
Pagi ini aku sibuk mencari di mana diaryku berada. Bisanya ada di kantong depan tasku dan tertutup rapi. Tapi waktu aku cek, kantong itu udah terbuka. Kapan ini terbuka ya?
Aku sangat tidak menyadari itu. Karena dua hari belakangan ini aku ngak nulis apa pun di sana, jadi aku ngak ada ngecek itu.
Aku coba mengingat kapan terakhir kali aku membuka kantong depan tasku.
Oh aku ingat. Waktu aku terkejut akan kehadiran buku mistis di tasku, waktu itu buku mistis, diary dan buku Tessa ada di sana.
Gawat kalau di baca sama orang lain... Bisa-bisa mereka tau kalau aku suka sama Jessen!
Aku bergegas ke sekolah.
"Duh... Apa masih ada di kelas ya? Malah udah lama lagi kejadiannya." Aku panik.
Aku berangkat ke sekolah dengan tergesa-gesa, berharap itu masih ada di kelas.
Sesampainya aku di sekolah, aku mengecek apakah masih ada di bawah kolong meja.
Waktu aku cek, semua kolong meja sudah bersih. Tidak ada buku apapun.
"Eh kalian ada pernah lihat ngak buku kecil di bawah meja?" Kataku dengan suara yang cukup kencang untuk di dengar oleh satu kelas.
"Oh ada Val, tapi udah lama." Sahut Ketrin.
"Terus kau taruh di mana?" Tanyaku.
Ketrin memegang jidat nya dengan telunjuknya sambil berfikir. "Aku taruh di meja guru kalau ngak salah setelah piket sekolah. Tapi besoknya udah ngak ada Val."
"Mungkin udah terbuang kali." Sambung Ciko.
Syukurlah kalau udah terbuang sebelum ada yang baca.
***
Di jam istirahat aku dan Tessa makan di kantin.
"Val dari tadi kakak itu lihatinmu loh." Bisik Tessa.
Aku mandang ke arah kak Rio. Jantungku berdegup kencang lagi ketika dia membalas pandanganku dengan senyuman.
Duh... Val. Sadar woy! Sadar! Dia itu terlalu perfect untukmu!
Kau ngak ingat kejadian waktu kau di tolak mentah-mentah sama Jessen.
Aku mengalihkan pandanganku dan kembali meneguk jus yang ada di hadapanku.
"Val. Kok cuek amat sih." Sambung Tessa masih dengan suara berbisik.
"Dia ngak liat ke aku." Sambungku datar. "Udah makan aja. Sebentar lagi jam istirahat habis."
Tessa mengangkat bahunya. "Ya udah kalau gitu. Aku lanjut makan dulu."
Aku mengangguk ke Tessa.
Masih dengan meneguk minuman aku mulai berfikir. Kenapa semalam Jessen ngak terkejut aku tiba-tiba ada di kamar nya ya?
Drrett
Pinselku bergetar. Ada pesan dari orang yang tak kukenal.
"Woy bego."
"Jumpai aku di perpus. Sekarang!"
Tanpa ada nama juga aku udah tau. Ini pasti Jessen. Dasar! Tapi ya mau gimana, aku harus ke sana, menyelesaikan misi menyebalkan ini...
"Tes, aku ke perpus dulu ya."
Tessa terbatuk. "Kau ke perpus? Tumben."
Terpaksa tes... Terpaksa...
__ADS_1
"Ngak apa. Aku butuh ketenangan."
"Oh oke." Tessa kembali melahap makanannya.
Aku berjalan meninggalkan Tessa dan pergi menuju perpus.
Si Jessen tau nomor aku dari mana ya?
Drret...
Ponselku bergetar lagi. Namun kali ini dia menelpon. Aku mengangkatnya. Sambil tetap terus berjalan.
"Hem." aku berusaha sok cool seperti dia.
"Kau dimana?"
"Lagi otw. Oh, iya kau tau nomorku dari mana?"
Terdengar suara meledek. "Dari diary."
Wait... Diary?
Aku terbirit-birit pergi ke perpus. Dan sampai sana aku melihat Jessen yang tengah duduk sambil membaca diaryku.
Sial! Kalau gini udah ketara banget aku suka sama dia!
Aduh... Ya ampun... Kenapa aku bisa teledor gini sih...
Aku buru-buru berlari ke arahnya dan merenggut bukuku.
Aku melihat udah sampai mana dia baca.
Damn! Udah sampai halaman akhir!
Dia menatapku dingin.
Aku menunjuknya. "K.. kau, siapa yang menyuruhmu membaca ini!"
Gila... Apa yang sekarang di pikiran nya!
"Eh! Jangan mikir yang macem-macem ya! Nama Jessen di sini bukan Jessen kau!"
"Trus?" Sambungnya singkat.
"Je.. Jessen..." Aku coba berfikir keras. "Jessen tetanggaku!... Ja... jadi jangan kepedean!"
Dia memiringkan sedikit kepalanya dengan senyum miring meledek. "Jessen tetanggamu itu sekelas denganku rupanya."
Damnnn aku lupa kalau aku pernah buat biografi Jessen di buku ini!
Aku membalikkan badan dan mencoba kabur darinya. Ya kali aku masih di sini. Dimana harga diri aku cuyy!
Tapi tanganku di jegat.
Deg
Aku membalikkan badan kaku.
"Mungkin ini alasannya kenapa kau selalu datang ke kamarku." Dia menaikkan alisnya dengan senyum kecil tergaris di bibirnya. Pantas aja dia ngak terkejut lagi aku datang ke kamar nya.
Damnn... Kalau aku kasih tau juga kau ngak bakal percaya bambang...
Gimana pun ceritanya harga diriku udah terlanjur tercemar.
"Iya aku suka sama mu! " Aku ngak tau lagi mau bilang apa. Ya udahlah ini semua udah terjadi.
"Kalau kau mau jauhi aku juga ngak apa. Terserah..." Aku memandang ke arah lain acuh.
Dia berdiri dari bangkunya dan memberi buku diaryku. "Jangan ketinggalan lagi." Dia menyentil jidatku keras. "Bego." Dia pergi berjalan melewatiku.
Aku melihat kepergiannya.
__ADS_1
Dia, dia marah apa apa sih? Aku ngak ngerti. Tapi... Arh... Udah lah, lupakan aja.
Aku duduk di dalam perpus dan menundukkan kepalaku ke meja.
Huh... Dia kenapa sih selalu buat aku jadi gagal lupain perasaan aku ke dia?
"Kamu sakit?" Suara yang tak asing di telinga.
Aku mendongak ke arah sumber suara dan terkejut dengan seseorang yang ada di hadapanku. "Eh kak Rio."
Dia tersenyum singkat dan duduk di hadapanku. "Mau aku rawat?"
Aku terkekeh. "Aku ngak sakit kak. Cuma lagi banyak pikiran aja."
Dia mengusap-usap pucuk kepalaku sambil tersenyum.
"Dari kemarin aku mikirin kamu terus." Katanya singkat.
Badan ini rasanya jadi sangat kaku karena malu. "Mungkin karena kakak masih kurang enak badan kak. Mau aku anterin ke UKS?"
Tunggu tunggu tunggu, kok jadi aku nawari diri untuk ngerawat dia?
Dia malah tertawa lepas. "Kamu kok manis banget sih."
Sekarang giliran aku yang tertawa. "Manis apanya kak? Sepet iya..."
Kami berdua jadi tertawa bersama.
Beda banget sama kak Jessen. Kak Rio sangat ramah.
"Nanti aku antar pulang ya." Ajak kak Rio.
"Oh ngak usah kak. Ngerepotin."
"Enggak lah, masa ngerepotin. Kamu kan udah baik ke aku, jadi aku juga harus baik ke kamu dong."
Senyuman kak Rio sangat manis ke aku. Jadi hati ini sangat luluh lihatnya. "Oke deh kak." Aku mengiyakan ajakan kak Rio.
"Oke. Oh ya aku minta nomor kamu ya."
Aku memberikan nomorku. "Ini kak."
"Oke."
***
Sekarang udah jadwal pulang. Aku berjalan keluar koridor sekolah. Ngak sabar jumpa kak Rio.
Aku berjalan dengan tenang di koridor sekolah. Tapi ada tangan yang menarikku dari belakang. "Kau pulang bareng aku." Jessen menatapku dingin.
"Tapi kak, aku udah janji sama temanku." Sambungku sedikit kesal.
Jessen menatapku marah. "Kita pulang sama."
Arh... Lagi-lagi aku harus ngikutin apa kata Jessen. Nanti kalau dia ngambek bisa-bisa misi ini ngak bakal ada habis-habisnya.
Aku meraih ponselku dan menchat kak Rio.
"Maaf kak. Hari ini aku ngak bisa pulang bereng kakak. Ada yang perlu aku urus." Ketik ku pada Kak Rio.
"Yah... Okelah. Tapi besok harus pulang bareng."
aku langsung mematikan ponselku.
Aku menatap Jessen. "Besok aku sibuk. Jadi kalau kau mau pulang bareng aku, aku ngak bisa."
Jessen memandang ponselku sinis dan merebut nya.
Dia menekan sesuatu dan mengarahkannya ke telinganya. "Jangan pernah hubungi dia. Ngerti!"
Jessen mematikan teleponnya secara sepihak dan mengembalikan ke aku. "Ayo pulang." Katanya singkat lalu berjalan mendahuluiku.
__ADS_1
Udah dia yang ngajak pulang bareng... Dia malah jalan deluan! Dasar manusia rendah ahlak!