Magic You

Magic You
Chapter 107


__ADS_3

"Jessenn.... Aku cape banget..." Kata Valen manja sambil memeluki Jessen yang tengah sibuk mengerjakan tugas kuliahnya.


Jessen tersenyum kecil dan menoleh ke belakang melihat Valen yang mengenakan pyama tidur nya. "Tidur luan gih... Besok kan masih MOS."


Valen mendengus kesal mengingat doa besok harus kuliah juga. "Hm.."


Valen menegakkan badannya dan melepas rangkulannya kemudian berbalik berjalan ke ranjang. Namun langkah Valen terhenti mengingat sesuatu. "Oh ya." Valen kembalikan badan. "Temen kamu yang namanya Ken itu.."


Mendengar nama Ken Jessen langsung kesal. Jessen tak suka kalau istrinya menyebutkan nama lelaki lain selain daripada nya. "Ken apa." Tanya Jessen datar.


"Kok marah.." Valen bingung.


Jessen bangkit dari bangkunya dan langsung memeluk Valen. "Ngapain sih bahas dia. Dengar nya sayang. Aku ngak suka kamu nyebutin nama lelaki lain."


Valen terkekeh. "Apa sih sayang. Aku cuma mau nanya, kamu itu ada ngasih tau kalau kamu udah nikah ya ke dia?"


Jessen mencoba mengingat. "Oh. Iya. Kok kamu tau?"


"Iya.. Tadi waktu aku di hukum sama dia karena alasan nggak sopan sama senior, dia menyita ponselku. Terus dia terkejut lihat wallpaper ponselku yang foto kamu. Nah.. dia langsung cetus bilang aku ini istri kamu."


"O.. baguslah kalau dia tau. Jadi ngak perlu gangguan hubungan kita." Jessen memutar matanya kesal.


Valen tersenyum melihat suaminya. "Kok jadi bete sih yang..."


"Biarin." Jessen menatap Valen malas.


Cup


Valen mencium bibir Jessen singkat. "Jangan bete gitu. Jelek."


Jessen tersenyum kecil. "Jelek jelek gini aku suamimu."


Cup


Jessen mencium bibir Valen.


***


Cya berjalan dengan santainya di koridor kampus hendak ke kantin. Well, dia sangat lapar sekarang. Tapi pagi belum sarapan.


Sebenarnya dia sangat kesal hari ini. Terutama orang tuanya berisi keras untuk menjodohkan nya dengan pria yang menjengkelkan. Sebenarnya Cya belum sepenuhnya mengenal pria itu, Cya cuma bertemu dia saat MOS yang di adakan beberapa hari yang lalu. Namun sungguh, pria itu sangat songong. Bagaimana dia bisa bertahan dengan pria songong sepertinya nanti!


Cya tau wajah pria ini karena tingkat kekepoan Cya. Mendengar pembicaraan orang tua mereka kemarin. Cya jadi kepo dan langsung searching mengenai lelaki itu. Tapi dia malah menyerngit shock bercampur sebal karena mengetahui siapa sebenarnya siapa pria itu.


Ken dengan membawa banyak berkas yang berkaitan dengan kegiatan organisasi kampus berjalan agak tergesa gesa pasalnya berkas ini harus di berikan sekarang juga.


Bruk


Semua berkas terjatuh dan semua dokumen berantakan.


Cya melihat pria itu


"Arh.. ini semua karena kau!" Jerit Ken menyalahkan Cya.


Benerkan songong. Pikir Cya.


Tessa mengerutkan dahinya dengan ekspresi datar ala Cya. "Huh?"


"Ih! Udah salah ngak merasa berdosa pula itu.." Desis Ken geram.


Cya yang lagi malas berdebat hanya mengankat bahunya acuh dan kembali berjalan.


Ken yang melihat itu jadi geram. "Woy! Tanggung jawab!"


Cya yang merasa tak di panggil terus berjalan.


Ken menggertakkan giginya. "EH CEBOL!! UDAH DI BILANG TANGGUNG JAWAB YA TANGGUNG JAWAB!!"


Cya menghentikan langkahnya. Mendengus sekali dan membalikkan badannya menatap dingin Ken sembari melipat tangannya di dada. "Kau hamil makanya aku harus tanggung jawab hm."


"Huh?! Bukan itu cebolll... Ini dokumen ku berantakan semua karena ulahmu!!"


Cya memutar bola matanya malas. "Ntah siapa yang tadi grasak grusuk jalannya... Cih. Ngak sadar diri."


Jreng!!


"Eh cebol! Kau masih junior aja udah cari gara gara ya!" Mata Ken melotot tajam.


Lagi lagi Cya mengedikkan bahunya acuh dan kemudian membalikkan badannya dan kembali berjalan meninggalkan Ken.


Ken ingin mengejar dan menggantung cewek songong yang baru di jumpainya ini di pohon beringin. Tapi Ken mencoba menenangkan diri dan kembali menyusun laporan ini dari pada membuang waktu dan malah hambatan bagi pekerjaan nya.


***


"Hi Val!!" Jerit Cya dari jarak jauh pada Valen yang tengah asik menyeruput teh manis hangat di kantin kampus.


Sudah dua minggu lamanya mereka menjalin pertemanan di perkuliahan. Cya sangat senang bisa bertemu dan dapat sangat akrab dengan Valen, pasalnya Valen adalah orang yang baik dan ngak jaim.


Valen menoleh. "Eh Cya! Sini sini!" Ajak Valen seraya melambaikan tangan memanggil nya.


Cya duduk di sebelah Valen sambil tersenyum riang. "Eh Val tau ngak?"


Sepertinya ada gibahan baru.


Valen mencondongkan badannya ke kanan mendengar kan secara fokus. "Apaan?"


"Semalam aku lihat cogan!" Pekiknya pelan. Sesaat setelah itu raut wajah Cya jadi masam. "Tapi.. Dia playboy."


Valen terkekeh. "Wajar kali... Namanya juga cogan. Cogan mah bebas."


"Ish.. Tapi kesel tau.. Mukanya udah pas banget sama artis cowok idaman aku Val... Aku ngak ridho kalau dia jadi cabe cabean versi cowok." Kesal Cya.


Valen merangkul Cya. "Santai sis. Kau kan cantik. Ngapain juga ngejar cowok."


Cya menyerngit jijik. "Idih... Ngapain juga aku ngejar cowok Val. Dengar ya sayang. Aku cuma suka aja lihat mukanya... Gak nyangka ada yang mirip idol idaman aku. Impresif." Cya tersenyum sumringah. "Lebih dari pada itu engak lah."


Valen menganguk sambil tersenyum. Iya juga, Cya mah bukan sembarang cewe. Dia bukan sembarang orang yang bisa mencintai seseorang dalam sekejap mata atau bisa di bilang 'cinta pada pandangan pertama', itu bukan tipe Cya banget.


"Terus rencana mu apa?" Tanya Valen penasaran.


"Ya ngak ada. Cuma mau cerita ini doang. Hehe." Cya nyengir.


"E eleh... Kirain apa toh mbak... Mbak.."


Valen kembali menyeruput minuman nya.


Ken berjalan ke kantin dan memesan sesuatu di sana. Arah matanya menyisir sudut kantin untuk mencari bangku kosong.


"Valen?... Ke situ aja kali ya." Ken berjalan ke arah Valen yang asik bersandagurau dengan Cya.


Kteng


Ken meletakkan mangkuk bakso nya, "Oy.." Sapa Ken sembari duduk di hadapan Valen.


"Sendiri aja. Mana couple nya." Ken cengengesan sedangkan Valen memutar mata kesal.


"Apasih Ken. Alay banget." Ucap Valen tanpa minat.


Ken terkekeh kemudian terdiam dan mendengus kesal karena melihat Cya. "Ngapain kau di sini. Ngerusak pemandangan aja."


Cya menatap Ken intens. Dalam pikiran Cya, ini orang yang ngeselin tadi ya kan?


"Apa. Ganteng kan aku." Ken menyisir rambut nya ke belakang.


"Huh? Cih," Cya bangkit berdiri karena malas meladeni Ken.


Arah mata Cya beralih ke Valen, "Aku balik dulu. Males lihat senior yang suka tebar pesona dengan cara menjijikan." Cya berbalik dan pergi.


"Eh cebol! Songong kau ya!" Jerit Ken tanpa di perdulikan oleh Cya yang terus berjalan.


"Sini kau Cebol! Jangan buat aku kesal!"


Ken masih di kacangi karena Cya terus berjalan.


Nafsu makan Ken benar benar tak sedap hari ini. Rasanya dia sangat ingin mencekik Cya.


"Val. Aku tinggal dulu. Aku harus ngasih pelajaran dulu sama si Cebol!"


Kata Ken langsung berdiri dan berjalan meninggalkan Valen tanpa menunggu jawaban Valen.


Cya yang jalannya cukup cepat sudah terlampau jarak cukup jauh dari kejaran Ken.


"Eh Cebol!"


Cya sangat kesal di panggil Cebol!  'Emangnya aku kerdil apa?!' Batin Cya.


Dreb


Lengan Cya di tarik oleh Ken membuat Cya berbalik dengan paksa.


Cya menepis tangan Ken dan menatap nya dingin. "Apa."


"Eh Cebol. Kau ngak punya tata Krama ya!"


"Kalau engak kau mau apa." Cya menantang.


Ken membolangkan matanya kesal. "Cebol!!"


"Apa hm. Kau mau apa?"


"Kau nantang!"


"Tau. Pikir aja sendiri." Cya membalikkan badan dan pergi.


"Cebol!!"


Cya tak perduli dan terus berjalan.


Ken kembali berjalan dengan hentakkan kaki dan kembali menarik tangan nya kasar.


"Cebol!!"


"Jangan panggil aku cebol." Cya menatap Ken tajam.


Ken melihat Cya tiba tiba kesal karena terus menerus di panggil Cebol merasa puas.


"Oh... Ngak suka ya..." Ken meledek. "Cebol..."


Cya menatap Ken kesal.


Ken merasa sangat senang. "Cebol cebol cebol... Ble ble ble..." Hina Ken.


"Kau sudah ku peringatkan." Cya kali ini benar benar marah.


'Hm. Emang enak di buat kesal,' Batin Ken.


"Kenapa? Kau kesal?... Marah?... Whuahaha... Rasain!" Ken tertawa puas. "Cebol cebol..."


Cya mendekat kan tubuhnya dan menatap tajam Ken. "Jangan. Panggil. Aku. Cebol. Kalau ngak.."


"Apa. Kau akan menciumku huh?" Kalimat Ken membuat Cya terdiam.


Ken terdiam sejenak. Kembali meriview kata kata nya. 'Apa aku sudah tak waras?' Ucap Ken dalam hati.


"M-maksudku. Itu." Ken jadi salting.


Cya tersenyum miring misterius. "So. Kau Ingin ciuman hm?"


"H-huh?..."


Cya memegang tengkuk Ken lembut dan mendekatkan wajahnya. Cya coba untuk bermain main mengerjainya sekaligus melihat reaksi Ken.


Ntah kenapa Ken tak menolak sentuhan dan pergerakan Cya padanya bahkan Ken perlahan menutup matanya. Tak pernah dalam sejarah hidup Ken dia semudah ini menerima sentuhan wanita terhadap dirinya.


Cya tersenyum hambar melihat Ken yang menurut Cya sangat menjijikan. Mengetahui betapa buayanya Ken yang mudah tergoda dengan wanita membuat Cya muak!


Setan apa yang merasuki Ken sekarang yang membuat dia semakin mendekat dan melingkarkan tangannya di pinggang Cya dengan lembut.


Cya menatap Ken sungguh kesal!


Ktak


Cya menjitak kepala Ken membuat sang empunya kepala meringis. "Sakit."


"Mampus." Cya mendorong Ken dan pergi.


Ken melihat Cya yang pergi. Kemudian mengusap wajahnya menyadarkan diri. "Apa sih Ken?! Setres ya?!" Ken kembali mengusap wajahnya dan membalikkan badannya kembali ke kelas.


***


"Ha?! Tunangan?!" Pekik Ken.

__ADS_1


Carry menganguk sambil melipat kedua tangannya di dada. "Yup. Kamu harus segera di tunangkan sama pilihan mama."


"Ngak bisa gitu dong ma. Ken kan punya pilihan sendiri." Gerutu Ken tak terima dengan paksaan mamanya.


"Kalau mama udah milih. Jangan di bantah. Kamu pikir nama ngak inget waktu kamu bohongin mama dengan membawa pacar bayaran kamu dulu."


Ken mendesis menyesal. Yup, Ken pernah berbohong ke mama sebelum nya, Ken terpaksa membawa pacar sewaan pada acara pernikahan sepupu Ken karena sebenarnya Ken ngak sudi di ledekin bujangga tua karena sepupunya yang lebih muda sudah menikah deluan.


Dan hal yang memalukan adalah ternyata cewe itu ternyata mantannya  pacar bayaran temennya sepupu Ken yang hadir juga di situ. Temannya sepupu Ken yang sangat ember membuka cerita mengenai cewe itu sebenarnya adalah cewe bayaran.


Well... Malu banget kan. Oleh sebab itu mama Ken tak ingin Ken uang memilih pasangan hidupnya karena di anggab tak realistis. Sehingga semua keputusan mengenai pasangan hidup Ken, mama Ken yang harus turun tangan.


"Ma.. pleaseeee..." Mohon Ken.


"Ngak. Ikuti kata mama. Itu yang terbaik."


Ken hanya mendengus kesal. Tak menjawab A ataupun B, Ken langsung pergi ke kamar nya.


'Lihat aja. Aku bakalan batalin pertunangan nya.' Batin Ken.


***


"Ken! Udah siap belum?!" Jerit mama dari lantai bawah.


Ken mendengus. "Iya. Sebentar." Balas Ken.


Segera Ken keluar dengan setelah kemeja biru gelap lengan panjang yang rapi, sangat cocok dengan postur  dada Ken yang bidang dan tegap serta tampak cocok dengan kulit Ken yang tak terlalu gelap. Celana panjang hitam berpadu dengan sneaker coklat gelap.


"Ganteng banget anak mama." Mama terkagum.


Ken tersenyum renyah. 'Lihat aja, aku ngak bakalan mau tunangan sama tu cewek. Aku bakal buat dia ngak betah.' Kesal Ken dalam hati.


***


"Eh. Nyonya Tuan dan Raden sudah datang. Sebentar ya, saya akan panggilkan Nyonya dan Tuan besar." Sapa pembantu rumah tangga sopan.


Keluarga Ken pun mengangguk. "Terimakasih bi."


Bibi pun segera ke dalam memanggil yang bersangkutan.


Selang beberapa lama orang Tua Cya keluar dan menjumpai keluarga Ken. "Eh... Udah datang. Masuk masuk..." Yasmin dan Albert menyapa dan mempersilahkan mereka masuk.


Kedua orang tua saling bersanda gurau saat berjalan menuju ruang tamu. Semua bahagia kecuali satu orang. Ken.


"Sayang... Ayo turun. Calon kamu udah datang nih." Kata Yasmin antusias.


Cya terpaksa harus turun dan meninggalkan film yang barusan di tontonnya.


"Ish. Padahal lagi seru serunya." Gerutu Cya pelan kemudian berjalan menuruni tangga.


Cya terpaksa turun dengan perlahan karena baju dress yang di kenakan nya. Cya sangat tak terbiasa dengan menggunakan Dress saat beraktivitas, menurut nya jadi cewe sangatlah merepotkan.


Mata Mama Ken berbinar saat melihat Cya yang sangat cantik dan elegan turun dari tangga.


Sedangkan Ken ternganga. Ternganga karena,... DAMN! ITU SI CEBOL!... Kira kira begitu lah yang di pikirkan Ken.


Cya menatap tajam Ken dan membuang wajahnya. Seketika rasanya matanya menjadi kotor karena melihat seorang cowok yang menurut Cya adalah berengsek.


Akhirnya keluarga mereka pun saling duduk berhadapan.


Kedua orang tua saling mengobrol. Tapi lagi lagi Cya menatap sinis Ken, tapi karena Cya terlalu muak. Dia akhirnya membuang wajah malas.


Ken memperhatikan wajah Cya. 'Ni cebol bisa jadi cewe juga rupanya.'


"Ken." Panggil Yasmin.


"I-iya Tante."


"Ajakin tu jodoh kamu keluar. Cupu banget soalnya." Ledek Yasmin pada anaknya sendiri yang di balas plototan Cya.


"Ma." Ucap Cya tak suka.


Ken langsung mengambil kesempatan ini. "Baik Tante." Ken tersenyum manis tapi menurut Cya itu adalah tipu muslihat.


"Ngak aku di sini aja." Bantah Cya.


'Ni Cebol masih keras kepala juga ya.' gerutu Ken dalam hati.


Ken langsung berdiri dan berjalan ke arah Cya. Mengankat tangannya se-arah dengan tatapan Cya kemudian tersenyum. "Ayo."


Cya menepis pelan dan langsung berdiri. "Aku ngak lumpuh. Ngak perlu di pegangin."


Ken kembali menarik tangan nya sedangkan Cya di plototin mamanya. Cya menatap mamanya dengan wajah polos. "Ya bener dong ma. Kaki Cya kan masih berguna dengan baik. Ngak baik menyusahkan orang kan ma?"


Mama Cya mendengus sabar sedangkan kedua orang tua Ken sedikit terkekeh.


'Anak ini unik.' Pikir Mama Ken.


'Gak salah istri ku pilih menantu.' batin papa Ken.


Cya berjalan meninggalkan ruangan kemudian berhenti dan menoleh melihat Ken yang masih diam memperhatikan Cya. "Jadi ngak? Kalau ngak jadi aku mau balik ke kamar. Banyak kerjaan."


Ken pun berjalan ke arah Cya dan kemudian mengandengnya.


Cya menatap Ken dingin. "Kau ngak denga..."


"Stt.. Aku calonmu. Jadi harus nurut."


Ken melolehkan kepalanya ke arah kedua orang tua mereka. "Pa ma dan kedua calon mertua. Kami pergi dulu ya.." Izin Ken di balas oleh senyuman dan anggukan mereka.


"Hati hati sayang..."


"Oke..."


***


"Ngapain ke sini." Tanya Cya.


"Ya iya... Kan kalau cewe cewe mah suka ke mall kan?"


"Aku ngak suka."


Ken memegangi dagunya. "Ckck. Perlu di ragukan jenis kau."


Cya hanya memutar bola mata. "Malas ngomong samamu. GJ."


Cya berjalan namun di tahan Ken dengan memegangi kerah baju Cya. "Ei.. tetetettt... Mau ke mana?"


"Bukan urusanmu."


"Bego amat." Cya berjalan lagi tapi kembali di tarik Ken.


"Ei... Keras kepala banget sih."


Cya mendongak. "Kalau lembek bukan kepala namanya."


Ken berdecak kesal. Kemudian tersenyum. "Eh. Gini gini aku calon suami mu loh. Jadi kau harus lemah lembut padaku. Mau aku cari istri baru nanti."


"Cih. Emangnya udah pasti nikah? Kan enggak."


"Ck. Dasar kuper."


"Dasar sok ganteng."


"Tembem."


"Tiang listrik."


"Ngeselin."


"Oh. Aja."


"Ish... Cebol!"


Kali ini Cya sungguh sangat kesal. Dia sangat benci di bilang Cebol. "Aku ngak cebol!"


Ken tersenyum kecil. 'Oh... Ternyata ini kekesalan nya. Dia ngak suka di bilang cebol hm.'


Ken merundukkan badannya. "C-E-B-O-L. Cebol."


Wajah Cya semakin merah. Dia sangat marah.


Ken suka ekspresi Cya sekarang. Terlihat lebih imut, jauh berbeda dengan Cya yang di kampus.


'Tenang Cya. Kalau kau marah begini malah membuat dia semakin senang untuk membullymu.' batin Cya. Cya menarik nafas panjang dan mengeluarkannya. Kembali Cya memasang wajah datar.


"Terserah." Cya menatap depan tak perduli.


'Yah... Segitu doang marahnya? Gak asik.' Batin Ken.


"Cebol."


"..." Cya diam.


"Cebol cebol."


"..."


"Siapa namamu huh?"


'Cih! Bahkan dia tak mengenal namaku! Calon macam apa dia?! Buat makin kesal aja!' Dengus Cya kesal dalam hati.


"..."


"Di jawab kali."


"..."


Ken jadi merasa bersalah. "Marah?"


"..."


Tanpa menjawab Cya pergi meninggalkan Ken.


Tak mau di tinggal, Ken mengikuti Cya.


Cya pergi ke toko buku di mall. Dari pada harus meladeni Ken yang nyebelin.


Cya masuk ke dalam toko dan mengambil beberapa buku sambil sesekali membaca sinopsis cerita novel yang di pilih nya.


Ken melihat buku yang di pilih Cya. Ken cukup terkejut dengan pilihan buku Cya.


'Bukannya cewe culun suka baca buku mata pelajaran ya? Kok malah buku romans?' pikir Ken.


"Kenapa suka itu?" Tanya Ken penasaran.


"Terserah aku."


Ken juga melihat Cya mengambil buku yang bertolak belakang dengan fiksi sebelumnya. Novelnya yang di ambil berfiksi petualangan dan misteri.


"Kok beda jenis?"


Cya menatap Ken. "Diam. Jangan banyak nanya."


Ken memutar matanya malas.


Beberapa buku telah di ambil Cya. Ada 10 buku novel yang di beli, 2 romansa, 5 misteri, dan 8 buku pelajaran.


Ntah untuk apa buku sebanyak itu.


"Emang mau di baca semua?"


"Ish. Cerewet." Cya langsung mendorong bukunya yang di dalam tas buku ke arah Ken. "Bawa ini. Dan ikuti aku."


Kalau ngak karena biar Cya ngak marah, Ken ngak bakalan mau.


'Wait... Kenapa aku jadi begitu perhatian dengan perasaan si Cebol?' Batin Ken.


Meraka berjalan menuju kasir.


Mbak kasir yang melihat Ken tersipu malu karena ketampanan Ken sedangkan Ken hanya memperhatikan buku yang sedang di hitung pembayaran nya.


"S-semuanya Rp.365.000 mas." Kata si mbak grogi.


Ken langsung merogoh dompetnya mencari kartu kredit.


Cya langsung menyodorkan kartu kredit nya. "Ini mbak."


Ken menatap Cya. "Aku aja yang bayar."


"Ngak perlu. Ini bukuku." Cya kembali melihat si mbak yang bingung mau pilih siapa yang seharusnya bayar. "Pakai kartu saya aja mbak. Segera ya mbak."

__ADS_1


Mbak kasir mengangguk dan langsung menggesekkan kartunya kemudian kembali memberi kartu tersebut. "Terimakasih atas kunjungan mbak."


Cya mengangguk kemudian mengambil plastik buku yang telah di kemas oleh sang kasir dan memberikannya ke Ken. "Bawa."


"Eh. Kau pikir aku babu apa." Ken mulai tak terima.


"Ikuti aja."


"Ngak mau." Ken kembali menyodorkan plastik yang berisi buku-buku.


'Kalau dia minta baik baik. Aku pasti mau bawain.' Harap Ken.


Cya kemudian mengambil plastik buku nya. 'Ya udah kalau ngak mau.' batin Cya.


Ken kembali menarik plastiknya kesal, "Ngak peka banget sih jadi cewe."


"Kau ngak jelas. Tadi ngak mau bawaain, sekarang malah mau dan marah marah."


Mbak kasir terkekeh kecil melihat mereka berdua.


Ken melihat mbak kasir. "Ngak peka banget kan mbak." Ken mengadu.


Mbak itu hanya tersenyum.


Ken kembali melihat Cya kesal.


Cya mendengus malas. "Intinya gini. Kau mau bawain bukuku atau tidak. Ngak usah banyak cerita karena aku banyak kerjaan."


"Ck. Iya iya." Jawab Ken dengan nada kesal.


"Hm." Cya kembali berjalan meninggalkan Ken.


"Lah. Kok di tinggal. Ish..."


***


Drett


Ponsel Ken berdering.


Mama.


Ken mengangkat ponselnya. "Halo ma?"


"Halo Ken. Gimana jalan jalani sama Cya?"


'Oh... Cya namanya.' Ulang Ken dalam hati.


"Biasa aja ma."


Mama terkekeh, ternyata benar yang di katakan Yasmin. Anaknya memang sangat dingin seperti es kalau bersama lelaki.


"Ya udah kalau begitu. Pulangnya jangan malam malam ya."


"Iya ma."


Mama Ken matikan ponselnya dan kembali mengobrol dengan mama Cya.


"Cya." Panggil Ken.


Cya menoleh. "Baru tau namaku dari mamamu hm?" Ucap Cya datar.


Ken mendesis kecewa. Well memang benar dia baru tau.


"Hm kita mau ke mana lagi?" Ken mengalihkan pembicaraan.


"Makan eskrim. Dan kemudian pulang."


Ken menyerngitkan dahinya. 'Cepet banget. Perasaan baru aja jalan jalanan nya.' batin Ken.


"Udah gitu doang?" Tanya Ken.


Cya mengangguk.


"Hm. Terserah."


***


Cya memakan eskrimnya yang besar di wadah kaca dengan perlahan. Cya sangat suka rasa coklat, membuat Cya selalu merasa lebih baik saat makan makanan yang berbau coklat.


Sedangkan Ken sibuk dengan ponselnya sambil menyendok eskrim ke mulutnya tanpa melihat eskrim nya. Beberapa saat dia bermain ponsel, Ken mematikan ponselnya dan kembali melihat Cya yang di sebelahnya.


Cya melihat Ken. Bibirnya belepotan.


Cya mengeleng dan mengambil tissue menlap bibir Ken.


Terasa seperti ada yang mengelitik perutnya. 'Kenapa jadi perhatian hm?' batin Ken.


Ken merundukkan kepala sejajar dengan Cya. Melihat gadisnya yang terlihat manis.


"Apa." Kata Cya dingin.


"Sejak kapan kau jadi romantis ***?"


"Jangan panggil aku Cebol." Cya melotot.


Ken tersenyum. "Jadi panggil apa? Sayang?"


"Hanya panggil aku 'kau' aja."


Ken terkekeh melihat sikap dingin Cya.


"Kalau 'kamu' gimana?" Tanya Ken menggoda Cya.


"Kau. Bukan kamu."


"Eh. Aku calon mu."


"Apa perduli ku. Palingan aku bakalan cari alasan biar kita ngak jadi nikah."


Deg! Ken tersentak.


Cya kembali memakan eskrim nya dengan ekspresi datar.


"Kok ngomong gitu." Tiba tiba Ken jadi kesal. Bukan itu kalimat yang di harapkan Ken keluar dari mulut Cya.


"Kenapa? Memangnya kau mau kita beneran nikah?"


Ken membuang wajah kesal dan kembali memakan eskrim nya.


Cya mengedikkan bahunya acuh.


Ken kembali melihat Cya.


'Ngapain aku kesal sih?' Ken bermonolog dalam hati.


"Eh. Kau udah punya pacar?" Ken buka suara.


Cya berfikir. "Belum pacar tapi akan." Kata Cya santai, berharap aktor idolanya bakalan jadi pacarnya dan akan menikahi nya. Hehe...


"Siapa?"


Cya melihat Ken. "Kenapa kau kepo."


Ken mendengus kesal. "Terserah aku. Mau tanya apa. Apa urusanmu huh? Dasar cebol!"


"Jangan. Panggil. Aku. Cebol."


Ken menatap Cya kesal. "C-E ce, B-O no tambah L, CEBOL."


"Jangan paksa aku gigit bibirmu!"


"Coba aja."


Dreb. Cya menarik kerah Ken dan mengigit bawah bibir Ken sampai sedikit mengeluarkan darah dan melepaskannya.


Ken mati kutu. Kemudian sedikit tersenyum memperhatikan Cya kembali menyeruput eskrim nya marah.


'Ah.. aku punya ide.'


***


Ken dan Cya baru masuk ke dalam mobil.


"Eh cebol. Ambilkan aku botol minuman yang si sebelahmu itu."


Cya langsung menatap sinis Ken. "Masih berani beraninya kau panggil aku cebol!"


"Kan emang kau cebol."


Cya mengenggam kerah Ken. "Kau!!!.."


Cup


Ken mencium bibir Cya membuat Cya terkejut.


"Ini hukuman karena merebut ciuman pertama ku." Ken kembali mencium bibir Cya dengan sangat lembut dan semakin dalam. Bibir Ken yang terasa pedih karena gigitan Cya tadi tak terasa lagi baginya dia hanya menikmati ciuman nya.


Ken memperdalam ciumannya dan menyudutkan Cya pada kursinya.


Cya merasakan sesak. Ken sangat agresif.


Ken melepas kan tautan bibirnya.  Melihat bibir Cya yang mengkilap dan menjadi merah akibat ulahnya. Ken tersenyum kecil. "Aku akan menikahi mu."


Deg!


Ken kembali hendak mencium Cya. Namun Cya langsung menutup bibir nya.


Ken terkekeh. "Tadi dia yang memancing gigit bibir ku. Sekarang malah ngak mau."


"Itu gigit bukan ciuman!" Pekik Cya.


"Apa bedanya?" Ken terkekeh melihat Cya.


Cya melepas tangannya dari bibirnya dan mengepal kan tangannya kuat. "Ya beda!"


Cup


Ken kembali mencium bibir Cya. Kemudian mengigit pelan bibir Cya dan kembali mengulum nya perlahan. Kemudian kembali sedikit demi sedikit mengigit dan mengulum bibir Cya.


'Manis.' batin Ken.


Ken melepaskan tautan bibirnya. "Suka yang barusan apa yang pertama tadi." Ken tersenyum kecil.


Wajah Cya semakin merah. "Pergi sana!" Cya mendorong Ken.


Ken terkekeh. Kemudian memeluk Cya dan membenamkan wajahnya di leher Cya. "Aku panggil sayang aja. Biar makin sayang."


Cya menyikut perut Ken. "Apa sih." Cya menbuang wajahnya yang sudah seperti tomat sekarang.


Ken tertawa dan mencium pipi Cya.


Cup


"Biar makin merah." Goda Ken.


"Ken!!"


"Iya Cya sayanggg..."


"Cepetan pulang!!"


Ken menggeleng. "Ngak ah. Maunya di sini aja bareng kamu."


"Ken!!"


Ken terkekeh. "Iya iya. Kita pulang."


Ken melepaskan pelukannya dan duduk dengan benar memegang stir mobil. Kemudian melihat wajah Cya yang baru Ken sadari sangat cantik, Ken kembali memeluk Cya.


Cya terkaget dan menatap tajam Ken walaupun wajahnya merah merona. "Ken..."


"Kamu punya magnet soalnya. Aku ngak bisa lepas." Ken bergelayut manja pada Cya.


Ktak


Cya menjitak Ken. Ken meringis.


"Pulang!" Kata Cya.


Ken melepaskan pelukannya dan kembali memegang stir dan fokus ke depan. "Iya..."

__ADS_1


Ken pun mengendarai mobil nya dan mengendarai mobil nya beranjak dari parkiran mobil. Ken tersenyum kecil.


'Ntahlah, rasanya sangat senang sekarang.' batin Ken.


__ADS_2