Magic You

Magic You
chapter 10


__ADS_3

Aku membalikkan badan dan mengusap tengkukku. "Em. Tapi aku harus balik ke sekolah kak. Nanti aku di pikir bolos."


Dia menatapku. "Namamu siapa?"


"Valen kak."


Dia menggelengkan kepalanya. "Bukan, nama lengkapmu."


"Valentresia kak."


"Kelas?"


"XI MIPA 1 kak."


Kakak itu merogoh ponselnya yang ada di saku celananya dan tampak sedang mengetik sesuatu. Kemudian dia menatapku lagi. "Aku udah izinin kamu. Sekarang kamu di sini aja. Temenin aku."


Dalam hati sebenarnya aku senang ngak masuk kelas lagi, karena aku sangat bad mood sekarang.


Tapi, memangnya kakak ini siapa? Kok bisa ngizinin aku segala.


Aku menarik kursi yang berada di dekat kakak itu dan duduk bersebelahan dengan tempat tidur nya. "Kok bisa?"


Kakak itu terkekeh kecil. "Bisa dong."


Dia menggenggam tanganku menaruh di dadanya dan menutup matanya. "Udah di sini aja."


Mataku terbelalak seperti mau copot dari kelopak mataku, pembuluh darahku melebar menyalurkan seluruh darah ke jantung yang bekerja keras memompanya.


Okey okey itu terlalu dramatisir...


Tapi serius, jantungku berdebar baget!


Aku menarik tanganku kembali. "M.. maaf kak. Tapi sepertinya aku harus kembali ke sekolah."


Aku berlari dengan sangat kencang.


Gila nih coman -alias cowok manis-, dia pikir aku ngak punya jantung apa?!


***


"Ini di mana?" Aku tertegun pada suatu tempat. Dan jam berapa ini? Mau di kebut ke sekolah juga ngak bakal sempat, bahkan sekarang juga pasti sekolah udah bubar.


Valen Valen, kau berlari terlalu kencang dan tidak memperhatikan kemana kau akan pergi!


"Duh, gimana mau pulang?" Aku jongkok di lapangan tempat aku kesasar.


Aku hanya menggaruk-garuk kepala. Kemudian cahaya silau menutupi pandangan ku dan kakiku menjadi tidak seimbang.


Kedebuk


Kepalaku sedikit membentur lantai. Dan ya, aku sekarang berada di kamar Jessen.


Jessen bangkit dari kasurnya dan memandangku dingin.


Dia menghampiriku yang sedang terkapar di lantai.


Aku mendudukkan diriku. "Kenapa? Mau bilang aku bego lagi? Terserah lah." Aku mengalihkan pandanganku darinya.


Jessen duduk berhadapan dengan ku.


"Ehem." Dia memandang ke arah kiri acuh. "Aku mau buku anatomi."


"Huh?" Aku bingung.


Dia kembali melihatku. "Aku mau buku anatomi. Tadi di sekolahkan kau tanya."


"Kenapa baru bahas sekarang? Kenapa ngak tadi di sekolah? Kau tau, sekarang aku udah ngak peduli." Aku bangkit berdiri dan hendak pergi.


Tunggu Valen, bukan kah ini kesempatan bagus?


Udah lah. Lupakan aja rasa gengsi. Gengsi akan membuat mu jadi terus terikat padanya.


Dengan tarikan nafas panjang aku mulai membalikkan badanku. "Ayo kita beli."


Ku lihat Jessen udah tergolek di kasurnya. "Malas. Pergi aja sana." Usir Jessen.


Hangus... Kesempatan emas itu hangus lagi.


Mungkin aku harus bertindak anti menstrim. "Jessen! Kalau kau ngak mau pergi dengan ku, aku akan tetap di sini!"

__ADS_1


Semoga berhasil, semoga berhasil.


"Silahkan. Ngak ada yang larang."


Aku mengacak rambutku dengan emosi. "Keras kepala banget sih!!"


"Kalau ngak keras, ngak kepala namanya." Jawabnya.


Arrh


"Lihat aja aku bakal terus di sini!! Kalau perlu sampai besok!!" Aku berisi keras untuk tetap di sini sampai Jessen mau kuajak pergi.


Dia melirikku acuh dan kembali menutup mata.


 


Satu jam udah berlalu, Jessen masih di kasurnya.


Aku mendekatinya. Dan ternyata dia tertidur.


Lah, kok tidur?


Tapi mumpung dia lagi tidur aku menyisir isi kamar Jessen. Kamarnya sangat rapi. Dan lihat ada gitar! Jessen pandai main gitar? "Ngak percaya." Ujarku.


Aku mencoba memainkan gitar nya. "Ini gimana mainnya ya?"


Aku petik gitar itu sembarang, yang penting bunyi. Aku mulai menyanyikan lagu. Lagu Cinta sederhana dari Last Gank X Andre Boys X Voice Zone.


"Sa selalu cinta ko dengan sa pu rasa


Sa sayang ko dengan hati yang biasa


Sa sayang ko


Orang lain bukan


Cinta sederhana sa perjuangkan


Ko percaya sa pu janji


Karna ini soal sa pu hati


Hooo… janji… sampai cincin singgah di jari..."


Jessen bangkit dari tempat tidurnya. "Ayo pergi."


Aku langsung melihat Jessen yang tengah mengambil pakaian nya di lemari nya.


Tadi ngak mau, sekarang mau. Dasar ABG labil. Sidirku dalam hati.


***


"Ini?" Kataku sambil mengarahkan buku anatomi ke arah Jessen.


"Ngak."


Aku mulai mencari lagi. "Ini?"


"Ngak."


Aku mulai menarik nafas dan mencari lagi. "Ini?"


"Ngak."


"Jadi kau mau yang mana?!" Pekikku.


"Ngak ada, semua buku anatomi di sini aku udah tau isinya."


"Terus kenapa kau bilang mau buku anatomi, sedangkan kau udah baca semua!"


"Bosan di rumah."


Aku melihat Jessen dengan lekat. Kasian juga lihat Jessen, dia selalu sendiri. Lihat saja waktu aku di kamarnya, dia bahkan hanya belajar, tidak ada teman berbicara.


"Jessen. Jadilah temanku." Ucapku dengan penuh perhatian.


Dia menatapku. "Berteman denganmu? Apa untungnya? Kau itu sangat menyusahkan."


Keretas tas tas...

__ADS_1


Tulang keringku rasanya remuk dengan kata kata Jessen. Terlalu berat dan kejam untukku dengar.


Aku menarik nafas dan membuangnya. "Aku serius. Aku ingin menjadi temanmu."


"Kau pikir aku bercanda."


Aku hanya bisa elus elus dada. Sabar-sabar.


Dia melirikku sekilas. "Tapi boleh juga. Asal kau tak menyusahkanku."


Aku terbelalak kaget dengan ucapan Jessen. Akhirnya dia mau. "Oke aku takkan menyusahkanmu."


Aku menggandeng tangannya. "Hari ini aku traktir eskrim."


***


Hari yang sangat melelahkan. Aku merentangkan badan di kasurku yang nyaman.


Segarnya sehabis mandi langsung tiduran.


Aku menggenggam buku mistis. Dan aku membukanya.


1/15


Hemm... Bahagianya, tinggal 14 Misi lagi aku akan lepas dari nya.


Aku pun meronggah bantal tidur ku untuk mencari ponsel.


Nah, ketemu.


Terlihat ada pesan terbaru dari Tessa. .


"Valen, kau kemana tadi di jam pelajaran Bu Fitri?"


Aku panik karena takut. Aku langsung membalas chatnya.


"Kenapa tes? Ibu itu marah?"


"Engga sih, kau kan udah minta izin."


Aku teringat akan kakak yang ku tolong tadi. Ternyata benar dia udah ngizinin aku ke guru.


"Oh ya Val, kau tau ngak, kita kedatangan murid baru. Kakak kelas sih. Dia anaknya kepala sekolah. Katanya pindahan dari luar negeri."


"Oh ya?"


"Iya, banyak siswi yang keganjenan sama tuh cowok. Iya sih ganteng. Tapi rumor nya dia tuh playboy."


"Serius?"


"Iya. Ntar ya aku send foto nya."


Tessa mengirim foto tu cowok.


SHITT, ITU KAN KAKAK YANG KU TOLONG TADI.


"Lumayanlah mukanya." sambung Tessa.


Tenggorokanku jadi terasa kering.


"Udah ya tes, aku istirahat dulu. Bye"


"Oke."


Aku langsung ke dapur untuk minum air.


Gila... Ini gila, aku jumpa sama anak kepala sekolah dan aku tinggalkan gitu aja di rumah sakit... Padahal dia butuh teman...


Tenang val... Kau harus tenang.


Drrett


Ponselku bergetar.


Satu permintaan pertemanan di instagran.


Rio alaska?


Siapa nih ya?

__ADS_1


Aku membuka profilnya.


WHAT!! INI COMAN YANG KU TOLONG TADI!!


__ADS_2