Magic You

Magic You
chapter 35


__ADS_3

Pulang kuliah ini sangat melelahkan. "Tes." Aku memulai pembicaraan dengan Tessa yang ada di sebelahku.


"Ya?"


Aku memeluk Tessa manja. "Beliin nasgor ya."


"Hem.. Giliran ada maunya kau baik sama aku. Modus."


"Eh... Engak ya... Aku kau selalu baik." Gerangku.


"Aku yang beliin." Bisik seseorang dari sebelah kananku.


Si Psikopat.


Aku menegakkan badanku melepaskan pelukanku dari Tessa. "Ngak aku ngak mau. Ngak jadi laper."


Tessa tersenyum aneh. "Emm. Aku pergi dulu ya.."


Tessa pergi menjauh.


"Eh.. Tes. Kok aku di tinggal." Kataku.


Tanpa memperdulikanku Tessa hanya pergi dengan riang.


Ck.


Aku melihat ke si Psikopat kesal.


"Karena kau ngak mau nasgor. Kita sekarang nonton." Katanya.


"Dengar ya.. Aku bahkan ngak tau siapa namamu. Dan kau udah sok kenal denganku. Please ya... Pergi aja sana.. syuhh syuhh." Aku mengusirnya.


"Hah. Kau ngak kenal dengan pacarmu sendiri?" Dia memandangku kesal. "Pacar seperti apa kau."


Astaga...


Aku mendengus jengah. "Kau.. astaga.. Gini ya. Pertama, kita itu tak per."


"Stt." Dia menutup mulutku. Dia mendekatkan wajahnya ke arahku. "Nama pacarmu ini Kenzo Dwigantara. Karena kau tadi membuatku marah." Dia mencoba mencium bibirku. Tanganku refleks menutup mulut.


Dia menatapku kesal. "Aku mau cium."


Aku menokok kepalanya dengan tanganku lainnya. Dia kembali berdiri tegak sambil memegangi kepalanya. "Ck." Decaknya.


Ngak akan kuberikan first kiss-ku di renggut oleh lelaki gila ini.


"Ngak bakalan." Ujarku singkat.


"Ngak ada penolakan. Ayo." Dia menggenggam tanganku sambil tersenyum.


Aku tak bergerak. Membuat dia ikutan berhenti.


Dia menatapku datar. "Mau ikut atau ku cium paksa."


Aku membolangkan mata terkejut.


Nekat banget sih ni orang!


Dia mendekat.


"Iya iya. Aku ikut." Ucapku cepat.


Dia tersenyum. "Gitu dong."


"Di sana motorku. Kita jalan ke sana ya." Sambungnya.


"Hem." Aku berdehem ria.


Kami pun berjalan ke sana dengan tangannya masih mengenggam tanganku.


Kenapa aku harus di hadapkan dengan Psikopat seperti ini ya Tuhan...


Dia menaiki keretanya dengan tangannya masih tak melepasku.


"Aku ngak bakal kabur kali." Kataku malas.


"Tapi aku ngak percaya." Jawabnya singkat.


Dia memasang helmnya dengan satu tangan, setelah selesai dia meletakkan tanganku di perutnya. "Naik."


Aku memutar bola mata ke kanan. "Gimana caranya? Tangan kananku kau pegang."


"Ya udah sih naik aja. Apa perlu aku gendong?"


Ck. Dia selalu mengancam.


Aku pun naik sambil menekan perutnya kesal.


"Aa... Sakit."


"Bodo amat."


Aku sudah berada di atas keretanya. Dia masih tak berjalan. "Jalan lah." Kataku.


"Peluk dong. Nanti kau jatuh."


"Ngak lah. Dasar modus."


Dia sedikit meng-gas keretanya dan me-remnya, membuat tubuhku memeluknya karena tekanan dari daya remnya.

__ADS_1


"Gitu dong sayang."


Dia pun melakukan keretanya.


Ishh... Aku menjauhkan badanku dan memukul-mukul badanya. "Gila... Dasar gila."


Dia malah terkekeh.


***


Kami memesan tiket. Dia selalu mengandengku. "Ngak usah di gandeng kali. Aku bukan anak SD!"


"Aku tak peduli."


Aku memijat jidatku yang pusing karena tingkahnya. "Aku ngak bakalan pergi. Aku janji."


"Kalau tidak?"


"Ish.. Bener loh. Aku ngak bakal pergi sayanggg." Kataku dengan penekanan dan memanjangkan kata akhirku.


Dia tersenyum lebar dan memelukku. "Iya iya. Aku percaya." Dia melepaskan dekapannya.


"Mau film apa?" Katanya.


"Horor." Kataku acuh.


Dia mengerutkan dahinya. "Yakin?"


"Hem." Aku mengangguk. "Kenapa? Kau takut?"


"Ya enggak lah. Aku hanya kuatir kau nanti jadi tak bisa tidur karena tengiang film horornya." Katanya sombong.


"Ya enggak lah. Aku bukan anak penakut." Sambungku.


"Okey..." Dia pun memesan tiket.


Setelah memesan tiket. Aku melihat jam berapa mulai filmnya, jam 21:00.


"Masih lama." Ujarku.


Dia mengangguk. "Kita makan dulu ya."


"Hem."


***


Aku menunggu dia di meja makan. Tadi siapa namanya? Ken Kenzo ya?


Oh aja ya kan.


Aku menyandarkan badanku di kursi. "Perkara dia senior aku harus mengikuti segala kemampuannya. Eh, bukan bukan, perkara dia Psiko yang suka memaksa dan nekatan aku harus mengikutinya. Ck."


"Adu duh.. Maaf maaf."


Dia melepaskan tangannya dan duduk di sebelahku. "Kau suka cowok yang gimana?"


"Aku ngak suka cowok." Kataku singkat.


"Kau lesbi." Dia menatapku dengan picingan mata.


Hehe... Kerjain aja kali ya.


"Iya. Aku lesbian."


Dia membolangkan matanya sambil menggelengkan kepalanya. "Berarti kau harus lebih sering ku cium biar normal lagi. Sini sini."


Dia mendekatkan badannya dengan cepat.


"Iya ya ya... Aku ngak lesbi.. aku normal." Kataku cepat sebelum dia melakukan hal aneh.


Dia menyentil jidatku datar.


Drett...


Ken mengangkat ponselnya. "Halo. Em. Iya, aku di sini." Dia tampak melambaikan tangan ke seseorang. Orang itu memakai masker dan berjalan ke arah kami.


"Siapa?"


"Temanku. Dia itu pendiam. Jangan terlalu banyak bicara dengannya." Kata Ken singkat.


Lelaki itu sekarang ada di hadapan kami dan di sambut rangkulan dari Ken. "Val. Kenalin ini temanku."


Orang itu membuka maskernya menatapku datar.


Nafasku terhenti, tak percaya apa yang ku lihat sekarang. Itu Jessen.


"Ini Jessen."


Jessen tersenyum kecil melihatku. Aku auto merinding, ternyata benar... Buku mistis itu terbuka karena dia kembali.


Jessen pun duduk di hadapanku sedangkan Ken kembali duduk di sebelahku.


Aku menatap sinis Jessen.


"Jes apa yang membuat mu kembali ke sini?" Ken mulai pembicaraan.


Jessen meneguk air mineralnya sebelum berbicara. "Aku diminta jadi asisten dosen di kampus mu."


Ken berdecak kagum. "Jenius."

__ADS_1


"Kalian kenal dari mana?" Aku angkat bicara.


"Jessen teman SMA ku. Walaupun kami ngak satu sekolah, tapi kami berteman sangat baik."


Owh...


"Btw. Jes kenalin ini pacarku." Ken merangkulku.


Jessen menatapku tajam.


Heh. Ini kesempatan untuk membalas dendam karena dia pernah menyakiti hati ku.


"Ih kamu bisa aja deh sayang." Aku mencubit pipi Ken sambil bernada manja. Sebenarnya ini serius bukan gayaku, bahkan aku sebenarnya jijik melakukan ini. Tapi demi membuat si Jessen panas, aku rela... Huahahaha...


Bener aja ya si Jessen mukanya sangat datar. Dia cemburu apa enggak ya? Ish... jadi gereget sendiri.


Aku melihat Ken yang cengo melihat ku.


Aih... Jangan gitu dong Bambang wajahmu. Nanti ketauan.


Aku langsung memeluk Ken dan berbisik di telinganya. "Jangan gitu muka mu. Biasa aja lah." Aku melepaskan pelukan ku. Tapi di cegat nya dia menahan pelukanku.


Aduh ni anak. Ck.


Nyesel aku meluk dia.


"Lepas." Bisikku dengan sedikit penekanan.


Dia masih tak melepaskan.


"Besok aku peluk lagi." Tawarku.


Wait wait. Penawaran macam apa itu?!


Aku harus menarik kata-kata ku.


"Emaksudnya..." Kataku.


"Tawaran di terima." Dia melepaskan pelukannya dan kembali menghadap depan.


Aku menokok kepalaku gusar. Kenapa coba aku bilangin gitu... Arh... Dasar bodoh...


"Oh ya Jes. Kau ngajar di kelas mana?" Tanya Ken.


Jessen kembali meneguk air sebelum memulai pembicaraan. "Kelas A semester 1."


Wait... Itu kelasku!


"Oh... Kapan kau mulai mengajar."


"Besok." Jawab Jessen singkat.


Ken mengangguk. "Oh. Baguslah."


"Kami nanti akan menonton." Sebelum Ken melanjutkan kalimatnya Jessen memotong. "Aku ikut."


"Kalian nonton film apa?" Tanya Jessen langsung.


"Escape room 2." Kata Ken datar.


Dia tampak mengetik-ngetik ponselnya. "Aku udah pesan. Mulai jam 9 kan?"


Ken mengangguk.


"Done."


***


Aku duduk bersebelahan dengan Ken, sedangkan Jessen jauh di belakang kami.


Sebelum film di mulai di sebelah kananku heboh lihat ke belakang. "Eh Luci, aku di sebelah mu dong,.... Suruh dia pindah ke sini aja,.... Oke yes."


Dia tampak pindah ke belakang, sepertinya dia bertukar duduk dengan seseorang.


Ah, aku tak peduli. Mataku hanya menghadap depan.


"Hem." Sepertinya orang yang bertukar bangkunya sudah datang.


Aku sedikit melihat ke arahnya. "Jessen?"


"Kenapa? Masalah?"


Ck. Ish...


Dan malam ini pun aku menonton bersama orang yang sangat paling tak ku inginkan bertemu... Arhhh


Film pun di mulai.


Ceritanya sangat seram. Sesekali baku terkejut dan memekik ketakutan, di saat ada adegan yang sangat seram.


"Hmm." Jessen memegang tanganku dengan bergetar. Ku lihat wajahnya yang sangat pucat. Hahaha, seharusnya aku tadi menjerit karena ketakutan. Tapi sekarang jadi menahan tawa melihat ekspresi Jessen yang begitu ketakutan.


Jadi dia takut film horoy juga ternyata.


Ini suatu adegan yang sangat langka melihat dia tersiksa dengan bersikukuh menonton film horor.


Tiba-tiba Jessen melihatku dan melepaskan tangannya yang memegangku karena ketakutan tadi. "Apa."


Dia masih berusaha sok cool.

__ADS_1


Udah ketauan tadi penakut nya. Malah sok keren sekarang, cih.


__ADS_2