
Aku membaca buku sejarah yang pernah di berikan Jessen. Aku kembali menangis, aku mengelus buku itu. "Kenapa?" Aku melap air mataku, walau itu terus mengalir.
Mataku kupalingkan ke arah buku mistis. "Misinya bertambah... Apa dia merasa bahagia?"
Aku tersenyum lirih. "Sepertinya."
Begitu kejamnya rasa bahagia Jessen yang nampar hatiku ini. Ini sangat sakit.
Aku berjalan ke tempat tidurku dan membaringkan diriku.
Drett
Ponselku bergetar, Jessen menelpon.
Kuangkat panggilannya. "Hm."
"Aku di luar. Keluarlah."
"Kau pergi saja dengan wanitamu. Jangen dekati aku. Dasar berengsek!" Kumatikan ponselku. Aku tak ingin melihatnya lagi, hatiku terlalu sakit.
Aku menutup wajahku dengan bantal tak peduli apapun yang terjadi.
***
"Val." Panggil Tessa.
"Hm."
Tessa mengerucutkan bibirnya. "Kau jangan jutek-jutek terus dong. Jelek tau ngak."
Aku memeluk Tessa. "Aku males Tes. Moodku buruk terus belakangan ini."
"Beliin eskrim kek." Pintaku.
Tessa mengangguk. "Okey. Tapi janji loh ya, jangan sedih lagi."
"Sip." Aku coba menyemangati diri.
Aku dan Tessa pun keluar dari kelas menuju kantin.
Koridor sekolah tampak sangat ramai karena sekarang adalah jam istirahat.
Tak ada perbincangan apapun selama kami berjalan ke kantin.
***
Aku memakan es krim yang di berikan Tessa. Kami duduk masih dengan keheningan.
Aku menyisir pandangan kantin. "Hm Tes." Panggilku.
"Kenapa Val?"
"Jessen ngak kelihatan ya." Aku masih memandangi area kantin.
"Loh kau ngak tau Val."
__ADS_1
Memangnya ada apa sama Jessen. "Ngak tau apa?"
"Jessen udah pindah kemarin waktu kau pulang izin sekolah, ada pengumuman di sekolah kalau Jessen sang emas sekolah pindah. Dia pergi ke Jepang melanjutkan sekolahnya."
"Hah?" Aku membolangkan mataku terkejut tak percaya.
"Iya. Masa aku bohong sih."
Aku langsung melihat layar ponselku, ada Chat darinya.
"Jadilah lebih mempergunakan otak selama aku pergi."
Gila ni orang, masih sempat-sempatnya menghina!
Aku menelpon Jessen.
Tak ada jawaban.
Dia tak menjawab.
Aku terus menelponnya dan bahkan men-Chatnya.
Aku: "Hei... Jawab dong!!"
"JAWABBB."
"P."
"P."
"P."
Aku mengenggam geram ponselku. "Ishhh... Kok jadi gini sih!"
Arh... Dia kenapa coba?!
***
Aku mengumpat sepanjang perjalanan pulang ke rumah, rasanya emosi ini sangat meluap-luap.
Aku berhenti dan menghentakkan kaki. "JESSEN KAU BERENGSEKKK."
Nafasku mengebu-bebu.
"Woy sabar woy. Kau mempermalukan dirimu sendiri di depan umum!" Tessa menutup mulutku.
Aku melepaskan tangan Tessa kasar. "Lihat ya Tess, aku bakal balas dendam ke dia! Lihat aja!"
"Siapa suruh kau menyukai orang seperti dia. Kau terlalu bego Val."
Aku melihat Tessa dalam-dalam. "Kau bener Tes. Aku bakalan bangkit!" Aku memandang depan teguh. "Aku bakalan belajar dan jadi sukses sampai dia nyesal karna memainkanku!"
Tessa menepuk bahuku bangga. "Itu baru temanku!"
***
__ADS_1
Aku membongkar buku paket sekolahku. Aku mulai semangat belajar. "Aku harus buat dia menyesal!"
Aku sangat serius untuk tujuanku yang sekarang.
"Buku fisikaku tadi mana ya?" Aku merogoh tas sekolahku. Karena sulit untuk melihatnya, kukeluarkan isinya dengan membalikkan tasku. "Ah, itu dia." Aku mengambil buku fisikaku. Di balik buku fisika itu ada buku mistis, buku itu tergembok pada ujungnya, aku tak dapat membukanya. Aku mencoba mencari kunci buku ini yang sebenarnya aku sendiri ngak tau sejak kapan dan dari kapan buku ini tergembok terkunci..., kuserakkan semua buku yang berhamburan tadi. Tapi tak kujumpai. "Hah?"
Tunggu. Jessen kan udah pergi. Mungkin maksudnya... Aku sudah terlepas untuk menyelesaikan misi bodoh ini.
Aku meloncat kegirangan. "Yesss. Hidup baru! Aku tak membutuhkanmu lagi... Haha." Aku tertawa puas.
Aku semakin bersemangat. "Mungkin aku sekarang yang kau buat patah hati. Tapi kedepannya, jangan harap aku akan mencintaimu lagi. Kau yang akan menyesal. Heh."
Aku terus mumbuhkan semangat ini di dadaku. "Aku bukan wanita lemah!"
***
Pagi ini aku berangkat ke sekolah dengan status diri yang berbeda.
Pertama, aku tak terikat lagi dengan mistis dari buku itu.
Kedua, aku beralih menjadi anak yang berusaha menggapai masa depan.
Aku berangkat pagi-pagi sekali ke sekolah. Udara masih sangat sejuk bahkan tergolong dingin menyentuh tubuhku. Aku berjalan melalui koridor sekolah yang tampak terang dan sepi.
Jadi kelihatan seram ya..
Apa semua sekolah kalau kosong tampak seperti rumah berhantu.. iihh.
Aku memeluk badanku erat. Kesan horornya makin tampak dengan suasana yang dingin.
Seketika ada tangan yang menutup mulutku dan menggendongku ke suatu tempat. Aku mengeliat untuk melepaskan diri. Namun tangannya sangat kuat mendekap dan mengangkatku dari belakang. Aku hanya dapat merontah-rontah. Sulit untuk menoleh ke belakang untuk melihat wajahnya.
"Ehmmm." Aku bergerak terus-menerus tak terkendali. Berharap tangannya melemah karena kelelahan menahan rontahanku. Tapi aku salah. Dia semakin mendekapku keras dan semakin kencang berlari ke suatu tempat.
"Stt." Itu kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Eeemmmm, emmm, hemm." Aku tak putus asa. Aku masih berusaha.
Sial! Dia sangat kuat!
Aku punya ide.
Kugigit tangannya yang menutup mulutku dengan keras.
"Arh.." Pekiknya.
Tapi dia tetap terus berjalan dan tak mempedulikan seberapa sakit tangannya.
Gila ni orang!
Jangan-jangan aku bakalan...
KURANG AJAR.
Aku terus merontah-rontah.
__ADS_1
Ya Tuhan... Apapun ini tolong selamatkan aku!!