
Dia berhenti di satu ruangan, ini gudang sekolah. Pintu ruangan ini terbuka, dia membawaku masuk kedalam ruangan gelap ini dan menutupnya dengan menendang pintu. Dia melepaskanku.
Aku langsung menjauh dan mencari benda keras untuk menukulnya.
Ctak.
Lampu ruangan ini hidup menapakkan sosok lelaki yang kukenal. "Kak Rio?!"
Aku memasang kuda-kuda dan memegang sapu yang kuambil tadi untuk memukulnya. "Kalau kau mendekat, aku akan memukulmu. Tak peduli kau akan mati atau tidak!" Aku mengancam Rio dengan keras.
"Val. Please dengerin aku dulu."
Dia menghembuskan nafas berat. "Aku ngak tau mau ngomong apa lagi. Ataupun mau bicara denganmu gimana lagi. Aku ngak tau. Aku cinta sama kamu. Sangat cinta."
Dia mengacak rambut prustasi. "Kamu salah pengertian. Aku ngak mungkin berlaku mesum dengan gadis itu. Sumpah!"
"Dia yang mengajakku ke belakang sekolah dan kemudian dia langsung mencium aku Val!"
"Dia sangat agresif menolak badanku sampai aku terjatuh ke tanah dan menciumku lagi!"
"Aku bahkan mendorongnya menjauh dan aku pergi setelah itu.. Itu beneran bukan keinginanku.."
Suaranya mula merendah. "Val please percaya sama aku. Aku beneran ngak bohong. Aku bahkan nekat melakukan ini demi menjelaskan semuanya ke kamu."
Apa benar?
Ah aku tak mau percaya begitu saja. Aku langsung meraih ponselku dan menelpon Tessa. Ponsel tak kudekatkan ke telingaku, hanya kugenggam. "Jadi kau membawaku ke gudang belakang sekolah cuma untuk menjelaskan mengenai hal kemari?" Aku sedikit menguatkan suaraku agar Tessa dapat mengetahui lokasiku. Aku yakin Tessa pasti udah datang, dia kan biasanya datang cepat.
Dia mengangguk pasrah.
Tapi kelihatannya dia serius deh...
"..."
Aku mengusap tengkukku. "Emm. Ya udah aku percaya."
Dia membolangkan matanya sambil tersenyum lega. "Kau serius!"
__ADS_1
Aku sedikit mengangguk kaku.
Dia berjalan sedikit berlari ke arahku.
Brukk.
Tessa datang dari pintu gudang dan memiting kak Rio.
Kan Rio terlihat tak berdaya sambil memukul-mukul lantai kesakitan.
Aku ngak tau mau ngomong apa. Tapi, sejak kapan Tessa bisa bela diri?
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Apa sih yang kau pikirkan Val, itu si kak Rio udah hampir mati di buat Tessa!
"Udah udah Tess. Anak orang tu.. Jangan sampe mati."
Tessa mendongakkan ke arahku. "Dia ngapain kau Val?!"
"Ngak ada... Aku baik-baik aja."
Tessa mengalihkan pandangannya ke arah kak Rio. "Sekali lagi kau ya... Awas kalau kau macam-macam." Tessa melepaskan kak Rio dengan dorongan kasar.
Kata Tessa tanpa memperdulikan Kak Rio yang rebah di lantai dengan lemas.
"Eh.. ya, ya kita tolonginlah dia." Kataku prihatin melihat kondisi kak Rio.
Tessa mendekatiku dan menarikku ke luar gudang.
Aku berhenti membuat Tessa berbalik melihatku. "Bantuin lah. Kalau dia mati gimana?" Kataku.
Tessa menatap kak Rio lirih. "Cih. Masa begitu aja lemah." Tessa mendekati Kak Rio. Bukan malah menolongnya dia malah menendang kak Rio pelan. "Ngak usah akting. Berdiri."
Aku tak percaya mempunyai taman yang setega Tessa. "Jangan di gituin Tes." Aku berjalan ke arah kak Rio membantunya berdiri sambil menopangnya berjalan.
"Uhuk. Makasih ya Val." Ucap Kak Rio lemas.
Aku mengangguk. "Iya kak."
__ADS_1
Tessa masih melihat kak Rio jijik. "Cih."
***
*Di UKS
"Gimana kak, yang mana yang sakit?" Kataku.
Kak Rio menunjukkan bagian tubuhnya yang sakit. "Sakit Val."
Jadi kasihan melihat kak Rio. Aku mengambil Betadine untuk di oleskan ke bagian tubuh kak Rio yang lecet.
Ngerih juga si Tessa, sampai bisa lecet gini.
Tessa mengambil Betadine di gengamamku. "Ngak usah pakai ini. Pakai ini aja." Tessa menunjuk alkohol kadar 90%. Ya 90%!
"Ta tapi tes."
"Udahh." Tessa langsung menuangkan alkohol di kapas dan menempelkannya dengan kasar ke lutut kak Rio yang lecet.
Kak Rio tampak sangat menahan sakit yang teramat perih dari alkohol itu. Tessa malah tertawa riang. "Kalau pakai ini lebih cepat sembuh." Dia kembali tertawa.
"Tess." Aku membolangkan mataku memarahi Tessa.
"Ah elah Val. Kena alkohol dikit mah ngak bakal membunuh ni orang." Tessa menatap kak Rio datar. "Ya kan?"
Kak Rio seperti menahan emosi.
"Kan udah siap nih. Kuylah balik." Ujar Tessa.
"E eh, jangan dulu dong." Kak Rio menatapku memohon. Kemudian dia menatap Tessa acuh. "Kalau kau.. Pergi aja sana."
"E eleh... Siapa juga mau nemeninmu. Sok ganteng kau." Tessa pergi tak perduli dan memandangku. "Val, kau ikut aku atau dia terserahmulah."
Aku tak mau Tessa tinggalkan. Karena aku juga masih sedikit takut kalau di tinggal berduaan dengan kak Rio. "Eh aku ikut." Aku melihat kak Rio. "Aku luan ya kak." Pamitku. Aku pun pergi menyusul Tessa yang udah hampir jauh.
Aku dan Tessa pun balik ke kelas.
__ADS_1
***
Sekarang aku akan melupakan Jessen sepenuhnya. Aku takkan mau mengingatnya lagi. Hidup harus terus berjalan.