Lelembut

Lelembut
Desa sebelah


__ADS_3

Akhirnya, tiba lah mereka di perpustakaan seraya membawa buku yang mereka pinjam pada tempo lalu. Anin dan Arumi sudah menandatangi di buku pinjaman bawa hari ini sudah mengembalikan buku. Di sisi lain, Siska sedang berjalan mengendap ngendap sambil membawa buku tahunan yang di masukan ke dalam rok, walaupun sedikit kesusahan saat membawanya. Siska tetap mengembalikan, kalau kalau buku ini sedang di butuhkan oleh orang lain dan di rak tidak ada kan bisa geger dunia perpustakaan.


Arumi dan Anin menghampiri Siska yang sedang kesusahan mengembalikan buku tahunan dengan posisi semula.


" Benar ini kan letak nya? " tanya Arumi dengan posisi tubuh seperti rukuk. Membungkukkan badan dengan kedua tangan memegang kedua lutut.


" Bener " balas Siska yang sudah nampak berhasil mengembalikan buku tahunan. Siska ikut berdiri menyamakan posisi berdiri nya Anin dan Arumi.


" Lama bener tadi. Kan tinggal di taruh di sisi yang kosong, kenapa harus elu repot repot naruh di belakang " tanya Anin yang jalan nya berada di belakang Siska.


" Biar enggak ketauan, gitu aja enggak tau " menoleh ke belakang dan tetap berjalan mengarah ke pintu keluar.


" Rum!! tunggu " seru mereka berdua, ketika Arumi sudah jalan terlebih dahulu dari pada Anin dan Siska.


Di perjalanan, Arumi melihat banyak 'makhluk' yang bermunculan. Ada yang berupa kabut hitam yang melintas di depan Arumi, dan ada juga yang muncul secara solid. Banyak 'makhluk' solid yang saling menampakan di siang bolong. Tidak seperti biasa nya, walau ada tapi tidak sebanyak siang ini.


Arumi acuh dengan 'mereka' yang niat nya hanya ingin menggoda. Kalau ada yang berniat menyampaikan hal yang penting, baru lah Arumi menanggapi 'mereka'.


...««««...


Arumi, Anin dan Siska dapat melihat secara langsung pohon asem yang sangat besar batang pohon nya, serta ranting ranting pohon yang begitu banyak. Di sekitar pohon ini ada rumput rumput liar yang tinggi nya sebatas mata kaki. Dan suasana siang hari di bawah pohon asem ini sangat lah sejuk, angin sepoi-sepoi berdatangan dari ke segala arah.


Siska mendongak menatap dedaunan yang sedang menari tertiup angin. Wajah cantik nya diterpa angin yang berasal dari atas sana.


" Adem ya di sini " tutur Siska yang masih betah menatap dedaunan yang tertiup angin.


" Ya kalau siang nyaman di sini, tapi kalau malam. Elu bisa mati kehabisan oksigen" sambung Arumi yang sudah melihat lihat secara keseluruhan.


" Yee kalau itu mah udah tau gue " sahut Siska yang sekarang berjalan melihat lihat sekitaran pohon asem.


Siska melihat Anin sedang berjongkok di depan batang pohon yang ada bekas ukiran. Ukiran itu tidak terlihat jelas apa yang di ukir. lumut lumut sudah menutupi apa yang di ukir oleh orang ini.


Siska menghampiri dengan jalan sedikit menurunkan derap langkah kaki " buat apa elu di situ? "


Merasa nama nya di panggil, ia perlahan mendongak menatap wajah Siska yang sudah berdiri tepat di samping nya " lagi cari sesuatu" setelah mengucapkan, Anin melanjutkan mencabuti rumput yang dekat dengan batang pohon yang ada bekas ukiran.


" Ngapain sih cabut rumput segala, nanti kotor tangan mu "


" Biarkan saja " Arumi muncul dari arah berlawanan, Arumi berjalan sambil membawa skop kecil yang entah dapat nya dari mana.


Siska melongo dengan apa yang ia lihat, Arumi datang dengan membawa skop kecil dan membantu Anin melubangi tanah yang berada di bawah pohon asem.


" Sebenarnya, kalian sedang apa sih. Nanti kalau ada yang lihat bagaimana? " kini Siska berdiri di antara Anin dan Arumi yang sedang jongkok di bawah.


" Sstt!! " Arumi menyenggol kaki Siska.


" Dari pada elu penasaran, lebih baik bantu kita. Biar cepat selesai " Arumi menarik lengan Siska agar mau jongkok dan membatu menggali tanah yang berada di depan nya.

__ADS_1


Mau tidak mau Siska membantu dua sahabatnya yang sedang fokus menggali tanah.


"..."


Lama kelamaan skop yang di gunakan Siska merasa ada yang aneh, seperti ada benda di dalam tanah. Rasa penasaran tercuat dalam benak nya, yang awal nya sedikit ogah menggali tanah, akhirnya penasaran.


Siska terus menggali hingga ia menemukan apa yang ia rasakan di saat ujung skop nya mengenai benda yang tak tau benda apa yang berada di dalam tanah.


Rasa penasaran, akhirnya terbayar sudah. Mereka bertiga di buat kaget dengan penemuan barusan.


" Cincin " ucap Arumi yang mengambil dari dalam tanah. Cincin itu sangat kotor dan usang.


" Apa ini maksud hantu itu? tapi cincin ini untuk apa dan buat siapa, tidak ada petunjuk lagi " kata Anin yang sudah kelelahan habis menggali tanah.


" Kenapa kalian berdua tau letak cincin ini berada? " tanya Siska yang ikut penasaran tentang penemuan cincin, yang di lihat lihat seperti cincin pasangan.


" Insting gue berkata di sini, kalau Arumi gue enggak tau " kata Anin.


Arumi masih menggenggam cincin itu dan berdiri menghadap selatan, dengan kedua mata terpejam. Anin dan Siska melihat Arumi sedang begitu memilih diam dan menunggu Arumi membuka suara.


Anin dan Siska duduk di atas rumput, meluruskan kedua kaki serta punggung menyandar di batang pohon. Sembari menunggu Arumi, mereka berdua menikmati sejuk nya angin siang hari.


" Andai kita punya rumah pohon pasti seru " Anin memandang gedung tinggi yang mana gedung itu masih satu lingkup sekolah dan ada ruang yang cukup besar berada di atas gedung ini.


" Seru gundul mu, kalau ada ular masuk gimana "


Anin dan Siska langsung berdiri dengan saling menatap satu sama lain, " kenapa Rum? " tanya Siska yang menyesuaikan langkah kaki Arumi.


" Sholat dulu napa Rum, gue belum sholat nih " ungkap Anin sembari menengok ke Arumi yang jelas nya sangat cepat dan tatapan mata lurus ke depan.


" Gue enggak sholat, elu sama Siska sholat dulu enggak apa. Gue tunggu di kelas " sampai di antara kelas XI dan ruang TU, Arumi baru membuka suara. Setelah mengucapkan kata itu, Arumi melengos begitu saja tanpa mengucapkan kata lagi.


" Dia kenapa? "


Siska mengangkat kedua bahu, dan sama sama melengos menuju musholla.


...‡‡‡...


Setelah usai sholat, mereka berdua bergegas menuju kelas nya. Karena mereka berdua kepo ada apa dengan Arumi, tidak seperti biasa ada something yang sangat penting membuat Arumi diam.


" Rum, elu enggak kenapa kan? " tanya Anin yang begitu penasaran ada apa dengan anak ini, jarang jarang ia menunjukan perilaku begini.


" Gue baik aja, setelah pulang dari sini. Kita langsung pergi ke suatu desa yang jarak tempuh nya dua jam dari sini. Kalian berdua harus ikut, oh iya kasih kabar dulu orang rumah agar tidak panik. Gue udah ngabarin orang rumah " imbuh Arumi yang duduk di kursi nya sendiri.


" Kenapa ngomong nya baru sekarang sih, kenapa enggak sedari tadi. Dan kenapa harus pergi ke desa sana. Naik apa kita nanti? " Anin duduk di atas meja Arumi, yang masih kosong.


" Karna gue juga dapat info nya mendadak " balas Arumi.

__ADS_1


"..."


" Eh Nin ada guru " Siska mendorong meja Arumi agar Anin segera turun dari meja.


...››››...


" Pak, tau alamat ini? " Arumi memperlihatkan alamat yang di tuju kepada sopir nya.


" Tau neng, tapi jarak tempuh nya jauh. Apa tidak capek pulang sekolah langsung pergi ke sini " memutar tubuh nya menatap tiga anak yang sudah duduk di jok tengah.


" Ya mau gimana lagi pak, keburu di teror nanti " balas Anin yang duduk di tengah.


" Ya sudah kalau begitu, kita berangkat sekarang " kata pak sopir.


Arumi memandang jalan raya sembari menyandarkan kepala di kaca mobil. Ia melihat kendaraan yang berlalu lalang.


Keadaan Anin dan Siska sudah tertidur terlebih dahulu di banding Arumi yang tidak bisa memejamkan mata. Dari pulang sekolah sampai di tujuan Arumi tidak bisa memejamkan kedua mata. Tapi...Anin dan Siska masih tertidur lelap, goncangan apapun mereka berdua masih tidur, entah efek kelelahan atau apa hanya mereka dan tuhan yang tau.


Dua jam lama nya sudah mereka lewati, sekarang mobil dari keluarga Baskoro memasuki jalanan kecil yang hanya bisa di lalui kendaraan kecil dan itu harus saling mengalah kalau tidak. Bisa bisa antara body mobil ada yang tergores.


Jalanan yang di lalui sore ini sangat lah tidak nyaman, banyak batu batu kecil atau sedang yang tersebar sepanjang jalan. Lubang jalanan di biarkan begitu saja tanpa ada nya perbaikan dari pemerintah.


Saya yakin pasti di musim penghujan, jalan ini sangat tidak bisa di lewati. Banyak genangan air dan tanah yang sangat licin.


Tak kurang dari seratus kilometer, ada bangunan bangunan rumah yang masih berdiri kokoh, mesti sudah termakan oleh usia.


Arumi menyalakan fitur Google map agar cepat sampai.


" Pak nanti belok kanan "


" Baik neng " mengangguk patuh dan masih fokus ke jalan.


"..."


"..."


Tak lama kemudian, mobil yang di kendarai oleh sopir dari keluarga nya tiba di sebuah rumah yang sangat sederhana.


Arumi turun dari mobil setelah membangunkan Anin dan Siska. Arumi pandang dari segala arah " udara nya masih seger "


Anin dan Siska sadar dari tidur, dan perlahan mendekat ke arah Arumi yang sedang menikmati udara segar di sore hari.


" Nyenyak tidur nya " sindir Arumi, yang kebetulan menoleh ke belakang.


" Hehe...ngantuk gue, jadi tidur deh "balas Anin seraya tersenyum canggung.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2