Magic You

Magic You
chapter 21


__ADS_3

Aku membuang wajahku yang sesaat cengo lihat perbuatannya yang manis. Aku tak akan baper lagi kali ini. Huh!


"Jessen, sikapmu tak akan membuatku baper lagi." Ucapku bangga.


Dia mengerutkan keningnya tersenyum sinis. "Memangnya udah berapa kali aku buat kau baper? Kok aku tak terasa?"


Dia berkata seperti itu seolah-olah aku adalah orang yang baperan plus keganjenan tingkat dewa sama dia. "Dasar fuckboy!" Aku mendorong tubuhnya keras, walaupun seperti itu badannya hanya sedikit tertolak ke kanan.


"Aku bukan fuckboy." Ucapnya datar.


Kan emang dia fuckboy! Ngak ngaku lagi. Udah Val, sabar aja.


"Iya, kau ngak fuckboy." Aku memutar bola mataku malas.


Jessen kembali ke posisi awalnya -bersender pada bahu kursi dan menghadap depan-.


Aku melihat ke arah kiriku, terlihat ada ayunan yang menganggur. "Naik ayunan yuk." Ajakku ke Jessen.


Dia berdecak. "Kau saja."


Aku menarik tangan Jessen sambil bangkit berdiri. "Ayolah Jes, masa ngak mau sih? Seru tu... "


Seberapa kerasnya aku berusaha menarik badannya, tetap saja tenagaku tak kuat mengangkatnya untuk dapat berdiri.


Aku bernafas lemas dan kembali duduk. "Ish."


Aku duduk sambil termenung. Kalau tau gini mending tetap di rumah aja. Ishh.


Aku bersender bosan di bangku, aku melihat sekitar taman. Mataku terpaku oleh wanita yang pernahku jumpai, itu mama Jessen. Aku menepuk-nepuk pundak Jessen. "Jes itu mamamu."


Jessen mengikuti arah pandangku tertuju. Dia melihat wanita itu acuh tanpa berkata apapun.


Aku memperhatikan gerak-gerik mama Jessen, dia tampak seperti menunggu seseorang. Dan ya, setelah itu datanglah seorang pria yang mendekati wanita itu, ciuman manja pun melesat di pipi wanita itu. Aku sedikit terkaget namun kugubris pikiran burukku, aku ber-positif thinking, mungkin itu papa Jessen.


Aku melihat Jessen yang ternyata dari tadi juga menatap ibunya itu. Dia masih dengan ekspresi datar yang biasanya. Benerkan dugaanku, itu pasti papa Jessen, kalau bukan pasti Jessen akan sangat marah.

__ADS_1


Aku mencuil sedikit bahu Jessen yang membuatnya melihatku. "Kau kenapa masih diam? Pergi noh, aku di sini aja." Karena kulihat papa dan mama Jessen udah sangat romantis, sepertinya tak apa menyuruhnya untuk kembali ke rumahnya. Karena menurut pemikiranku Jessen pergi dari rumah pasti karena orang tuanya berantem.


Jessen tak bergeming dari duduknya dan malah tak memperdulikanku. Dia  kembali bersender dan menutup matanya.


Nih anak kenapa?


"Jangan ikut campur." Ucap Jessen.


"Jes tenanglah, mama papamu kan udah baikan, apa lagi coba? Gimanapun kau harus pulang." Saranku ke Jessen.


Jessen masih tak memperdulikanku.


Aku kembali memberikan saran. "Jes mau gimana pun itu orang tua, kau harus tetap baik ke mereka. Pasti di dalam hati mereka, mereka juga menyayangimu Jes. Kau harus pulang." Aku mengelus bahu Jessen.


Seketika tanganku di tepis olehnya. "Kau jangan sok tau! Udah kubilang ini bukan urusanmu!" Jessen berdiri. "Kalau memang kau keberatan aku ada di rumahmu, dari awal kau tak perlu mengajakku ke rumahmu!"


Aku berdiri dan coba merangkul menenangkannya. "Maksudku ngak gitu Jes. Aku cuma..."


Dia kembali menepis tanganku untuk kedua kalinya. "Aku ngak butuh belas kasihan orang." Dia membalikkan badan dan pergi.


Jessen menarik melepas tangannya kasar. "Tak usah mengikutiku. Aku tak butuh kau!" Dia kembali berjalan.


Aku masih mencoba mengejarnya. "Jes."


Dia membalikkan badan dengan penuh amarah. "Jangan membuat aku semakin membencimu!" Jeritnya, dia membalikkan badan membelakangiku dan pergi.


Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Jessen jantungku seperti tak berdetak.


Apa ada yang salah dengan kalimatku?


***


Aku duduk di ruang tamu memandangi buku yang tertumpuk. Baru 30 menit yang lalu kami belajar di sini dengan tak ada masalah apapun di antara kami, dan sekarang, kami bertengkar karna salah pengertian.


Aduh Val, apa yang kau lakuin sih, Jessen jadi marah berat samamu!

__ADS_1


Apa yang terjadi dengan Jessen, kenapa dia sangat marah?


"Jes, maafkan aku."


***


Di kelas pikiranku beneran sangat kacau, aku masih saja memikirkan Jessen.


Sebuah tangan menimpuk kepadaku pelan. "Val, cepat kerjakan. Jangan melamun aja woy! Sebentar lagi waktu kumpul!"


Tessa menyadarkanku dari pikiranku yang kacau balau tadi. Aku segera mengerjakan tugas secepat kilat. Rasanya sangat mudah, ya iyalah... Kan tinggal nyalin jawaban Tessa.


Inilah gunanya sahabat. Hehe.


"Eh jangan asal nyalin doang, bedain dikit dong cara kerjamu, nanti ketauan kita saling menyontek!" Tessa mengingatkan.


Aku mengacungkan jari jempolku. "Sip."


Jam pembelajaran pun berlalu, saatnya istirahat. Aku dan Tessa pergi ke kantin. Tak sengaja aku melihat Jessen yang berjalan ke arahku, aku sangat senang berharap dia ngak marah lagi denganku. "Hi."


Alih-alih menjawab sapaanku dia melewatiku begitu saja, seperti tak saling kenal.


"Tes kau luan aja ke kantin, nanti aku nyusul." Aku izin ke Tessa. Tessa mengangguk mengerti situasi, dia pun pergi ke kantin.


Aku berjalan mendekati Jessen. "Jes."


Aku menarik sedikit lengan bajunya.


Dia melihatku lebih dingin dari biasanya, bahkan lebih seperti mengintimidasi. "Kita putus."


Rasa sesak meliputi dadaku, aku jadi sulit bernafas. "Huh?" Aku meminta penjelasan.


"Kau tuli ya? Kita putus." Tegasnya. Dia kembali berjalan.


Batin ini rasanya remuk seketika. Rasa sakit tak terkatakan menjalar di seluruh badan ini.

__ADS_1


Kenapa. jadi. begini ?


__ADS_2