
Yuhu 🎉🎉🎉.... Udah sampai 100 Chapter guyss... I love you so much guyss....❤️❤️❤️🎉🎉🎉...
Karena udah Chapter 100. Aku mau buat crazy up loh🥴✌️...
Kalau kalian suka ceritanya, bisa di share dan kasih tau ke teman teman kalian ya guysss.. Saling berbagi kebahagiaan dengan teman memalui bacaan novel ini ya guys...
Cuma mau bilang, "You are the best!!! You make me always happy to do everything my readers 🥺❤️..."
Oke... Tanpa menunggu lama lama lagi. Kita mulai aja ya ceritanya...
Cus merapat 😚✨...
...-----------------------------------------------------------...
...Author POV...
...T...
essa membekap mulut Rio karena Valen ada di sebelahnya. Tessa Idak mau Valen tau kalau dia pacaran sama orang mesum ini! Najis!
Setelah berpamitan dengan Valen yang masih agak bingung dengan tingkah laku Tessa, Tessa dan Rio pun pergi.
Setelah beberapa langkah jauh dari Valen, Tessa menatap tajam Rio. "Heh! Ngapain sih datang datang!"
"Karena aku pacar kamu lah. Masa aku tinggalkan kamu sendirian di tengah hujan." Rio tersenyum lebar Melihat pacar barunya yang marah. Terlihat sangat manis, padahal pacarnya itu kesal padanya.
Karena cuaca mendukung dan gelap. Membuat lampu jalan yang di sekitar mereka tampak terang.
"Jangan panggil aku sayang, by, ataupun apalah yang so sweet so sweet gitu. Aku ngak suka." Kata Tessa tanpa melihat Rio. Dia tak suka dengan Rio, dia pacaran juga terpaksa karena taruhan kemarin. Ish... Tessa sangat kesal karena harus kalah.
Rio melihat ke arah Tessa. "Aku ngak mau. Kamu kan pacarku."
Tessa berdecak kesal kemudian melihat Rio. "Apa sih. Aku ngak suka."
Rio berhenti dan mendekatkan wajahnya ke arah Tessa. Dia jadi ikutan kesal, Rio tak ingin dia tak di anggap sebagai pacar. "Aku ngak mau sayang. Aku pacar kamu, jadi aku terserah aku mau manggil kamu pakai kata manis apapun."
"Rio aku ngak..."
Jederrr...
Petir menyambar di langit membuat Tessa memekik ketakutan, dia teringat waktu kecil dia pernah kesetrum listrik saat memegang raket listrik pembasmi nyamuk. Jadi Tessa sangat takut dengan adanya sambaran.
Tessa merunduk kebawah dan menutup mata nya rapat rapat.
Rio yang tadinya kesal, melihat tingkah Tessa jadi merasa tergelitik.
Rio diam dan hanya memandangi wajah Tessa sambil tersenyum.
"Yo, kok diam." Panggil Tessa masih tak membuka mata. Rasa takut masih menyelimuti tubuhnya.
Rio tetap diam, sengaja. Dia ingin melihat ekspresi lain dari pacarnya ini.
"Yo... Jawab..." Tessa menghentakkan kakinya kesal.
Rio menahan tawa nya. "Hem.. aku di sini."
"Kita berteduh dulu lah di halte." Kata Tessa.
"Kamu gimana sih. Ngomong tapi tutup mata. Kalau takut, peluk aja aku."
Deb. Tessa memeluk Rio erat, membuat Rio terbelalak kemudian jadi tersenyum.
Sejujurnya Tessa memeluk Rio bukan karena keganjenan. Tapi murni karena benar benar sangat takut.
"Yo, kok diam. Cepetan." Pekik Tessa.
__ADS_1
Cepetan apa? Pikir Rio. Cium? Serius?
"Kemarin kamu bilang ngak mau cium. Sekarang minta cium." Kata Rio dengan tersenyum jahil.
Wajah Tessa yang tertutup dada bidang Rio pun mendongak. "Siapa yang minta cium?! Aku pingin kita cepetan ke halte! Tadi kan udah aku bilang!"
Tessa kembali memeluk. "Cepetan yo..." Tessa mulai merengek.
Rio jadi malu sendiri. Fantasi nya terlalu Tinggi. "Ehm. Iya. Kita ke sana."
Mereka pun berjalan menuju halte yang tak jauh dari mereka.
Haltenya sepi. Hanya mereka berdua yang duduk di situ.
"Yo. Aku mau pulang pakai bis aja." Kata Tessa yang sudah lumayan tenang.
"Aku ikut. Aku antar sampai kamu sampai di rumah."
"Ngak perlu. Aku bukan anak SD."
"Yakin? Ntar ada petir lagi loh."
Tessa menatap Rio tajam. "Kok gitu ngomongnya. Kau ingin aku kesambar ya!"
"Ya enggak lah. Gimana sih. Aku cuma mau pastiin kamu sampai di rumah dengan selamat."
"Ngak usah. Ntar kau terlambat pulang."
"Ngak apa by.. kan aku sayang kamu." Rio tersenyum.
Tessa jijik dengan tingkah laku Rio. Di otak Tessa, Rio hanyalah lelaki berengsek.
"Terserah lah." Tessa malas berdebat.
***
Terdengar suara keributan di dalam.
Papa dan mama Tessa bertengkar. Tessa tau, kalau dia masuk keadaan akan semakin memanas dengan bara emosi. Tapi dia harus tetap masuk.
Rio melihat Tessa murung. Rio mudah menangkap keadaan yang sedang terjadi. "By. Kamu mau aku pulang. Apa nemenin kamu?" Kata Rio dengan penuh perhatian.
"Kamu pulang aja yo. Aku bakalan masuk nanti."
"Aku tungguin sampai kamu masuk. Aku nemenin kamu aja sekarang." Rio kekeh ingin bersama Tessa.
Ntah sejak kapan dan dari kapan Rio sangat memperdulikan pacarnya ini. Untuk pertama kalinya dia bersikeras untuk melindungi seorang wanita yang berstatus pacarnya, biasanya Rio hanya memanfaatkan wanita yang jadi pacarnya. Namun tidak untuk Tessa.
Tessa tau kalau orang tuanya sudah bergaduh, akan lama untuk mereka berhenti bertengkar dalam satu hari ini. Bahkan orang tua Tessa pun bisa sampai melupakan apakah puteri mereka sudah pulang apa belum.
"Ngak apa. Kau pulang aja."
Rio memeluk Tessa. Dia sangat kuatir. "Jangan beginilah yang. Kamu aku temenin aja." Rio menarik Tessa duduk di ayunan halaman Tessa yang berkanopi.
Rio mengenggam tangan Tessa erat.
Mereka saling tatap.
"By. Aku sayang sama kamu. Ngak ada yang lain." Rio sungguh sungguh mengatakannya.
Tessa masih tak percaya. Dan ngak suka dengan apapun tingkah laku Rio. Itu semua hanya kebejatan. Fix bejat.
Tessa tak menggubris dan melepaskan tangan Rio.
Rio mengambil ponselnya. Membuka massagernya. Di arahkannya ponselnya pada Tessa. "Lihat. Aku bakalan block semua cewe yang ada di sini. Cukup kamu aja yang ada di kolom chatku." Kata Rio.
__ADS_1
"Terserah." Kata Tessa tak perduli.
Rio pun langsung memblokir semua nomor wanita di ponselnya.
'Sial. Banyak banget. Baru sadar aku.' Umpat Rio dalam hatinya saat sadar banyak nomor wanita di sana.
"Ish.." Rio geram sendiri karena jempolnya jadi kebas kebanyakan ngetik.
Tessa melihat ke arah Rio. Ni cowo aneh. "Yo."
Rio mendongak. "Iya by?"
"Ngapain di block. Kita kan bakalan putus. Ntar siapa yang akan kau chat lagi." Kata Tessa datar.
Rio kesal dengan kalimat pacarnya. "Kita ngak akan putus dan ngak akan pernah putus." Rio kembali melihat ponselnya dan kembali memblokir nomor wanita lain di ponselnya. Dia benar sungguh sungguh.
Tingkah Rio jadi terlihat lucu di hadapan Tessa. 'Apa dia melakukan ini pada setiap wanita? Hm.. pastinya' pikir Tessa.
"Ah siap! Sakit amat jempol aku." Rio merenggangkan badannya.
"By. Lihat." Rio menunjukkan ponselnya. "Nih. Ngak ada lagi nomor wanita kecuali kamu."
Rio memasukkan ponselnya. "By. Aku paling ngak suka kamu bilang bilang putus. Paham."
Tessa menatap Rio datar. "Dan aku pingin kamu manggil aku pakai kalimat manis yang enak di dengar."
Rio menatap dalam dalam Tessa. "Aku sayang banget sama kamu."
Manis. Itulah yang di pikirkan Tessa saat ini.
Sudah tak terdengar mama dan papa bertengkar lagi. Tessa bisa masuk sekarang.
"Aku mau masuk. Kau pulanglah."
Tessa keluar ayunan dengan kursi yang berhadapan ini, begitu pun Rio keluar dari ayunan.
"Panggilannya kok ngak romantis." Rengek Rio.
Tessa membalikkan badan.
"Panggil apa gitu." Rio kesal.
Kenapa Tessa di buat gemas melihat Rio sekarang.
Tessa berjalan ke hadapan Rio. "Jadi aku panggil apa?" Tanya Tessa saat berada di depan Rio.
"By.. bebeb... Papa... Sayang juga boleh." Sambung Rio.
Sikap Rio hari ini membuat Tessa luluh.
Tessa mengacak rambut Rio. "Panggil Rio aja cukup. Karena kamu milikku, semua akan terasa manis bukan?"
Deg!
Tessa menyentuh bibir Rio lembut kemudian menatap Rio. "Awas aja kalau kau coba cium wanita lain. Aku akan memukulmu." Goda Tessa.
Jantung Rio berdegup kencang. Sikap Tessa sulit di tebak.
Rio mencoba mencium bibir wanita kesayangannya, tapi malah dapat jitakan keras dari Tessa.
"Sakit by." Pekik Rio.
"Udah di bilang aku ngak mau ciuman juga." Tessa melepaskan diri dari pelukan Rio kesal. Dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Rio tersenyum sambil memegangi bibirnya. "Kalau aja beneran di cium." Harap Rio.
__ADS_1
Dia malah terkekeh melihat tingkahnya yang mendadak aneh karena kehadiran pacar barunya ini.