
Ken melihat ke arah bibi datar. "Bi. Hari ini bibi ngak perlu masak." Kemudian Ken menatapku dengan senyuman. "Biar sayang aku aja yang masak."
Kalimat itu membuat seluruh pelayanan yang bekerja di dekat kami tersipu-sipu malu.
Tapi tidak denganku. Apaan coba dia?!
"Siape sayangmu? Sok kecakepan amat sih."
Para pelayan menahan tawa mereka yang kemudian di tatap sinis Ken, membuat mereka terdiam.
Ken memelukku dari belakang membuatku menoleh sambil menatapnya menahan emosi. "Sayang.. Kalau kamu ngak masakin
Aku. Aku..." Dia menggigit bibir bawahnya kemudian sedikit mengatup dan memajukan bibirnya sambil menatap bibirku seperti akan menerkamnya.
"Heh!" Aku menyikut perutnya.
"Ahh.."
Dia tetap tidak menyerah. Dia masih memelukku.
Dia mencium pipiku. "Much." Kemudian memekik kegirangan. "Nah. Kenak kan..."
Anjrit... Ini di depan umum!
Para pelayan mengintip intip kami berdua selagi melaksanakan tugas. Mereka senyum-senyum.
Aku melap lap pipiku yang telah ternoda karena si iblis satu ini!
Aihhh... Malu banget aku...
"Ken... Lepasin. Ini masih pagi." Aku menekan setiap kalimatku memberi kode.
"Jadi kalau udah siang boleh?" Tanyanya dengan nada sok polos.
Bengekk
"Apa kau bilang?" Aku menatapnya dengan tatapan berapi-api.
"Makanya masakin."
"Tadi kan kau udah cium. Berarti ngak jadi masaklah!"
"Tapi kan kau udah lap pake tanganmu tadi... Yah kecuali, aku lakukan lagi sekarang, baru kau boleh ngak masak pagi ini."
"Hah?! Pilihan macam apa itu?!"
"Jadi gimana dong sayang... Pilih yang mana?... Aku udah ngak tahan ini."
"Iya aku masak! Cepat lepaskan!"
Dia tersenyum miring sambil melepaskan pelukannya. "Yah... Ngak jadi sarapan ciuman." Katanya kecewa.
Dasar Bangsatttt
"Pergi pergi sana! Aku mau masak!"
"Hem.. cepat ya."
"Bodo amat."
"Ih.. Kok gitu jawabnya." Dengan wajah yang sok di lembut lembutkan
"Udah... Cepat sana! Mau makan apa enggak?!"
"Iya.." Dia pun pergi.
Aku mengangguk kepalaku kesal.
"Aku ngak tau masak..."
Bibi yang di sampingku menatapku sambil tersenyum. "Ngak apa ndok. Saya bisa bantu."
"Eh. Makasih bi. Saya memang butuh bantuan."
Bibi itu mengangguk. Dia mengambil bahan bahan masakan. Dan menyuruhku beberapa pekerjaan, seperti memotong. Membersihkan ikan dan lain sebagainya.
Selagi aku memotong sayuran bibi angkat bicara. "Non tau..."
"Tau apa bi?"
"Baru kali ini tuan mengajak wanita ke sini."
"Ah masa bi... Tu orang aja sangat terlihat seperti playboy... Dia mah pasti ganjen luar biasa sama setiap cewek yang di jumpainya bi. Pasti."
"E lah dalah, non non. Bibi serius ini. Baru kali ini bibi lihat tuan muda berlaku manja sama wanita."
Hem... Mencurigakan si Ken...
"Ngak lah bi. Bibi karena belum lihat aja dia di kampus."
"Memangnya tuan kalau di kampus playboy sama banyak wanita ya non?"
Aku mengusap tengkukku tak yakin. Aku memang ngak pernah lihat dia begitu sih sama cewek di kampus.
Apa emang iya ya..
Ngak ngak... Intinya Ken Playboy!
"Iya bi. Dia memang ganjen."
"Oalah... Bibi kok baru tau ya non... Ngak sangka bibi."
Aku mengangguk dengan sedikit kaku.
Berdosa ngak ya aku bohongi orang tua. Tapi kan, ngak mungkinlah Ken ngak Playboy... Yakin aku!
Aku kembali memasak masakan untuk si Ken... Tut.
Beberapa saat setelah aku dan di bantu bibi masak. Aku membawa masakannya ke si Ken di meja makan. Dia menatapku datar kemudian berdecak.
"Kenapa lagi kau?" Tanyaku.
"Ini ngak asli buatanmu kan... Ini masaknya ada campur tangan bibi."
Aku menghembuskan nafas berat. "Namanya aku ngak bisa masak. Wajarlah."
"Mau bisa masak mau engak aku ngak peduli. Aku hanya mau kau yang masakin aku... Pure tanpa bany siapapun."
Aku mengacak rambutku kesal. Aku melihat ke arah jam dinding yang tak jauh dari sini. Malah udah jam 6 lagi. Ck.
"Makan aja napa sih Ken. Kan aku juga udah masakin... Walau ada campur tangan bibi. Tapi kan aku juga ikut masak."
Dia membuang wajahnya kesal dan tak menggubrisku.
Iishhh...
Ah... Aku ada taktik lain biar ngak masak.
"Padahal kan aku masaknya tadi pake hati tulus." Kataku.
Dia sedikit melirikku.
Sepertinya akan berhasil.
Aku mengambil makanannya. "Ya udah kalau ngak mau bakal aku kasih ke Abang tukang kebun. Dan aku masakin lagi asal asalan yang pastinya tanpa hati. Bodo amat."
Dia menarik piring yang kuambil sebelumnya. "Aku makan yang ini aja."
"Tapi katanya ngak mau. Ya udah ngak usah." Sindirku.
Hahaha. Kenak kau.
Dia langsung menyantap makananku dengan lahap.
Aku pun duduk di depannya mencoba mengobrol dengannya. "Ken."
"Hm." Katanya masih dengan menyantap makanan.
"Aku mau balik mengambil barangku. Abis itu aku mau cari kontrakan baru. Soalnya nenek baru ngirim uang ke aku. Jadi... Makasih untuk tumpangannya."
"Dasar kau ini. Ngapain minta uang ke nenekmu. Udah sewajarnya kan suami menafkahi istrinya."
"Wait what?! Siapa suami ku, dan siapa istrimu?! Eh aku ini masih gadis ya!"
"Ngak lama lagi kita akan nikahlah. Hehe."
"Udah gesrek otakmu ya! Ngak ada! Aku mau balik!" Aku bangkit berdiri dan melenggang pergi.
__ADS_1
Aku mengambil tas sekolahku dan kembali berjalan.
Ken mengejarku dan menghadang dengan berdiri di depanku. "Aku antar."
Mampus.
"Ngak usah."
"Pokoknya aku antar."
"Aku ngak mau Ken Dwigantara."
"Aku ngak peduli. Kau ku antar."
"Bodo amat." Aku mengambil tasku dan pergi melaluinya menuju ruang tamu yang kemudian di susul langsung oleh Ken.
Ken kembali menghadangku dengan tatapan kesal. "Valentresia Dwigantara tersayang. Pokoknya aku yang antar."
"Sejak kapan namaku ganti?! Ngak usah nambah nambahi ya!"
"Pokoknya aku antar."
"Ken." Aku menekan kalimatku sambil membolangkan mataku marah.
"Valen." Dia malah ikut-ikutan membolangkan mata marah.
Ish... Kalau berdebat dengan Ken, pasti ngak bakal kelar. Fix... Sekeras kerasnya batu, lebih keras lagi kepala si Ken!
Aku harus cari cara biar bisa lepas tanpa di antar sama dia.
Aku ngak mau jadi ketahuan kalau selama ini aku tinggal bareng Jessen!
Cepat berfikir Val.. Cepat!
Ah... Aku tau..
Aku tau ini gila.. Tapi ini satu satunya cara yang ada di otakku sekarang. Ngak ada cara lain selain melunakkannya dengan gaya sifat manja...
Aku mengelus kepala Ken kemudian melipat kedua telapak tanganku. Membuat kedua lenganku melingkari lehernya. "Ken sayang."
Uekkk jijik aku jijik...
Melihat perilakuku yang secepat itu berubah membuat Ken terkejut sesaat, kembali dia tersenyum miring.
Tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ken pun langsung mengunciku dengan merangkul mengunci pinggangku. Membuat tubuh bagian bawah kami menyatu. "Iya sayang."
Ingin rasanya menggeplak pala ni orang. Tapi... Sabar Val... Sabar...
"Sebagai calon istri yang baik. Aku harus bisa mandiri dong... Masa aku pulang aja harus di anterin... Kapan mandirinya?" Kataku dengan nada sok manja..
Anjir... Aku merinding sendiri dengan perilakuku yang sok kecentilan ini.
"Aku pulang sendiri aja ya sayang..." Sambungku.
Ken menatapku dengan menaikkan satu alisnya dan tersenyum nakal. "Gimana ya sayang?"
Sabar Val... Dikit lagi...
Ken seperti memberi kode pada pelayan rumahnya. Aku tak tau itu apa, tapi kode itu membuat ruangan kami seketika kosong.
Ken kembali menatapku dan menaikkan dekapannya yang ada di pinggangku ke punggung belakangku membuat jarak kami semakin dekat.
Bahkan sangat dekat.
Sabar Val... Setelah ini kau bisa lepas dari dia...
Dia mendekatkan wajahnya sampai dahi kami saling menyatu, dia semakin mendekat sampai hidung kami saling bersebelahan satu sama lain. "Val. Aku masih lapar... Kayaknya bibirmu bisa memuaskanku."
"M maksudnya?"
Dia terkekeh kecil sambil mengigit bibir bawahnya. "Kau tau. Disini udah kosong. Dan sekarang aku sangat bergairah." Desahannya.
Kduk..
Aku menghantam kepala Ken dengan kepalaku.
"Aduh..." Pekiknya.
"Kau di baikin malah melunjak ya..." Ucapku geram.
"Ken!" Aku memukul-mukuli badannya.
Dia tak peduli dengan betapa kerasnya aku memukuli badannya.
"Woy Lepasin! Gila kau ya! Lepas! Woyyyy!!!"
Sial. Dia membawaku ke kamarnya!
"Ken Bangsatttt...."
Dia tak peduli.
Anjir!!!
Dia menutup pintunya dan menjatuhkan badannya dengan badanku yang masih dalam pelukannya.
Dia mengunciku dengan menimpa kakiku dan mendekap badanku. "Aku yang mulai... Atau kau luan.." Katanya dengan desahan yang membuat bulu kudukku berdiri.
"Apaan?! Heh! Jangan macam-macam ya!"
Dia menenggelamkan wajahnya di bahu depanku sambil mengangguk anggukkan kepala. "Hemm. Hemm." Godanya.
Mataku terbelalak.
Dia sedikit menggoyang goyangkan kasurnya. "Ayolah Val. Aku udah ngak tahan."
Aku mencekik Ken membuat dia terbatuk. "Ohok ohok."
"Mampus kau!"
Dengan ngap-ngap dia mencoba berbicara. "Ah.. ya ya.. maap... Ohok. Ampun ampun."
Tahan emosi Val. Jangan sampai anak orang mati kau buat.
Huff
Aku melepaskan tanganku dengan mendorongnya.
Dia menarik nafas sambil memegangi lehernya. "Aahhh."
"Huh. Kasar banget sih jadi cewek." Ledeknya.
"Bodo amat! Kau kira aku wanita apaan?!"
Aku mencoba bangkit berdiri namun di sangkal Ken dengan menarik tanganku dan menimpanya pada sisi pinggulnya yang menghadap samping. Membuat sekali lagi kami berhadapan. Namun sekarang aku tak dapat bergerak.
Dasar licik!
Dia tersenyum kecil. "Aku ngak akan ngapa ngapain. Cuma mau tidur bareng. Udah, itu aja."
Dia menutup matanya.
Hah?
Astaga... Kok ada sih orang yang aneh bin ajaib kayak gini lahir di dunia... Ngak paham aku..
Dia membuka matanya. "Kita ngak usah kuliah hari ini." Dia semakin memelukku. "Jangan nolak. Ntar kucium."
"Heh! Aku masih baru kuliah... Masa udah bolos... Gila ya!"
Dia mencium bibirku sekejap.
"Ishh!"
Cup.
Dia kembali menciumku. Kemudian menatapku datar. "Udah aku bilang jangan protes."
"Tapi, bibirmu kaku ya... Mungkin karena jarang di cium." Dia tersenyum miring.
Shittt.
Aku menlap bibirku di kasurnya kesal. "Gila kau ya... Udah cium orang sembarangan... Malah.... Ishhh cih." Sangking kesalnya aku jadi tak karuan ngomong.
Dia tersenyum.
"Ngapain kau senyum senyum! Ngeselin tau ngak!"
__ADS_1
"Val. Mau aku kasih tau sesuatu ngak."
"Engak! Udah... Lepasin aku aja intinya!"
"Aku tak perduli apa jawabanmu. Yang penting sekarang aku mau ngasih tau sesuatu."
Cih...
Iiisshhh...
Tuhannn kenapa aku masih ngak lepas dari ni orang sih...
"Kalau ciuman. Bibir pasangan kita di ****... Jangan diem aja."
Aku menyerngitkan dahiku shock.
"Kalau bisa. Sedikit... Di gigit." Ucapnya pelan.
"Woy! Info macam apa itu! Gila kau ya!"
Dia tertawa. "Mukamu merah tau."
"Ini semua karena ulahmu!"
"Coba praktekkan sekarang."
"Heh!"
Dia tertawa. Kemudian kembali menutup mata.
Aku diam menatapnya dalam. Kenapa sih ni orang selalu ganggu aku? Emangnya aku cantik apa? Perasaan wajahku biasa aja...
"Ken." Panggilku.
Dia diam.
Apa dia tidur?
Aku mengibas-ngibaskan telapak tanganku di wajahnya.
Dia tertidur.
Aku perlahan menarik tanganku yang ditimpa badannya.
Pelan... Jangan sampe bangun...
Sikit lagi...
Yess berhasil...
"Emm." Ken mengerang sambil masih tertidur.
Jangan bangunn, jangan please...
"Heemm." Dia kembali tenang.
Fuh...
Aku tinggal beranjak dari sini.
Aku menelentangkan badanku. Melihat ke arah ujung tempat tidur.
Oke...
Kalau aku duduk dan sedikit menyeret bokongku menuju ujung kasur. Otomatis ini kasurnya bakal bergoyang dan membuat Ken terbangun.
Jadi cara yang lebih tepat untuk kugunakan adalah menggulingkan badan dengan cepat. Goyangannya pasti tak sebesar waktu aku menyeret bokong pada cara pertama tadi. Tapi ingat... Kalau kita kira udah hampir dekat ujung kasur, jangan sampe jatohhh!
Nanti ketauan!
Oke... Sudah di putuskan.
Oke oke... Siap siap...
Aku meluruskan tanganku selurus dengan kepalaku. Dan mulai menggulingkan badan...
Terus terus...
"Emm." Ken mengerang lagi.
Aku berhenti dengan posisi telungkup.
Aih... Jangan bangun please.
"Heem." Dia kembali menarik nafas tenang.
Astaga... Buat jantung mau copot aja...
Aku mulai menggulingkan badan lagi..
Duh.. ni tempat tidur nyampe ujungnya kok jauh ya. Padahal tadi waktu di lihat perasaan dekat deh.
Aku terus berguling.
Hup... Akhirnya dapet ujungnya.
Aku sedikit menjatuhkanku badanku pelan...
Yoshh berhasil!
Aku auto pergi dari sini!
***
Sesampainya aku di apartemen Jessen. Jam udah mengarahkan pukul 8.
Damn... Terlambat deh aku!
Aku langsung mengganti pakaian dan langsung berangkat ke kampus.
Aku berangkat menggunakan ojek online. Kalau aku naik bus kelamaan.. keburu telattt...
Sesampainya aku di depan pagar kampus, aku langsung berlari memasukinya.
Aku melihat jam tanganku.
Aih... Udah jam 8.30...
Udah jelas aku pasti terlambat!
Erhhh... Ini semua karena Ken!
Aku memasuki koridor sekolah. Dan sekarang aku ada di depan pintu kelas.
Aduhh... Pasti kena marah ini.
Tapi mau apa di bilang... Aku pasrah ajalah. Mau dimaki juga terserah.
Aku masuk sambil merunduk dan mengetuk kembali pintu yang telah terbuka.
"Maaf pak saya terlambat."
"Iya tidak apa-apa." Terdengar suara seseorang yang diberat beratkan.
Ngak seperti suara bapak bapak pada normalnya...
Aku mendongak.
Di hadapanku kosong. Tidak ada guru.
Semua teman sekelasku tertawa.
"Haha.. Kena tipu." Kata seseorang mahasiswa dari bangkunya.
Aku heran. "Emang bapak kemana?"
"Ngak masuk... Jam pertama kita free." Jelas seseorang yang lain.
Yesss. Thanks God...
Aku ke bangkuku dengan sumringah. "Syukurlah kalau begitu."
Aku duduk dengan tenang.
***
Setelah pelajaran selesai. Aku mencoba untuk nekat ke rumah sakit tempat Jessen di rawat. aku penasaran dengan keadaan Jessen..
__ADS_1