Magic You

Magic You
chapter 76


__ADS_3

Catatan penulis:


Jangan lupa like, komen, rate 5 dan vote (kalau ngak ada vote bisa di beri hadiah ya guys...) ya guyyssss......


Semakin sering kalian semangatin aku dari cara cara di atas ☝️☝️ buat aku semakin semangat meng-up cerita nya guysss....


Dan buat yang udah dukung... Thanks banget ya my readers....


Dan yang hanya jadi pembaca gelap... Cepat cepatlah kalian bertobat karena kalian hanya menikmati karya ini tapi tidak menghargai... sungguh kejam... 😭😭...


Udah deh sampai situ aja infonya. Btw, semakin semangat ya guys bacanya.... Happy reading 🤗❤️


________________________________________________


Aku memasak di dapur. Ntahlah apa yang ku masak. Yang penting aku mencoba mengendalikan diriku dulu.


Tenang Val... Tenang.


Jangan grogi, jangan grogi!!!


Aku pun terus mengadon nasi di rice cooker.


Aduh... Aku grogi banget njritt


Beberapa saat kemudian, Jessen mendatangiku.


Deg deg


Deg deg


Dia mau apa?


Dia berjalan ke belakang ku. Sedangkan aku pura pura fokus mengadon beras ini.


Mataku terbelalak saat tangannya melingkari pinggang ku dari belakang sedangkan kepalanya dilekakkannya di bahuku.


"Aku kedinginan." Ucapnya.


Deg deg


Deg deg


"Y ya udah... Matiin aja AC nya sana." Suruh ku.


"Udah. Tapi masih dingin." Tambahnya.


Aku menelan ludah berat.


"Kenapa kaku gini sih Val." Bisiknya.


"M maksud nya?" Kataku gagap.


Jessen menyingkirkan stainless untuk memasak nasi di rice cooker tadi dari hadapan ku. "Aku ngak mau makan."


"Trus?"


"Aku mau kamu." Bisiknya lagi.

__ADS_1


Deg deg.


Dia membalikkan badanku, memelukku sempurna dangan wajah yang semakin lama semakin mendekat.


Mataku terbelalak. Sejak kapan udara ruangan ini jadi sepanas ini?!!


Semakin mendekat.


"Wah... Panas sekali. Udaranya udah panas Jess. Kau udah bisa lepaskan pelukan mu sekarang." Kataku dengan mencoba menghilangkan rasa ke kakuanku.


"Aku akan lakukan dengan perlahan honey..." Desahannya.


Wait. What!!


Tep. Aku menutup bibir Jessen dengan tangan kanan ku.


Jessen menatapku kecewa.


"Hemm." Dia mendengus kesal.


"Jangan aneh aneh Jes!"


Dia berdecak kemudian melepaskan pelukannya, berdiri tegap dan menatapku datar. "Aku mau tidur aja." Ucapnya.


Dia membalikkan badan dan pergi meninggalkanku.


Lah...


Ya udah terserah.


Aku pun kembali berjalan ke ruang tamu Jessen. Sedangkan Jessen ada di kamarnya.


Ah, ngak apa lah. Ngapain juga takut sama hantu.


Beberapa menit aku menonton film. Hujan mengguyur daerah apartemen Jessen.


Gleg. Aku menelan ludah berat.


Waduh... Hujan lagi.


Ish... Kenapa selalu di saat creepy begini selalu hujan?!


Jedarrrr...


Petir menyambar langit secara vertikal. Membuat cahaya silau saat tampak membelah langit, tampak terlihat dari jendela Jessen yang lebar.


Gila... Serem amat.


Suasana jadi kosong.


Aku kembali meneguk liurku berat.


Huf... Tenang Val tenang...


Kemudian... Clek cletak. Lampu mati sesaat kemudian hidup. Bulu kudukku auto berdiri.


DAMNN!!

__ADS_1


Aku langsung berlari ke kamar Jessen dengan berlari. Pintu kamar Jessen yang terbuka membuat aku langsung menyelonong masuk.


Jessen tengah berbaring di ranjang hanya menatapku datar.


"JESSEN!!!..." Jerit ku.


Dia menutup telinganya spontan. "Iya... Apa?"


"A aku tidur di sini ya... Please." Ucapku memohon.


Dia kembali membalikkan badannya membelakangi ku sambil tertidur. "Pergi aja sana. Tapi hati-hati, biasanya malam malam begini banyak hantu bergentayangan."


"JJESSENNNN... NGAK LUCU!!"


"Siapa bilang lucu. Aku serius." Katanya tanpa melihat ku.


Sial!!!


Aku langsung berbaring di sebelah Jessen dengan cepat. Ku punggungi dia, sehingga posisi kami saling berpunggungan membelakangi. "Pokoknya aku tidur di sini. Kau jangan pergi!" Kataku tanpa melihat nya.


Ketakutan berubah menjadi kaget saat tangan Jessen memelukku dari belakang. "Aku ngak akan pergi kok honey." Katanya saat kepalanya berada sebelah kepalaku. Membuat kepalaku yang menyamping berada di bawah kepalanya yang juga menyamping.


Dia mengeratkan pelukannya. "Hangat... Aku suka." Bisiknya.


Deg deg.


Dia mengangkat kepalanya dan membalikkan badan ku menjadi posisi terlentang. Kemudian dia kembali memelukku dengan posisi menyamping.


Dia menaikkan kaki nya di atas kakiku sambil kembali mengeratkan pelukannya. "Hemmm.." Ucap nya manja.


"Aku sangat bahagia kau tau.... Sangatttt bahagiaaaa..." Kata Jessen sambil tersenyum lebar.


Dalam hati aku juga merasakan kebahagiaan yang teramat bahagia saat ini. Aku sangat mencintainya...


Seketika itu juga, angin berhembus kencang. Ntah dari mana angin itu berada. Kemudian cahaya silau menyinari tempat ini membuat aku menutup mataku.


Hushhhh....


Badanku seperti mengambang dan pelukan Jessen menghilangkan...


Aku tak dapat melihat apa apa, dan kemudian aku merasakan badanku seperti jatuh dari ketinggian yang sangat tinggi.....


Kemudian berhenti seketika.


Hoshhhh....


Angin kembali menerpaku dengan kencang.


"Aaaaaaa......." Aku menjerit karena badanku terasa terhempas dan bergetar.


"Valen... Valen..." Suara lembut seorang wanita tua memanggil namaku.


"Valen...." Panggil nya lagi. Membuat aku membuka mataku.


Betapa terkejutnya aku melihat Nenek dan Kakek yang sedang mengelilingi ku.


Aku melihat sekitar ku. Bukannya ini kamar ku? Dan... Jessen, Jessen mana?

__ADS_1


"Valen cepat... Kamu hampir terlambat ke sekolah..."


Huh?... Sekolah?


__ADS_2