Lelembut

Lelembut
Mengenai Fahri


__ADS_3

Arumi, Siska dan Anin keluar dari kantin. Mereka bertiga jalan melewati koridor kelas. Sepanjang jalan, Anin selalu kepikiran tentang cerita tadi. Hingga tidak sadar di depan nya ada pintu kelas yang sedang di buka. Oleh orang dari dalam kelas, tanpa melihat orang orang di luar sana.


Brak!!


Kening nya terbentur oleh daun pintu. Membuat suasana menjadi hening, semenit kemudian suasana menjadi ramai. Orang orang mendekat ke arah Anin.


"Elu enggak apa Nin? ada yang sakit enggak?" tanya Siska yang sedang memeriksa kening Anin.


"Kok bisa nabrak pintu, ngantuk apa gimana Nin" sambung Arumi yang berada di depan nya.


Anin mendongakkan wajahnya menatap sekitar. Ternyata sudah banyak orang yang mengelilingi Anin. Masih mengusap kening nya sembari berkata "sorry gue tadi enggak lihat jalan. Dan masalah kening gue, enggak terlalu sakit, hanya sedikit ngilu saja"


Perlahan satu persatu orang yang mengelilingi Anin pergi dengan sendiri nya, karna sudah tau kondisi Anin. Jadi tidak penasaran lagi.


"Di kompres pakai air dingin biar memar nya cepat hilang" sembari menyentil kening Anin yang berwarna merah jambu.


"Kurang aja* sakit tau" Anin membalas meninju lengan Arumi.


Anin dan Arumi jalan berjejer, sedangkan Siska berada tepat di belakang mereka berdua.


"Elu tadi mikir apa sih, udah tau di depan elu ada pintu yang sedang di buka. Malah jalan nya melipir dekat pintu" ungkap Siska yang kepala nya sedikit condong ke depan.


"Hayo lo mikir apaan tuh?" langkah kaki terhenti sejenak menoleh ke arah Anin.


"Mikir apaan sih, tadi cuma meleng aja. Kalian pasti mikir yang enggak enggak" memicingkan satu alis.


"Hidih...kita kan cuma tanya. Sapa tau elu lagi banyak pikiran "sahut Siska yang berjalan lebih dulu.


Anin dan Arumi saling pandang. Kemudian Arumi mengangkat kedua bahu. Tanda tak tau menahu.


Sebelum masuk ke kelas, Anin menarik tangan Siska"temani gue ke kamar mandi, kebelet nih"


Siska membiarkan tangan nya di tarik oleh Anin. Tanda ada penolakannya. Arumi yang berada di depan pintu melongo dengan kedua sahabatnya. Arumi menggelengkan kepala sebelum benar benar masuk ke dalam kelas.


Sampai di depan kamar mandi, ternyata di dalam tidak ada orang selain mereka berdua. Siska menunggu di luar ,sedangkan Anin baru masuk ke dalam bilik kamar mandi. Siska memilih cuci tangan di wastafel. Di dalam kamar mandi cewek ada tiga wastafel dan satu cermin yang panjang nya kira kira ada tiga meter. Di dalam cermin ada pantulan pintu bilik kamar mandi yang terbuka. Hanya satu yang tertutup ialah yang di pakai Anin.


Siska mencuci tangan dengan air yang mengalir, pandangan nya mengarah ke tangan. Saat mematikan kran air otomatis pandangan nya mengarah ke cermin. Mata Siska menangkap ada orang yang sedang masuk ke dalam bilik kamar mandi yang letak nya paling pojok. Perlahan pintu tertutup, terdengar suara kran air yang sedang di buka.


Siska pikir ada orang yang sedang makai bilik kamar mandi paling pojok. Siska buru buru merapikan tatanan rambut melalui pantulan cermin.


Tak lama kemudian, Anin membuka pintu kamar mandi. Ia jalan menuju wastafel yang berada di sebelah Siska.


"Pipis sekalian apa enggak, mumpung masih di kamar mandi" tanya Anin yang sedang mencuci tangan.


"Nanti dulu deh, belum kebelet" Siska membalikan badan menatap bilik pintu yang ia lihat tadi. Pandangan nya masih ke arah situ.


"Eh, Sis. Pakai air ini bisa enggak sih buat mengompres jidat gue" menatap punggung Siska melalui pantulan cermin. Karna posisi Anin masih menghadap ke cermin.


"Bisa kalau air nya dingin. Tapi itu air nya dingin apa enggak" jawab Siska tanpa menoleh ke samping.


" Biasa aja sih" Anin melihat Siska selalu menatap pintu kamar mandi yang berada paling pojok.


Anin mengerutkan keningnya"ngapain sih lihat pintu pojok itu, emang ada apa sih" membalik kan badan, dengan kepala menoleh ke Siska.


Dua orang ini membelakangi wastafel dan cermin.

__ADS_1


"Oh, cuma lihat aja. Tadi ada orang masuk ke situ. Tapi kok enggak keluar keluar sampai sekarang" Siska menunjuk pintu kamar mandi yang tertutup.


Anin seketika pucat pasi melihat arah pintu kamar mandi. Dengan cepat Anin menarik tangan Siska" yuk lah ke kelas lagi"


Siska sedikit menahan diri" tapi gue penasaran sama orang yang di sana"


"Ck, nanti telat masuk kelas. Ini jadwal pelajaran pkn. Mau kita di suruh keluar" masih dengan posisi menarik tangan Siska.


"Ya udah deh" jawab Siska.


Ketika keluar dari kamar mandi cewek, baru Anin bisa bernafas lega. Tanpa di sadari oleh Siska.



(ilustrasi)


Drap....drap....


Langkah kaki ini membawa mereka menuju kelas.


Tok..tok.. (suara ketukan pintu) rupa nya Siska yang mengetuk pintu.


Di rasa tidak ada guru di dalam, Anin dan Siska melengos masuk ke dalam. Jalan menuju bangku mereka. Siska sudah sampai di bangku terlebih dulu. Anin masih mampir di bangku Arumi.


Anin hanya sekedar meminjam penggaris karna diri nya tidak membawa. Saat menerima penggaris, sambil berucap"nanti elu ikut apa enggak?"


"Kemana?" sahut Arumi.


"Biasa mampir beli seblak sama baso aci. Ikut apa enggak" menoleh sekilas ke Siska.


"Hayuk aja gue "mengacungkan jempol.


...🍂🍂🍂...


Tak terasa hari sudah sore. Tinggal menunggu hitungan menit, menandakan jam sekolah segera berakhir. Siswa dan siswi dari berbagai kelas mempersiapkan diri untuk pulang. Wajah wajah lelah terpampang jelas.


Teng...teng...teng... suara bel sekolah membuat siswa dan siswi kembali bersemangat. Raut wajah lelah langsung berganti dengan wajah senang.


Suara hiruk pikuk anak anak sekolah membuat macet di jalanan. Kendaraan roda dua sampai roda empat memenuhi jalan, membuat jalanan menjadi penuh dengan kendaraan.


Anin, Arumi dan Siska jalan mengarah ke gerbang sekolah. Dari arah belakang ada yang meneriaki Arumi dengan suara keras nya.


"Arumi!!...."


Sang empu yang mempunyai nama, menengok ke belakang. Kening nya menyerengit sembari memiringkan kepala.


"Ada waktu enggak, gue mau ngomong.." ucap Abi yang datang dengan terpogoh pogoh.


"Sorry gue udah ada janji sama mereka" kedua jari telunjuk mengarahkan ke Anin dan Siska yang tengah berdiri di sisi kanan kiri.


"Please, gue butuh bantuan elu. Ada yang harus gue omongin ini menyangkut tentang Fahri" jelas Abi pada Arumi sambil merapatkan kedua tangan seperti sedang meminta ampun.


Arumi terdiam. Sesaat kemudian menengok Anin dan Siska secara bergantian. Hanya dengan isarat mata, kedua sahabatnya paham. Kedua ini mengangguk menatap Arumi.


Anin dan Siska bergegas meninggalkan Arumi. Dalam sekejap mereka sudah meninggal kan sekolah.

__ADS_1


"Bicara masalah apa" Arumi menoleh ke Abi.


"Cari cafe terdekat dulu, baru gue cerita" ujar Abi yang jalan mengarah ke parkiran motor. Tentu nya Arumi mengikuti langkah Abi.


"Sorry gue enggak bawa cadangan helm" Abi sudah naik ke motor dan sudah menyalakan mesin.


"Hmm.." balas Arumi yang siap siap naik ke atas motor.


"Mau ke cafe mana?" tanya Abi yang sudah mengendarai motor.


"Terserah, penting enggak jauh dari sekolah. Kan elu yang ngajak"


...🍂🍂🍂...


Sampai lah mereka berdua di sebuah cafe yang tidak jauh dari sekolah. Abi memberhentikan motor nya tepat di depan cafe. Arumi turun terlebih dulu.


"Yuk masuk" ajak Abi yang sudah berdiri di depan pintu masuk cafe.


Abi dan Arumi duduk dekat jendela. Karna hanya itulah yang tersisa. Yang lain nya sudah di pakai.


"Pesan apa?" tanya Abi sambil membawa buku menu yang berada di tangan nya.


"Spaghetti bolognese sama jus jambu" jawab Arumi sembari melihat lihat sekitar.


"Ok.." Abi mencatat menu yang di pesan Arumi.


"..."


"..."


"Gue mau cerita tentang Fahri yang sempat hilang itu" Abi langsung melayangkan kata itu secara to the points.


Arumi terdiam, semenit kemudian baru menjawab" kenapa elu tanya ke gue " menunjuk diri nya sendiri.


"Pasti elu tau kan tentang Fahri yang sesungguh nya. Tentang mimpi dan jelangkung aja elu tau " sambung Abi.


"Sebenar nya gue enggak tau pasti nya bagaimana. Yang gue tau selama Fahri hilang itu tubuh atau fisik nya di bawa oleh mereka anak buah dari ratu siluman kuda"


"Kenapa bisa di bawa?" tanya Abi yang penasaran.


"Kalau kenapa nya gue enggak tau. Yang jelas waktu hilang nya itu pas dini hari. Semua orang enggak tau kalau Fahri itu sudah hilang, tau nya kan pas subuh. Itu sudah beberapa jam yang lalu. Setelah Fahri hilang, perlahan teman lu di ambil dengan cara nya 'dia'. Setelah mendapatkan mereka. Bangsa mereka menggantikan teman lu, khusus nya Fahri dengan batang pisang. Tapi yang di lihat oleh orang orang kan Fahri di temukan di bawah pohon. Nyata nya itu bukan Fahri dan teman lu lain nya juga sama. Dan elu asli nya sudah di 'tandai' oleh 'mereka'. Sewaktu mimpi elu itu sudah di bawa bangsa siluman kuda. Itu bukan mimpi biasa, jiwa mu sudah di tarik paksa. Gue tanya ke elu, pas mimpi itu elu ingat apa enggak?"


"Enggak ingat tapi sewaktu bangun tuh badan terasa berat dan pegal di sekujur tubuh. Bangun bangun udah pindah kamar " sahut Abi.


Di sela sela obrolan pesanan mereka datang.


"Yang jelas bangun tidur badan rasa nya pegal itu tanda nya elu sedang perjalanan spiritual. Kalau mimpi biasa bangun tidur tuh malah enak enggak sakit semua dan enggak ingat sama sekali" jelas Arumi.


"Kata nya gue ada yang 'jaga' kok pas mimpi itu enggak ada yang cegah. Kan mereka bisa tau dong kalau ada bahaya menimpa gue" sembari menyeruput susu soda.


"Iya mamang ada yang jaga. Dan beliau sudah melindungi lu, nyata nya terbukti kan elu masih selamat. Terlepas dari sisi 'penjaga' elu belum saat nya meninggal. Belum ajal nya umur lu masih panjang" seraya mengambil Spaghetti bolognese menggunakan garpu.


"Ya kalau di pikir pikir memang takdir teman ku di tahun ini, selepas dari santet, teluh dan sebagai nya itu hanya Allah yang tau. Wallahualam..." imbuh Abi.


Bersambung...

__ADS_1



(Hanya ilustrasi)


__ADS_2