
Catatan penulis:
Hi guys... I am come back... Wkwk. Cuma mau ingatin aja. Jangan lupa di like, komentar dan kalau bis di vote dan di beri hadiah ya guys... Ingat loh guys... Like itu gratis... Jadi please dukung aku dengan mengapresiasi karya cerita aku ini yau...
Happy reading guys...
"Aaa... So sweet banget sih..." Pekikku setelah menonton drama yang romantis ini.
Cya memelukku sambil menggerakkan badanku ke kana ke kiri. "Aaa... Malah cogan banget lagi!!"
"Iyaaa.... Wuaaa..."
Cewek memang selalu begini ya... Wkwk.
Ngak pinter ngak bego kayak aku, sama sama histeris kalau lihat drama se romantis ini.
Setelah menonton kami langsung mencari siapa pemeran utama prianya.. Biasalah. Wkwk.
"Anjrit... Ganteng bawaan lahir sumpah." Jeritku.
"Hooh. Bisa begini yak... Makan apa coba mamanya waktu ngamilimnya. Haha."
"Iya. Ckck. Semoga jodoh sama aku." Kataku yang langsung di bereng sinis sama Cya.
"Eh. Aku juga mau kali."
Kemudian kami saling tertawa.
Ada aja tingkah kami memang.
"Eh. Cari backsound dramanya lah."
"Ashiapp..." Cya langsung mengetik ngetik di keyboard laptopnya.
"Wew..." Ucap kami serentak.
"Cogan juga anjrit..." Kata Cya.
"Ngak bisa ngomong apa apa lagi aku. Manis banget..."
"Udah ganteng pandai nyanyi. Ntar lagi aku bakalan ke rumah ni oranglah." Cya menunjuk wajah sang musisi.
"Ngapain?"
"Ngajak dia biar jadi imam aku. Awokawok."
Aku menggelengkan kepala. "Astaga, Cya Cya... Ternyata kau lebih parah dari pada aku. Hahaha."
"Hahaha."
Kami sedari tadi cekikikan ngak jelas. Padahal jam sudah sangat larut.
"Kita mau nonton lagi nih?" Tanya Cya.
"Sebenarnya aku mau... Tapi mataku ngak bisa di ajak kompromi. Ngantuk dianya. Lihat." Aku menunjuk mataku yang sedari tadi mencoba untuk melek melekan.
"Iya sih. Aku sebenarnya juga udah ngantuk."
"Hm. Iya kan."
"Udahlah. Kita tidur aja kuy. Besok kau mau pulang soalnya."
"Hmm. Iya. Kuy lah."
Kami pun membereskan semua perlengkapan menonton kami.
Selagi kami membereskan barang Cya di telfon oleh seseorang.
"Eh. Val. Sebentar ya." Dia meminta izin.
Aku mengangguk. "Iya."
Cya pun sedikit menjauhkan diri dari ku kemudian mengangkat ponselnya.
Aku kembali membersihkan barang barang yang berserakan tadi.
Sampah snack makanan kami aku masukkan dalam satu plastik. Dan membuangnya di tempat sampah yang tak jauh dari tempat ku.
Alat elektronik aku letakkan di meja belajar Cya dan akhirnya semua selesai.
Aku melihat ke arah Cya lagi. Dia juga telah selesai menelpon dan kembali berjalan ke arahku. "Cepat." Kata Cya memuji.
"Iya dong. Ngapain juga lama lama."
Cya terkekeh. Dan mengacungkan jempol. "Best banget lah pokoknya."
"Yuk lah langsung tidur. Kau tidur di kasurku ya.. Kita satu ranjang aja. Sekaligus biar kita bisa cerita cerita. Hehe."
"Oke.."
Kami pun beranjak ke kasur Cya. Setelah itu kami sama sama menatap langit langit kamar.
"Val." Panggil Cya.
"Ya.." Jawabku.
"Aku sebentar lagi di jodohkan."
Aku terlonjak kaget sampai aku menjadi ganti posisi jadi duduk. "Hah! Masa?!"
__ADS_1
Cya menatapku pasrah. "Hm."
"Ckck. Kaya Siti Nurbaya aja."
"Hooh. Sedih banget aku."
"Yah..." Aku menatap bawah sedih. Kemudian aku menatapnya dengan tersenyum. "Btw. Yang di jodohkan ganteng ngak?"
Pletak
Kepalaku di gaplak oleh Cya. Dia menatapku sambil menggeleng. "Gatel kau ya."
Aku memegangi kepalaku sambil tertawa. "Haha. Ya kali ganteng Cy. Kan lumayan. Whahaha."
Cya memegangi dagunya. "Hm.. Sebenarnya ganteng sih."
"Ah!! Mantep lah itu Cy! Gas dong..."
Pletak.
"Aduh."
"Enak ya kau kalau ngomong."
Aku terkekeh. "Bercanda."
"Hem. Iye lah tu." Cya menatapku acuh.
"Hehe."
Aku merangkul Cya. "Emangnya siapa sih namanya? Dan.. Kenapa kau ngak mau sama dia?"
"Sebenarnya aku bukan ngak suka sama dia. Tapi aku hanya ngak suka dengan acara penjodohan, aku mau aku saja yang memilih pasangan hidupku. Bukan orang tuaku."
"Hm.. Bener juga sih Cy. Aku kalau jadi kau juga ngak suka di gituin."
"Hm.."
"Btw. Tadi namanya siapa?" Aku masih kepo dengan namanya.
"Ah... Aku malas menyebutkan namanya. Kesal aku."
Aku mengangguk mengerti. "Dia juga udah kenal samamu?"
"Intinya untuk sekarang dia ngak tau kalau aku yang di jodohkan dengannya. Hanya aku yang tau mengenai perjodohan ini."
"Lah kok bisa?"
"Iya.. beberapa hari lalu itu aku pergi ke kantor papa. Aku ngak sengaja dengar papa dan rekan kerjanya itu membahas pertunangan kami."
Deg
Rasanya mendengar kata pertunangan sangat menusuk hati. Pikiranku kembali melayang membayangkan betapa sakitnya melihat Jessen di tunangan dan sekarang malah terdengar gosip dia akan menikah.
Beda dengan Cya yang sama sekali tak mengharapkan pertunangannya, pasangan Jessen sepertinya sangat mengharapkan pertunangan mereka dan sangat bahagia. Cih...
Menyebalkan sekali.
Cya melentikkan jarinya di hadapanku. "Hei. Kau bayangin apa?"
"Teringat Jessen."
Cya menepuk pundak pelan. "Kau harus semangat lah. Ngapain terus membebani diri dengan memikirkannya, lebih baik kau alihkan pikiranmu ke arah lain."
"Seperti?"
"Refreshing jalan jalan gitu, atau belajar, atau apa kek yang menyenangkan hatimu."
Aku mengangguk. "Iya Cya. Ngapain juga mikirin dia."
"Hm.. Lebih baik mikirin cogan film tadi. Whuahaha."
"Whuahaha. Bener."
Kami tertawa bagaikan komplotan iblis yang mendapat mangsa dengan bahagia. Whuahaha.
"Udahlah. Kita tidur lah sekarang. Besok kita lanjutkan."
"Haha. Iya iya."
Aku pun kembali membaringkan tubuhku dan kembali menatap langit langit kamar.
Huf... Semangat Val. Yok semangat.
***
Esok harinya aku pulang ke rumahku di antar Cya menggunakan mobil pribadi miliknya.
Setelah sampai Cya dan aku pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam halaman rumahku.
Aku mengetuk pintu dan di buka oleh nenek. Aku dan Cya pun menyalim nenek dengan sopan sambil tersenyum.
Nenek membalas senyuman kami. "Ngak masuk dulu Cya." Ajak nenek.
"Oh. Ngak apa nek. Cya mau langsung balik. Banyak kerjaan yang mau di urus nek." Kata Cya.
Hm. Sebenarnya aku agak aneh sih. Orang se-sultan Cya mau ngerjakan apa lagi di rumahnya?
"Cya balik dulu ya nek." Cya menyalim nenek. Dibalas anggukan kepala oleh nenek. Kemudian Cya melihat ke arahku. "Balik dulu ya Val."
Aku mengangguk. "Yoi.. Hati hati."
__ADS_1
Cya mengangguk. "Oke."
Dia pergi dan kembali mengendarai mobilnya.
Aku pun masuk ke dalam rumah. "Valen ke kamar ya nek."
Nenek mengangguk. "Iya."
Aku pun masuk ke kamarku. Aku bergegas ke kamarku.
Aku membaringkan tubuhnya di ranjangku. Hm... kepalaku sangat pusing.
Cahaya silau sekejap menerpa mataku. Aku menutup mataku beberapa saat kemudian membukanya.
Huf... Masih di tempat yang sama. Aku masih di rumahku dengan posisi yg yang sama, yaitu terlentang di kamar.
Aku menguling gulingkan badanku ke kanan dan ke kiri.
"Malas.. Aaa!!"
Aku shock lihat Jessen berdiri bersender di pintuku yang tertutup.
Aku membangkitkan badanku dari rebahan ini.
"Jeje Jessen?!"
Dia hanya diam.
Aku memukul kepalaku dan tertawa. "Astaga.. Begitu gilanya aku memikirkanmu sampai aku membayangkanmu datang ke sini. Hahaha."
Aku yakin ini hanya bayangan atau hanya sekedar halusinasi gilaku karena merindukannya.
Aku berjalan ke arahnya. Mendekatkan diriku padanya.
"Eh. Halusinasi ku. Kenapa sampai aku membayangkan mu segila ini hah?! Cih. Hahaha."
"Aku pasti sedang bermimpi di siang bolong."
Dia hanya diam tanpa kata.
Benerkan. Ini hanya halusinasiku. Sama seperti sewaktu dia mencium bibirku di malam hari di rumah ini waktu hujan saat Ken tertidur.
Tampak nyata tapi mimpi.
"Kau ngak merindukan ku, huh?"
Dia masih diam menatapku.
"Bahkan walaupun ini mimpi. Aku sangat senang kau hadir di sini."
Aku menarik tangannya dan mendudukkannya di ranjangku. Aku duduk di sebelahnya, aku duduk dengan menaikkan seluruh kakiku dan duduk menyilang memutar arah badanku sehingga badanku sekarang menghadap padanya.
"Aku sangat merindukanmu. Aku sangat mencintaimu." Ucapku manja.
Dia menatapku dan mengikuti posisi dudukku. Sehingga kami sekarang berhadapan.
Aku mendekat lagi padanya. "Jes. Ngomong dong."
"Mau ngomong apa?" Katanya datar.
Aku tersenyum. "Bilang. I love you kek..."
Dia tersenyum miring. "Cih."
"Hei. Ken saja bilang I love you padaku. Masa kau yang jelas jelas aku sukai malah jarang bilang gitu." Aku mengerutkan bibirku.
Wajahnya berubah menjadi datar. "Terus. Kau bilang apa ke dia?"
"Ya aku tolak lah. Aku bukan Fuckgirl pengincar pria lain selagi cowok yang ku cintai pergi."
"Kau yang malah selalu menyakitiku. Malah mau menikah lagi dengan mantan tunanganmu itu." Sambungku.
Dia mendekatkan wajahnya padaku dengan menumpukan badannya pada tangannya yang sekarang mengapit badanku.
Deg
"Kau sangat mencintaiku?" Tanya nya.
"Ngak. Aku benci kau."
Dia terkekeh dengan jawabanku.
"Tadi kau bilang cinta padaku. Sekarang benci. Ngak jelas." Katanya.
Aku melingkarkan tanganku ke leher Jessen. "Kenapa sih kau malah pergi? Kau memang mau menikah?"
"Aku takkan menikahinya. Aku mencintaimu."
Aku terkekeh. "Dasar mimpi gila. Bisa bisanya aku membayangkan Jessen mengatakan ini."
Aku mengerakkan kepalaku ke kanan dan ke kiri manja sambil bertingkah manja. "Andai ini nyata."
Dia tersenyum dan mencium bibirku sekejap.
Deg.
Dia semakin mendekat dan memelukku.
"I love you." Katanya sambil tersenyum kecil.
Kemudian kesilauan kembali datang membuatku menutup mata kemudian sesaat itu aku membuka mataku lagi.
__ADS_1
Aku melihat langit langit kamar dengan posisi terlentang.
Aku menghembuskan nafas berat. "Ternyata benar ini mimpi."