, bisa jadi 'dia' mempunyai maksud yang terselubung dengan casing yang sangat baik.
__ADS_1