Magic You

Magic You
chapter 49


__ADS_3

Ken kembali menegakkan badannya. Dan menyalam nenek.


"Ish. Ngak usah sok baik lah." Cetusku.


Dia menatapku. "Sayang. Kalau sama nenek martua harus sopan dong."


Ihh...


Aku mengalihkan pandanganku darinya dan menatap nenek.


Hah? Nenek malah jadi senyum-senyum.


"Enggak ya nek. Dia bukan siapa siapa." Aku melirik tajam Ken. "Apaan sih. Jijik." Protesku.


Dia melihat nenek. "Nek. Kapan saya bisa menikah dengan Valen?" Tanyanya tanpa dosa.


"Gila kau ya!" Bentakku.


Nenek tersenyum sambil menyikutku. "Kapan Valen siap. Nenek bakal izinin." Nenek mengedipkan salah satu mata menyetujui Ken.


Haa?


Aku hanya mengagap Sambil menggelengkan kepala.


Ken tersenyum kecil melerikku.


"Udah lah nek. Valen mau masuk. Capek." Kataku acuh.


"Iya iya." Nenek mempersilahkan aku masuk.


Baru dua langkah kakiku berjalan.


"Pacarnya Valen nginap aja ya malam ini. Karena ini udah larut malam."


Kakiku spontan berhenti dan langsung berbalik badan. "Ngak ada. Dia pulang aja sana. Toh juga dia ngak bakal di curi... Kau bisa jaga diri sendiri kan!" Bentakku.


Aku melihat nenek. "Dan juga nek. Dia bukan pacar Valen... Valen jomblo. Fix jomblo. Dan Valen bahagia jadi jomblo!"


"Valen. Kasian kan dia... Dia udah baik banget loh mau anterin kamu." Kata nenek lembut.


Ken menjulurkan lidahnya sekejam mengejekku.


Aku menunjuk ke arah Ken. "Kan nek. Dia ngejek Valen."


Nenek melihat Ken, Ken langsung mengubah mimiknya dengan wajah tertindas karena di fitnah sambil menggelengkan kepalanya dan mengelus dada.


Sial. Kan memang dia ngejek.


Nenek melihatku lagi. "Udah lah Valen. Dia hari ini tinggal di sini aja."


Nenek melihat Ken. "Kamu hari ini tinggal di sini saja ya nak."


Ken mengangguk dengan wajah sok di polos poloskan.


Arhhh


"Silahkan masuk." Nenek mempersilakan Ken masuk.


Bodoh amat... Aku masuk ke kamar aja!


Ishhh...


Aku pun pergi ke kamar dengan menghentakkan kaki setiap melangkah.


Pingin banget rasanya nyekik leher si Ken sampe dia mati kehabisan nafas.


Ya Lord... Kapan sih dia mati!!!


Aku mandi dan mengganti pakaianku. Aku tetap di kamar. Malas aku keluar. Aku terus memainkan ponsel. Tiba tiba terdengar suara tawaan nenek dan Ken yang begitu riang.


Issshhh, semak aja sih ni anak... Apa lagi yang dia bilang ke nenek?!


Aku keluar dengan sedikit membanting pintu. Pergi ke ruang tamu. Kedua pasang mata mereka melihat ke arahku dan menghentikan tawanya.


Aku melihat Ken. "Apa yang kau bilang ke nenek hah?"


"Ngak ada apa apa kok sayang... Kamu mau gabung?"


"Ya enggak lah." Aku membalikkan badan.


Sial! Dia berhasil merebut hati nenek.


Aku kembali membalikkan badan melihat nenek. "Nek. Jangan terkecoh dengan ucapan si Bambang ini... Dia itu banyak bacotnya. Alay dan ngak jelas dia mah..."


"Valen. Kamu jangan gitu dong." Nenek melihat. "Ken baik kok." Sambung nenek.


Hah?


"Baik apanya nek? Dia itu aneh."


"Valen." Nenek membolangkan matanya memberi kode padaku agar jangan berbicara kasar.


Isss... Sekarang dia merebut kebaikan nenek dariku.


Aku membalikkan badan dan hendak pergi.


"Valen." Panggil nenek.


Aku membalikkan badanku lagi jengah. "Iya nek."


"Temenin Ken sebentar di sini ya." Kata Nenek.


Ish. Males banget.


"Valen ngak mau nek. Valen mau belajar, jadi ngak bisa di ganggu." Tolakku.


Ini pasti Ken yang nyuruh. Dasar cowok sarap.


"Bagus kalau begitu. Belajar bareng aku aja. Aku bisa ajarin kalau kau ngak paham sesuatu." Sambung Ken.


Isshh, ada aja sih taktik ni orang.


"Iya Valen. Bagus itu." Nenek malah ikut ikutan.


Aku menghela nafas panjang. Sabar Val. Sabar.


"Nenek. Valen ngak bakal konsen kalau ada Ken, jadi Valen belajar sendiri aja ya nek."


Nenek menggeleng. "Belajar bersama itu lebih baik." Nenek bangkit berdiri dan tersenyum. "Nenek tinggal ya." Nenek pun pergi berjalan menjauh dari hadapan kami.


Aku mengacak rambutku kesal.


Arhhh


Ku tatap Ken yang tersenyum picik melihatku sambil menaikkan alisnya sekali. Dia merasa bangga dapat menang dari perdebatanku dengan nenek.


"Ini semua karena kau." Aku sangat marah.


Dia berdiri dan berjalan ke arahku.


Dia menghentikan langkahnya setelah berada di depanku. Dia menatapku dengan sedikit memiringkan kepalanya. "Kau milikku."


"Apanya milikmu? Emang aku barang?" Aku menunjuknya. "Dengar ya. Sebentar lagi nenek juga bakalan balik. Jadi jangan macam macam."


Dengan perlahan dia mendekapku dengan salah satu tangannya. "Sepertinya nenek takkan kembali."


"Maksudmu?"


"Ya... Tadi nenek sebelumnya bilang padaku kalau dia bakal pergi mengurus sesuatu bersama kekekmu." Dia tersenyum kecil. "Kita sendirian sekarang sayang." Bisiknya di telingaku.


"Heh. Aku punya pembantu. Mana mungkin kita di tinggal nenek berduaan."


"Mereka juga udah pulang bekerja."


Ken menaikkan dekapannya dari pinggangiu ke punggung belakangku. "Kau tau tadi Nenek bilang... Ken, nenek titip Valen ya, Valennya di jaga ya, jangan di lepas, nenek percayakan Valen samamu... Itu tadi kata nenek."


"Mana mungkin nenek sepercaya itu sama mu?"


Dia menaikkan alisnya. Dan meraih ponselnya di saku celananya. Dia seperti menelpon seseorang. "Nek. Valennya Ken yang jaga kan nek."


"Iya Ken.. Nenek titip Valen sebentar ya.. atau mungkin nenek bakalan pulang besok. Jaga Valen ya.."


"Baik nek."


"Oke Ken."


Nenek mematikan ponselnya.


Sial. Kenapa nenek sepercaya itu sama ni orang?

__ADS_1


"Kau pelet nenekku ya?!"


"Pelet? Cih." Dia menyisir rambutnya ke belakang dengan salah satu tangannya yang tak mendekapku. "Pesonaku sulit di tolak Val. Dan kau tau... Aku sangat pandai menilai hati siapapun... Itu sangat mudah bagiku." Bisiknya.


Dia menatapku dengan tersenyum nakal. "Tadi kan kita belum selesai bercintanya... Sambung sekarang kali ya?"


"Gila kaumm."


Ken menciumku. Langsung dengan ganas.


Aku hendak memukul Ken tapi di tangkis olehnya.


Dia melepaskan ciumannya. "Hei... Aku sudah mempelajari semua gerak gerikmu. Kau takkan bisa menolak." Desahannya.


Hah?!


Sambil menggendongku dia membawaku ke sofa yang tak jauh dari tempat kami berdiri tadi.


Dia menelentangkanku di sana. Memegang pergelangan tanganku dan   menimpa badanku.


Aku tak dapat bergerak.


Dia menatapku dengan memiringkan sedikit kepalanya. "Aku mulai dengan lembut."


Dia mencium bibirku. Perlahan sekali. Namun tidak berhenti sedikitpun. Aku tak dapat bernafas.


Dia mulai melemahkan genggaman tangannya dan salah satu tangannya memegangi tengkukku mengunci posisi kepalaku. Membuat badannya dan badanku sama sekali tak berjarak.


Aku coba memukul nya dengan tangan kananku. Tapi aku terlanjur terkejut dengan gerakan cepat kepala Ken ke leherku.


"Arh.."


Ken menggigit leherku. Lama kelamaan melembut dan menciumnya. "Sayang. Sekeras apapun sebenarnya pukulanmu itu, aku takkan merasakan sakit." Desahannya. Kemudian dia lanjut mencium bibirku.


Aku tak dapat menjerit karena ciuman ini. Aku mendorong terus dada Ken sambil memukul-mukulnya. Tapi tak bisa membuatnya terdorong ke depan.


Aku sangat sesak. Dia sedikit menjauhkanmu bibirnya bernafas.


Aku menarik nafas megap. Baru saja aku mengontrol nafasku dia mencium lagi.


SHITT


Aku menggigit bibirnya yang membuat dia terkejut dengan membuka matanya lebat menatapku sesaat. Karena aku tak pernah merespon setiap kali dia menciumku.


Dia tersenyum dalam ciuman itu.


Dia melepaskan ciumannya dan menatapku sambil tersenyum. "Sakit tau."


Aku yang masih megap memilih diam sambil memukul-mukulnya.


Dia berbisik di telingaku. "Kau membuatku kaget."


Dia mencium pipiku.


Dia tersenyum dan menatapku. "Aku suka."


"Eh.. gilah kau yahh." Kataku dengan masih megap.


Ken memegangi leherku pelan sambil tersenyum. "Berkeringat."


Aku memukul Ken. Sangat tidak bertenaga.


Dia bangkit dari posisinya dan berdiri membiarkanku bangkit dan duduk.


Aku duduk di sofa mengatur alur pernapasanku.


Ken kembali duduk di sebelahku dan memelukku. "Besok.. kalau aku cium lagi, di gigit ya." Pintanya yang sangat tidak ada ahlak.


Aku menatapnya dengan penuh emosi. "Ken! Maumu itu apa sih?!"


"Kau." Katanya singkat.


"Tapi aku benci kau!" Jeritku.


"Benci... Benar-benar cinta." Katanya manja. Kemudian dia mencium pipiku lagi.


Aku menggeleng kepala. "GILA!!!"


Dia terkekeh dan semakin memelukku.


"Lepasin!"


"Ngak mau."


"Val!"


"Aku ngak suka kau peluk!"


"Kalau gitu cium."


"Peluk aja aku ngak mau... Apa lagi cium!!!" Aku terus merontah-rontah.


"Kalau gitu tidur bareng."


"Itu lebih parah!!!! Pergi sana!!!"


"Ngak mau."


"Aku bilangin nenek kalau kau cium aku tadi!"


"Biarin. Aku juga pingin bilang. Biar kita langsung di nikahin. Dan... Aku lebih puas merasakanmu." Bisiknya.


Dia mencium bibirku tiba-tiba sekejap. "Kok ngak di gigit?"


Aku menjitak ya keras.


Dia tertawa. "Aku minta di gigit sayang... Bukan di jitak."


"Udah ah. Aku mau tidur. Ngantuk." Katanya sambil menutup mata sambil terus memelukku.


Dia tertidur pulas.


Dasar stress...


Aku melepaskan pelukannya dan berdiri. Dia menarikku membuat aku ada di pangkuannya dan memelukku. "Kalau coba kabur lagi, aku akan menciummu lagi... Sampai kau pingsan."


Arhhhh...


***


Aku pergi ke kampus bareng Ken. Apa lagi kau engak terpaksa! Setelah aku mengantarkan pulang. Dia malah mengancamku dengan meminta pada nenek agar kami berangkat bareng setelah aku mengantarkannya. Sial.... Ishhh


Dia jadi sangat posesif terhadapku. Kemana mana dia selalu di sebelahku. Emang dia siapa?! Pacar aja engak?! Tapi kenapa sangat menyusahkan ya Lordddd ....


Aku di kantin makan berhadapan dengannya memakan bakso.


Dia terus memegangi bibir bawahnya yang kemarin aku gigit. Sial... Berbekas juga.


"Obatin lah sana." Omelku. "Biar ngak berbekas."


Dia menatapku datar. "Aku ngak mau hilangin bekasnya."


Aku menatapnya aneh.


"Kenapa sih kemarin ngak cium aku lebih ganas..." Katanya dengan nada yang tak di pelankan.


Shit..


"Ken." Pekikku pelan.


Dia menatapku datar. "Kenapa?"


Aihhhsss. Hemm tahan emosi Val...


"Bibirmu juga. Kenapa bekas gigitanku menghilang?" Kata Ken.


"Ahh.. kalau gitu nanti aku cium lagi."


Aku mengeluarkan semprotan cabe. "Aku punya jurus baru."


Tangan Ken yang begitu cekatan pun mengambil semprotan itu dan menatapku marah. "Aku bakal cium kau lebih ganas nanti."


Tak...


Tumpukan kertas memukul meja kami.


Aku mendongak.


Jessen?

__ADS_1


Dia melihatku dengan sangat emosional dan menarik tanganku.


"Apa sih!" Aku melepaskan tanganku dari genggamannya.


Ken spontan berdiri dan memegang kerah baju Jessen.


Dengan kekuatan apa si Jessen mampu membalikkan badan Ken yang tersungkur di meja makan. "Udah ku bilang. Jangan dekati dia."


"Emang kau siapa?! Kau bukan pacarnya."


"Diam."


Jessen semakin memutar tangan Ken di belakang punggung Ken sendiri. Jessen melakukannya tanpa merasa bersalah.


Kalau di biarkan tangan Ken bakalan patah.


"Jessen lepasin dia."


Jessen menatapku dengan sorot mata berapi-api.


"Aku bakal ikut. Tapi lepasin dia."


Jessen melepaskan tangan Ken dan menarikku.


Jessen membawaku ke dalam suatu tempat.


***


Jessen membawaku berjalan melewati koridor yang sepi dan kosong. Setelah cukup jauh, kami berhenti di suatu ruangan kosong. Dia masuk begitupun aku.


Jessen menutup pintu dan membalikkan badan menatapku. "Aku putuskan kau, bukan untuk jadi pacarnya."


Aku yang masih geram dengan Jessen menatapnya tajam. "Emang kenapa kalau aku pacaran dengan dia! Kau pikir kau siapa bisa mengatur hidupku!"


Dia diam untuk beberapa saat. Kemudian dia menatapku. "Sejak kapan kau suka padanya?"


"Dari pertama kali jumpa. Aku suka sama dia! Cinta! Bahkan perasaan ku terhadapnya lebih dari pada perasaan ku padamu! Aku sangat mencintainya."


Uekkk... Kalimat menjijikan yang keluar dari bibirku sendiri tadi sangat euhhh banget shittt


Rasanya pare yang pahit lebih terasa nikmat dibandingkan bilang aku cinta sama Ken!!


Arhhh... Uekk


Aku terpaksa berbohong. Aku sangat ingin melihat Jessen cemburu! Biar dia tau betapa sangat sakitnya hatiku setelah penghianatan yang telah di lakukannya.


Dia membalikkan badan acuh. "Kalau gitu. Nikah aja kau dengannya."


Jessen membuka pintu dan pergi keluar.


Hah? Dia tak cemburu?


Aku berjalan ke luar.


Bruk


Aku malah menabarak seseorang.


Ken?


Dia tersenyum senyum.


"Kenapa?"


Dia memelukku dan mencium bibirku. Aku terkejut.


Dia melepaskan ciumannya. "Kau mencintaiku?"


"Cinta apanya?"


Dia tersenyum dan kembali menciumku.


Dia menatapku. "Aku dengar apa yang kau bilang tadi sama Jessen."


Dia kembali mencium bibirku bertubi-tubi.


"Aku."


Muach


"Cinta."


Muach


"Valen."


Muach


Muach


Muach


Muach


Dia melihatku dan tersenyum kecil.


Padahal kan aku bohong. "Aku ngak serius bilangnya. Aku hanya pingin dia cemburu."


Ken jadi menatapku gusar. "Ck. Aku tak percaya."


"Ih. Di bilangin juga."


"Aku tak peduli. Kau cinta padaku. Titik."


Aku memutar bola mataku gusar. Dia memang keras kepala, mau di bilang apa juga dia bakal tetap kekeh sama pendiriannya.


"Terserah lah. Sekarang lepaskan aku. Cepat."


"Ngak."


Ken memperhatikan bibirku. "Bibirmu semakin menggoda saja." Sambungnya.


"Heh." Pekikku.


"Sekarang?"


What... Maksudnya? Hah?


Dia memang ngak tau waktu dan tempat.


Aku mengaplak kepalanya.


"Ck." Decaknya.


"Moralmu memang jatoh ya!"


Di tertawa kecil.


"Oke kalau gitu." Dia kembali menatapku datar. "Aku bakal cium nanti."


Aku membolangkan mata.


Dia memegangi bibir bawahnya yang lecet karena gigitanku. Dia tersenyum miring. "Kau harus buat bibirku sampai sakit."


Bulu kudukku berdiri.


Gila... Ni orang memang Psiko kelas kakap. Ngak ada moral dan etitud. Otaknya berceceran di tong sampah kali ya?!


"Heh! Aku semalam ngak sengaja gigit cuma karena aku megap! Untung aku ngak mati kehabisan oksigen!"


Dia memiringkan sedikit kepalanya. "Oh ya?"


"Ya iya lah! Kau pikir kenapa?!"


"Terangsang pergerakanku." Jawabnya datar.


Shittt


"Mesum kau ya!"


Dia memegang dagunya dengan telunjuk dan ibu jarinya. "Kalau gitu. Aku akan buat kau semakin sesak biar kau terus menggigitku agresif." Simpulnya sambil mengangkat satu alisnya.


Bukan gitu konsepnya Bambang!!!


Aihhh... Damnnnnn....


Mampus aku....


Ya Lord.... Tolong Cabut Nyawa Ken Sekarang Dan Jangan Lupa... Masukkan Dia Ke Dalam Neraka!!!!!!!

__ADS_1


__ADS_2