
Catatan penulis:
Jangan lupa di like, vote dan di beri hadiah ya...
Happy reading guys 🤗
Â
...7 Tahun Kemudian....
"Ya pak. Maaf pak." Aku terus meminta ampun kepada Dokter senior yang ada di hadapanku, sedang kami ada di ruangan kerja bersama beberapa rekan seangkatanku.
"Kau ini gimana sih. Masa mengerjakan itu aja ngak bisa becus!" Dia membentakku dan menamparku dengan kata kata kejam Jang menusuk hati. Dia terus mempermalukanku di depan umum.
"Kau pikir dengan bertindak ceroboh menjatuhkan alat medis di hadapan pasien itu bisa di ampuni apa?! Itu bakalan membuat pasien men-judge kita sebagai petugas medis yang tak kompeten!" Sambungnya dengan kata kata kasar lainnya.
Kupingku sangat panas.
Ni orang kaya ngak pernah buat kesalahan aja. Cih.
"Kenapa matamu melotot melihatku. Tak terima apa?!"
Iya! Memang aku ngak terima!
Pekikku dalam hati. Tapi aku ngak mungkin membantah, dia pasti takkan mengampuni ku.
"M maaf pak. Sekali lagi saya minta maaf." Aku masih memohon.
"Memangnya maaf bisa membalikkan waktu dan menghapus kesalahan yang telah kau perbuat! Dasar amatiran!"
Aku masih berusaha menahan emosiku.
Dia melipat kedua tangannya di dada dan menatapku tajam. "Kalau ngak bisa jadi dokter. Ngak perlu memaksakan diri jadi dokter!"
Emosiku pun naik puncak mendengar kalimat terakhirnya yang sangat merendahkan ku.
"Kenapa rupanya kalau aku memaksakan jadi dokter?! Itu bukan urusanmu!" Pekikku.
Semua mata menatapku sambil tercengang karena ucapanku barusan.
Dia sedikit terkejut melihat diriku yang seketika berubah 180 derajat dari sikap diamku tadi, kemudian dia menatapku tajam.
"Apa?!" Aku menghentak ya. "Kau pikir kau keren dengan gaya senioritas mu itu?!" Aku menunjuknya. "Kau pikir aku takut denganmu apa?! Kau hanya lelaki cerewet yang ngak punya hati!" Makiku.
Nafasku mengebu-bebu mengeluarkan emosiku dari lubuk hati terdalamku yang sangat tersakiti.
"Apa hakmu melawanku?! Kau belum bahkan tak ada pengalaman baik dalam menangani pasien. Masih mau sombong huh?!"
Sebenarnya memang iya, selama ini aku selau teledor dalam bekerja karena aku memang sering kurang fokus.
Aku menatapnya tajam. Ingin memakinya juga. Tapi apa yang mau aku maki dari pada dia, dia tak pernah terlihat berbuat kesalahan. Dia juga sangat teliti dalam bekerja. Tapi, aku sangat meyakinkan pasti dia pernah melakukan kesalahan juga.
Dia menaikkan alisnya. "Kenapa? Ngak mendapati kesalahanku huh?" Katanya.
B bagaimana dia tau?
Aku jadi sedikit canggung.
Dia menarik tanganku dan membawaku ke suatu tempat.
***
Kami tengah ada di luar rumah sakit. Dia membawaku ke rumah makan yang berada di dekat rumah sakit tempat kami bekerja.
Aku duduk berhadapan dengannya, sedang dia menatapku dengan tajam.
Walaupun dia tampan, aku tak memiliki sedikitpun rasa kagum pada dirinya. Dia terlalu jahat dan kejam dalam berkata-kata, aku tak suka lelaki sepertinya.
"Kenapa? Tatapanku menganggumu?" Katanya sinis.
Cih. Aku membuang wajahku ke sembarang arah jengkel. Kemudian melihatnya lagi. "Untuk apa kau membawaku ke sini."
"Kau ngak lihat ini tempat makan?! Berarti ya mau makan lah."
Lihat kan... Cerewet banget... Cewek apa cowok sih... Lemes amat tu bibir.
Aku memainkan ponselku untuk mengalihkan emosional ku yang mau meledak.
Set.
Dia mengambil ponselku. "Di ajak makan malah main hp. Gimana sih?!"
Kenapa sih ni orang emosian banget?!
Tenang Val. Jangan sampai kau bogem anak orang di tempat umum ini.
Pelayan datang ke tempat kami. "Pesan apa mas, mbak?" Tanya pelayan sambil melihat kami secara bergantian.
"Saya Ayam bakar dan minumannya jus jeruk." Katanya singkat.
__ADS_1
Oh iya... Btw, nama di judes ini Tian. Kalau aku buat nama kepanjangannya adalah KemaTian! Mampus!
"Kalau mbak pesan ap.."
"Samain aja." Sambungnya cepat sebelum aku memesan sesuatu.
"Aku ngak mau."
"Kenapa?"
"Karena aku ngak mau di samakan dengan mu dalam apapun itu!" Akhirnya keluar juga sedikit emosional ku.
Aku menatap pelayan. "Aku pesan bakso dan jus alpukat. Titik ngak pake koma."
Sang pelayan mengangguk sedikit kaku karena aku mengatakannya dengan nada tinggi seperti memarahinya.
"M maaf mas. Saya ngak marah sama mas." Kemudian aku melirik tajam Tian. "Tapi si judes ini!" Sekali lagi aku melihat ke arah pelayan dengan ramah sambil melipat tangan memohon maaf. "Maaf ya mas."
"Eh. Iya mbak."
Sang pelayan pun pergi dengan langkah kaki yang sedikit di percepat, takut terlibat pergaduhan kami.
Karena aku malas melihat wajah si Tian. Aku lebih baik membaca buku menu yang ada di dekatku.
Set.
Dia mengambilnya lagi.
"Apa sih?!" Bentakku marah.
Dia hanya menatapku datar dengan senyuman miring.
"Apa?!" Aku kembali membentaknya.
Ntah kenapa nafsu makanku sangat menurun di siang hari ini padahal aku sangat lapar.
"Apa aku sejudes itu?"
"Iya lah." Ucapku lantang.
"Aku bakalan berhenti judes kalau kamu yang minta."
Huh?!
"Kamu kamu... Sok baik kau." Aku menyorotnya tajam. "Aku tau maksud terselubung dari kebaikanmu. Pasti ada niat busuk yang kau rencanakan kan." Aku menduga dengan keyakinan 1000% pasti benar.
"..."
Aku menatapnya aneh. Dia diam?
"Kenapa diam?! Ngak usah sok baik deh!"
"..."
Aku membuang wajahku. "Terserahmu lah. Mau kau diam atau tetap judes aku tak peduli. Itu masalahmu sendiri." Aku kembali menarik buku menu dan membacanya lagi.
.
.
"Kau marah?" Katanya lembut.
Tumben.
"Apa urusanmu?!" Aku tak mau terpoprokasi kebaikan nya yang tiba-tiba.
"Jangan marah. Nanti cepat tua."
"Bodo amat! Biar aja aku cepat tua, itu bukan urusanmu!"
"Valen." Ucapnya lembut.
Dia manggil namaku?
Dia kok jadi aneh sih?
Biasanya kerjaannya menghina.
Aku tak menggubris dan pura pura tak mendengarkan.
Dia berdiri dan beranjak berjalan ke sebelahku dan duduk di bangku yang berada di sebelahku.
Aku melihatnya tanpa menolehkan kepalaku.
"Val. Kalau aku berubah. Kau mau ngak jadi pacarku?"
Aku menyerngitkan dahiku heran dan kembali membaca buku menu yang ada di hadapanku.
"Val."
__ADS_1
"Apa sih."
Dia berdecak kesal. "Masa harus di ulang sih bilangnya." Dia mengambil buku yang ada di hadapanku dan menaruhnya di sisi lain meja makan kami. "Jadilah pacarku."
Pikiranku melayang mengingat kejadian percintaanku dengan Jessen. Rasa remuk dan hancur yang ku rasakan dulu tak dapat di maafkan. Aku bahkan sangat trauma mencintai seseorang, aku tak ingin tersakiti lebih berat lagi dan lebih dalam lagi.
"Aku ngak bisa."
Dia menatapku kecewa. "Kenapa?"
"Aku membenci cinta."
"M maksudnya Val?"
"Kau takkan mengerti. Aku hanya tak bisa mencintai siapapun sekarang."
"Tapi Val, aku.."
"Maaf. Aku ngak bisa membalas cintamu." Aku menepuk bahunya pelan. "Carilah wanita lain yang lebih baik dari padaku. Aku bukan yang terbaik untukmu."
Aku berdiri dan pergi dari tempat ini.
Eh tunggu. Tadi aku udah pesan ya kan...
Aku ke kasir dulu untuk bayar. Walaupun baku ngak jadi makan.
***
Aku menelpon Cya sedang aku sedang dinas malam di rumah sakit.
"Hai beb." Katanya
"Hi..."
"Kok lemes banget suaranya? Sakit?"
"Ngak beb, cuma banyak pikiran aja."
"Hem.. gitu... Eh, oh iya. Gimana kerjaanmu beb? Lancar?"
"Lancar." Aku sedih menganguk. "Ngantuk banget, ada dinas malam aku nya.."
"Oalah. Pantes toh... Lemes karena ngantuk rupanya."
"Iya... Hehe."
Sebenarnya aku sedikit berbohong. Aku lemes bukan hanya ngantuk, tapi banyak pikiran tugas dan bercampur dengan mikirin flashback cerita cintaku yang sangat miris dengan Jessen.
"Hehehe. Sebenarnya aku juga lagi dinas malam ini. Whuahah."
"Oalah. Sama dong."
"Hehe, untung kau nelpon. Aku sangat bosan soalnya."
"Iya kan..."
"Hooh." Setelah Cya bicara terdengar suara bising dari telfon Cya.
"Kenapa itu Cy?"
"Eh. Nanti kita sambung ya Val. Ada pasien yang perlu di urus ini."
"Ah. Iya beb. Lanjut lanjut."
"Oke beb. Bye."
"Bye."
Dia pun mematikan ponselnya dan meninggalkanku dengan kekosongan.
Aku menghembuskan nafas berat.
"Eh ada pasien baru datang itu."
"Oh iya... Siapkan semua peralatan yang di perlukan."
Semua sibuk dengan pekerjaan mereka aku pun langsung mengambil bagian yang perlu aku kerjakan.
"Val. Coba cek tabung oksigen. Siapkan perlengkapannya. Pasien kita dalam kondisi parah." Kata rekan kerjaku.
Aku pun langsung mengambil peralatan yang perlu dan mengecek keseluruhannya.
Sret sret sret srererettt
Terdengar suara roda ambulance strecher (alat yang digunakan untuk membawa dan memindahkan pasien yang tidak dapat berjalan atau kesulitan berjalan) yang bergerak mendekat ke arahku yang sedang berada di koridor rumah sakit.
Deg...
Jessen?!
__ADS_1